Malam itu, Dimas sedang berpikir keras tentang tugasnya yang harus berurusan dengan Miko. Di lain sisi, ia ingin terus memperjuangkan jabatan yang baru saja ia terima. Tapi di sisi lain, ia tak ingin membuat Tiffany bertambah sedih.
Dimas yang dilema menjadi frustasi, dipandangnya pesan Simson yang sedari tadi mengiriminya pesan.
"Ya, Allah apapun itu tunjukkan hamba jalan yang harus hamba pilih." Dimas mengangkat kedua tangannya. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan sendu.
Malam pun berlalu. Suara kokokkan ayam para tetangga membangunkan Dimas. Lelaki itu memaksa matanya untuk membulat. Karena lelaki itu hanya tidur beberapa jam saja.
Dimas melakukan peregangan tubuh agar membangkitkan otot-ototnya yang masih kaku. Beranjak keluar begitu suara adzan terdengar.
Setelah melaksanakan shalat shubuh, Dimas beranjak ke dapur memasak bekal serta sarapan pagi untuk Tiffany.
Sekilas Dimas melirik ke kamar Tiffany yang masih tertutup rapat. Ingin rasanya lelaki itu masuk melihat keadaan istrinya tersebut.
Dan dengan terpaksa, dia berjalan keluar dari rumah.
Setibanya di pos polisi, Simson langsung menghampiri Dimas. Tentu saja menanyakan perihal keputusan Dimas tentang masalah kemarin.
Bukannya mendapat jawaban, Simson justru ditinggal pergi oleh Dimas yang memilih masuk ke dalam pos.
"Bah, kenapa lagi si kawan ini?" Simson bertanya-tanya dengan logat Bataknya.
Pagi itu, para anggota kepolisian mengadakan senam untuk pembugaran tubuh mereka. Sesekali Simson melirik Dimas yang masih mendiaminya.
Barisan pun bubar, mereka kembali pada tugas masing-masing. Dengan segera, Simson berlari mengejar Dimas.
"Eh, kau ini kenapa? Dari tadi kabur terus kulihat?" tanya Simson setelah tangannya berhasil mencegat tubuh Dimas.
Dimas mengerutkan dahinya, duduk di tepian tiang pos. "Aku mau turun jabatan saja," ujarnya gamblang.
Simson yang terkejut langsung heboh, "eh kok bisa? Sudah lama lho kau ingin jabatan ini, coba kau pikirkan sampai kapan kau jadi Banpol?" Menepuk pundak kanan Dimas.
Dimas menggeleng, "entah lah Son, aku cuma nggak mau menambah kesedihan istriku lagi. Dia sudah sangat tersiksa gara-gara aku."
"Alah...itu cuma bentar aja paling nanti kau kasih emas berlian paling berubah cinta dia sama kau. Yakinlah samaku."
"Nggak Son, Tiffany bukan perempuan yang seperti itu. Sebenarnya dia sosok yang baik hanya saja dia sedang mengutarakan kekesalannya yang terpaksa menikah denganku," jawab Dimas lirih.
Simson tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa menerima keputusan Dimas yang memilih mundur karena menjaga perasaan sang istri.
***
Tiffany mengunyah permen karet, ia sedang dilanda kebosanan parah. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang berasal dari perutnya. Lapar yang tak tertahankan membuat Tiffany beranjak ke dalam dapur.
Di atas meja tampak sup ayam, sambal dan satu buah apel merah. Awalnya, Tiffany memilih untuk tidak menyentuh makanan tersebut. Tapi, suara cacing yang berdemo membuatnya duduk untuk sarapan.
Perlahan Tiffany mencicipi makanan yang dimasak Dimasak. Perempuan itu mengangguk menikmati.
"Gila, nggak nyangka rasanya enak banget," gumam Tiffany seraya menuangkan nasi ke piringnya.
Sup, sambal dan kerupuk juga ikut memenuhi piringnya. Perempuan itu terus mengunyah hingga semua makanan habis.
Tak ada yang tersisa hanya tinggal piring-piring kosong.
"Kalau masih ada, aku pasti nambah masakan Dimas benar-benar sangat enak. Nyesal banget baru tahu sekarang," gumam Tiffany seraya mengelus-elus perutnya yang membuncit kekenyangan.
Dipandanginya piring-piring kotor tersebut. Ia pun bangkit lalu membawa piring serta mangkuk tersebut menuju wastafel. Dicucinya lalu diletakkan pada tempatnya masing-masing.
"Selesai deh, nggak nyangka mengerjakan yang beginian cukup menyenangkan," gumam Tiffany.
Ia beranjak keluar dari dapur kemudian berhenti tepat di depan kamar Dimas yang kebetulan tidak dikunci. Ya, perempuan itu masuk.
Di dalam kamar Dimas, Tiffany seolah terhipnotis akan kebersihan dan kerapian kamar tersebut.
Buku-buku tersusun rapi, dan tak berdebu sama sekali berbeda dengan kamarnya yang berantakan.
"Ah, di sini nyaman sekali...." Tiffany duduk di tepian tempat tidur milik Dimas.
Perempuan itu pun memperhatikan jenis-jenis buku milik Dimas. Beberapa di antaranya terdapat kumpulan hadis, fiqih keagaamaan. Dan di rak kedua beberapa buku novel.
Tiffany tersenyum, "buku novel inspirasi hidup. Kukira tentang percintaan," gumamnya seraya membaca judul yang tertera di buku-buku tersebut.
Saat akan melangkah keluar tiba-tiba sebuah album foto menarik perhatian Tiffany. Diambilnya lalu dibukanya isi album tersebut.
Berbagai foto Dimas sewaktu masih kecil ada di sana. Kulit sawo matang dengan berbagai gaya serta senyuman terdapat di semua foto Dimas.
"Kalau diperhatikan, dia ganteng juga... dibandingkan dengan Miko?" Tiffany terdiam sejenak.
Ia kembali membalik foto untuk melihat foto Dimas yang lain. Betapa terkejutnya Tiffany melihat foto Aji ayahnya saling berangkul bahu denga Danu ayah Dimas.
Mereka mengenakan seragam SMA. Tiffany menyengir tidak menyangka ayahnya yang cukup pendiam dan sosok yang serius itu terlihat tertawa lepas dalam foto tersebut.
"Ih, jadi gemas deh sama Papa...."
Tiffany menangkap sebuah foto Dimas yang mengenakan seragam SMA dengan senyuman tipis di kerumunan teman perempuannya.
"Aku yakin, saat ini kamu pasti jadi rebutan siswi-siswi di sana."
Tiffany mengusap lembut foto wajah Dimas. "Mungkin jika saat itu kita saling mengenal aku yakin kalau aku ada di antara mereka yang mengejarmu."
Foto demi foto milik Dimas berhasil membuat Tiffany terpukau. Ia baru menyadari betapa tampannya suaminya tersebut.
Hingga tibalah di foto terakhir, Tiffany terkejut melihat fotonya sewaktu kecil ada di sana. Dan yang membuatnya bingung. Bagaimana bisa dia dan Dimas saling merangkul dan tertawa melihat ke arah kamera?
Bisa ditebak itu foto sewaktu mereka masih duduk di bangku SMP. Tiffany memijat pelipisnya mencoba memaksa untuk mengingatnya. Namun, nihil ia tidak mengingat apapun tentang Dimas.
"Aku harus tanya Papa." Tiffany bergegas keluar dari rumah.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, tampak nama Greta sahabatnya di layar.
"Halo..., di rumah memangnya kenapa? Sekarang ya? Oke. Tunggu sebentar, aku OTW." Tiffany mengakhiri panggilan.
"Nanti saja ke rumah Papa, sudah lama nggak hunting," gumam Tiffany seraya mengoleskan make up ke wajahnya.
Tiffany beranjak keluar ketika klakson taxi online yang dipesannya terdengar.
***
Tiffany serta kedua temannya menikmati angin sepoi di bawah tenda yang berada di pantai. Mereka menyeruput es kelapa muda.
Memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dengan pakaian terbuka serta bikini-bikini yang selalu membuat Tiffany dan teman-temannya saling berbisik sekaligus mentertawakan mereka.
"Sudah tepos gitu dipamerin," ujar Greta.
Tiffany dan Alena tertawa ria.
"s**u nya juga kempot gitu, hahaha..." Alena menyahut.
"Heleh kayak punya kalian bagus aja. Padahal mah lebih parah," ujar Tiffany.
Mereka bertiga pun serempak tertawa lepas.
"Oh ya ngomong-ngomong gimana kabar Miko sekarang?" tanya Alena.
Tiffany terdiam, ia menarik napas pelan. "Kami sudah putus," jawabnya lirih.
"Lho, kok bisa?" tanya Greta.
"Dia selingkuh dengan Laura."
Greta dan Alena saling berpandangan.
"Laura, sepupumu itu?" Greta memasang wajah yang penuh penasaran.
Tiffany mengangguk, "ya...siapa lagi?"
"Ah nggak mungkin deh, si Miko itu kan sayang banget sama kamu. Dia bahkan rela menunggu jandamu," ujar Alena tidak percaya.
"Tapi memangnya kamu lihat langsung atau jangan-jangan kamu dengar dari orang lain, jangan gampang termakan omongan-"
"Aku melihat dan mendengar semuanya Gret...bahkan sekarang Laura sedang mengandung anaknya Miko." Tiffany memotong perkataan Greta.
Greta dan Alena saling memelotot masih belum percaya.
"Waktu itu, aku berniat memberinya kejutan anniversary kami. Aku mendatangi hotel tempat dia menginap. Sewaktu keluar dari lift, aku melihat Miko sedang berargumen dengan perempuan dan dia adalah Laura. Mereka cekcok mengenai kehamilan Laura yang ditolak mentah-mentah oleh Miko. Jujur aku langsung shock tidak percaya." Air mata Tiffany sudah menderasi pipinya.
Greta dan Alena bangkit dari duduk mereka kemudian mengusap lembut punggung Tiffany untuk menenangkannya.
"Sabar Fan, karma berlaku." Greta berusaha menenangkan Tiffany.
"Iya, Fan masih banyak kok cowok di dunia ini. Nggak harus dia juga kan. Lagipula, yang di rumahmu yang sekarang lebih tampan dan jauh lebih baik dibandingkan si Miko." Alena menimpali.
Perlahan Tiffany tertawa, "apaan sih kok malah bahas si Dimas."
"Nah gitu dong...oh ya, gimana hubungan kamu dengan si Pak Polisi itu?"
"Ya, gitulah jarang ngobrol kami Len," jawab Tiffany seraya mengaduk minumannya.
Greta menggaruk kepalanya, "masa sih nggak ada timbul rasa cinta di hati kalian berdua?"
"Tiffany kan orangnya Bucin banget, ya nggak segampang itu lah dia lupa sama Miko."
"Greta, Alena...cinta itu butuh proses, aku nggak bisa meramal ke depannya bagaimana. Jadi, mau nggak mau ikuti alur takdirlah. Tunggu beberapa minggu, bulan paling lama setahun." Perkataan Tiffany membuat Greta dan Alena tertawa.
"Ya, kali kamu menunggu setahun," ujar Greta.
"Nggak lah," sanggah Tiffany.
Aku hampir lupa dengan foto tadi. Sebenarnya, apa yang terjadi?