Pelukan Niko begitu erat ketika ia mengangkat tubuh Lara yang sudah lemas. Tanpa pikir panjang, ia langsung melangkah cepat menuju tangga. Beberapa orang menoleh kaget, sebagian menutup mulut menahan seruan, namun Niko sama sekali tak peduli. Sorot matanya hanya fokus pada wajah pucat Lara di gendongannya. Namun, ketika kakinya menapaki anak tangga pertama, Lara mengerjap pelan. Tangan tipisnya berusaha menggenggam kerah baju Niko. “Jangan… jangan ke kamar, Mas…” suaranya lirih, hampir terputus, “…masih ada keluarga Mbak Marinka…” Niko menunduk sedikit, menatap mata Lara yang memohon dengan sisa tenaga. Sekilas, ia ingin bersikeras, kamar utama lebih nyaman, lebih layak untuk Lara. Tapi tatapan itu membuatnya berhenti. Rahangnya mengeras, lalu tanpa ragu ia membelokkan langkah. Menuju

