Satukan Mereka, Tuhan

1168 Words
"Ge-gelang anda bagus," ucap Purnama kemudian. Dia sangat penasaran dengan jawaban Langit. Langit melirik gelangnya sekilas sebelum tersenyum dan memokuskan pandangan ke jalanan. "Gelang ini pemberian seseorang di masa lalu. Tepatnya lima belas tahun lalu." Purnama menelan saliva mendengar jawaban Langit. Jawaban yang seolah memberitahu bahwa pria itu memang remaja laki-laki yang pernah ditolong Kahyangan. 'Oh, Tuhan.... Apakah Pak Langit memang remaja laki-laki itu? Kalau memang demikian berarti Kak Kahyangan telah bertemu dengan orang yang sedang dicarinya. Artinya, ini adalah saatnya Kak Kahyangan mengembalikan jaket coklat itu?' batin Purnama. 'Tapi tunggu! Kak Kahyangan masih menyimpan jaket coklat itu dan Pak Langit masih memakai gelang itu. Apakah salah jika aku menduga kalau mereka berdua sebenarnya saling berharap untuk bertemu kembali? Atau bisa jadi saling merindukan?' "Kok termenung?" tanya Langit karena Purnama mendadak terdiam. "Kamu tau dengan gelang yang kupakai ini?" Langit berharap Purnama menjawab 'ya' karena gelang ini adalah pemberian kakak perempuan gadis itu. "E... y-ya," jawab Purnama gugup. "Di masa kecil, saya dan Kak Kahyangan sering membuat gelang seperti itu. Bukan hanya kami saja, tapi seluruh anak-anak di desa kami senang membuatnya." Langit tersenyum penuh arti. "Jangan-jangan gelang ini buatan salah satu di antara kalian. Aku sedang mencari gadis yang memberikan aku gelang ini lima belas tahun lalu." "Apa sampai sekarang anda belum menemukannya?" tanya Purnama penasaran. Dia ingin memastikan apakah Langit ingat atau tidak dengan wajah remaja perempuan yang telah menolongnya. Jika Langit masih ingat, tentunya pria itu sudah tahu kalau Kahyangan adalah gadis yang sedang dicari. Karena Langitlah yang menolong Kahyangan dari amukan Mentari. "Aku rasa sudah. Tapi aku belum memastikannya." Purnama angguk-anggukkan kepala. "O...." Perjalanan selanjutnya berlangsung sepi karena tidak ada obrolan lagi di antara mereka berdua. Hingga tibalah mereka di sebuah rumah kontrakan dengan cat yang warnanya telah memudar. "Inilah tempat tinggal kami, pak. Silahkan masuk," ucap Purnama ramah. Langit mengangguk. "Ya, terima kasih." Dia pun melangkah masuk dengan sikap sopan. Meskipun dia dilahirkan dari orangtua yang kaya raya, adab kesopanan selalu dia junjung tinggi dimana pun dan pada siapa pun. "Silahkan duduk, pak. Maaf tidak ada kursi dan hanya ada karpet," ucap Purnama lagi dengan perasaan tidak nyaman. Bayangkan, pimpinan rumah sakit diberi tempat duduk dengan tidak layak olehnya. "Tidak apa-apa. Yang penting masih ada alasnya," jawab Langit. Lagi-lagi dengan senyuman yang begitu menyejukan. "Kalau begitu, saya panggilan Kak Kahyangan dulu ya, pak." "Iya." Purnama berbalik dan kemudian masuk ke kamar kedua yang ada di rumah kontrakan itu. Yaitu kamar yang ditempati oleh Kahyangan. Tampak di sana Kahyangan sedang berbaring membelakangi pintu. Purnama pun mendekat, duduk di samping tempat tidur, lalu menyentuh lengan Kahyangan lembut. Sentuhan selembut itu nyatanya langsung membuat Kahyangan membuka matanya yang terkatup, lalu menoleh. "Purnama? Kamu sudah pulang?" tanya Kahyangan sembari bergerak bangun. "Sebenarnya belum sih, kak. Aku ke sini di jam kerja karena menemani seseorang yang ingin bertemu dengan kakak." Kahyangan refleks menoleh ke arah pintu meskipun tentu dia tidak dapat melihat orang yang dimaksud oleh Purnama karena pintunya tertutup. Kening Kahyangan mengerut. "Siapa?" "Pak Langit." Kahyangan tersentak kaget mendengar nama itu. Bahkan dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya itu di depan Purnama. "Pak Langit? Kenapa dia datang ke sini?" tanya Kahyangan dengan suara yang mendadak dilirihkan untuk menghindari orang di luar kamar mendengar suaranya. "Beliau datang membawa nama rumah sakit, kak." "Tapi kenapa harus dia sendiri yang datang? Apa tidak ada orang lain yang bisa disuruh?" protes Kahyangan. Sungguh dia tidak siap untuk bertemu dengan Langit dengan keadaannya yang seperti ini. "Sepertinya ada yang ingin beliau sampaikan langsung pada kakak. Itu sebabnya beliau datang sendiri ke sini tanpa perantara orang lain." Kahyangan menggeleng samar. "Tidak. Kakak tidak ingin bertemu dengannya." "Kakak tidak boleh seperti itu. Jangan mengecewakan orang yang dengan sepenuh hati untuk datang ke sini." "Kamu lihat kan keadaan kakak seperti apa? Kacau balau!" Purnama menatap Kahyangan lekat. Ini adalah pertama kalinya Kahyangan memperdulikan penampilannya ketika hendak bertemu dengan seseorang. Purnama juga mendapati sorot mata Kahyangan berbeda. Purnama menggenggam tangan Kahyangan. "Aku akan membantu kakak berdandan sedikit agar tidak terlalu terlihat kacau balau." "Tapi, Pur...." Purnama tidak menghiraukan protes Kahyangan. Gadis itu berdiri dari duduknya mengambil compact powder dan sisir dari atas meja kecil yang dijadikan Kahyangan sebagai tempat menaruh peralatan kecantikan apa adanya, lalu membawanya kembali ke tempat tidur. Tanpa permisi, gadis itu mulai memoleskan compact powder tersebut ke wajah Kahyangan dan terakhir menguncir rambut Kahyangan yang panjang menjadi ekor kuda. Purnama lalu tersenyum. "Nah, siap. Kakak sudah bisa menemui Pak Langit sekarang." Purnama menarik tangan Kahyangan. "Ayo!" Dengan perasaan malas dan jantung berdebar-debar, Kahyangan pun berdiri dari sisi tempat tidur dan mengikuti langkah Purnama keluar kamar. Kahyangan langsung menundukan wajah begitu pandangannya bertemu dengan tatapan Langit. "Maaf pak, agak lama. Tadi Kak Kahyangan sedang tidur. Jadi perlu waktu untuk mengumpulkan nyawa dulu," ucap Purnama. Langit tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku bisa paham." Purnama membantu Kahyangan duduk di hadapan Langit sebelum akhirnya berdiri lagi. "Maaf, saya tinggal dulu karena mau membuat minuman." Langit mengangguk. "Ya, silahkan, dok." Purnama pun segera melangkah ke dapur untuk membuat minuman yang dia maksud tadi. Tapi tidak langsung membuat minuman tersebut, dia justru termenung menghadap meja kompor. Dia berniat untuk berlama-lama di tempatnya sekarang demi memberi kesempatan panjang untuk Kahyangan dan Langit mengobrol berdua tanpa dirinya. Sejak dia tahu kalau Langit adalah remaja laki-laki yang telah ditolong Kahyangan 15 tahun lalu itu, dia yakin pria itu datang ke rumah ini bukan hanya sekedar membawa nama rumah sakit tapi juga karena ada hal pribadi yang ingin disampaikan pada Kahyangan. Purnama menengadahkan wajahnya ke atas. 'Tuhan, jika mereka berdua adalah sepasang remaja yang terpisah lima belas tahun itu dan mereka saling menyukai satu sama lain, aku mohon satukanlah mereka. Karena meskipun Kak Kahyangan tidak sederajat dengan Pak Langit, Kak Kahyangan pantas mendapatkan pria seperti Pak Langit. Perjuangannya untuk menjadikan adiknya orang yang sukses sangat berat. Aku tidak peduli dengan perasaan dedemit Mentari. Wanita itu sangat kasar dan temperamental. Tidak cocok untuk Pak Langit yang lembut. Hanya Kak Kahyanganlah yang pantas untuk Pak Langit. Jadi, sekali lagi, aku mohon satukanlah mereka. Karena jika Kak Kahyangan menikah dengan pria seperti Pak Langit, baru aku bisa merasa lega dan rasa bersalahku dapat reda." Sementara itu di ruang tamu, Langit memperhatikan wajah Kahyangan yang masih ada bulatan biru di tiga titik. Yaitu di sudut bibir kiri, di pipi kanan, dan di kening kanan. Itu yang terlihat saja. Belum lagi yang tertutup oleh pakaian Kahyangan. Dia meringis seolah merasakan sakit yang Kahyangan rasakan. Dan yang membuatnya takut adalah Kahyangan mengalami luka dalam. Dia belum sempat memeriksa keadaan di dalam tubuh Kahyangan karena setelah kejadian, Kahyangan memaksa ingin langsung pulang dan beristirahat di rumah. "Bagaimana keadaan sekarang?" tanya Langit. "Apakah ada rasa tidak enak dari dalam tubuhnya? Maksudku di organ-organ penting seperti jantung, hati, paru-paru, lambung, dan lainnya." Kahyangan menggeleng. "Tidak pak. Semua aku rasa baik. Aku hanya merasa nyeri di bagian luar tubuh." "Syukurlah kalau memang seperti itu. Aku sangat khawatir dan terus memikirkanmu sepanjang malam." Mata sendu Kahyangan mengedip begitu mendengar pengakuan Langit yang katanya memikirkannya sepanjang malam. Apakah Langit sekhawatir itu padanya? Kalau iya, tapi kenapa? Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD