"Bapak memanggil saya?" tanya Purnama langsung.
Pandangan Langit menyipit. Dia mencoba mengingat--ingat siapa saja hari ini yang dia minta untuk menghadap. Selain Mentari adalah adiknya Kahyangan. "Adiknya... Kahyangan ya?" tanyanya kemudian.
Purnama mengangguk. "Iya, pak."
Wajah Langit langsung sumringah meskipun itu hanya adiknya Kahyangan dan bukan Kahyangan itu sendiri. Dia kemudian berdiri dari duduknya sembari menunjuk sofa. "Kalau begitu silahkan duduk."
Purnama kembali mengangguk. "Terima kasih, pak."
Dengan langkah perlahan, Purnama meninggalkan pintu dan melangkah ke arah sofa. Saat dia melewati Mentari, dia sedikit membungkukkan badan tanda hormat pada wanita itu sembari sedikit memberikan senyuman. Tapi Mentari tidak membalas senyumnya itu. Wanita itu justru melihatnya seperti seorang musuh. Karena sudah mengenal watak Mentari, itu tidak membuatnya aneh. Kalau Mentari bukan atasannya dan calon istri pimpinan rumah sakit, tentu sudah dia pelototi.
Inilah beda dirinya dengan Kahyangan. Kakaknya itu memang kalem dan pengalah. Tapi tidak begitu dengannya.
Purnama mengambil duduk di sofa dengan sikap sopan. Maklumlah dirinya saat ini sedang berhadapan dengan pimpinan rumah sakit sekaligus anak pemilik rumah sakit. Pasti cari muka biar dianggap sebagai karyawan yang baik.
Melihat Purnama sudah duduk di sofa, Langit meninggalkan meja kebesarannya dan duduk di hadapan Purnama. "Maaf namanya siapa?"
"Purnama, pak."
"Oh, Purnama," sahut Langit. "Begini, Pur. Maksud aku memanggil kamu adalah karena ada sesuatu. Tadinya aku mau pergi sendiri dengan mencari alamat tempat tinggal kalian. Tapi manager HRD mengusulkan kamu untuk menemaniku menemui Kahyangan karena kamu adalah adiknya."
Mentari terhenyak mendengar ucapan Langit. Dia langsung mendekati pria itu. "Apa kamu bilang? Kamu mau menemui Kahyangan?"
Langit menoleh ke atas. Pada wajah Mentari yang berdiri menjulang di sampingnya. "Iya."
"Kamu sudah gila ya? Kamu itu pimpinan rumah sakit. Kenapa harus menemui petugas kebersihan itu?"
Langit menelan saliva mendapati sikap tidak sopan Mentari yang tiba-tiba marah tanpa melihat situasi. Dia melirik Purnama sekilas dengan perasaan tidak enak akibat sikap Mentari yang tidak beradab.
"Tar, bisa tidak kamu tidak bicara seperti itu?" tanya Langit dengan suara tertahan. "Di sini ada adiknya lho."
"Peduli apa aku dengan adiknya!" sahut Mentari masih dengan suara yang keras dan emosi yang tidak bisa dikontrol. "Pokoknya aku tidak mau kamu menemui petugas kebersihan itu! Titik!"
"Kamu tidak bisa melarangku untuk bertanggung jawab atas peristiwa itu, Tar. Akibat dari perbuatan kamu aku harus bertanggung jawab. Aku terpaksa menganggap kejadian kemarin sebagai kecelakaan kerja. Karena itu aku mau memberi santunan kepada Kahyangan."
"Berikan saja sentunan itu pada dia!" Mentari menunjuk Purnama. "Dia kan adiknya! Tidak perlu kamu harus datang ke rumahnya! Atau kamu suruh saja orang lain untuk mewakili kamu! Beres kan?!"
"Aku tidak bisa seperti itu! Kejadian itu ada sangkut pautnya dengan diriku sehingga aku pun merasa harus bertanggung jawab. Berbeda cerita jika aku tidak terlibat di sana. Mungkin aku bisa menyuruh orang lain atau kuberikan saja santunan itu pada Purnama. Tapi kan ini aku terlibat dalam kejadian itu. Karena itu, aku harus melihat keadaannya dengan mata kepalaku sendiri. Apakah dia baik-baik saja atau berpura-pura baik."
Mentari menyeringai. Kedua tangannya kemudian bersedekap di depan d**a dengan sombong. "Sudahlah. Jangan kamu bawa-bawa rasa tanggung jawab untuk ambisimu, Langit. Jujur saja kamu ingin menemui dia karena kamu sudah jatuh hati padanya. Iya kan?"
"Terserah kamu mau menganggapnya apa. Apa pun alasan yang aku katakan, tidak akan membuatmu percaya karena hatimu sudah diselimuti emosi yang tidak jelas. Setuju atau tidak setuju, aku akan tetap menemui Kahyangan." Langit berdiri dari duduknya dan menoleh pada Purnama. "Kita berangkat sekarang, dok?"
Purnama mengangguk. "Baik, pak."
Keduanya lalu melangkah meninggalkan ruangan itu. Tidak peduli lagi dengan teriakan-teriakan Mentari yang meminta Langit berhenti melangkah seperti orang kesurupan.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Purnama bersorak girang dalam hati. Dia sangat senang melihat Langit tidak menganggap Mentari sama sekali. Rasa sakit hatinya pada Mentari yang selama ini selalu memarahi Kahyangan seolah terbayarkan.
'Mulai hari ini sepertinya aku harus percaya karma. Tuh, buktinya barusan. Pasti sakit hati dan kesal sekali Mentari dicuekin oleh Pak Langit. Kebaikan akan dibayar dengan karma yang baik. Begitu pun sebaliknya," gumam Purnama dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Purnama dan Langit sudah berada di dalam mobil Langit dan sedang dalam perjalanan ke kediaman Kahyangan.
"Maaf untuk kejadian tadi. Aku sendiri tak menyangka kalau Dokter Mentari akan bersikap seperti itu," ucap Langit pada Purnama.
Purnama tersenyum. "Tidak apa-apa, pak. Kalau saya sudah biasa melihat sikap Dokter Mentari yang seperti itu."
Langit terhenyak mendengar jawaban Purnama. "Jadi selama ini dia memang bersikap seperti itu?"
Senyum di wajah Purnama langsung memudar. Dia merasa baru saja mengatakan yang sepertinya tidak harus dia katakan. Sekarang bagaimana dia memperbaiki jawabannya? Atau biarkan saja?
"E... maksudnya Kadang-kadang Dokter Mentari akan marah. Maksudnya begitu. Tapi sepertinya itu hal yang biasa untuk mendisiplinkan karyawan." Purnama terpaksa berbohong.
"O...." Langit angguk-angguk. Dia hampir saja mengetahui kalau selama ini Mantari kerap memarahi dan memaki Kahyangan dengan alasan yang dibuat-buat karena Purnama nyaris memberitahukannya. "Oya, kalau boleh tahu kamu berasal dari mana? Apa memang dari lahir sudah di kota ini?"
"Tidak, pak. Kami perantau. Saya dan kakak saya lahir dan besar di sebuah desa yang dekat dengan hutan Pak. Nama desanya... Sukamulya."
Langit terhenyak mendengar jawaban Purnama. Tapi dia sangat sempurna menyembunyikan keterkejutannya itu. Nama desa yang baru saja disebutkan oleh Purnama adalah nama desa yang memang diharapkan akan disebutkan oleh gadis itu. Karena desa itu adalah salah satu dari beberapa desa yang dekat dengan hutan tempat kejadian 15 tahun yang lalu. Langit semakin yakin kalau Kahyangan adalah gadis penolongnya yang sedang dia cari meskipun belum ada pengakuan dari orang yang bersangkutan.
Tapi dia masih ingin mengorek beberapa informasi tentang Kahyangan dari Purnama.
"Lalu bagaimana ceritanya kalian berdua bisa ada di kota ini?" tanya Langit lagi.
"Demi menjadikan saya dokter, pak. Ini adalah kehendak Kak Kahyangan."
Kening Langit mengerut. "Maksudnya bagaimana ya? Aku masih belum paham."
"Ceritanya tuh begini, pak. Sebenarnya yang ingin menjadi dokter itu Kak Kahyangan, bukan saya. Karena yang pintar memang Kak Kahyangan. Tapi di hari perpisahan SMP, kedua orangtua kami meninggal karena kecelakaan. Ibu kami yang saat itu masih bernyawa, mengamanahkan pada Kak Kahyangan untuk menjadikan saya orang yang sukses. Sejak saat itu Kak Kahyangan memutuskan untuk melaksanakan amanah ibu. Dia tidak melanjutkan pendidikannya dan banting tulang cari uang untuk membiayai sekolah saya dan hidup kami. Akhirnya inilah yang terjadi."
Purnama menarik nafas berat. Bukan apa, setiap kali menceritakan kenyataan ini, dadanya terasa sesak. Dia merasa telah menjadi penghancur masa depan Kahyangan. "Jadi harusnya yang menjadi dokter itu Kak Kahyangan bukan saya."
"Tapi siapa pun yang dalam posisi Kahyangan, mungkin akan melakukan hal yang sama. Kakak itu seperti orangtua. Akan mengorbankan segalanya demi adik tercinta. Apalagi orangtua sudah tidak ada." Langit memberikan pendapatnya.
"Ya, mungkin memang begitu. Tapi saya masih belum bisa berdamai dengan rasa bersalah. Saya merasa nasib buruk Kak Kahyangan adalah karena saya. Andai saja waktu kecil dulu saya menolak untuk menuruti kemauan besar Kak Kahyangan, mungkin dia yang menjadi dokter. Atau setidaknya tidak menjadi petugas kebersihan yang selalu mendapat hinaan dan cacian."
"Tapi Kahyangan pasti bangga melihat kamu telah menjadi seorang dokter karena usahanya tidak sia-sia."
Purnama angguk-angguk. "Iya, sih. Selalu itu yang dia katakan."
"Kalau begitu, jangan lagi kamu sesali apa yang sudah terjadi. Teruslah membuat Kahyangan bangga karena itulah kebahagiaannya," ucap Langit sembari menggulung sedikit kedua tangan panjang kemejanya. Dimulai dari setelah kanan dan kemudian kiri.
"Iya, pak," Purnama merespon nasihat Langit. Bertepatan itu pandangannya melirik tangan kiri Langit dan tersentak kaget saat melihat sebuah gelang yang terbuat dari biji-biji Palem melingkar di pergelangan tangan pria itu.
'Gelang itu...,' ucap hatinya refleks. 'Apakah dia adalah remaja laki-laki yang telah ditolong oleh Kak Kahyangan lima belas tahun lalu?'
Bersambung.