5. Di tengah Hujan Badai

834 Words
Erlita masih merasakan kegugupannya, berdekatan secara intensif dengan Mark sang atasan. Mark tidak hanya menunjuk. Ia membungkuk di belakang Erlita. Lengan berototnya meraih mouse, dan tanpa sadar, dadanya hampir menyentuh punggung Erlita. Jarak mereka kini sangat dekat, membuat Erlita menahan napas. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Mark, dan sensasi aneh menjalar di kulitnya. "Lihat. Jika kamu ingin mencari berkas Merger 2025, kamu tekan ini," Mark menjelaskan. Jari telunjuknya yang besar menunjuk ke layar, sementara ibu jarinya yang lain secara tidak sengaja menyentuh bahu telanjang Erlita di balik kerah blazer. Sentuhan sesaat itu terasa seperti sengatan listrik. Erlita menarik napas tajam, tetapi tidak berani bergerak. Ia hanya bisa menunduk, pura-pura fokus pada monitor, sementara seluruh kesadarannya tertuju pada kedekatan Presdirnya. Entah kenapa pria itu sepertinya sengaja berdiri mepet ke arahnya. Ia pikir, ruangan ini cukup luas tapi kenapa sang atasan lebih suka berdiri dekat hampir tak berjarak dengannya. Sedangkan sifat casanova di dalam diri Mark menikmati kebekuan dan kegugupan Erlita. Ia mencuri pandang ke wajah Erlita yang polos dan memerah. Gadis ini terlalu lugu untuk menyadari bahwa ini bukan hanya pengarahan dalam suasana kerja, ini adalah pelecehan tersembunyi yang dilakukan dengan kedok profesionalisme kerja. Mark kemudian bergeser sedikit, tetapi tetap berada di ruang pribadi Erlita. Ia bersandar di meja, menatap Erlita sambil berbicara tentang jadwal makan siangnya. "Hari ini, batalkan semua pertemuan. Aku akan makan siang di sini. Kamu harus mengurus pesanannya," perintah Mark, matanya mengunci mata Erlita, penuh gairah yang menguasai. Erlita, yang masih mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila, hanya melihat tugas itu sebagai pekerjaan. "Baik, Tuan. Apa yang Anda ingin saya pesankan?" "Terserah kamu," jawab Mark singkat, senyum misterius muncul di wajahnya. Ia sengaja memberikan tanggung jawab itu pada Erlita. Ia ingin Erlita mulai berpikir tentang kebutuhannya, bahkan kebutuhan pribadinya. Mark kembali ke ruangannya, menutup pintu kali ini. Ia bersandar di baliknya, memejamkan mata. Sentuhan sesaat tadi masih terasa di ujung jarinya. Erlita tidak berteriak, tidak mundur, hanya menahan napas dalam kepolosan. Kehadiran Erlita telah menjadi racun manis bagi Mark. Ia tahu. Ia melintasi batas setiap hari. Tapi semakin Erlita bersikap lugu dan cuek, semakin Mark terdorong untuk mendekat, menuntut, dan pada akhirnya, menghancurkan batas yang ada di antara mereka. ** Minggu-minggu berlalu. Kehidupan Erlita kini didominasi oleh kertas, jadwal Mark, dan suara interkom. Dari pagi hingga malam ketika sampai di rumah pun, ia disibukkan dengan tugas-tugas Asisten Pribadi yang baru, mengatur jadwal perjalanan, menyortir ratusan email. Dan yang paling membuatnya kikuk, menyediakan segala kebutuhan Mark Adrian—dari kopi spesial hingga pilihan menu makan siang yang selalu berujung pada, "Pesan saja apa yang kamu suka, Erlita." Selama hari-hari yang padat itu, Erlita terlalu polos dan sibuk untuk menyadari betapa Presdirnya secara konsisten mencari alasan untuk dekat. Mark akan memanggilnya ke dalam ruangan hanya untuk menandatangani satu dokumen yang sebenarnya bisa diselesaikan dari luar. Ia akan berdiri di belakang Erlita saat ia mengetik, memberi instruksi dengan napas hangat yang menyentuh tengkuknya. Setiap kali Mark berjarak terlalu dekat, Erlita hanya akan menahan napas dan menunduk, menganggapnya sebagai tekanan seorang atasan yang perfeksionis. Ia tidak membaca gairah yang membara di mata Mark, yang terus mengamatinya seperti kolektor mengamati karya seni terbarunya. Bagi Erlita, ia hanya seorang gadis yang beruntung mendapatkan pekerjaan dan harus fokus agar tidak dipecat. Sore itu, suasana kantor Mark terasa mencekam. Langit Jakarta tiba-tiba berubah hitam legam, dan hujan turun dengan sangat deras, disertai kilat dan guntur yang memekakkan telinga. Jam kantor sudah bubar, dan Erlita bergegas keluar. Ia punya janji untuk menemui Ibunya, yang butuh obat hari ini juga. Ia berjanji pulang cepat tapi terkendala hujan yang cukup deras. Selama satu jam kurang ia menunggu hujan reda tapi tak kunjung berakhir. Di saat sudah mulai mereda, ia pun keluar dari kantor. Beberapa rekan kerjanya yang naik motor juga sama sepertinya, menunggu hujan reda. Namun, begitu mencapai tempat parkir sepeda motornya, ia merasa kaget. Air sudah menggenang setinggi betis, dan motor kecilnya sudah terendam sebagian. Erlita mencoba menyalakan motornya berulang kali, tetapi nihil. Mesinnya mati, kenalpotnya kemasukan air. Dengan penuh rasa kecewa, Erlita memutuskan. Ia mengamankan motornya di pos keamanan, menitipkannya untuk dibawa ke bengkel esok hari. "Aku jalan kaki saja, Pak. Rumahku tidak terlalu jauh," kata Erlita pada petugas keamanan, memaksakan senyum. Ia mulai berjalan, menembus derasnya hujan. Genangan air semakin tinggi, berubah menjadi sungai kecil yang kotor. Pakaiannya sudah basah kuyup sebatas lutut, dan dingin mulai merayap. Ia menunduk, fokus menghindari lubang di jalan, menyadari bahwa ia tidak bisa mendapatkan taksi karena banjir sudah melumpuhkan sebagian besar jalan utama. Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di sampingnya, nyaris menyemburkan genangan air. Jendela otomatis itu turun, dan di baliknya, wajah Mark Adrian terlihat, kontras dengan latar belakang hujan badai. Mark tampak basah di bagian bahu karena ia pasti baru saja menurunkan kaca mobil. Tatapannya tajam dan memerintah. "Erlita! Apa yang kamu lakukan di tengah hujan seperti ini? Masuk!" perintah Mark, suaranya sedikit meninggi karena deru hujan. Erlita kaget bukan main. Ia tidak menyangka Mark yang biasanya pulang dengan sopir pribadi, bisa berada di jalan itu sendirian dan melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD