Bab 23 Sekitar satu jam Aurora menunggu sang pemilik rumah yang tak kunjung muncul. Suasanya yang senyap dan sepi, membuat Aurora akhirnya merasa ngantuk. Beberapa kali ia menguap dan mencoba tetap terjaga. Namun sayangnya, kelopak matanya terus bergerak ke bawah menutup bola matanya yang berlensa biru. Aurora berbaring miring--meringkuk--dengan satu bantal menyangga kepalanya. Entah berapa lama Aurora terpejam, yang jelas ia sempat bermimpi. Sebuah mimpi yang aneh. Aurora berbaring di atas ranjang yang empuk. Dia tersenyum pada seseorang yang saat ini tengah menatapnya dalam-dalam. Bibir itu tersenyum, mata cokelatnya berkedip membuat Aurora tak kuasa jika tidak tersipu dan membalas senyum itu. Dua pipinya pasti sudah merah merekah. "Tampan," kalimat itu lolos begitu saja. Perlahan Au

