Aku Harus Bagaimana?

1232 Words
Pagi itu, Dimas sudah memakai seragam dinasnya. Langkahnya terhenti tepat di depan kamar Tiffany. Namun, sesaat kemudian, ia kembali melangkah keluar dari area rumah. Sementara itu, Tiffany yang ternyata tidak bisa tidur, terus mengusap air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. "Kenapa takdir begitu kejam padaku? Aku hanya ingin bahagia, tapi kenapa aku...ini tidak adil." Menyenderkan tubuhnya, meratapi nasib. Dimas sudah berada di parkiran area kantor polisi. Ia mengusap kepalanya, pikiran mengenai Tiffany menggerogotinya. "Hei!" Simson menepuk pundak Dimas membuatnya terperanjak. "Hampir saja, kamu ini hobby nya ngagetin orang saja." Wajah Dimas mengurat kesal. Simson terkekeh, "janganlah begitu kawan, kau tahu nggak kenapa pak ketua panggil kita?" Dimas menggelengkan kepalanya, "mungkin mau cabut jabatan kita kali," jawabnya dengan nada malas. "Ah kau ini, ngawur. Stress!" Dimas tertawa terpingkal-pingkal, menanggapi Simson yang emosian. Mereka berlalu masuk ke dalam kantor. Tiga puluh menit berlalu, Dimas dan Simson keluar. Masing-masing, mereka diberi sebuah surat yang dibaluti amplop. Ya, itu surat tanda perintah penangkapan seseorang. "Dari tadi kulihat kau murung terus. Ada apa? Istri kau berulah lagi?" tanya Simson, sambil mengunyah cemilannya. "Kenapa seperti sebuah kebetulan ya?" Dimas mengusap kepalanya seraya memandangi amplop di tangannya. Simson mengerutkan wajahnya, merasa bingung dengan jawaban Dimas. "Kebetulan yang seperti apa, maksud kau?" Dimas menunjukkan amplop yang ia pegang. Namun, Simson yang berbadan gendut itu menggeleng semakin kebingungan. "Miko itu pacar istriku, Son." Menghembuskan napas, merasa frustasi. Simson yang mendengar jawaban Miko, terdiam. Akan tetapi, suara tawanya pecah. "Mantap itu, ini kesempatan kau untuk memisahkan mereka. Tunggu apa lagi, aku dukung kau seratus persen." Dimas menatap Simson yang semangat. "Aku tidak sejahat itu, Son. Aku tidak mau membuat Tiffany patah hati dan itu hanya membuat rasa bencinya terhadapku semakin bertambah." Simson menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, apa yang kau pikirkan, kawan. Tapi, yang pasti mau tidak mau kasus ini harus kita pecahkan bersama. Atau jangan-jangan kau...." Menatap menyelidik pada Dimas. "Jangan bilang kalau kau mau mundur?" tanya Simson dengan tatapan tajam. Dimas menyenderkan tubuhnya, tak ada jawaban dari bibirnya. "Kawan coba kau pikirkan kalau kau mundur itu hanya berakhir sia-sia. Masa depan kau tetap jalan di tempat dan pacar si Tiffany itu juga tetap ditangkap. Ujungnya kau tidak dapat apa pun." Simson berusaha keras meyakinkan Dimas. Namun, dari raut wajah Dimas terlihat jelas bahwa lelaki itu tak peduli. "Benar kata orang cinta itu buta. Sekarang terserah kau lah. Aku pergi dulu, kau pikirkan lah masak-masak." Simson bangkit lalu beranjak. Dimas menatap Simson yang memunggunginya hingga pria itu hilang di ambang gerbang. 'Kau benar, Son. Cinta memang buta. Aku terus mencintainya meskipun di hatinya ada orang lain.' Tiffany mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya. Suara gemuruh yang berasal dari dalam perut tak lagi dihiraukannya. Seharian, wanita itu mengurung diri di dalam kamar. Terus menangis sampai kedua matanya membengkak parah. "Kenapa, kenapa hidupku berakhir seperti ini? Menikah dengan orang asing dan diselingkuhi oleh orang yang paling kupercaya. Ini tidak adil, aku juga berhak bahagia." Tiffany bergumam. Tok Tok Tok Ketukan pintu yang tak lain dari Dimas, tak dihiraukannya. "Tiffany, ada yang ingin kubicarakan. Apa aku boleh masuk?" tanya Dimas dari luar. Tiffany tak menjawab, ia mengambil bantal untuk menutup telinganya. Klak! Pintu terbuka. Dimas menatap Tiffany yang berbaring di atas tempat tidur. "Aku mau bicara serius sama kamu. Bolehkan?" tanya Dimas pelan. "Keluar," jawab Tiffany singkat. Dimas duduk di tepian tempat tidur, "tapi, aku benar-benar ingin bicara serius sama kamu? Tolonglah dengarkan aku-" "Aku bilang, keluar!" teriak Tiffany sambil menyerang Dimas dengan melemparkan bantal ke arah lelaki itu. Dengan terpaksa, Dimas keluar. Kemudian, dari dalam kamar terdengar suara tangisan Tiffany. Dimas duduk di depan pintu lalu menunduk mendengar isakan Tiffany. Malam tiba, seperti biasa Dimas sudah selesai menyiapkan makan malam. Tiffany yang sedari tadi ia tunggu tak kunjung menunjukkan diri. Dimas mulai khawatir dan beranjak untuk menghampirinya. Dan benar saja, Tiffany masih berbaring dengan memakai baju yang sama. Ya, perempuan itu tidak mandi seharian penuh. Dimas menghela napas, berusaha sesabar mungkin untuk menghadapi Tiffany yang tidak bisa ia tebak isi hatinya. Dimas tidak tahu apa yang terjadi pada Tiffany dan Miko. "Tiffany, makan yuk. Sudah malam, dari tadi kamu terus mengurung diri. Kalau punya masalah paling tidak kamu bisa cerita sama aku," ujar Dimas. Tak ada pergerakan dari Tiffany dan itu membuat Dimas mulai bingung sekaligus pamit, "Tiffany," panggil Dimas, namun Tiffany tetap diam. Dimas yang panik langsung menggendong istrinya ke puskesmas terdekat. "Permisi, tolong istri saya!" teriak Dimas mengundang tatapan orang-orang di sekitarnya. "Eh, Dimas." Seorang perempuan menyentuh pundak lelaki itu. Tatapan Dimas sendu dan pucat. Ia sangat mengkhawatirkan Tiffany. "Ayo ke ruanganku," ujar wanita itu, Dimas mengekorinya. Wanita itu mulai memeriksa Tiffany dengan stetoskop lalu menepuk pelan perutnya hingga menimbulkan suara bergema. "Dia pingsan karena tidak memakan apa pun. Perutnya sangat kosong," ujar dokter itu sembari menyuntikkan imun pada tubuh Tiffany. Dimas menyentuh tangan Tiffany, dia terlihat semakin panik. "Apakah itu parah?" tanya nya. Wanita itu tersenyum lalu menggeleng, "tidak, mungkin ini pertama kali perutnya kosong. Jadi, tidak terlalu parah," Dimas menghembuskan napas lega, ia menatap lirih pada wajah Tiffany yang pucat. "Aku sudah menyuntiknya dengan imun yang akan memberikan nutrisi pengganti makanan. Sebentar lagi, dia akan sadar." "Terima kasih, Dokter," ucap Dimas. Senyuman wanita itu buyar seketika, merasa tidak senang akan jawaban Dimas yang memanggilnya dokter. "Dia cantik ya," ujar wanita itu. Dimas tak menjawab, pandangannya hanya terfokus pada Tiffany. "Apa kamu benar-benar bahagia?" tanya wanita itu. "Ya, begitulah," jawab Dimas. Wanita itu tersenyum semringah, "tunggulah dalam 2 menit ini dia akan sadar, aku permisi dulu," ujarnya yang diangguki oleh Dimas. Sekeluarnya wanita itu dari ruangan, ia berhenti di depan pintu sambil memegangi dadanya yang sesak. "Kenapa, kenapa kamu muncul di saat aku sudah mulai terbiasa tanpamu." Tiffany dikejutkan dengan suasana tempatnya berbaring. Di tepian tempat tidur tampak Dimas yang memejamkan mata sambil menggenggam tangannya. Tiffany berdehem, segera Dimas berdiri. "Kamu sudah sadar? Terima kasih ya, Allah." "Aku kira aku sudah mati," gumam Tiffany, dengan raut kesal. "Kenapa kamu nggak makan seharian? Kamu tahu nggak betapa paniknya aku?" Dimas tak kalah kesalnya pada Tiffany. Tiffany tak menjawab, ia bangun dari tempat tidur. Tangan Dimas langsung memegangi tangannya, takut Tiffany terjatuh. "Lepas! Aku nggak butuh bantuanmu!" teriak Tiffany. Dimas tetap memegang tangan Tiffany yang memberontak. "Hei! Kamu tuli ya, aku bilang lepas!" teriak Tiffany lagi. Klak! Dokter wanita itu kembali masuk, "oh sudah bangun ya," ujarnya sembari tersenyum. Tiffany mengalihkan pandangannya, raut wajah kesal itu masih berbentuk di dahinya. "Dimas, ini obatnya sudah kutebus. Dan waktu penggunaannya sudah tertera di stiker obatnya," lanjut wanita itu. "Berapa harganya?" tanya Dimas. Wanita itu menggeleng, "aku merasa terhina jika kamu membayarku," jawabnya membuat Tiffany keheranan. "Baiklah, terima kasih. Kami permisi dulu," ucap Dimas sambil menarik pelan tangan Tiffany. Wanita itu meratapi kepergian Dimas. Sesak rasanya hingga tangannya meremas baju dinas yang ia kenakan. Tibalah mereka di rumah. Dengan sigap, Dimas menyiapkan obat untuk diminum Tiffany. "Sepertinya kalian terlihat cukup akrab," goda Tiffany sambil menahan tawa geli. Dimas melirik Tiffany, "apa maksud kamu?" "Ya, antara kamu dan dokter itu. Jelas-jelas dia menyukaimu, dan kayaknya kamu juga tuh," jawab Tiffany. "Kenapa kamu nggak makan seharian?" tanya Dimas mengalihkan topik pembicaraan. Tiffany menghembuskan napasnya, "Miko," jawabnya singkat. "Miko? Ada apa dengannya?" tanya Dimas tak mengerti. "Miko...dia selingkuh dengan Laura, sepupuku sendiri." Jawaban Tiffany membuat Dimas bertanya-tanya. "Hahaha...kukira dia masih sabar menunggu ternyata aku salah," lanjut Tiffany. Dimas terdiam, dipandangnya Tiffany yang menelan habis obatnya lalu beranjak masuk ke dalam kamar. 'Sekarang, aku harus bagaimana?' Batin Dimas bertanya-tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD