Tragedi

1191 Words
            "Mirror mirror on the wall... Siapa wanita paling cantik di dunia ini?" Rowena berdiri luwes di depan cermin besar di ruang pribadinya.             Ruangan itu terlihat suram dengan pencahayaan yang memang sengaja di buat remang. Tidak ada penghuni istana yang tahu kalau tempat itu di gunakan Rowena untuk memperdalam ilmu sihirnya.             Ya, dia adalah seorang penyihir. Penyihir yang haus kekuasaan dan kecantikan. Cermin di depannya merefleksikan bayangan dirinya dengan sempurna.             "Engkau lah yang tercantik Ratuku." Jawab sang cermin sihir.             "Hahaha, tentu saja... tentu saja… Jeffery sudah melakukan kesalahan fatal dengan menomorduakan Aku!" Mata Rowena berkilat berbahaya. Sedetik kemudian senyuman licik terkembang di wajahnya yang sempurna.             "Cermin, hubungkan aku dengan Rafe." Rowena memerintah cerminnya seperti memerintah pelayan. Ya, mungkin memang cermin itu adalah pelayannya.             Tak berapa lama muncul sosok lelaki tinggi tegap berbadan besar penuh otot, matanya hijau dan bersorot tajam.             "Ada apa Rowena?" Tanya lelaki di dalam cermin itu.             "Sudah berapa kali kukatakan untuk memanggilku Ratu?!" Rowena berkata penuh otoritas.             "Apa yang kau inginkan?" Lelaki itu tak mempedulikan kekesalan Rowena.             "Aku punya tugas untukmu Rafe! Bersiap-siaplah untuk bertempur." Senyum licik terkembang di bibir Rowena. Lelaki bernama Rafe itu mengangguk dengan malas. Dia tampak enggan mematuhi Rowena. Namun entah apa yang membuatnya tetap mengikuti semua perkataan penyihir itu.             Lalu dalam sekejap, lelaki bernama Rafe itu berubah menjadi serigala besar dengan bulu abu-abu tua yang terlihat sangat ganas. Dan dengan secepat kilat dia langsung berlalu dan tak tampak lagi di dalam cermin.                                                                                         ********               Sudah lebih dari sebulan sejak pertengkaran malam itu, tapi Rowena belum mau tidur di kamar bersama Jeffery. Itu membuat Jeffery sangat frustasi. Belum lagi rengekan Aphrodite yang selalu bersedih jika Rowena tidak mau memperhatikannya. Jeffery berusaha semaksimal mungkin untuk selalu ada di rumah demi Aphrodite, hartanya yang paling berharga.             "Yang mulia, terjadi serangan besar-besaran di perbatasan utara." Lapor seorang Panglima perang kepada Jeffery. Entah sudah keberapa ratus kali laporan serangan yang diterimanya beberapa bulan ini.             "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kerajaanku?" Sang Raja terlihat frustasi. Bahkan dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya.             "Yang mulia, kita harus mengadakan pembersihan besar ke seluruh negeri. Dan meminta para penyihir untuk membentengi negeri kita. Akhir-akhir ini laporan tentang Werewolf dan Vampire semakin banyak. Kita tidak bisa membiarkan rakyat kita menjadi korban." Wajah Panglima itu terlihat suram. Sudah banyak anak buahnya yang tumbang melawan hewan-hewan besar yang seakan tak bisa mati.             "Aku akan memikirkannya." Jawab Jeffery lelah.             "Yang mulia, kita tidak punya pilihan, pasukan kita semakin menipis." Sang panglima bersikeras.             "Kamu, pergilah dulu, Aku akan memikirkannya. Kumpulkan sebanyak mungkin penyihir putih dan bawa mereka kemari." Perintah Jeffery. Nada bicaranya terdengar sangat kelelahan.             "Baik yang mulia."                                                                                     ******               "Ruly, apa Aphy sudah tidur?" Jeffery memasuki kamar Putrinya, duduk di tepian ranjang dan memandangi buah hatinya dengan sedih.             "Tuan Putri baru saja tertidur yang mulia." Jawab pelayan itu menundukkan kepalanya.             "Ruly, tolong jaga putriku. Aku tahu kamu mewarisi kemampuan Ibumu sebagai penyihir. Aku harus pergi memberantas makhluk-makhluk supranatural itu." Jeffery mengusap kepala Putrinya pelan. Ruly tersentak mendengar penuturan Raja Jeffery, namun tetap berusaha menjaga sikapnya.             "Berjanjilah padaku kamu akan menjaga Putriku dengan hidupmu." Pinta Jeffery.             "Tentu yang mulia, Saya hidup untuk mengabdi pada keluarga kerajaan." Jawab Ruly sepenuh hati.             "Terima kasih Ruly. Jangan biarkan hal buruk menimpa Putriku." Ucap sang Raja.             Ruly merasakan firasat yang buruk. Seakan sang Raja sudah tak mampu lagi menjaga putrinya. Seakan dia berpamitan untuk pergi selamanya.                                                                                 ******               Jeffery berdiri di hadapan seluruh pasukan negerinya. Sekarang sudah larut malam tapi semangat seluruh pasukan membara dengan sempurna, hati semua orang bersatu untuk menghentikan kekacauan di negeri ini.             "Hari ini, Aku sendiri yang akan memimpin perang. Kita lawan makhluk-makhluk pemangsa itu. Kita balas semua penderitaan yang telah dialami saudara-saudara kita!" Teriak Raja untuk mengobarkan semangat prajuritnya.             “Hidup Oriana..!! Hidup Oriana!!” Seru seluruh pasukan dengan semangat.             Dan sepasukan itu berangkat menuju utara, perbatasan negeri Oriana dengan hutan tanpa ujung. Hutan itu memang seakan tak berujung karena luas dan lebatnya. Dan tidak ada yang pernah kembali hidup – hidup dari hutan itu.                                                                         ******               Seluruh negeri Oriana diliputi kecemasan dan kesedihan. Perang yang sudah berlangsung lama membuat rakyat hidup dalam tekanan.             "Ruly, dimana Ayah? Ini sudah lima hari kenapa Ayah belum pulang?" Gadis kecil itu terlihat gusar sekaligus sedih menunggu Ayahnya yang tak kunjung kembali.             "Yang mulia Raja sedang pergi berperang Tuan Putri." Ucap Ruly berusaha menenangkan Aphrodite.             "Aku takut Ruly. Ayah akan kembali kan?" Aphrodite berlinang air mata.             "Yang mulia jangan menangis. Raja pasti akan kembali untuk Tuan Putri. Percayalah." Ruly mulai kehabisan kata-kata. Dia sendiri sangat mengkhawatirkan sang Raja yang telah dianggapnya seperti orang tua untuknya.             "Tuan putri...!!! Tuan putri...!!!!" Seorang penjaga berteriak di sepanjang koridor.             "Ruly, kenapa penjaga itu berteriak-teriak?" Wajah Aphrodite terlihat panik. Ruly menggenggam tangan Tuan Putrinya berusaha menenangkannya meski dirinya sendiri tidak kalah paniknya dari Aphrodite.             Pintu kamar Aphrodite terbuka dan terlihat sekelompok pasukan yang baru pulang perang.             "Tuan Putri maafkan kami." Kata panglima perang membungkuk dalam kepada Aphrodite.             "Ada apa ini?" Rowena tiba-tiba memasuki kamar Aphrodite, menyeruak di antara kerumunan prajurit.             "Yang mulia Ratu, maafkan kami." Kata panglima perang, kembali menunduk dalam. Aphrodite gemetar ketakutan di samping Ruly, firasatnya sangat buruk.             "Ada apa?" Tanya Rowena tenang.             "Raja Jeffery.... Kami... Kami gagal melindunginya. Beliau tewas dalam pertempuran." Kata sang Panglima terbata.             "TIDAK!!!" Aphrodite berteriak histeris mendengar berita kematian Ayahnya.             "Apa yang kamu katakan panglima?" Tanya Rowena dengan suara bergetar.             "Maafkan kami yang mulia, tuan Putri maafkan kami." Panglima itu memandang Aphrodite dengan sayang. Perasaan iba menggerogoti hatinya.             “TIDAK!! Kalian pasti berbohong." Aphrodite terisak di pelukan Ruly.             "Maafkan hamba Tuan Putri."             "Dimana jasad suamiku?" Tanya Rowena dengan tatapan kosong. Suaranya masih bergetar.             "TIDAK Ibu, Ayah belum meninggal!" Aphrodite terus menerus berteriak histeris.             "Maafkan kami Tuan Putri, kami lalai menjalankan tugas." Kata sang panglima tak mengacuhkan perkataan Rowena.             "Aku sedang bertanya padamu panglima." Mata Rowena berkilat penuh amarah. Suaranya dingin membekukan. "Berani-beraninya dia mengabaikanku seperti ini." batin Rowena berkecambuk amarah. Dia tidak suka dinomorduakan.             "Yang mulia Raja meninggal di serang lima serigala besar, kemungkinan besar tubuhnya...." Panglima itu tidak sanggup meneruskan kata-katanya.             "TIDAK!!!!" Aphrodite berlari keluar kamar. Tubuhnya bergetar hebat.             "Tidak,, Ayah tidak mati! Ayah sayang Aphy, Ayah tidak akan meninggalkan Aphy! Mereka pasti bohong."             Ruly mengejar Aphrodite dan menyusulnya dengan mudah, gadis itu terduduk di depan pintu gerbang istana.             “Yang mulia, ayo masuk kedalam. Di luar sangat dingin." Bujuk Ruly.             "Tidak mau! Aphy mau menunggu Ayah!"             "Yang mulia, jangan seperti ini. Raja pasti akan sangat sedih kalau melihat Tuan Putri menangis."             "Mereka bohong kan Ruly. Ayah belum meninggal, Ayah pasti akan kembali." Rengek Aphrodite di sela isakannya.             "Maafkan hamba yang mulia, tapi panglima tidak mungkin berbohong." Jawab Ruly dengan berat hati.             Tangis Aphrodite kembali pecah, menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Gadis sekecil itu harus menanggung beban yang sangat berat. Sekarang dia adalah yatim piatu. Hanya ada Ibu tiri yang bahkan tidak pernah mau memeluknya.               Ruly menggendong Aphrodite yang tertidur kelelahan ke dalam kamarnya. Kamar itu sudah lengang, tidak ada satupun orang disana. Lalu Ruly menidurkan Aphy kecil ke atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya. Dia sendiri tidur di sofa di dalam kamar Aphy. Tidak tega meninggalkan gadis kecil itu sendirian.             Kamar itu dibiarkan temaram berselimut kesedihan. Isak pilu Aphrodite masih terdengar di sela-sela tidurnya. Ruly menangis dalam diam. Sang Raja yang begitu dihormatinya telah pergi. Dan meninggalkan putrinya menjadi sebatang kara. Dipandanginya tubuh Tuan Putri kecil yang sesenggukan dalam tidurnya.             “Yang mulia Tuan Putri…. Saya pasti akan melindungi Tuan Putri…”                                                                         *******               "Hahaha... Sekarang akulah penguasa negeri ini..."             "Aku Ratu Rowena Elizabeth penguasa Oriana ..." Rowena berkata dengan nada yang sangat mengintimidasi di depan cermin ajaibnya.             "Dan Engkaulah wanita tercantik di negeri ini." Kata sang cermin.             "Hahaha........."             Sedikitpun tidak ada raut kesedihan di wajah Rowena. Yang ada hanyalah kepuasan dan kemenangan.                                                                             ******* -to be continue-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD