bc

Selir Ketiga Belas Permaisuri yang Meminta Cerai

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
time-travel
friends to lovers
decisive
king
bxg
lighthearted
kicking
ancient
like
intro-logo
Blurb

Lin Yue adalah perempuan yang namanya lebih dikenal daripada senyumnya.Di dunia bisnis modern, ia dikenal sebagai perempuan yang tidak mengenal kata lunak. Ia cerdas, tegas, berani mengambil keputusan, dan terkenal karena kritikannya yang mampu membuat seorang direktur perusahaan kehilangan muka dalam satu rapat.Baginya, dunia bisnis sederhana.Yang lemah akan tersingkir. Yang tidak mampu bertahan, akan ditinggalkan.Namun suatu malam, ketika sedang dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan penting, hidupnya berubah dalam satu detik.Sebuah truk melaju tanpa kendali.Seorang nenek dan seorang anak kecil tiba-tiba menyeberang jalan.Lin Yue membanting setir.Brak!Setelah itu, gelap.Ia mengira hidupnya berakhir.Namun ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya berada di sebuah kamar asing dengan pakaian kuno yang berat dan dua dayang yang menangis di samping ranjang.Lebih buruk lagi…Ia ternyata telah masuk ke dalam tubuh Shen Lianyu, selir ke-13 Kaisar Xiao Zhenyuan, seorang perempuan lemah yang selama bertahun-tahun menjadi bahan hinaan para selir istana.Selir ke-13 tidak disukai.Tidak dicintai.Tidak dianggap.Bahkan kaisar nyaris tidak mengingat wajahnya.Dan perempuan yang memiliki tubuh itu telah meninggal setelah mengalami perlakuan kejam dari orang-orang di istana.Lin Yue hanya membutuhkan beberapa menit untuk memahami situasinya.Lalu ia tersenyum.Karena mereka semua telah melakukan satu kesalahan besar.Mereka mengira perempuan yang bangun dari ranjang itu masih Shen Lianyu yang sama.Padahal jiwa yang berada di dalam tubuh tersebut adalah seorang perempuan dari abad ke-20 yang pernah membuat para pengusaha senior gemetar hanya dengan satu tatapan.Ia tidak berniat merebut perhatian kaisar.Tidak berniat menjadi selir kesayangan.Tidak tertarik pada perebutan kekuasaan.Ia hanya punya satu tujuan:Mengumpulkan cukup banyak uang untuk meninggalkan istana.Masalahnya, untuk keluar dari istana, ia harus mendapatkan perceraian dari kaisar.Dan setiap kali bertemu sang kaisar, bukannya berusaha mendapatkan kasih sayang…ia justru meminta cerai.Awalnya Xiao Zhenyuan menganggap perempuan itu menggelikan.Kemudian menarik.Lalu mengganggu pikirannya.Dan tanpa sadar, sang kaisar mulai menunggu perempuan itu datang kepadanya hanya untuk mendengar kalimat yang paling ia benci:“Yang Mulia, kapan kita bercerai?”Di sisi lain, Shen Lianyu mulai membangun usahanya secara diam-diam, memanfaatkan pengetahuan dari kehidupan modern, modal yang dimilikinya, serta dua dayang setianya.Sedikit demi sedikit, selir ke-13 yang dahulu selalu menundukkan kepala mulai membuat seluruh istana menoleh.Ia membalas penghinaan dengan cara yang membuat para selir ingin mencabik rambutnya.Ia membuat musuh-musuhnya terjebak oleh permainan mereka sendiri.Ia menghasilkan uang ketika perempuan lain sibuk memperebutkan perhatian kaisar.Dan yang paling mengerikan—ia tidak takut kepada kaisar.Namun istana bukan tempat untuk bermain-main.Di balik kemewahan, terdapat rahasia tentang kematian pemilik tubuh asli, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, dan orang-orang yang tidak akan membiarkan seorang selir rendahan mengubah aturan permainan.Ketika Shen Lianyu akhirnya menemukan kebenaran tentang kematian Shen Lianyu yang asli, ia dihadapkan pada sebuah pilihan:Pergi dari istana seperti yang selama ini ia inginkan…atau tinggal dan menghancurkan orang-orang yang telah membuat perempuan malang itu mati tanpa seorang pun peduli.Sementara itu, Xiao Zhenyuan perlahan menyadari bahwa perempuan yang ingin meninggalkannya adalah satu-satunya orang di seluruh istana yang tidak pernah berusaha mendapatkan hatinya.Dan justru karena itulah…hatinya jatuh terlebih dahulu.Dari seorang selir yang tidak dianggap menjadi perempuan yang mengguncang seluruh istana.Dari permintaan cerai menjadi pernikahan.Dari perempuan yang ingin hidup sendirian menjadi permaisuri.Dan dari seorang wanita yang hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri…menjadi ibu dari tiga anak kembar yang kelak akan mengubah sejarah kekaisaran.Namun sebelum semua itu terjadi, Shen Lianyu harus bertahan hidup di tempat di mana satu senyuman bisa menyembunyikan pisau.Karena di istana ini—cinta bukan satu-satunya hal yang bisa membunuh seseorang.

chap-preview
Free preview
HIDUP YANG BERAKHIR DI TENGAH HUJAN
Hujan turun sejak sore. Bukan hujan yang membuat jalanan tergenang atau orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Hanya gerimis tipis yang jatuh terus-menerus, membuat kaca gedung perkantoran dipenuhi garis-garis air. Shen Lianyu masih duduk di depan meja kerjanya. Jam di sudut layar komputer menunjukkan pukul 21.47. Di atas meja ada laporan penjualan, dua ponsel, secangkir kopi yang sudah dingin, dan sebungkus roti yang dibelinya sejak siang tetapi belum sempat disentuh. Ponsel di sebelah tangannya bergetar. Asisten: Bos, belum pulang? Lianyu membaca pesan itu. Beberapa detik kemudian, ia membalas. Lianyu: Sebentar lagi. Pesan berikutnya langsung masuk. Asisten: Anda bilang begitu dua jam lalu. Lianyu tersenyum kecil. Lianyu: Kamu mulai berani mengomel sekarang? Balasannya datang cepat. Asisten: Karena saya takut besok harus mencari bos baru. Lianyu tertawa pelan. Kantor yang sejak tadi sunyi terasa sedikit lebih hidup. Ia mematikan layar komputernya, memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas, lalu berdiri. Tubuhnya terasa pegal. Sudah beberapa hari ia tidur kurang dari lima jam sehari. Bukan karena tidak punya waktu tidur, tetapi karena selalu ada sesuatu yang menurutnya harus diselesaikan malam itu juga. Begitulah hidup Shen Lianyu. Kalau ada masalah, ia selesaikan. Kalau ada orang yang ingin menjatuhkannya, ia hadapi. Kalau ada kesempatan menghasilkan uang, ia ambil. Dan kalau seseorang berkata, “Tidak mungkin,” biasanya justru itu yang membuatnya ingin mencoba. Ia mengambil mantel dari sandaran kursi. Sebelum keluar, matanya sempat jatuh pada foto kecil di atas meja. Foto dirinya bersama neneknya. Sudah lama. Neneknya sudah tidak ada. Lianyu mengusap permukaan bingkai sebentar. “Pulang dulu,” gumamnya kepada foto itu. “Besok lanjut lagi.” Entah kenapa malam itu ia merasa sangat lelah. Bukan hanya tubuhnya. Sesuatu di dalam dirinya juga terasa kosong. Namun Lianyu tidak terlalu memikirkannya. Ia mengambil kunci mobil dan turun ke parkiran. --- Jalanan malam cukup ramai. Lampu kendaraan memantul di aspal yang basah. Lianyu mengemudi sambil sesekali melihat jam. 22.26. Ia sebenarnya ingin mampir membeli sesuatu untuk dimakan. Perutnya sudah lapar sejak sore. Namun begitu lampu lalu lintas berubah hijau, ia kembali melaju. Lima menit kemudian, sebuah bayangan kecil muncul di depan kendaraan. Lianyu refleks menginjak rem. Seorang anak kecil berdiri di tengah jalan. Di belakangnya ada seorang perempuan tua yang tampak panik. Lianyu membanting setir. Semua terjadi terlalu cepat. Suara klakson. Cahaya lampu kendaraan. Hujan. Aspal yang licin. Kemudian— gelap. --- Hal pertama yang Lianyu rasakan adalah sakit kepala. Bukan sakit yang menusuk, melainkan rasa berat seperti kepalanya baru saja dipukul sesuatu. Ia mengerang pelan. “Air...” Suara seorang perempuan terdengar dari dekat. “Nona!” Lianyu membuka mata. Langit-langit kayu. Bukan plafon putih apartemennya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Di samping tempat tidur berdiri seorang gadis berpakaian aneh. Rambutnya disanggul. Pakaiannya panjang. Wajahnya pucat. Begitu melihat Lianyu membuka mata, gadis itu langsung berlari ke pintu. “Nona sudah sadar!” Lianyu mengerutkan kening. Nona? Ia mencoba duduk. Kepalanya kembali berdenyut. Gadis tadi buru-buru kembali. “Jangan bangun dulu!” “Di mana aku?” Gadis itu membeku. “Nona?” “Aku tanya, ini di mana?” Gadis itu menatapnya seperti baru saja melihat hantu. “Nona...” “Jangan panggil aku nona terus. Aku cuma bertanya—” Lianyu berhenti. Ia melihat tangannya. Kecil. Putih. Jari-jarinya jauh lebih halus daripada tangannya sendiri. Ia menarik selimut. Pakaian yang dikenakannya juga bukan pakaian rumah sakit. Kain panjang berwarna pucat menutupi tubuhnya. Lianyu menatap sekeliling. Lemari kayu. Meja rendah. Lentera. Tirai kain. Tidak ada televisi. Tidak ada lampu listrik. Tidak ada suara kendaraan. Ia turun dari tempat tidur. Gadis tadi langsung panik. “Nona, jangan!” Lianyu tidak mendengarkan. Ia berjalan menuju cermin di sudut ruangan. Satu langkah. Dua langkah. Kemudian ia berhenti di depan cermin perunggu. Wajah yang menatap balik kepadanya bukan wajahnya. Gadis muda. Kulit pucat. Mata besar. Rambut hitam panjang. Wajah cantik dengan t**i lalat kecil di dekat ujung mata. Lianyu menatap pantulan itu lama. “...Siapa kamu?” Tidak ada jawaban. Ia menyentuh wajahnya sendiri. Pantulan itu melakukan hal yang sama. Jantungnya mulai berdebar. “Aku...” Napasnya tercekat. “Aku siapa?” Gadis di belakangnya mulai menangis. “Nona Shen...” Lianyu menoleh cepat. “Shen?” Gadis itu mengangguk. “Nona Shen Lianyu.” Nama itu membuat kepalanya mendadak sakit. Lalu— sejumlah potongan ingatan asing muncul. Seorang gadis kecil duduk sendirian di halaman. Seorang wanita memarahinya. Suara tawa beberapa perempuan. Pintu yang ditutup dari luar. Semangkuk makanan yang dibiarkan dingin. Seseorang berkata, “Dia hanya anak keluarga Shen. Tidak perlu dipedulikan.” Kemudian sebuah ruangan besar. Lantai batu. Orang-orang berlutut. Dan suara seseorang: “Mulai hari ini, Shen Lianyu masuk ke kediaman kekaisaran sebagai selir ketiga belas.” Lianyu tersentak. Tangannya mencengkeram sisi meja. “Apa...?” Gadis di belakangnya semakin pucat. “Nona?” Lianyu menatapnya. “Ulangi.” “Nona?” “Yang terakhir tadi.” Gadis itu tidak mengerti. Lianyu menarik napas. “Katamu aku siapa?” “Shen Lianyu.” “Dan aku ada di mana?” Gadis itu menelan ludah. “Di kediaman kekaisaran.” Lianyu menatapnya. “...Kekaisaran?” Gadis itu mengangguk perlahan. “Ya.” Lianyu menutup mata. Oke. Mungkin aku masih pingsan. Ini mimpi. Ia mencubit lengannya sendiri. Sakit. “Ah!” Gadis itu langsung mendekat. “Nona!” Lianyu menatap lengannya. “Bukan mimpi.” “Memang bukan.” Sebuah suara tiba-tiba terdengar di kepalanya. > 【Selamat datang, Host.】 Lianyu membeku. Ia menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. > 【Kesadaran berhasil dipulihkan.】 “Siapa?” Gadis di depannya terlihat bingung. “Nona?” Lianyu tidak menjawab. > 【Sistem Takdir Terbalik aktif.】 Lianyu menatap kosong ke depan. Jangan bilang... > 【Host telah memasuki dunia yang tidak sesuai dengan garis kehidupan sebelumnya.】 Tidak. > 【Misi utama akan segera dimulai.】 “Tidak.” Gadis itu semakin takut. “Nona, apakah kepala Nona masih sakit?” Lianyu memegang dahinya. “Bukan kepala.” Ia menarik napas panjang. “Yang sakit itu hidupku.” Gadis tersebut jelas tidak mengerti. Lianyu sendiri juga tidak. Ia berjalan kembali ke tempat tidur dan duduk. Beberapa saat ia hanya diam. Kemudian bertanya, “Namamu siapa?” Gadis itu segera menjawab. “Mei Lan.” “Mei Lan.” “Ya, Nona.” “Berapa umurku?” Mei Lan tampak sedikit bingung. “Enam belas.” Lianyu menatap kosong. “Enam belas?” “Ya.” “Dan aku... sudah menjadi selir?” Mei Lan menundukkan kepala. “Benar.” Lianyu mengusap wajah. “Hebat.” Mei Lan tidak berani menjawab. “Umur enam belas, tiba-tiba masuk istana, lalu menjadi selir. Lengkap sekali.” Ia menatap langit-langit. “Semesta benar-benar tidak memberiku waktu untuk adaptasi.” > 【Koreksi.】 Lianyu mengerutkan kening. > 【Usia Host saat ini: enam belas tahun.】 Iya. > 【Status: Selir Ketiga Belas.】 Sudah dengar. > 【Status kehidupan: sangat buruk.】 Lianyu terdiam. Apa maksudmu sangat buruk? > 【Host ingin melihat ringkasannya?】 Tidak. > 【Baik.】 Lianyu menghela napas. Kenapa sistem ini terdengar menyebalkan? Mei Lan mendekat. “Nona...” “Hm?” “Apakah Nona masih ingat apa yang terjadi sebelum pingsan?” Lianyu diam. Ia tidak bisa mengatakan bahwa dirinya berasal dari dunia lain. Tidak bisa menjelaskan kecelakaan. Tidak bisa mengatakan bahwa tubuh ini bukan tubuhnya. Jadi ia memilih jawaban paling aman. “Tidak terlalu.” Mei Lan terlihat sedih. “Tidak apa-apa. Nona memang sudah lama sering lupa.” “Sering lupa?” Mei Lan mengangguk. “Sejak masuk ke sini, Nona sering sakit.” Lianyu menatap gadis itu. “Dan tidak ada yang peduli?” Mei Lan terdiam. Jawaban itu sudah cukup. Lianyu tidak bertanya lagi. Ia mengambil mangkuk teh di meja. Sudah dingin. Ia meneguk sedikit. Wajahnya langsung berubah. “Ini apa?” “Teh.” “Ini air yang pernah melihat daun teh dari kejauhan.” Mei Lan menutup mulut, berusaha menahan tawa. Lianyu meliriknya. “Kamu mau tertawa, tertawa saja.” Mei Lan akhirnya terkikik. Untuk pertama kalinya sejak Lianyu terbangun, suasana terasa sedikit lebih ringan. Namun suara langkah kaki dari luar membuat Mei Lan langsung diam. Dua orang pelayan lewat di balik pintu. Salah satunya berbisik, “Katanya Nona Shen sudah sadar.” “Kenapa?” “Entahlah. Bukankah lebih baik kalau dia tetap sakit?” Langkah mereka menjauh. Lianyu menatap pintu. Kemudian menoleh kepada Mei Lan. “Mereka membenciku?” Mei Lan tidak menjawab. Jawabannya sudah jelas. Lianyu menyandarkan punggung. Ia melihat ruangan sederhana itu sekali lagi. Tidak ada barang mewah. Tidak ada perhiasan. Tidak ada pelayan yang ramai. Kalau benar dia adalah selir kekaisaran, tempat ini jauh dari gambaran istana yang pernah ia lihat dalam film. Ia bahkan tidak tahu apakah dirinya sedang beruntung atau justru sangat sial. Sistem kembali berbunyi. > 【Misi pemula diterima.】 【Bertahan hidup selama 30 hari.】 【Hadiah: 100 tael.】 【Kegagalan: Host akan kehilangan hak atas ruang hidupnya.】 Lianyu mengernyit. Ruang hidup? > 【Penjelasan akan diberikan setelah Host menyelesaikan misi pertama.】 “...” Lianyu menatap kosong. “Baru datang sudah disuruh bertahan hidup.” Mei Lan menatapnya bingung. “Nona?” Lianyu mengangkat tangan. “Tidak apa-apa.” Ia bangkit. Kakinya masih agak lemas, tetapi ia memaksa berdiri. “Mei Lan.” “Ya?” “Besok pagi, cari tahu semua tentang keluarga Shen.” Mei Lan terkejut. “Semua?” “Semua.” “Untuk apa?” Lianyu menatap ke luar jendela. Langit malam tampak asing. Tidak ada gedung pencakar langit. Tidak ada lampu kota. Tidak ada suara kendaraan. Dunia yang ia kenal benar-benar telah hilang. Namun anehnya, rasa takut perlahan digantikan sesuatu yang jauh lebih familiar. Keinginan untuk mengambil kendali. “Karena kalau aku memang harus hidup di sini,” katanya pelan, “aku tidak mau menghabiskan hidupku hanya dengan menunggu orang lain menentukan nasibku.” Mei Lan memandangnya. Lianyu menarik napas. Kemudian menambahkan, “Dan satu lagi.” “Apa, Nona?” “Cari tahu siapa kaisar sekarang.” Mei Lan mengangguk. “Baik.” Lianyu kembali duduk. Ia tidak tahu apa yang menunggunya di istana. Ia tidak tahu kenapa Shen Lianyu asli menjadi selir ketiga belas. Ia tidak tahu siapa keluarganya. Ia bahkan belum tahu apakah dirinya bisa pulang. Tetapi ada satu hal yang sudah diputuskan Lianyu malam itu. Kalau dunia ini ingin memaksanya menjalani kehidupan orang lain— ia akan membuat kehidupan itu menjadi miliknya sendiri. Dan ia sama sekali belum tahu bahwa keputusan sederhana tersebut kelak akan mengubah seluruh istana. Bukan karena ia ditakdirkan menjadi perempuan paling berkuasa di kerajaan. Bukan pula karena ia adalah seseorang yang sejak awal ditunggu takhta. Melainkan karena sejak hari pertama datang ke dunia itu, Shen Lianyu melakukan satu kesalahan yang kelak membuat seorang kaisar muda sangat sulit mengabaikannya: ia tidak tahu bagaimana caranya takut kepada kekuasaan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.3K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
14.4K
bc

Orang Ketiga

read
36.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.1K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
2.3K
bc

Babysitter Canduku

read
19.9K
bc

Ranting Yang Patah

read
40.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook