6. Ketika Berdua di Mobil

802 Words
“Er, ayo masuklah!” "T-Tuan Mark? Tidak, terima kasih," tolak Erlita, mundur selangkah. Ia merasa sangat tidak nyaman dan basah, tidak pantas naik ke mobil mewah Presdir. "Motorku rusak. Tapi saya bisa jalan kaki. Sudah hampir sampai juga, kok." terangnya. Mark menghela napas, rahangnya mengeras. Kelembutan dan persona profesionalnya menghilang, digantikan oleh posesif dan d******i yang murni. Ia tidak peduli Erlita menolak. Ia hanya tahu bahwa Erlita berada di luar, kedinginan, dan tidak tega ia melihatnya. "Jangan konyol, Erlita! Seluruh kota banjir. Di mana-mana macet. Motor sport-ku juga ku titipkan di parkiran karena jalanan tidak memungkinkan," Mark berbohong tentang motornya. "Ini perintah. Masuk sekarang!" Mark membukakan kunci pintu penumpang dengan suara klik keras. Erlita menelan ludah. Wajah Mark terlihat serius, bahkan sedikit marah. Ini bukan lagi tawaran, ini sebuah paksaan. Berdiri di tengah genangan air yang semakin tinggi, dengan jaket yang mulai terasa berat karena basah, Erlita akhirnya menyerah. Ia membuka pintu mobil. Udara hangat dan kering langsung menyelimutinya. Namun, rasa canggung dan takut jauh lebih kuat. Ia duduk, menjaga jarak maksimal dari Mark, membiarkan genangan air di bajunya merembes ke jok kulit mobil mewah itu. "Di mana alamatmu?" tanya Mark, nada suaranya kembali melembut, tetapi matanya sempat mencuri pandang ke wajah Erlita yang polos dan basah, sebelum ia kembali fokus menyetir di tengah badai. Gairah itu, yang ia tekan mati-matian di kantor, kini terlepas dalam kabin mobil yang tertutup. Mark berusaha sekali untuk bisa semakin dekat dan memuluskan rencananya. Meski terkesan ia busuk karena seharusnya setia ketika berada di luar rumah tapi ia tidak bisa melepaskan pesona indah di depan matanya ini. Berharap dengan semakin dekat hubungan mereka, maka Erlita akan tahu betapa ia sangat peduli padanya. Ya, Erlita akan tahu itu. Erlita pun menyebutkan alamatnya, sebuah gang kecil di pinggiran kota. Ia tahu, perjalanan ini, di dalam mobil Presdirnya yang berkuasa di tengah hujan badai, akan menjadi momen paling canggung, sekaligus membuatnya gugup dalam hidupnya. Sekarang Erlita berada di mobil Mark, terperangkap di tengah banjir dan kedekatan yang kian erat dan tak terhindarkan. ** Perjalanan dari pusat kota ke rumah Erlita terasa seperti abadi. Mark harus menyetir dengan hati-hati menembus genangan air yang tingginya mencapai ban mobil, sementara keheningan tebal menyelimuti kabin mobil. Erlita hanya menunduk, basah, dan kaku. Mark mencuri pandang beberapa kali, mengamati bagaimana cahaya dari lampu jalan yang temaram memantul di kulit Erlita yang pucat. Ia hampir tidak bisa menahan dorongan untuk mengulurkan tangan dan menyentuh gadis itu. Ketika Mark akhirnya membelok ke gang sempit yang disebut Erlita sebagai alamat rumahnya, mobil mewah itu terlihat sangat janggal di antara rumah-rumah padat yang sederhana. "Kita sampai," ujar Mark, memarkir mobil agak jauh karena genangan di gang sudah sangat tinggi. Erlita langsung membuka pintu, tidak sabar ingin segera lari dari atmosfer mencekik itu. "Terima kasih banyak, Tuan Mark. Maaf sudah merepotkan." "Tunggu, Erlita—" Mark mencoba bicara, tetapi Erlita sudah berlari kecil menembus air, menuju rumahnya yang ramai. Rumah Erlita dipenuhi oleh orang-orang. Beberapa tetangga mondar-mandir membawa ember dan alat pel, wajah mereka tampak cemas dan sibuk. Di luar rumah, ada beberapa motor yang diparkir, dan beberapa ibu-ibu berkumpul di teras. Erlita segera sadar, ini bukan keramaian biasa. "Ada apa ini, Bu Idah? Kenapa ramai sekali?" tanya Erlita panik, menghampiri tetangganya. Bu Idah menatap Erlita dengan kasihan. "Erlita! Syukurlah kamu pulang. Tadi ibumu..." Belum sempat Bu Idah menyelesaikan kalimatnya, Erlita sudah menerobos masuk. Pemandangan di ruang tamu membuat napasnya tercekat. Air sudah membanjiri lantai setinggi mata kaki, dan perabot tampak terapung. Di sudut ruangan, tetangganya yang berada disamping rumahnya ini sedang menopang kepala Ibunya yang terkulai lemas di lantai, dikelilingi beberapa tetangga yang panik. Wajah Ibunya pucat pasi. "Ibu!" teriak Erlita, suara ketakutan dan putus asa itu menusuk keheningan gang. Ia segera berlutut di air kotor, mendekap ibunya. "Ibu kenapa? Ibu!" Tetamgganya, yang bernama Bu Lis segera menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. "Tadi air tiba-tiba masuk. Ibumu panik mau menyelamatkan barang, tapi terpeleset di lantai yang licin. Kepala Ibumu sempat terbentur, terus langsung pingsan, Er." Kepala Erlita serasa berputar. Melihat Ibunya pingsan, rumahnya kebanjiran, dan ia merasa tidak berdaya. Air mata Erlita mulai bercampur dengan air hujan di wajahnya. Ia menangis tak tertahan. Sementara kepanikan menguasai Erlita, Mark sudah keluar dari mobilnya. Ia melihat Erlita berlari, dan memutuskan mengikuti gadis itu, tidak ingin meninggalkan Aspri-nya yang masih basah itu sendirian. Ia berdiri di ambang pintu, menyaksikan kekacauan itu. Presdir yang biasa berhadapan dengan kontrak miliaran dan ruang rapat mewah, kini berdiri di tengah gang banjir, menyaksikan air mata seorang karyawati yang ia cintai. Mark melihat situasi yang darurat ini, Ibunya pingsan, rumah kebanjiran, dan tidak ada yang bisa memberikan pertolongan medis yang memadai. Melihat Erlita menangis histeris di samping Ibunya, naluri seorang penguasa dan pelindung, membuat Mark tergerak hatinya. Ia melangkah masuk, mengabaikan tatapan heran para tetangga yang bertanya-tanya mengapa ada pria tampan masuk ke dalam rumah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD