Childhood 3

1070 Words
            Aphrodite berputar berkali kali di depan cermin besar di kamarnya. Wajahnya berbinar cerah, matanya penuh dengan kebahagiaan. Pipinya yang putih sempurna sekarang bersemu merah muda dengan sangat cantik. Benar-benar gadis kecil yang sangat mempesona.             "Ruly, gaun ini sangat cantik." Seru Aprodite pada pelayan pribadinya.             "Tentu tuan Putri, hari ini yang mulia Raja menikah, tentu saja Putri harus tampil cantik." Kata Ruly tulus.             Gadis kecil itu mengangguk bersemangat. "Ayah bilang nanti Aphy akan mengiringi Ayah berjalan ke altar."             "Benar yang mulia, sekarang kita ke ruangan Raja, beliau pasti sudah menunggu." Ajak Ruly kepada tuan Putrinya. Aphrodite menggandeng tangan Ruly dan beranjak menuju kamar Raja Jeffery.             "Wahhh! Ayah sangat tampan." Ucap Aphrodite begitu dia melihat ayahnya yang sudah memakai  setelan tuxedo putih dengan detail garis-garis perak di tepiannya.             "Putri Aphy juga sangat cantik." Ucap sang Raja sambil mengangkat Aphrodite ke dalam gendongannya. "Apa kamu bahagia sayang?" Tanya Jeffery.             "Tentu Ayah, Aphy akan punya Ibu yang sangat cantik. Ibu akan mengantar Aphy sekolah setiap hari, mencium pipi Aphy dan membacakan dongeng bersama Ayah." Celoteh Aphrodite senang.             "Sekarang kita ke Altar, agar Aphy cepat punya Ibu." Raja menurunkan Aphrodite pelan-pelan dan menuntunnya menuju altar.             Tamu undangan sudah memenuhi ruangan. Raja dan Putri kecilnya berjalan masuk menuju altar.             "Ayah, ada banyak sekali orang ." Bisik Aphrodite pada Ayahnya.             "Tenang sayang, mereka ingin melihat hari bahagia kita." Raja Jeffery menggenggam tangan putrinya lebih erat untuk menenangkannya.             Mereka sampai di depan Altar, Jeffery berdiri di depan pendeta dan Aphrodite melihat dari samping bersama keluarga besar kerajaan. Lalu sang mempelai wanita memasuki ruangan. Dia mengenakan gaun pengantin yang sangat mewah namun tetap terlihat elegan dan ringan. Ekor gaunnya yang tidak terlalu panjang terseret cantik di belakangnya. Sebuket bunga mawar merah muda menambah kesan lembut pada penampilannya. Dia mempelai wanita yang paling mempesona.             "Ruly, Ibuku sangat cantik." Bisik Aphrodite pada pelayannya.             "Tentu yang mulia." Jawab Ruly juga dengan berbisik.             "Apa nanti Aphy juga bisa secantik Ibu?" Tanya Aphrodite dengan mata bulatnya yang terus berkilat bahagia.             "Yang mulia akan menjadi gadis paling cantik di dunia." Jawab Ruly.             Pendeta meminta semua orang untuk tenang dan memulai acara pernikahan.             "Raja Jeffery Lorraine, maukah engkau menerima wanita ini sebagai istri yang dijodohkan oleh Tuhan didalam pernikahan yang kudus? Mengasihi dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia baik pada waktu dia sakit maupun pada waktu dia sehat, serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudara berdua hidup didunia ini?" Sang pendeta mengucapkan kalimat sakral pernikahan.             "Ya, saya bersedia." Jawab Raja Jeffery.             "Rowena Elizabeth maukah engkau menerima lelaki ini sebagai suami yang dijodohkan oleh Tuhan didalam pernikahan yang kudus? Mengasihi dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia baik pada waktu dia sakit maupun pada waktu dia sehat , serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudara berdua hidup didunia ini?" Sang pendeta kembali mengucapkan kalimat sakral pernikahan.             "Ya... Saya bersedia." Jawab Rowena.             Namun... Entah karena apa, tapi kedua alis mata Aphrodite bertaut ketika mendengar janji Ibu barunya. Dia merasakan sesuatu yang salah.                                                                         ***********               Beberapa bulan berlalu setelah pernikahan Raja Jefferi dan Rowena. Namun semua berjalan tidak sesuai dengan bayangan Aphrodite yang begitu indah dan penuh kasih sayang.             "Aphy?" Lagi lagi Jeffery menemukan Putrinya tertidur di antara rumpun bunga daffodil.             "Ayah." Aphy terbangun dan memeluk Ayahnya. "Aphy rindu Ayah." Gadis kecil itu terisak.             "Maafkan Ayah sayang, Ayah banyak sekali pekerjaan. Belakangan ini Kerajaan kita jadi sedikit tidak aman." Kata Jeffery pada Putri kecilnya.             Ini sudah sepuluh bulan sejak pernikahannya dengan Rowena, dan selama itu pula wilayah kerajaan Oriana menjadi tidak aman. Banyak serangan hewan liar. Bahkan ada yang melaporkan kalau itu adalah perbuatan Werewolf?             "Ayah selalu pergi keluar, begitu di rumah Ayah selalu bersama Ibu. Aphy kesepian!! Ayah sudah tidak pernah membacakan dongeng untuk Aphy!" Gadis kecil itu menumpahkan semua kegundahannya selama ini.             "Maafkan Ayah sayang. Ayah janji akan berusaha sering di rumah. Bagaimana kalau malam ini kita tidur bertiga?" Bujuk Jeffery.             "Aphy boleh tidur bersama Ayah dan Ibu?" Tanya Aphrodite dengan mata berbinar bahagia, tangisannya seketika berhenti membayangkan betapa menyenangkannya tidur bersama Ayah dan Ibunya.             "Tentu sayang." Jeffery mengusap kepala Putrinya dengan sayang.             Dan ketika malam menjelang, kebahagiaan Aphy langsung sirna.               "Apa maksudmu dengan tidur bertiga?" Rowena berteriak kencang sampai terdengar keluar kamar.             "Pelankan suaramu, Aku hanya ingin membuat Aphy senang. Dia kesepian. Bukankah sudah kukatakan padamu untuk sering mengabiskan waktu dengannya?" Suara Jeffery terdengar frustasi.             "Aku juga sibuk Jeff, sekarang Aku Ratu negeri ini. Banyak hal yang harus ku tangani." Rowena berkata sengit.             "Dan menelantarkan Anakku? Aku menikahimu karena Aku ingin Aphy punya Ibu!" Jeffery ikut terbawa emosi.             "Apa? Jadi kamu tidak mencintaiku Jeff? Kamu menikahiku hanya agar anakmu punya Ibu?" Mata Rowena berkilat marah.             "Tentu Aku mencintaimu, tapi Aphy tetaplah prioritasku Ro, mengertilah." Jeffery mulai kehabisan kata-kata.             "Baik! Malam ini Aku tidur di ruangan pribadiku. Dan jangan repot-repot menyusulku." Rowena keluar kamar dan membanting pintu di belakangnya. Dia berjalan cepat menuju perpustakaan pribadinya yang berada tak jauh dari kamarnya.             "Ro, tunggu." Jeffery berniat mengejar istrinya tapi seketika langkahnya terhenti begitu melihat Putri kecilnya berdiri mematung di samping pintu kamarnya.             "Aphy?" Jeffery berjongkok di depan Aphrodite agar tinggi mereka sejajar.             Aphrodite tidak merespon, hanya air mata yang mengalir perlahan di pipinya yang membalas perkataan Jeffery.             "Aphy, kenapa menangis sayang? Aphy tahukan Ayah selalu merasa sedih kalau Aphy menangis." Jeffery mengusap lembut rambut Aphrodite.             "Ayah." Air mata gadis itu semakin deras mengalir. Jeffery memeluk Putrinya erat, hatinya bagai disayat melihat malaikat kecilnya berlinang air mata.             "Jangan menangis Princess, Ayah menyayangimu." Bujuk Jeffery.             "Ayah... Apa Ibu tidak sayang Aphy?" Matanya terlihat sangat sedih.             "Tentu Ibu sangat sayang Aphy nak." Jawab Jeffery.             "Tapi Ibu marah. Ibu tidak mau tidur dengan Aphy." Isak Aphrodite.             "Tidak sayang, Ibu hanya sedikit lelah." Jeffery menggendong anaknya masuk ke kamar dan menidurkannya di ranjang. "Malam ini tidur dengan Ayah dulu ya, tidur bertiganya kapan-kapan saja kalau Ibu tidak lelah."             Aphrodite hanya mengangguk pelan dan meringkuk di pelukan ayahnya. Air mata masih terus mengalir perlahan dari kedua mata Aphrodite. Hatinya benar-benar terasa sakit. Dia tidak mengerti, mengapa Ibu yang sangat diinginkannya itu malah menjadi sumber kesedihannya. Ibunya hanya bersikap manis padanya di awal pernikahan dengan Ayahnya saja. Setelah itu dia menjadi sangat sulit ditemui. Bahkan untuk sekedar mengobrol saja Aphrodite harus membuat janji dulu jauh-jauh hari sebelumnya. Dan semakin lama, Rowena menjadi semakin acuh pada Aphrodite.             “Tidurlah sayang. Jangan menangis terus. Mata Aphy akan jadi bengkak besok kalau Aphy terus menangis.” Bujuk Jeffery sambil mengelus rambut putrinya dengan sayang.             “Aphy sedih Ayah. Aphy sangat sedih.” Ucap Aphrodite. Tangisnya kembali pecah. Sekarang dia menjadi terisak.             d**a Jeffery seperti disengat ribuan jarum melihat ekspresi putrinya yang begitu nelangsa. Dia tak habis pikir, bagaimana akhirnya pernikahan yang dia harapkan akan membawa kebahagiaan di keluarganya justru membuat putrinya sangat menderita seperti ini. “Apa keputusanku menikah lagi adalah sebuah kesalahan? Aku hanya ingin Aphy bahagia...”                                                                                 ********* -to be continue-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD