Azan Zhuhur mulai terdengar, mencairkan suasana kikuk karena pembahasan mantan.
"Maaf, saya pergi dulu ya sudah azan," ucap Dimas yang diangguki Tiffany.
Kini, tinggallah Tiffany seorang diri. Ia menatap langit-langit kamarnya. Semakin hari ia merasa perasaannya semakin nyaman dengan Dimas. Hanya saja belum terlalu jelas.
Sifat Tiffany yang biasanya sangat membenci Dimas berangsur berubah membaik. Apakah itu cinta? Tiffany tidak tahu. Perasaannya jauh lebih nyaman dibandingkan saat bersama Miko yang selalu menghabiskan waktu di dunia malam.
Ya, dahulu Tiffany sangat menggilai Miko. Waktu dan uangnya selalu dihabiskan dengan Miko. Apapun yang lelaki itu minta, dengan cepat Tiffany penuhi.
Dipikir akan bahagia dengan sang kekasih. Tak tahunya malah berujung pengkhiatan yang tak lain dengan sepupunya sendiri.
Tiffany sangat membenci yang namanya perselingkuhan. Ia hanya ingin memiliki seseorang yang benar-benar mencintainya hingga maut memisahkan. Seperti mama dan papanya.
Tok Tok
Tiffany terperanjat akan ketukan pintu, segera ia mengelus dadanya yang bergetar hebat.
"Papa," ujar Tiffany sembari memelotot.
"Lho, Dimas ke mana Fan?" tanya Aji menelisik kamar Tiffany.
"Lagi sholat Pa," jawab Tiffany.
Aji terdiam sejenak, ia memandangi Tiffany dengan penuh kasih. "Kamu nggak sholat?" tanyanya parau.
Tiffany menggaruk kepalanya, ia mendadak heran sekaligus gugup. "Oh, nggak Pa. Aku belum siap," jawabnya.
Aji menggeleng, ia lalu menutup kamar Tiffany kemudian melenggang keluar.
Tiffany meraih potret yang berada di atas nakas. Ia pandangi potret dirinya, beserta dengan kedua orang tuanya. Tampak tenang dan juga bersahaja
Air mata yang ia tahan pun lolos di pelupuk matanya. Ia begitu cengeng jika menyangkut kerinduan pada mamanya.
Tiba-tiba notifikasi ponselnya berbunyi. Menandakan sebuah pesan masuk.
Woy, ketemuan yuk! Dah lama ga ngumpul.
Perlahan senyuman mengurai di wajahnya.
Ketemuan di mana? Ketik Tiffany.
Cafe, aja.
Ok.
Segera Tiffany bangkit, berdiri tepat di depan cermin sambil bergerak ke kiri dan kanan, memperhatikan detail penampilannya.
"Hmmm, kurang touch up," gumamnya, lalu memakai Cushion serta mengolesi lipstik berwarna pink di bibirnya. Tak lupa, ia menyemprotkan parfume beraroma vanila di sekujur tubuhnya. Kemudian, ia pun berlangsung pergi.
"Kemana kamu?" tanya Aji, ketika kedua matanya menangkap Tiffany yang sedang menuruni undakan tangga.
Tiffany mempercepat langkahnya, "ini Pa, Fany mau jumpa sama teman-teman. Nggak lama kok Pa," jawabnya.
"Hmmm... suami sudah tahu belum? Nanti gimana kalau dia cari kamu?"
"Aku sudah minta izin kok, Pa!" Bohong Tiffany. Ia masih kesal pada Dimas. Memilih pergi mencari kesenangan terlebih dahulu.
"Sudah ya, Pa! Aku pergi dulu. Cup!" Sebelum pergi tak lupa Tiffany mengecup pipi Aji. Lalu dengan langkah cepat ia pun berlenggang keluar rumah.
Tinggallah Aji yang menatap lirih pada Tiffany. "Aku hanya berharap kamu bahagia, anakku. Semua telah kulakukan, semoga Dimas benar-benar bisa merubahmu," gumamnya.
***
Kini, Tiffany sudah berada di dalam cafe dengan kedua sahabatnya, Alena dan Greta.
"Gendutan niyeeee...." Canda Alena.
Tiffany menyengir, "jelek ya?" Berdiri lalu berpose menunggu komentar selanjutnya.
"Nggak kok, malah kelihatan fresh," jawab Greta.
"Ah masa sih?" Tiffany meragukan jawaban Alena yang memang tipe suka memuji dirinya.
"Benar kok kata Alena. Kamu , jauh lebih fresh daripada kemarin-kemarin. Kamu ingat kan, aku sering ngatain kamu tengkorak berjalan," timpal Greta.
Tiffany tak bergeming, barulah ia percaya karena kendatinya Alena memang sering begitu. Bukannya berarti sahabatnya itu jahat tetapi memang suka bicara apa adanya.
"Hidupmu kelihatan baik-baik saja sekarang. Ada kemajuan nih," ujar Alena sembari menyeruput jus alpukat yang beberapa menit lalu berada di atas meja.
"Ya, hubunganku dan Dimas sekarang memang jauh lebih baik sih. Kami sering mengobrol dan makan bareng, masakannya enak banget. Makanya, aku gendutan. Hahaha...." Tiffany menyengir, terlihat sangat bahagia.
"Jatah berapa kali, Fany?" tanya Greta.
Pertanyaan Greta membuat tawa Tiffany terhenti. "Ehm, jatah ya. Kalau yang itu-"
"Jangan bilang belum pernah, Fan. Hei! kamu nikah dah berapa lama Fan? Mau sampai kapan? Sampai kalian berdua ber-uban, hah?" Potong Alena.
Tiffany menyengir, "sebenarnya...kami pisah kamar Len."
"Hah!" Kedua sahabat Tiffany itu terlonjak kaget. Saling memandang satu sama lain.
"Kamu sinting ya? Kalian itu sudah nikah kenapa bisa-bisanya pisah kamar sih?" Wajah Alena kini merah padam. Ia tak habis pikir dengan kelakuan temannya yang terlalu di luar nalar.
Tiffany menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada rasa penyesalan ia datang. Akan tetapi, ia sangat merindukan kedua sahabatnya tersebut. Tak disangka, ia malah diroasting habis-habisan.
"Maaf, Fan aku cuma nggak mau kamu merasakan sakitnya ditinggal mati sama suami seperti Dio meninggalkan aku. Andai waktu bisa kuputar, ingin rasanya menghabiskan setiap detik hidupku hanya dengannya. Rasanya sakit banget, Fan."
Tiffany mematung, jelas terlintas di kepalanya bagaimana kejadian meninggalnya suami Greta. Tiffany saja merasa kehilangan karena sosok Dio yang sangat baik dan ramah.
"Maaf, aku nggak bermaksud buat kamu sedih.Aku hanya tidak mau kamu memiliki penyesalan sepertiku," ujar Greta lirih.
"Intinya, sih kita berdua sayang sama kamu." Alena menyodorkan sebuah kotak hadia berukuran besar dengan dialasi kertas kado berwarna maroon.
"Apa ini?" tanya Tiffany seraya mengambil kotak hadiah tersebut.
"Ntar kalau sudah sampai di rumah, baru kamu buka." Alena menyeruput minumannya sambil mengunyah kentang goreng yang sudah ia baluri dengan saus.
*****
Dimas yang baru kembali dari masjid, mulai mengetuk pintu kamar Tiffany. Akan tetapi, dua kali mengetuk tak ada jawaban.
"Apa dia masih marah?" gumamnya lalu memegang gagang pintu. Pintu terbuka, lalu dimanakah Tiffany?
Segera, Dimas melangkah mencari Aji. "Permisi, Bik apa Bibi tahu pak Aji dimana?"
Bukannya menjawab, bik Ijah malah terkagum mendengar tutur kalimat Dimas yang lembut.
"Maaf, apa Bibik tahu dimama Pak Aji?" Dengan sabarnya, Dimas mengulangi kalimatnya lagi.
"I,itu Den tuan sedang duduk di halaman belakang." Barulah bik Ijah menjawab.
Dimas tersenyum, mengangguk lalu pergi.
"Cah bagus gantenge poll, oalah sampai lupa aku iki wess tuek," gumam bik Ijah.
Di halaman belakang, tampak Aji menikmati suasana yang begitu segar mengingat hari itu cukup gerah karena cuaca yang panas.
"Assalamu Alaikum, Pa." Salam Dimas berhasil mengejutkan Aji. Sesaat kemudian senyuman Aji mengembang melihat menantunya yang santun menyapa.
"Dimas, duduk Nak," jawab Aji.
Dimas menunduk lalu ikut duduk menikmati suasana halaman belakang yang asri. Tampak kolam, berbaga jenis bungan dan pepohonan.
"Suka berkebun ya, Pa?" tanya Dimas.
"Ah...itu mama yang tanam. Dia suka banget sama yang namanya tanaman. Papa cuma menikmati, hehehe...." Aji terkekeh.
Dimas pun tersenyum.
"Nak Dimas, papa mau bilang maaf kalau sifat Tiffany kadang nggak bisa dikontrol ya. Semenjak mama meninggal sifatnya jauh berubah. Tapi, sebenarnya Tiffany itu anak yang baik. Dia cuma kehilangan arah. Maklum, dia sangat dekat sama mama. Kalau dulu kan papa sangat sibuk. Jadi, ya gitu jarang banget ngumpul sama keluarga," jelas Aji.
"Iya, Pa nggak apa-apa. Lagipula, saya sudah menjadi suaminya jadi semua tentang Tiffany sudah menjadi tanggung jawab saya, Pa."
Kamu memang sangat mirip dengan ayahmu.
***
Tiffany memandangi isi rumah yang kosong. Dia mengira Dimas sudah pulang, makanya dia berinisiatif langsung pulang ke rumah. Ternyata dugaannya salah, sosok Dimas tak ia temui di sana.
"Sudah jam 8 malam, kenapa dia belum pulang juga. Astaga, jangan bilang dia masih menungguku." Tanpa berpikir panjang, Tiffany segera mengaktifkan ponselnya yang sengaja ia matikan agar tak ada yang meneleponnya. Memencet tombol mencari kontak lalu menghubungi ayahnya.
"Halo, Pa! Aku sudah di rumah. Apa Dimas masih di sana? Iya iya maaf aku lupa. Kirain dia sudah pulang tadi." Tiffany pun mengakhiri panggilan tersebut. Ia malas mendengar ocehan ayahnya yang sudah sangat geram dengan kelakuannya meninggalkan Dimas.
"Astaga, Dimas...jadi merasa bersalah," gumamnya lirih.
Tiffany yang kelelahan segera menghempaskan tubuhnya ke sofa. Pandangannya mengarah pada kotak hadiah yang diberikan Alena dan Greta tadi.
"Apaan sih isinya, jadi penasaran deh." Tiffany yang tidak sabar langsung membuka kotak tersebut dengan brutalnya.
"Astaga, apa ini? Hampers malam surga?" Kedua mata Tiffany membulat sempurna dikala ia membaca tulisan yang terdapat di dalam kotak. Bagaimana tidak, tampak 7 helai lingeri dengan berbagai macam warna serta model yang luar biasa seksinya. Lalu terdapat parfume bermerk dengan aroma yang begitu menenangkan.
Tiffany terkejut, ketika tangannya tak sengaja memegang sebuah kotak persegi dan di dalamnya membuat Tiffany lebih tercengang lagi. Misk thaharah dengan 7 varian aroma berbeda.
"Darimana mereka dapat ide gila ini? Bisa-bisanya mereka-
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, pertanda pesan masuk. *Ingat, wajib dipakai. Ok! Good luck menggoda suami!* Alena.
Tiffany tertawa getir, seolah akal sehatnya sudah kehilangan kendali. Ponselnya kembali berbunyi. *Pakailah malam ini, itu semua sudah diloundry kok, Ciin!* Greta.
Dan untuk yang ketiga kalinya, ponselnya kembali berbunyi. *Itu limited edition, lho.* Dan pesan itu serentak dari kedua sahabatnya.
"Ini, sama saja aku terlihat seperti nggak pakai baju! Nggak kebayang reaksi Dimas nanti." Merasa frustasi akan ulah kedua sahabatnya itu.