Mantanku Tetanggaku

1410 Words
Pertemuan Tiffany dan teman-temannya berlangsung hingga malam tiba. Perempuan itu terlebih dahulu pergi dengan taksi yang baru dipesannya. "Lain kali kita ngumpul lagi ya, jangan dipikirkan si Miko sialan itu," ujar Greta. Tiffany tersenyum, "aku pergi dulu ya, bye...." Mereka pun saling melambai tangan. Taksi berjalan, Tiffany melihat kedua sahabatnya itu melalui jendela belakang mobil hingga tikungan membuat mereka tak terlihat lagi. Tiffany menyenderkan tubuhnya ke kursi mobil, dimainkannya ponsel yang ia genggam. Tak lama setelahnya, ponsel itu bergetar. Tampak nama Alena yang tertera di layar ponsel. Tiffany tersenyum seraya mengangkat panggilan tersebut. "Cie...yang masih kangen. Apa?" Kedua mata Tiffany memelotot terkejut. "Pak kita ke rumah sakit sekarang," ujarnya dengan wajah panik. Di rumah sakit, Tiffany terus berlari mencari sosok kedua sahabatnya, Gereta dan Alena. Jalannya perlahan melambat ketika ia melihat Alena memeluk Greta yang sedang terisak dan menjerit. "Greta." Tiffany dengan air mata yang sudah membasahi pipinya mengusap punggung Greta. "Fany...aku takut...." Greta menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan Tiffany. Tiffany mengusap rambut Greta, "kamu yang tenang, aku yakin Dio pasti kuat." Berusaha menenangkan Greta. Dio adalah suami Greta. Mereka menikah setahun yang lalu, sewaktu di perjalanan hendak menjemput Greta, lelaki itu mengalami kecelakaan. Hingga sekarang Dokter yang menangani suami Greta itu tak kunjung keluar dari ruang pasien tersebut. "Dokternya lama banget Fan, a-aku mau ketemu Dio...." Suara serak Greta terus terdengar bahkan beberapa kali ia mengeluarkan cegukan. Klak! Pintu terbuka, Dokter yang menangani Dio keluar. Segera mereka bertiga berdiri bersiap mendengar hasil pemeriksaan terhadap Dio. Wajah muram Dokter itu membuat aor mata Greta semakin menderas. "Maaf kami sudah melakukan yang terbaik, tapi-" "Tidak, tidak mungkin!" teriak Greta sambil menepuk-nepuk d**a Dokter yang bernama Farid. Tiffany dan Alena mencoba menenangkan Greta. Tangisan Greta semakin menjadi-jadi membuat pandangan mata menuju padanya. "Dio," panggil Greta dengan pandangan lirih serta tangannya yang bergetar hebat saat ia menyentuh dahi suaminya itu. Tangis Tiffany dan Alena tak kalah hebohnya mengingat sosok Dio yang mereka kenal adalah pribadi yang ramah dan suka bercanda. Dia adalah senior di kampus mereka. Dia langsung melamar Tiffany tanpa embel-embel pacaran. Dan benar saja, mereka menikah dan selama pernikahan mereka belum dikarunia anak . Tetapi, Dio tidak pernah mempermasalahkannya. Dia sangat menyayangi Greta. "Sayang, bangun," ujar Greta sembari menggoyang-goyangkan tubuh Dio yang sudah kaku. "Sayang, bangun jangan tinggalkan aku. Tolong bangun." Greta terus menekan tubuh Dio berharap adanya keajaiban. Tiffany dan Alena semakin sedih melihat Greta yang frustasi. Dio yang tubuhnya sudah ditutupi kain putih lewat dari hadapan mereka. Dua orang pria serta seorang suster mendorong ranjang yang berisi Dio yang sudah menjadi mayat tersebut. Hari itu juga, Dio diantar ke rumah mereka. Sepanjang perjalanan, isak tangis Greta tak henti-hentinya terdengar meratapi suaminya yang terbujur kaku. Sampailah mereka di kediaman Dio dan Greta. Disambut para keluarga dan tetangga lainnya. Greta dipeluk oleh keluarga Dio yang sudah lelah karena menangis. Jeritan serta isak tangis semakin pecah ketika mereka melihat jasad Dio. Malam itu, Tiffany dan Alena menginap di rumah Greta. Jasad Dio akan dikremasi besok Ya, Dio dan Greta menganut agama Kristen. Greta dengan pandangan lelahnya tampak tak sanggup lagi berkata-kata. Air matanya sudah mengering, mengingat suaminya yang telah tiada. "Kalau sudah tiada, baru terasa," ujarnya dengan suara melemah. "Seandainya aku bisa menebak panjang usia suamiku. Aku pasti rajin menemaninya ke acara-acara undangan teman ataupun kerabatnya. Aku akan rajin membuatkan bekal yang dia sukai dan sesekali akan mengajaknya keluar negeri untuk liburan bukan terus menekannya agar terus menabung dan bekerja dengan rajin tanpa cuti sehari pun," sesal Greta. "Aku akan melakukan itu semua jika aku tahu dia pergi secepat ini." Menatap sendu Tiffany dan Alena. Entah kenapa pikiran Tiffany langsung beralih pada Dimas, suaminya. Semua dari segi perlakuannya pada Dimas selama ini. Dua hari Tiffany berada di rumah Greta. Ia hanya mengirim satu pesan pada Dimas agar tidak mencarinya. Dan benar saja, Dimas hanya bisa mengiyakan. "Pulanglah, Fan. Dimas pasti sudah merindukanmu," ujar Greta. Tiffany menatap lirih pada Greta yang masih berduka. "Nggak apa-apa kok, masih ada Alena," lanjut Greta, mengerti maksud dari tatapan Tiffany. "Iya, kasihan tahu sama Dimas pasti dia cemas banget sekarang," timpal Alena. "Tapi, aku mau-" "Fany, sebagai sahabat aku cuma ingin melihatmu bahagia. Coba buka mata dan hatimu, apa kurangnya Dimas? Memang dia sederhana dan juga tidak kaya. Tapi, bukankah cara dia memperlakukanmu sudah cukup Fan?" tanya Greta. Tiffany terkekeh, "Greta, dia itu cuma mau mengikuti perjodohan karena menghormati keluargaku nggak lebih. Dan lagipula dia nggak cinta sama aku. Rasanya nggak mungkin banget." "Jadi, hanya mau menghormati doang ya. Gila kali Fan kalau Dimas bertahan sama kamu hanya karena itu. Dia nggak pernah marah dan terus sabar menghadapi kamu. Kalau aku jadi dia sudah pasti cari yang lain daripada mengurusi orang yang sama sekali tidak kucintai," potong Greta. "Yang dikatakan Greta benar Fan. Cobalah untuk menganggapnya sebagai suamimu. Lagipula nggak selamanya kan kalian hidup begini terus. Jangan pernah mempermainkan pernikahan Fan. Nanti kamu terkena karma," timpal Alena. "Jangan sampai kejadian yang menimpaku saat ini, akan terjadi padamu," ujar Greta membuat Tiffany terkejut. Seketika Tiffany terdiam, perlahan ia menganggukkan kepala. "Baiklah, hari ini aku akan pulang. Aku akan mencoba untuk membuka hati, terima kasih sudah mengingatkanku kalian sahabatku yang paling baik," ucapnya seraya menenggelamkan tubuhnya ke pelukan Greta disusul Alena. Saat itu juga, Tiffany bersiap-siap untuk pulang. *** Dimas meneguk habis minumannya. Matanya terus melihat ponselnya, menunggu adanya tanda-tanda kabar dari Tiffany. Namun nihil, ia berakhir kecewa karena operator yang malah menunjukkan rasa setianya mengirim pesan penawaran kuota. Suara mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya membuat Dimas beranjak keluar. Bukan taksi melainkan mobil pengangkut barang. Ternyata mobil tersebut salah alamat, rumah yang di samping rumah Dimas lah yang seharusnya menjadi alamat yang dituju. Rumah itu sudah lama kosong dan bisa dipastikan mobil tersebut sewaan seseorang untuk menjadi penghuni baru rumah tersebut. Sang supir, menyunggingkan senyuman seraya memundurkan mobilnya. Dimas berbalik hendak masuk ke dalam rumah. "Dimas," panggil seseorang yang suaranya tidak asing di telinga Dimas. Dimas menoleh, tampak Dokter yang menangani Tiffany sewaktu di puskesmas tersebut. "Nada." Dimas terkejut, adanya sosok mantan pacarnya itu. Nada tersenyum, ia menghampiri Dimas yang masih berdiri di ambang pintu. "Kamu penghuni rumah itu ya?" tanya Dimas ramah. Nada mengangguk, "aku dipindah tugaskan. Sudah lama aku mencari rumah yang pas. Terus, ada teman yang menyarankan rumah itu jadi setelah melihat keadaannya aku tertarik untuk tinggal. Nggak nyangka ya, ternyata kita tetanggaan," jawab Nada. "Iya, oh silakan masuk," ujar Dimas. Nada mengangguk lalu masuk. "Assalamu alaikum." "Waalaikumussalam," jawab Dimas. Nada melihat keadaan rumah Dimas yang sederhana namun rapi dan juga bersih. "Mau minum apa, Nad?" tanya Dimas. "Jangan repot-repot, keluarkan apa saja yang ada," jawab Nada sembari terkekeh. "Baiklah aku buatin teh saja ya," jawab Dimas sembari beranjak ke dapur. Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara taksi. Tiffany membuka sepatu sembari melihat sandal wanita di teras luar. "Ada tamu, ya?" tanya Tiffany. Tiffany dan Nada saling bertatapan. "Oh ini kan Dokter yang kemarin di puskesmas kan ya," ujar Tiffany mencoba menebak sosok Nada. Nada mengangguk pelan, "iya," jawabnya. Dimas datang dengan segelas teh. Kedua matanya memelotot terkejut melihat kedatangan Tiffany. "A-aku permisi pulang dulu," ujar Nada canggung. "Tunggu sebentar...ini tadi aku kebetulan lewat dari warung pecal. Aku beli dua bungkus, Dokter di sini saja dulu kita makan bareng. Enak lho," jawab Tiffany. Nada kembali duduk, "tapi, hanya ada dua bungkus tidak cukup untuk dimakan bertiga," jawabnya. "Oh, kalau begitu kalian berdua saja yang-" "Aku dan Dimas biasa kok sepiring berdua. Iya, kan Sayang?" potong Tiffany. Dia bilang sayang? "I...iya," jawab Dimas. "Sayang, piringnya?" tanya Tiffany. Dimas langsung beranjak ke dapur mengambil piring, sendok dan air minum. "Oh ya Dokter datang kemari karena dipanggil Dimas ya?" tanya Tiffany. Nada menggeleng, "saya penghuni baru di rumah sebelah," jawabnya gugup. Oh ngejar Dimas sampai segitunya. Menarik sekali....Batin Tiffany. Setelah selesai makan, Nada pun pamit untuk merapikan barang-barangnya. "Dokter tunggu sebentar," ujar Tiffany. Nada berbalik. "Itu tolong bungkusan pecalnya dibawa keluar," lanjut Tiffany. Nada mengangguk lalu membawa serta bungkusan pecal tersebut. "Dimas," panggil Nada. "Ah, ya," sahut Dimas seraya mengelap kedua tangannya yang basah setelah mencuci piring. "Aku permisi dulu ya," ujar Nada. "Oh iya...." Dimas berjalan hendak mengantar Nada. Akan tetapi, "Sayang, aku lelah boleh nggak tolong dipijat," ujar Tiffany seraya menunjukkan lengannya. "Iya, boleh. Oh ya, Nada hati-hati di jalan ya," ujar Dimas. Nada mengangguk, lalu berbalik keluar. Pintu pun ditutup oleh Tiffany. "Keren ya judul kisah percintaan abad ini," ujar Tiffany. "Maksud kamu?" tanya Dimas. "Mantanku, tetanggaku," jawab Tiffany sembari mengulu senyuman. Perempuan itu beranjak masuk ke dalam kamar tinggallah Dimas yang termangu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD