Aku Ingin Memecatnya

1122 Words
"Aku minta maaf karena telah menjadi beban pikiran bapak. Aku sungguh_" "Tak ada yang harus kamu mintai maaf karena bukan kamu yang salah," sela Langit. "Jusru kamilah yang harus meminta maaf. Sebab itu, aku datang ke sini. Sebagai perwakilan rumah sakit, aku meminta maaf karena telah membuatmu harus mengalami kejadian buruk itu. Kami menganggapnya sebagai kecelakaan kerja. Karena itu_" Langit mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas kecil dalam pangkuannya. Amplop itu lalu dia letakkan di hadapan Kahyangan. "_ terimalah ini sebagai ganti rugi atau jalan damai. Berharap kamu tidak melaporkan apa yang sudah terjadi padamu kepada kepolisian." Kahyangan melirik amplop itu sekilas sebelum mengalihkan pandang pada wajah Langit yang sangat tampan. Di masa lalu, wajah itu pernah terlihat sangat ketakutan dan basah dengan airmata karena nyaris jadi korban penculikan beberapa pria dewasa tak dikenal. Kalau tidak ada dirinya, entah bagaimana nasib Langit. Dia juga tidak yakin Langit masih ada di dunia ini karena para pelaku membawa senjata tajam. Masa lalu yang begitu mengerikan. Bahkan dia yang bukan korban, masih merasakan kengerian itu. Hanya kuasa Tuhan saja yang membuatnya mendadak berani menolong Langit waktu itu. "Aku menerima amplop ini," ucap Kahyangan kemudian. "Terima kasih untuk perhatian bapak dan rumah sakit pada orang sepertiku. Tapi harap bapak tahu, tanpa amplop ini pun, aku tidak ada niat untuk melaporkan kejadian itu pada polisi. Bagaimana pun, rumah sakit telah sangat berjasa padaku dan adikku." Langit tersenyum samar. "Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Terima kasih untuk kebaikan hati kamu." "Sama-sama, pak." "E... selain itu, aku juga mau mengucapkan terima kasih karena kemarin kamu sudah menolongku. Kalau tidak ada kamu, aku pasti sudah terjatuh dan mungkin terluka. Entahlah, kenapa kamu ditakdirkan untuk menjadi malaikat penolongku. Tidak di masa lalu, tapi juga di masa sekarang." Kahyangan terhenyak mendengar ucapan Langit barusan. 'Apa yang dikatakannya tadi? Dia berkata aku yang menolongnya di masa lalu? Berarti, dia sudah tahu kalau aku adalah remaja perempuan yang menolongnya waktu itu?' Langit menatap Kahyangan yang masih syok dengan ucapannya. Dia ingin sekali mengatakan pada Kahyangan bahwa selama ini sehari pun dia tidak melupakannya. Wajah Kahyangan selalu hadir dalam benaknya dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Membuatnya merasakan rindu yang maha dahsyat. Tapi entah mengapa bibirnya merasa kelu untuk mengungkapkan itu. Apalagi Kahyangan belum mengakui kalau dirinya adalah gadis remaja yang telah menolongnya 15 tahun lalu itu. "Maaf, tehnya kelamaan." Tiba-tiba Purnama muncul dari dapur dengan nampan berisi tiga gelas air teh. Sementara itu di rumah sakit, di sebuah ruangan, Mentari yang tampak sedang marah, mengambil ponselnya dari atas meja dan kemudian menelpon Dewa, papanya Langit. "Halo?" sapa Dewa di seberang. "Om, maaf mengganggu. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk melaporkan ini pada om." "Memangnya kamu mau melaporkan apa, Tar?" "Begini, om. Langit nekat mendatangi gadis petugas kebersihan itu. Aku sudah melarangnya. Tapi dia tidak mau mendengar dan bersikeras pergi." "Terus dimana salahnya, Tar?" Mata Mentari melebar mendengar respon Dewa. "Apa om pikir ini tidak salah?" "Langit hanya melakukan kewajibannya sebagai seorang pimpinan rumah sakit. Dia sudah melakukan hal yang benar. Kalau Langit tidak mengunjungi gadis petugas kebersihan itu, maka dalam waktu dekat, nama baik rumah sakit akan hancur. Berita kalau seorang dokter di rumah sakit kita telah menyiksa seorang petugas kebersihan dan kemudian petugas kebersihan itu dibiarkan saja, akan segera menyebar. Langit saat ini sedang mencegah berita jelek itu menyebar di masyarakat. Dia juga ingin menunjukan kepada semua yang bekerja di rumah sakit kalau dirinya bertanggung jawab atas peristiwa memalukan itu. Jadi apa menurutmu ini salah?" Mentari menelan saliva. "Oke, mungkin yang dilakukan Langit memang benar. Tapi kenapa harus Langit sendiri yang mengunjungi gadis petugas kebersihan itu? Kenapa tidak orang lain?" "Karena kamu yang telah menyiksa gadis itu. Kamu tunangannya. Itu sebabnya Langit merasa bertanggung jawab. Apalagi dirinya juga terlibat kan dalam peristiwa itu? Karena menolongnya yang hendak jatuh, gadis petugas kebersihan itu jadi sasaran kecemburuan kamu." "Kecemburuanku beralasan, om. Feelingku mengatakan gadis petugas kebersihan itu mencoba mencari simpati Langit." "Tapi kamera cctv menunjukan kalau apa yang dilakukannya murni ingin menolong bukan? Tuduhanmu kurang beralasan, Tar." "Sepenglihatan orang lain memang kurang beralasan, om. Tapi perasaanku kuat, om. Aku merasa gadis petugas kebersihan ini akan menghancurkan hubunganku dengan Langit. Dia itu genit, om. Suka cari perhatian laki-laki dengan menggunakan kecantikannya. Dan... aku merasa kalau Langit juga mulai terpikat dengan gadis itu. Jadi, sebelum hal buruk terjadi pada hubungan kami, aku harus menyingkirkan gadis petugas kebersihan itu dari rumah sakit ini. Tolong beri wewenang padaku untuk memecatnya, om." Terdengar helaan nafas berat dari ponsel. "Tidak bisa begitu, Tar. Kalau om memberikan wewenang untuk memecat gadis petugas kebersihan itu, nama baik rumah sakit, kamu, Langit, dan om, akan rusak. Rumah sakit punya aturan untuk mempekerjakan dan memecat karyawannya. Bukan karena masalah pribadi antara kamu dan dia, terus dia dipecat. Rumah sakit tidak punya wibawa kalau begitu. Begini saja, Tar. Kamu tenang dan redakan kekhawatiran kamu. Om janji, jika gadis petugas kebersihan itu terbukti mengganggu hubunganmu dengan Langit, maka om sendiri yang akan turun tangan untuk menyingkirkannya dari rumah sakit tanpa harus ada berita miring." Meskipun berat, Mentari terpaksa harus menerima keputuasan Dewa. "Om janji jika gadis petugas kebersihan itu memang sedang berusaha untuk mengambil hati Langit, maka om sendiri yang akan menyingkirkannya?" "Iya, om janji. Kamu tenang saja." "Baiklah kalau begitu, om. Aku akan segera menunjukan bukti pada om kalau gadis petugas kebersihan itu wajib di disingkirkan dari rumah sakit. *** Saat ini, Kahyangan dan Purnama sedang makan malam di atas karpet yang ada di ruang tamu rumah kontrakan mereka. Purnama yang memiliki pertanyaan, sedari tadi melirik Kahyangan. "Hm... kak, boleh bertanya tidak?" tanya Purnama. Kahyangan mengangguk. "Boleh. Kamu ingin bertanya apa?" "Aku ingin bertanya tentang... Pak Langit." Kahyangan yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, mengurungkannya. Dia menaruh sendoknya ke dalam piringnya lagi dan menatap Purnama lekat. "Apa yang ingin kamu tanyakan tentang Pak Langit kepada kakak?" Purnama menghela nafas panjang. "E... Pak Langit itu remaja laki-laki yang pernah kakak tolong lima belas tahun lalu kan?" Kahyangan cukup terkejut mendengar pertanyaan Purnama. Tapi dia berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya tersebut. "Bagaimana kamu punya pertanyaan ini? Apakah Pak Langit yang mengatakannya?" "Pak Langit tidak pernah mengatakannya secara langsung. Tapi dari ceritanya tadi di mobil tentang bagaimana gelang dari biji-bijian Palem bisa melingkari pergelangan tangannya, aku jadi tahu siapa dia. Benar kan kalau dia adalah remaja laki-laki itu?" Kahyangan menyendok nasinya lagi. "Kakak belum tahu soal itu. Dia belum mengakuinya secara langsung." Sungguh, dia belum siap untuk mengakui kebenaran ini pada Purnama. "Memang kakak sudah lupa dengan wajah remaja laki-laki yang pernah kakak tolong itu?" "Kakak sudah tidak begitu ingat. Karena sudah lima belas tahun." Purnama menipiskan bibir. Meskipun dia merasa kalau Kahyangan sedang berbohong kepadanya, dia tidak akan memaksa kakaknya itu untuk mengakui. Dia yakin Kahyangan punya alasan tersendiri untuk belum mau terbuka kepadanya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD