Minggu pagi di Rusun Harapan Bangsa bukanlah waktu untuk bersantai. Pukul enam pagi, suara gesekan ember plastik di lantai semen dan teriakan anak-anak yang berebut mandi sudah menjadi alarm alami.
Boy Pratama terbangun dengan tubuh yang terasa seperti dipukuli massa. Kasur busa tipis di bawahnya sama sekali tidak memberikan kenyamanan bagi punggungnya yang terbiasa dengan kasur berteknologi memory foam di London.
"Gue nggak tahu berapa lama lagi punggung gue bisa bertahan di sini," rintih Boy sambil meraba pinggangnya yang kaku.
Saat ia membuka pintu kamar yang kayunya sudah mulai lapuk, hidungnya menangkap aroma manis yang familiar.
Di atas lantai semen depan pintunya, terdapat sebuah piring plastik hijau berisi dua potong pisang goreng yang masih mengepulkan uap. Di sampingnya, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang kaku: "Makan. Jangan mati kelaparan sebelum kerja."
Boy tersenyum tipis. Ia membawa piring itu ke koridor, tempat Mira sedang asyik menyikat sepatu sekolahnya sambil mendengarkan musik dari ponselnya.
Lagu lawas yang menurut dia masih enak untuk di dengar, lagu Catatan si Boy yang saat itu Booming dikalangan remaja namun dirinya bahkan bang Jody dan Mas Boy belum lahir.
"Wuih, pangeran rusun sudah bangun! Gimana, Mas Boy? Enak nggak pisang goreng 'sisa' dari Kak Luna?" tanya Mira sambil nyengir, menunjukkan giginya yang gingsul.
"Sisa ya? Masih anget gini kok dibilang sisa," jawab Boy sambil menggigit pisang goreng itu. Rasanya jauh lebih jujur di lidah daripada sarapan mewah di hotel.
"Mana kakak lo, Mir?"
"Lagi di bawah, bantuin teman Bang Jody benerin rantai motor. Bang Jody lagi pusing, iuran sampah sama keamanan nunggak dua bulan. Katanya kalau hari ini nggak dapet tarikan ojek yang banyak, kita bakal diusir," jawab Mira, suaranya yang tadi ceria mendadak lirih.
Boy terdiam. Ia baru menyadari bahwa uang satu juta rupiah yang diberikan Papanya—yang ia anggap sebagai uang receh—adalah penyambung nyawa bagi orang-orang seperti Jody dan Mira. Ia merasa sangat kecil di tengah perjuangan mereka yang begitu besar.
Begitu sampai di Hotel Pratama Grand, Boy tidak langsung diperbolehkan mengambil alat pelnya. Seorang satpam bertubuh kekar mencegatnya di pintu karyawan. "Boy! Pak Danu, Manager Keuangan, panggil kamu ke ruangannya di lantai 12. Sekarang!"
Boy mengernyitkan kening. Lantai 12 adalah area terlarang bagi staf rendahan seperti dia. Dengan perasaan waspada, ia menaiki lift khusus staf. Begitu pintu lift terbuka, ia disambut oleh kemewahan yang sangat kontras dengan bau apek rusun tadi pagi.
Karpet tebal meredam suara langkah kakinya.
Di dalam ruangan yang luas itu, Pak Danu duduk di balik meja mahoni besar. Asap cerutunya memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang intimidatif.
"Duduk, Boy," perintah Pak Danu tanpa menoleh. Matanya tetap tertuju pada dokumen di depannya. "Saya dengar kamu punya kinerja yang... cukup unik. Bu Angeline bilang kamu anak yang penurut dan bisa dipercaya."
"Terima kasih, Pak," jawab Boy pendek. Ia mengatur napasnya agar tidak terlihat gugup.
"Saya punya tugas khusus. Ini bukan tugas Housekeeper. Saya ingin kamu mengantarkan tas ini ke alamat yang tertulis di sini,"
Pak Danu menggeser sebuah tas kerja kulit yang tampak berat ke arah Boy. "Gunakan lift barang, keluar lewat pintu laundry, dan pastikan tidak ada yang melihatmu membawa ini.
Jika kamu berhasil, ada bonus sebesar gaji sebulanmu di dalam amplop ini."
Pak Danu menaruh amplop cokelat tebal di meja. Mata Boy menatap tas itu. Ia tahu, ini bukan sekadar berkas. Ini adalah "uang panas" dari Kamar Bayangan di lantai 8.
"Maaf Pak, kenapa saya? Kenapa bukan kurir resmi?" tanya Boy mencoba memancing informasi.
Pak Danu berdiri, mendekati Boy, dan menekan pundaknya dengan keras. "Karena wajahmu belum dikenal oleh relasi saya. Dan karena saya rasa, kamu cukup pintar untuk tahu bahwa bertanya terlalu banyak bisa membahayakan masa depanmu di sini. Paham?"
Boy membawa tas itu keluar dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tahu ini adalah bukti yang ia cari, tapi ia juga tahu ini adalah jebakan. Saat ia sedang berjalan mengendap-endap di dekat gudang laundry, sebuah tangan menarik kerah bajunya dengan kasar dan menyeretnya ke balik tumpukan kain seprai.
"Mau jadi penjahat lu, hah?!" Itu Luna. Matanya berapi-api, penuh amarah yang tertahan.
"Lun, lepasin! Gue ada tugas!" bisik Boy panik.
"Tugas apa?! Mengantar uang haram Pak Danu?! Gue denger semuanya, Boy. Gue liat lu keluar dari ruangan dia bawa tas itu," Luna mencengkeram lengan Boy lebih kuat.
"Dengerin gue, Master S2 BoyBand. Lu pikir mereka bakal angkat lu jadi manager kalau lu bantu mereka? Nggak! Mereka cuma butuh tumbal. Kalau polisi dateng, lu yang bakal masuk penjara, bukan Pak Danu!"
"Gue tahu itu, Lun! Tapi ini satu-satunya cara buat tahu siapa dalang di luar hotel ini! Gue harus ikutin aliran uangnya," balas Boy tak kalah sengit.
Luna terdiam sejenak. Ia melihat tekad yang luar biasa di mata Boy—sesuatu yang bukan sekadar main-main.
"Gue ikut."
"Nggak! Bahaya buat lo, Lun!"
"Lu nggak tahu jalanan Jakarta, Boy! Alamat itu daerah gudang gelap di Pelabuhan Sunda Kelapa. Lu bakal habis dikerjain preman di sana kalau sendirian.
Gue temenin, sebagai jaminan kalau lu nggak bakal bawa kabur uang itu sendirian!" Luna memaksa. Ia tidak memberi pilihan bagi Boy.
Mereka berdua menyelinap keluar hotel. Boy meminjam motor tua Jody yang suaranya sudah seperti mesin parut kelapa. Luna duduk di belakang, memegang tas erat-erat di antara mereka.
Perjalanan menuju pelabuhan adalah ujian fisik yang nyata bagi Boy. Panas Jakarta menyengat kulitnya yang biasanya terlindungi AC, dan debu hitam dari truk-truk besar membuat matanya perih.
"Belok kiri di depan! Awas lubang, Boy!" teriak Luna di balik helmnya.
"Sial! Jakarta kenapa panas banget sih!" keluh Boy sambil menyeka keringat yang bercucuran dari balik dahi.
"Halah, cengeng banget sih jadi cowok! Tuh, gudangnya di depan yang ada gerbang besi karatan!"
Mereka sampai di sebuah gudang tua yang tampak tak berpenghuni. Sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca gelap sudah menunggu di sana. Dua orang pria berbadan besar dengan potongan rambut cepak turun dari mobil. Suasana mendadak menjadi sangat dingin dan mencekam.
"Barang dari Danu?" tanya salah satu pria itu, suaranya berat dan serak.
Boy menyerahkan tas itu.
Pria itu membukanya sedikit—tumpukan uang pecahan seratus ribu yang sangat banyak menyembul dari sana. Saat itulah, mata Boy yang terlatih melihat sesuatu di laci pintu mobil yang terbuka: sebuah map dengan logo "Garuda Perkasa Group".
Boy tersentak. Itu adalah perusahaan milik musuh bebuyutan papahnya yang ingin merebut Hotel Pratama Grand selama bertahun-tahun.
"Ada apa? Kenapa lu ngeliatin kedalem mobil?" tanya pria itu curiga. Tangannya mulai bergerak ke arah belakang pinggangnya, seolah-olah bersiap mencabut sesuatu.
Boy terpaku. Ia tidak punya jawaban.
Namun, dengan gerakan yang sangat cepat, Luna tiba-tiba merangkul leher Boy dan menyandarkan kepalanya di bahu Boy.
"Aduh sayang... ayo buruan pulang! Katanya mau beli bakso di pasar, aku udah laper banget ini!" Luna memasang wajah manja dan merengek, sangat berbeda dengan sifat singanya sehari-hari.
Ia menoleh ke pria besar itu sambil tersenyum polos. "Maaf ya Bang, pacar saya emang agak norak kalau liat mobil bagus. Maklum, seumur hidup cuma naik angkot karatan."
Pria besar itu mendengus, merasa bahwa kedua orang di depannya hanyalah pasangan miskin yang tidak tahu apa-apa. "Ya sudah, pergi sana! Jangan banyak liat!"
Begitu mobil itu pergi, Boy dan Luna langsung memacu motor menjauh dari sana secepat mungkin. Mereka baru berhenti di bawah jembatan layang yang bising untuk mengatur napas.
"Lo... lo tadi hebat banget, Lun," ucap Boy, napasnya masih memburu.
"Gue nggak hebat, Boy. Gue cuma nggak mau lu mati konyol," Luna melepaskan helmnya, rambutnya yang berantakan terkena keringat tetap terlihat luar biasa di mata Boy.
"Sekarang lu paham kan? Ini bukan cuma soal uang kamar. Ini pengkhianatan tingkat tinggi. Pak Danu itu musuh dalem selimut!"
Malam harinya, mereka duduk di pinggir jalan dekat Rusun, masing-masing memegang segelas es teh plastik. Boy menatap tangannya yang kotor terkena oli motor.
"Gue minta maaf udah libatin lo ke hal bahaya kayak tadi, Lun," ucap Boy tulus.
Luna menunduk, memainkan sedotan di gelasnya. "Lu tahu nggak kenapa gue benci banget sama orang-orang di lantai 12 itu?
Dulu, Ayah gue satpam di sana. Dia jujur, dia mau laporin kecurangan di gudang. Tapi dia malah difitnah mencuri, dipecat, dan namanya diblacklist di seluruh hotel Jakarta. Ayah gue meninggal karena stres, Boy. Itulah kenapa gue bersumpah bakal hancurin mereka kalau punya kesempatan."
Boy merasa dadanya sesak. Ia melihat sisi lain dari Luna seorang gadis yang menanggung beban masa lalu yang sangat berat di pundaknya yang kecil.
"Gue janji, Lun. Nama Ayah lo bakal bersih. Gue nggak bakal berhenti sampai mereka semua dapet balasannya," kata Boy dengan nada suara yang dalam dan penuh janji.
Luna menatap mata Boy, mencari kebohongan di sana, tapi ia hanya menemukan kejujuran yang murni. Untuk pertama kalinya, Luna tidak menghina Boy. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Boy merasa bahwa satu juta rupiah di kantongnya dan kasur tipis di rusun itu adalah harga yang kecil untuk bisa mengenal gadis di sampingnya ini.