Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang pucat mulai menyelinap di sela-sela lorong Rusun Harapan Bangsa. Boy Pratama, dengan handuk yang tersampir di bahu dan wajah yang masih mengantuk, turun dari lantai empat karena air di kamarnya kembali macet.
Sejak insiden mie instan di dapur umum tempo hari, Boy mulai terbiasa melihat Luna berada di sekitar rusun ini. Ia sudah tidak kaget lagi, tapi setiap kali melihat Luna dalam balutan baju rumahan yang sederhana, ada rasa kagum yang sulit ia jelaskan.
Saat melewati selasar lantai dua, Boy melihat Luna sedang sibuk mengangkat jemuran yang belum kering sempurna. Luna memakai celana training kebesaran dan kaos oblong putih yang sudah agak tipis, rambutnya dicepol asal-asalan dengan sebuah pensil kayu.
"Belum kering ya, Lun?" tanya Boy santai sambil berhenti sejenak.
Luna menoleh, tidak terlihat kaget. Ia hanya mendengus sambil memasukkan daster-daster ibunya ke dalam bakul plastik.
"Jakarta mendung mulu dari semalam. Lu sendiri ngapain turun ke lantai dua? Kamar mandi atas antre lagi?"
"Airnya mati total. Jody bilang di lantai dua biasanya lebih lancar karena deket sama tangki bawah," jawab Boy. Ia memperhatikan tangan Luna yang cekatan. "Sini, gue bantuin."
"Nggak usah. Tangan lu itu buat megang pulpen mahal sama nyetir Ferrari, bukan buat megang jemuran basah," sindir Luna, tapi nada suaranya tidak setajam biasanya. Ada sedikit nada lelah di sana.
Boy tertegun mendengar sindiran Luna soal Ferrari. Jantungnya sempat berhenti berdetak. 'Apa dia tahu?' pikir Boy panik. Namun, melihat wajah Luna yang kembali cuek, Boy sadar itu hanya asal bicara. Luna memang selalu begitu; menganggap setiap orang yang bertampang tampan dan tidak bisa kerja kasar sebagai "anak orang kaya yang manja".
Boy tidak memedulikan sindiran itu. Ia mengambil alih bakul jemuran Luna. Sekarang tangan gue cuma tangan tukang pel, sama kayak lo. Jadi, nggak usah sok kuat."
Luna terdiam, menatap Boy yang dengan kikuk mencoba melipat kain-kain panjang itu.
"Lu beneran beda ya, Boy. Gue pikir setelah pertemuan di dapur umum itu lu bakal minta pindah rusun karena jijik liat lingkungan gue."
"Lingkungan kita, Lun," ralat Boy lembut. "Kita tinggal di bawah atap yang sama. Itu artinya kita setara."
Luna membuang muka, mencoba menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Dah, sana mandi! Bau matahari lu makin kecium. Inget, hari ini Audit Pusat. Jangan sampe bau badan lu bikin pingsan Pak Hendrawan."
Satu jam kemudian mereka berdua sudah bersiap siap untuk berangkat ke Hotel Pratama Grand. Luna sedang menunggu di lantai 2 bawah dan tidak lama terlihat Boy menuruni tangga lantai 4 menuju lantai 2 untuk menghampiri Luna. Dan akhirnya mereka berdua bergegas ke Hotel Megah dan Mewah itu.
Begitu mereka menginjakkan kaki di Hotel Pratama Grand, suasananya terasa mencekam. Karpet merah di lobi depan seolah-olah baru saja disikat dengan silet begitu bersih dan tajam.
Para bellboy berdiri kaku layaknya patung lilin, dan para Manager mondar-mandir dengan wajah pucat.
"Gila, ini hotel apa markas militer?" bisik Boy pada Luna saat mereka menyelinap lewat pintu belakang.
"Ini Audit Pusat, Boy. Nyawa kita semua dipertaruhkan hari ini," jawab Luna dengan suara rendah. "Denger-denger, Pak Hendrawan itu orangnya teliti banget. Dia bisa tahu kalau ada debu di balik pigura foto dari jarak sepuluh meter."
Boy menelan ludah. Paman Hendrawan. Orang yang sudah dianggapnya sebagai ayah kedua. Seseorang yang tahu persis bahwa Boy seharusnya ada di London, bukan di Jakarta dengan seragam biru dongker yang bahannya kasar ini.
"Boy! Luna!" Suara melengking Supervisor Angeline memecah ketegangan. Ia menghampiri mereka dengan langkah cepat, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai marmer.
"Kalian berdua, segera ke Presidential Suite di lantai 20. Pak Hendrawan ingin memeriksa standar kebersihan kamar paling mahal kita sekarang juga. Dan Boy... pakai masker kamu! Saya tidak mau wajah 'model' kamu mengganggu konsentrasi tim audit."
Boy segera menarik maskernya ke atas dengan perasaan lega. Setidaknya, sebagian wajahnya akan tertutup.
Di lantai 20, pintu kamar Presidential Suite terbuka lebar. Di dalamnya, tim audit yang terdiri dari sepuluh orang berjas hitam sedang sibuk mencatat.
Di tengah ruangan, berdiri seorang pria paruh baya dengan wibawa yang luar biasa besar. Hendrawan. Ia sedang memeriksa kelayakan kain gorden dengan menggunakan sarung tangan putih.
"Kualitas kain ini menurun dibandingkan tahun lalu, Danu," suara Hendrawan terdengar dingin dan berwibawa.
Pak Danu, sang Manager Keuangan, tampak berkali-kali menyeka keringat di dahinya. "Itu... itu karena vendor lama kami bangkrut, Pak. Kami sedang mencari penggantinya."
Boy dan Luna masuk membawa perlengkapan tambahan. Boy menunduk sedalam mungkin, berpura-pura sangat sibuk merapikan tumpukan majalah di atas meja marmer.
"Siapa mereka?" tanya Hendrawan tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah Boy dan Luna.
"Ini staf pilihan kami, Pak. Luna dan Boy," jawab Pak Danu dengan suara bergetar.
Hendrawan mendekat ke arah Boy. Jantung Boy berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Aroma parfum sandalwood milik Hendrawan yang sangat familiar kini tercium di hidungnya.
"Kamu, yang pakai masker," panggil Hendrawan tepat di depan Boy. "Kenapa tangan kamu gemetar saat merapihkan majalah itu? Apa kamu takut dengan saya?"
Boy terdiam. Ia tidak berani bicara, takut suaranya akan dikenali.
"Maaf Pak, teman saya ini memang agak pemalu. Dia baru seminggu bekerja di sini," Luna segera menimpali, mencoba melindungi Boy.
Hendrawan menatap Luna, lalu kembali menatap Boy dengan selidik. Ia merasa ada yang aneh dengan postur tubuh pelayan di depannya ini. Postur tubuh yang tegak, bahu yang lebar... sangat mirip dengan keponakannya yang hilang kontak di London.
Hendrawan melanjutkan pemeriksaannya ke area kamar mandi. Boy mengambil risiko besar. Saat Hendrawan sedang membelakangi tim audit, Boy sengaja menjatuhkan sebuah pulpen perak kecil—pulpen yang dulu pernah diberikan Hendrawan sebagai hadiah ulang tahun Boy ke-17.
Pulpen itu berguling dan berhenti tepat di ujung sepatu Hendrawan.
Hendrawan membeku. Ia melihat pulpen itu, pulpen yang hanya ada dua di dunia dengan inisial 'BP'.
Ia segera mengambilnya dan menatap ke arah Boy yang kini sedang berpura-pura mengelap cermin. Hendrawan menarik napas panjang, mencoba menekan emosinya yang melonjak.
Ia segera menyadari bahwa keponakannya sedang melakukan sesuatu yang sangat berbahaya di hotel ini.
"Pak Danu," kata Hendrawan tiba-tiba. "Saya ingin staf laki-laki ini membantu saya memeriksa gudang penyimpanan di lantai basement nanti sore. Saya curiga ada barang inventaris yang tidak sesuai. Kalian semua bisa melanjutkan audit ke lantai lain."
Pak Danu tampak bingung tapi tidak berani membantah. "Tentu, Pak. Boy akan siap melayani Anda."
Begitu rombongan audit pergi, Luna langsung menarik Boy ke sudut ruangan. "Boy! Apa yang lu lakuin? Lu sengaja kan jatuhin pulpen itu? Lu kenal sama Pak Hendrawan?"
Boy menatap Luna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue cuma... gue cuma mau mastiin sesuatu, Lun."
"Lu bener-bener gila, Boy! Lu nggak tahu Pak Hendrawan itu bisa pecat lu dalam hitungan detik kalau lu berani macam-macam!"
Luna tampak sangat cemas, tangannya bahkan gemetar saat memegang lengan Boy.
Belum sempat Boy menjelaskan, Angeline muncul di ambang pintu dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
"Wah, wah... hebat sekali kamu, Boy. Baru seminggu sudah dipanggil khusus oleh Pak Hendrawan ke gudang. Ada rahasia apa di antara kalian?"
"Saya tidak tahu, Bu. Mungkin hanya kebetulan," jawab Boy tenang.
Angeline mendekat, mengusap bahu Boy dengan ujung kuku merahnya. "Jangan main api, sayang. Pak Danu itu punya telinga di mana-mana. Kalau dia curiga kamu itu mata-mata pusat, dia nggak akan segan-segan mengirim 'orang' untuk beresin kamu di rusun itu."
Angeline menoleh ke Luna. "Dan kamu, Luna. Jangan terlalu dekat dengan Boy. Orang-orang yang terlalu dekat dengan api biasanya akan ikut hangus."
Angeline melenggang pergi dengan tawa kecil yang terdengar sangat menyeramkan. Luna dan Boy saling berpandangan. Mereka sadar bahwa jaring-jaring konspirasi ini mulai mengetat.
Malam harinya, setelah pertemuan rahasia singkat dengan Hendrawan di gudang di mana Hendrawan memohon Boy untuk pulang ke rumahnya, karena beliau tidak tega melihat keponakannya tinggal di rusun yang kumuh namun Boy menolak demi misi menyelidiki Pak Danu yang telah di berikan langsung oleh papanya pak Pratama. Boy kembali ke rusun dengan perasaan lelah yang luar biasa.
Saat ia sampai di lantai empat, ia melihat Jody sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Jody tidak terlihat seperti biasanya yang ceria dan banyak bicara. Wajahnya gelap dan serius.
"Tadi ada orang berjas nanya-nanya soal lo di bawah, Boy," ucap Jody pelan.
Boy tertegun. "Orang berjas? Siapa?"
"Gue nggak tahu. Tapi mereka nanya berapa lama lo tinggal di sini dan siapa aja temen lo,"
Jody menatap Boy dengan tatapan tajam. "Boy... lo itu siapa sebenarnya? Gue nggak mau gara-gara lo, gue sama Mira ikut kena masalah. Gue emang butuh duit, tapi gue lebih butuh nyawa adek gue aman."
Boy terdiam. Ia baru sadar bahwa keberadaannya di rusun ini kini mulai membahayakan orang-orang yang ia sayangi. Di sisi lain, dari kejauhan di lantai dua, ia melihat Luna sedang menutup pintu kamarnya, tampak sama cemasnya.
"Gue bakal beresin ini, Jod. Gue janji," bisik Boy.
Namun di dalam hatinya, Boy tahu bahwa audit pusat ini hanyalah awal dari perang besar yang akan melibatkan nyawa semua orang di sekelilingnya.