Malam setelah kejadian di pelabuhan itu tidak memberikan ketenangan bagi Boy. Ia berbaring di atas kasur busanya yang mulai berbau apek, menatap langit-langit kamar yang catnya mengelupas membentuk pola-pola aneh.
Suara tikus yang berlarian di atas plafon rusun biasanya membuatnya jijik, tapi malam ini, suara sekecil apa pun membuatnya waspada. Jantungnya masih berdegup setiap kali teringat logo Garuda Perkasa Group di mobil hitam itu.
"Siapa sebenarnya yang bermain di belakang Pak Danu?" gumamnya pelan.
Saat ia mencoba memejamkan mata, ia mendengar suara langkah kaki yang pelan di koridor depan kamarnya. Langkah itu bukan seperti langkah Jody yang berisik dengan sandal jepitnya, melainkan langkah yang sangat teratur dan sengaja disamarkan.
Boy bangkit dari kasur, telinganya menempel pada pintu kayu yang mulai lapuk. Ia mendengar gesekan kertas yang diselipkan lewat celah bawah pintu. Begitu langkah itu menjauh, Boy segera menyambar kertas tersebut. Di bawah cahaya lampu kuning yang redup, ia membaca deretan kalimat yang diketik rapi namun terasa sangat dingin:
"London adalah tempat yang lebih aman untuk anak muda sepertimu. Jangan biarkan rasa ingin tahumu membakar dirimu sendiri. Pergilah sebelum kami yang memulangkanmu dalam kotak kayu."
Darah Boy seolah membeku. Mereka tahu! Mereka tahu siapa dia, atau setidaknya mereka tahu dia bukan sekadar pelayan hotel biasa. Boy segera membuka pintu dan berlari ke koridor, tapi lorong panjang itu kosong. Hanya ada aroma parfum mahal yang tertinggal—parfum yang sangat ia kenali, tapi otaknya masih terlalu kalut untuk menebak pemiliknya.
Pagi harinya di Hotel Pratama Grand, Boy bekerja seperti robot. Pikirannya melayang pada ancaman semalam. Saat sedang mengelap marmer di area lobi VIP lantai 8, ia melihat Jennifer sedang duduk di sebuah kursi tersembunyi dekat tangga darurat.
Jennifer tidak sedang bekerja; ia sedang menangis tersedu-sedu sambil memegang ponselnya.
Boy mendekat perlahan. "Kak Jenn? Ada apa?"
Jennifer tersentak, buru-buru menghapus air matanya dengan ujung seragamnya yang biru kusam. "Eh, Boy. Nggak apa-apa. Cuma mata kemasukan debu."
"Kak, jangan bohong sama aku. Kak Jenn ada masalah?" tanya Boy sambil duduk di sampingnya, mengabaikan peraturan hotel yang melarang karyawan duduk di area publik.
Jennifer menghela napas panjang, bahunya merosot lesu. "Tagihan rumah sakit anakku, Boy. Pak Danu... dia bilang dia nggak bisa bantu bulan ini kalau aku nggak mau melakukan 'tugas tambahan'."
"Tugas tambahan apa, Kak?"
"Dia memintaku memasukkan sesuatu ke dalam koper tamu di kamar 901 sore ini. Aku takut, Boy. Aku tahu itu pasti ilegal. Tapi kalau aku nggak lakukan, operasi jantung anakku bakal dibatalkan pihak rumah sakit," Jennifer kembali terisak.
Boy mengepalkan tangannya. Pak Danu benar-benar monster. Dia memanfaatkan keputusasaan seorang ibu untuk menutupi jejak kejahatannya sendiri.
"Kak Jenn, jangan lakukan. Kasih tahu aku kamar berapa dan kapan. Biar aku yang urus."
"Jangan, Boy! Kamu sudah cukup dalam terlibat. Mereka berbahaya!" Jennifer memohon.
"Aku nggak akan kenapa-napa, Kak. Percaya sama aku," ucap Boy dengan nada yang sangat yakin—nada suara seorang pimpinan yang tidak pernah Jennifer dengar sebelumnya dari seorang Housekeeper.
Belum sempat Boy menyusun rencana untuk membantu Jennifer, Supervisor Angeline sudah memanggilnya lewat HT. Suaranya terdengar manis namun mengandung otoritas yang tak bisa dibantah.
"Boy, segera ke area kolam renang VIP lantai paling atas. Ada area yang harus dipastikan steril."
Boy sampai di sana dan mendapati area kolam renang sedang dikosongkan. Hanya ada Angeline yang duduk di pinggir kolam dengan gaun kantor yang sangat ketat, menyesap jus jeruk.
"Sini, Boy. Dekat sedikit," ujar Angeline sambil menepuk kursi di sampingnya.
"Maaf Bu, saya sedang dalam jam kerja," jawab Boy dingin.
Angeline tertawa, tawa yang terdengar sangat menggoda namun licik. "Saya adalah atasan kamu di sini, Boy. Perintah saya adalah jam kerja kamu. Saya tahu apa yang kamu lakukan dengan Luna kemarin. Pergi ke pelabuhan? Naik motor butut?"
Boy tertegun. Jadi Angeline memata-matai mereka?
"Jangan kaget. Di hotel ini, tembok pun punya telinga," Angeline berdiri, berjalan mendekati Boy dan merapikan kerah seragam Boy dengan ujung jarinya yang dicat merah darah.
"Pak Danu mulai curiga sama kamu. Tapi saya bilang sama dia, kamu itu 'proyek' saya. Saya bisa lindungi kamu, Boy. Asalkan kamu mau jadi milik saya sepenuhnya. Kamu mau kan hidup lebih enak daripada di rusun bau itu?"
Boy menatap mata Angeline. Ia merasa mual. Kemewahan yang ditawarkan Angeline adalah kemewahan yang kotor. "Saya lebih suka bau rusun daripada bau pengkhianatan, Bu."
Wajah Angeline mendadak berubah keras. "Ganteng tapi sombong ya? Hati-hati, Boy. Jatuh dari lantai paling atas ini rasanya sangat sakit."
Boy segera mencari Luna setelah lepas dari Angeline. Ia menceritakan soal Jennifer dan koper misterius di kamar 901.
"Kita harus cegah Kak Jenn, Lun. Tapi kita juga harus tahu apa yang ada di koper itu," bisik Boy saat mereka berpura-pura sedang membersihkan tumpukan handuk di lorong gudang.
"Gue bakal alihkan perhatian Pak Danu di ruang CCTV. Lu masuk ke kamar 901 lewat jalur laundry shoot," usul Luna. "Tapi Boy, ini taruhannya nyawa. Kalau ketahuan, Pak Danu nggak bakal segan-segan pake senjata."
"Gue tahu. Tapi kita nggak bisa biarin Kak Jenn jadi tumbal," jawab Boy mantap.
Sesuai rencana, Luna membuat kekacauan kecil di ruang istirahat karyawan yang memicu alarm kebakaran kecil.
Di tengah kepanikan itu, Boy menyelinap ke kamar 901. Di sana, ia menemukan koper hitam besar yang sudah terbuka. Isinya... bukan uang, melainkan tumpukan paspor palsu dan kepingan microchip.
"Apa ini? Mereka juga main perdagangan data?" Boy segera memotret semuanya.
Namun tiba-tiba, pintu kamar terbuka.
Pak Danu masuk bersama seorang pria asing berpakaian rapi yang wajahnya sangat familiar bagi Boy—salah satu mantan petinggi di perusahaan Papahnya yang dulu dipecat karena korupsi.
Boy segera bersembunyi di dalam lemari baju yang besar, menahan napasnya sekuat tenaga.
Dari balik celah lemari, Boy mendengar percakapan yang membuat jantungnya hampir copot.
"Semua data keuangan Hotel Pratama Grand sudah ada di microchip ini," ucap Pak Danu dengan nada bangga.
"Besok, saat audit pusat datang, kita akan hapus semua data di server utama. Hotel ini akan bangkrut secara teknis, dan tuanmu bisa membelinya dengan harga sampah."
Pria asing itu tertawa. "Bagus, Danu. Tapi bagaimana dengan anak pemilik hotel yang katanya baru pulang dari London itu? Ada kabar dia sudah di Jakarta."
"Tenang saja. Saya sudah kirim peringatan ke tempat tinggalnya yang kumuh itu. Dia cuma anak manja yang nggak tahu apa-apa. Kalau dia masih macam-macam, saya sendiri yang akan membereskannya," jawab Pak Danu dengan kejam.
Boy mengepalkan tangannya di dalam kegelapan lemari. Amarahnya memuncak. Mereka ingin menghancurkan jerih payah Papanya selama puluhan tahun. Ia ingin sekali keluar dan menghajar Pak Danu, tapi ia tahu itu tindakan bodoh. Ia butuh bukti yang lebih kuat.
Setelah mereka keluar dari kamar, Boy segera keluar dari persembunyiannya dengan tubuh gemetar karena adrenalin. Ia harus segera memberitahu Papanya, tapi ia tidak punya akses ke ponsel mahalnya.
Malam itu, hujan gerimis mengguyur Jakarta saat Boy dan Luna berjalan pulang menuju rusun. Keduanya tampak sangat lelah dan tertekan. Boy menceritakan apa yang ia dengar di dalam lemari tadi.
"Luna... hotel ini dalam bahaya besar. Mereka mau hancurin keluarga gue," ucap Boy tanpa sadar menggunakan kata 'keluarga gue'.
Luna berhenti berjalan, menatap Boy dalam-dalam. "Lu baru aja bilang keluarga lu? Boy... jujur sama gue. Lu siapa sebenarnya? Nggak mungkin Housekeeper biasa tahu soal audit pusat dan microchip data."
Boy menatap Luna, wajahnya basah oleh air hujan. Ia ingin jujur, tapi ia takut Luna akan menjauh jika tahu ia adalah "Tuan Muda" yang selama ini Luna benci.
"Gue... gue cuma orang yang ingin keadilan buat hotel itu, Lun. Sama kayak lo ingin keadilan buat Ayah lo," jawab Boy diplomatis.
Luna menghela napas, lalu tiba-tiba ia memeluk Boy erat. Tubuhnya yang kedinginan bersandar pada d**a Boy. "Gue takut, Boy. Gue takut kita berdua nggak bakal selamat dari semua ini."
Boy membalas pelukan itu, mengelus rambut Luna yang basah. "Gue janji, Lun. Selama ada gue, nggak ada yang bakal nyakitin lo atau Jennifer. Gue bakal beresin semua ini, meski gue harus kehilangan segalanya."
Di kejauhan, di atas lantai 4 Rusun, Jody memperhatikan mereka dari balik bayangan. Ia memegang sebuah ponsel, jarinya mengetik pesan singkat ke nomor yang tidak dikenal: "Target mulai dekat dengan gadis itu. Perintah selanjutnya?"