Mark menunggu jawaban Erlita yang mungkin saja masih bingung dengan yang terjadi saat ini.
Tawaran posisi sebagai asisten pribadi tentunya membuat Erlita menjadi kaget, benar-benar kaget dan tidak mempercayainya.
“Bagaimana, Er, kamu … bersedia?”
"Saya … ehm … Tuan, itu kehormatan yang sangat besar. Saya bersedia, tapi jujur, saya tidak tahu cara membuat laporan atau jadwal," ucap Erlita jujur, kepolosannya memang tak dibuat-buat, ia berkata jujur apa adanya.
Mark mengangguk, melihat betapa tulus dan polosnya ekspresi Erlita. Gadis itu bahkan tidak menyadari betapa ada sesuatu di balik keputusan ini bagi hubungan mereka.
Sementara Erlita hanya memikirkan pekerjaan tapi tidak bagi Mark.
"Jangan khawatir soal itu. Aku akan mengajarimu. Kamu akan belajar langsung dariku," kata Mark, sambil memajukan tubuhnya sedikit. Ia kemudian mulai menjelaskan denah penuh semangat.
"Sebagai Asisten Pribadi, kamu harus tahu setiap detail jadwalku. Pukul 08.00 pagi, rapat dengan tim Legal. Pukul 10.30, panggilan konferensi dengan pemegang saham di Singapura. Dan ini yang paling penting, hanya aku yang berhak mengatur siapa yang bisa masuk ke ruangan ini," Mark menjelaskan, jarinya mengetuk meja kopi.
Saat Mark berbicara, Erlita mengeluarkan buku catatan kecil dari sakunya—buku catatan yang biasa ia gunakan untuk mencatat persediaan kopi dan tisu—dan mulai mencatat semua yang dikatakan Mark.
Ia sangat fokus pada tugas-tugas itu, alisnya berkerut karena konsentrasi penuh.
Mark diam-diam memperhatikan. Erlita terlalu sibuk mencatat detail tugasnya, terlalu lugu untuk melihat gairah yang terselubung di mata Mark.
Pria itu memiliki rencana yang pastinya dia mungkin tidak akan menyadarinya. Erlita terlalu memperhatikan kemana arah pekerjaan yang akan ia lakukan mulai besok.
Mark mengamati bagaimana sinar lampu menyorot rambutnya, bagaimana pensil yang ia pegang bergerak dengan cekatan.
Erlita tidak mengangkat kepala, sama sekali cuek terhadap aura pria di hadapannya.
Ia hanya melihat ini sebagai kesempatan kerja yang baik, bukan jebakan hati. Pikirannya langsung mengarah pada besarnya gaji yang diterimanya setelah satu bulan jadi Aspri pria ini.
Ia memikirkan banyak hal untuk bisa mencukupi kebutuhan rumah dan juga obat ibunya.
‘Gadis polos yang menarik,’ pikir Mark. ‘Ia tidak menyadari betapa mudahnya ia akan berada dalam kendaliku.’ batin Mark lagi.
Ketika Erlita selesai menulis, ia menatap Mark, tatapannya murni dan bertanya. "Tuan, untuk laporan pengeluaran pribadi, apakah saya harus memisahkannya dari pengeluaran kantor? Dan apakah saya harus mengatur jadwal makan siang Tuan juga?"
Mark harus menahan senyumnya. Pertanyaan yang lugu dan fokus pada pekerjaan.
"Ya, Erlita. Semua urusanku, kini menjadi urusanmu. Termasuk urusan pribadi," jawab Mark, suaranya kembali melembut.
Saat Erlita membereskan buku catatannya, Mark tidak bisa menahan diri. Ia bangkit, melangkah perlahan ke samping Erlita, dan mencondongkan tubuhnya, mencuri pandang ke bahu gadis itu.
"Satu hal lagi," bisik Mark, suaranya rendah, hampir menggetarkan rambut Erlita. "Mulai besok, kamu akan duduk di luar kantorku. Setiap hari. Siang dan malam. Paham?"
Erlita tersentak karena kedekatan itu, aroma leather dan maskulin Mark membanjiri indranya, tetapi ia hanya mengangguk, terlalu patuh untuk berdebat. "Paham, Tuan."
Tapi kemudian Erlita mulai menyadari sesuatu. “Tuan, pekerjaan ini hanya dilakukan sampai sore, maaf untuk malam seperguruannya tidak, iya kan?”
“Hahaha … iya betul sekali. Tapi saat malam hari aku membutuhkanmu, kamu juga harus siap, Erlita,”
“Oh begitu, baik Tuan,”
Mark mundur, senyum puas terukir di wajahnya. Rencananya berhasil. Ia kini telah menciptakan sebuah 'proyek baru' yang cukup transparan dan disetujui istri, sebuah proyek yang akan membuatnya bisa memiliki Erlita di sisinya.
**
Keesokan harinya, di gedung yang megah ini terasa berbeda bagi Erlita. Ia tidak lagi mengenakan seragam office girl, melainkan blazer sederhana yang ia pinjam dari kakak sepupunya.
Ia duduk di kursi yang mejanya cukup besar di luar ruangan Mark Adrian, sang atasan.
Meja itu strategis, elegan, dan membuat Erlita merasa seperti diletakkan di bawah lampu sorot.
Sejak jam kerja dimulai, Mark sudah memulai ritualnya. Ia sengaja membiarkan pintu ruangannya sedikit terbuka.
Dari sana, ia bisa melihat Erlita, yang kini menjadi pemandangan utamanya.
Mark mengamati detail yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya.
"Erlita," ia memanggil, suaranya halus namun memerintah.
Erlita segera berdiri dan menghampirinya. "Ya, Tuan?"
"Kamu tidak memakai nama tag hari ini," kata Mark, matanya terpaku pada leher jenjang Erlita. "Dan... Blazer-mu. Apakah ukurannya pas?"
Erlita tersentak. Ia menunduk melihat pakaiannya. "Maaf, Tuan. Saya tidak punya blazer yang sesuai. Ini pun pinjaman," jawabnya jujur.
Ia bingung mengapa Presdir sampai memperhatikan hal sekecil ini.
"Besok," potong Mark, suaranya tegas. "Kamu akan menerima amplop dari bagian keuangan. Gunakan itu untuk membeli pakaian baru. Kamu adalah representasiku sekarang. Penampilanmu harus sempurna."
Erlita hanya bisa mengangguk, merasa pipinya panas. Pria ini benar-benar perfeksionis.
Ia tidak tahu bahwa Mark tidak ingin melihat Erlita mengenakan pakaian bekas, tapi ingin melihat gadis itu dalam balutan busana baru, yang mungkin akan ia pilihkan sendiri.
Gairah casanova Mark terpicu oleh setiap detail kepolosan yang dimiliki Erlita.
Mark semakin sering menciptakan alasan untuk bisa mendekati Erlita.
Sekitar pukul 10.00 pagi, Erlita sedang berjuang keras menguasai sistem digital filing yang baru, dahinya berkerut penuh konsentrasi.
Tiba-tiba, ia merasakan bayangan besar jatuh di mejanya. Ia sempat kaget namun bisa menguasai perasaannya.
Mark berdiri di sampingnya, mengenakan kemeja yang lengannya dilipat hingga siku, memperlihatkan urat lengan yang kuat.
Aroma leather dan maskulinnya kembali menyeruak, lebih dekat dari yang pernah ada.
"Kamu kesulitan?" tanya Mark, suaranya rendah dan lembut, kontras dengan sikapnya yang biasa.
Jantung Maya berdegup kencang, ia merasakan atasannya ini mulai bersikap ... aneh.