Lorong yang mereka tempati cukup jauh dari ruang tamu, terpisah oleh dua pintu besar dan belokan kecil menuju sayap rumah. Dari tempat itu, riuh suara keluarga terdengar samar, hanya berupa dengung tak jelas. Suasana di sana lebih sepi, dingin, hanya ada cahaya lampu gantung yang menerangi dinding dengan bayangan panjang. “Mas, please. Kamu jangan seperti itu ke Mama sama Tante Vana. Tolong banget ngertiinn keadaan. Kalau makin kamu lawan, mereka pasti cari gara-gara lagi. Aku nggak mau sampai Lara denger yang aneh-aneh soal dia.” Marinka berdiri di depan Niko, tangannya menahan lengan pria itu. Napasnya memburu dan wajahnya penuh dengan kecemasan. Ia tahu betul sifat Niko, sekali terpancing, amarahnya bisa meledak di depan semua orang. Niko berhenti. Tatapannya tetap lurus, tak menoleh

