Bab 3: "Jejak yang Tersisa"

1279 Words
Petunjuk di Ujung Jalan Hari itu, untuk pertama kalinya Lina merasakan ada sesuatu yang berbeda. Meskipun langit masih terlihat kelabu, ada sesuatu dalam hatinya yang menggetarkan. Pagi itu, ia berjalan menuju TK dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya. Langit mungkin masih sama, tetapi perasaannya entah mengapa sedikit berubah. Ia tak tahu apa yang membuatnya merasa seperti itu, namun ada semangat yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya. Di jalan, Lina melihat anak-anak lain bermain bersama. Mereka tampak begitu ceria, berlarian dengan tawa yang membuat suasana sekitarnya terasa hangat. Lina berhenti sejenak, memandangi mereka dari jauh. Meski ia merasa terasing, ada satu hal yang membuatnya tersenyum dalam hati. Mereka tampak begitu hidup, seperti sesuatu yang sudah lama hilang dari dunia Lina. Namun, perasaan itu hanya bertahan sebentar. Setelah beberapa saat, Lina melanjutkan langkahnya. Ia merasa cemas, entah apa yang akan terjadi di hari itu. Teman Baru di Kelas Sesampainya di TK, Lina berjalan menuju tempat duduknya, seperti biasa. Namun, kali ini, ada seorang anak baru yang duduk di sebelahnya. Namanya Dira, anak perempuan yang baru saja pindah dari kota. Dira tampak sedikit canggung, tetapi ada sesuatu dalam matanya yang membuat Lina merasa sedikit lebih tenang. Dira tersenyum padanya, meskipun Lina hanya bisa membalas dengan senyuman kecil. "Hai, aku Dira," ujar Dira dengan suara lembut. Lina hanya mengangguk. Ia tidak terlalu pandai berbicara dengan orang baru, tetapi ada rasa ingin tahu yang muncul dalam dirinya. Dira terlihat berbeda—lebih bersemangat, lebih terbuka. "Kamu baru di sini?" tanya Lina pelan. Dira mengangguk. "Iya, aku baru pindah kemarin. Gimana sekolah di sini?" Lina menatap langit-langit kelas sejenak, lalu menoleh pada Dira. "Biasa saja," jawabnya. "Tidak banyak yang berubah." Dira terlihat ragu sejenak, tapi kemudian tersenyum lagi. "Mungkin kita bisa jadi teman," katanya, dengan sedikit semangat yang terlihat jelas di wajahnya. Lina tidak tahu apa yang dirasakannya. Teman? Hal itu terasa aneh. Ia sudah lama sekali tidak memiliki teman yang bisa diajak berbicara, apalagi teman yang benar-benar peduli padanya. Namun, meski hati Lina sedikit ragu, ada perasaan hangat yang menyusup ke dalam dirinya. Jejak yang Tak Terlihat Hari berlalu begitu cepat. Lina dan Dira mulai lebih sering berbicara, meski Lina tidak bisa sepenuhnya membuka dirinya. Dira, meskipun baru, tampak lebih memahami Lina daripada yang bisa Lina duga. Setiap kali Lina merasa terasing, Dira selalu ada untuk membuatnya merasa lebih diterima. Namun, meskipun ada teman baru yang mencoba mendekat, ada perasaan yang terus mengganggu Lina. Di rumah, segala sesuatunya tetap terasa sama. Ibunya tetap sibuk dengan warung, adiknya tetap menjadi pusat perhatian, dan neneknya terus berbicara tentang masa lalu yang Lina tidak terlalu mengerti. Saat malam datang, Lina kembali duduk di tempat tidurnya, memeluk Kiki yang sudah mulai usang. Ia menatap ke luar jendela, merasakan angin malam yang berhembus pelan. Dalam kesunyian itu, Lina merenung. Mengapa semuanya terasa begitu rumit? Mengapa ia selalu merasa terjebak dalam rutinitas yang sama? Tiba-tiba, ia teringat sesuatu yang Dira katakan di sekolah tadi. "Kita bisa jadi teman, Lina. Kamu nggak perlu merasa sendirian lagi." Lina menatap Kiki, seakan mencoba mencari jawaban dalam boneka itu. "Apa benar kita bisa punya teman, Kiki?" bisiknya. "Apa benar ada tempat untuk kita di dunia ini?" Di Balik Pintu yang Tertutup Keesokan harinya, ketika Lina sedang berada di rumah, ibunya memanggilnya untuk membantu pekerjaan rumah. Tapi Lina merasa ada yang berbeda. Sesuatu yang terasa lebih aneh dari biasanya. Ia merasa seperti ada yang mengawasinya, seperti ada sesuatu yang menunggunya di luar sana. Saat membantu ibunya, Lina terhenti di depan pintu. Ada suara seperti bisikan yang datang dari luar. Ia merasa seperti ada yang ingin memberitahunya sesuatu. Ia berdiri terpaku, menatap pintu yang tertutup rapat. "Ada apa, Lina?" tanya ibunya, yang tampaknya tidak menyadari kebingungannya. Lina menggelengkan kepala. "Tidak ada, Bu." Tetapi perasaan itu tetap ada. Ia merasa seperti ada jejak yang harus diikuti, jejak yang akan membawanya ke tempat yang selama ini tak pernah ia ketahui. Namun, Lina tahu bahwa tak ada jalan mundur. Apa yang akan datang akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Apakah itu akan menjadi hal yang baik atau buruk, Lina tidak tahu. Tetapi satu hal yang ia sadari: ia tak bisa lagi berdiam diri. Ada sesuatu yang lebih besar menunggunya. --- Malam yang Berbeda Malam itu, saat hujan turun lagi, Lina duduk di tempat tidurnya. Hujan yang selalu menemani malam-malamnya kini terasa berbeda. Ia merasa seperti hujan itu membawa pesan—sesuatu yang harus ia temui. Dengan hati yang penuh tanda tanya, Lina memeluk Kiki, menatap langit-langit yang sama, dan membiarkan dirinya terlarut dalam perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. Di balik hujan, ada sesuatu yang menantinya. > "Kadang, jawaban datang bukan dalam kata-kata, tapi dalam diam." Lina tahu, perjalanan ini baru saja dimulai. Hujan pagi itu seperti biasa—turun tanpa ampun, memukul-mukul atap seng dan membasahi jalanan tanah yang mulai becek. Aroma tanah basah bercampur lumpur menyelimuti seluruh gang kecil tempat ia tinggal. Tapi ada yang berbeda dalam langkahnya kali ini. Entah dari mana datangnya, ada sebersit keyakinan di dalam d**a kecilnya. Di ujung gang sempit, Lina menemukan seekor anak kucing tergeletak di dekat tong sampah, tubuhnya gemetar dan basah kuyup. Mata kecilnya berusaha terbuka, tapi kelopak itu tampak berat. Biasanya Lina akan melewati begitu saja. Tapi pagi ini, sesuatu membuatnya berhenti. Ia menunduk pelan, meraih anak kucing itu dan membungkusnya dengan sapu tangan tipis miliknya—yang seharusnya ia pakai sendiri di sekolah. Tangan Lina kedinginan, tapi ia terus mengelus kepala mungil si kucing, membisikkan sesuatu yang bahkan tak ia mengerti sendiri. “Jangan mati dulu, ya…” --- Suasana Kelas Gedung TK itu tak berubah. Dindingnya masih penuh coretan krayon, meja-mejanya masih pendek dan licin oleh sisa lem dan tumpahan s**u. Jendela kelas berkabut oleh udara dingin pagi. Suasana kelas terasa lengang, hanya suara hujan yang sesekali menggema dari atap seng. Lina duduk seperti biasa di pojok ruangan. Tempat favoritnya. Tempat orang jarang memperhatikan. Si kucing kecil yang masih lemah ia letakkan di pangkuannya, tersembunyi dalam lipatan jaket. Guru kelas mereka, Ibu Yulia, sedang menulis sesuatu di papan tulis. Suaranya tenang, tak tergesa. Tidak ada yang memperhatikan Lina. Dan itu baik. Ia lebih nyaman begitu. Tapi ketika Ibu Yulia melangkah mendekat untuk memeriksa hasil tempelan kertas warna, matanya tak sengaja menangkap gerak-gerik di pangkuan Lina. Ia berhenti sebentar. “Kamu bawa kucing?” tanyanya lirih, tidak marah, hanya terkejut. Lina menunduk. Tak menjawab. Ia takut akan dimarahi. Namun yang keluar dari mulut gurunya justru, “Kamu rawat dia baik-baik, ya. Tapi jangan ganggu belajar, oke?” Lina hanya mengangguk pelan. Di matanya, ada percik aneh yang belum pernah muncul sebelumnya: rasa diizinkan. Rasa… dianggap ada. --- Malam Hari Hujan belum berhenti. Malam datang membawa dingin yang menggigit lebih dari biasanya. Di sudut kamar, Lina duduk bersila, memeluk lutut, ditemani dua sahabat barunya: boneka Kiki dan anak kucing yang kini ia beri nama Abu. Abu sudah sedikit kering, tidur dengan napas berat di atas kain sobek bekas kaos ayahnya dulu. Lina menatapnya lama, mendengarkan bunyi tetes air dari langit-langit yang bocor—ritme yang dulu membuatnya gelisah, kini menjadi suara latar atas kesunyian yang sedikit berkurang. “Abu… kamu tahu nggak? Aku juga dulu ngerasa kayak kamu. Sendiri. Kedinginan. Nggak tahu harus ke mana.” Ia berhenti sejenak, lalu berbaring pelan. Matanya memandangi langit-langit yang retak, seperti jalan-jalan kecil yang belum selesai digambar Tuhan. “Tapi mungkin… ada alasan kenapa aku masih ada di sini.” --- penutup Esok masih penuh pertanyaan. Tapi malam ini, Lina merasa ia tidak benar-benar sendiri. Hujan masih turun. Dunia masih keras. Tapi kini ia punya seseorang—meskipun kecil, basah, dan tak bisa bicara. Dan itu cukup untuk memulai sebuah perjalanan baru. --- > Terkadang, kehangatan tak datang dari pelukan manusia, tapi dari seekor makhluk kecil yang diam-diam mengubah hidupmu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD