Bab 135

2148 Words

“Katakan, Mbok… siapa yang bawa Lara?” Kali ini suara Niko terdengar lebih rendah. Ia mencoba mengendalikan dirinya. Tapi entah kenapa, justru itu yang membuat suasana terasa jauh lebih menekan. Lelaki itu masih berdiri di tengah ruang keluarga dengan napas kasar dan mata memerah dipenuhi emosi yang belum mereda. Pecahan kaca masih berserakan di lantai akibat tendangannya tadi, sementara Mbok Asih berdiri gemetar di hadapannya sambil terus menangis sesenggukan. Bagaimana ia tidak panik? Bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki di mansion itu sepulang kerja, ia sama sekali tidak melihat Lara berada di mana pun. Tidak di dapur, tidak di taman belakang, tidak juga di paviliun tempat perempuan itu biasanya beristirahat. Padahal selama ini, setidaknya ada satu kebiasaan yang diam-diam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD