BAB 7. Harga Sebuah Kesetiaan

1402 Words
Pagi itu, suasana di Hotel Pratama Grand terasa lebih dingin dari biasanya. Meskipun AC pusat berhembus normal, aura ketakutan menyelimuti setiap sudut. Pak Danu, sang Manager Keuangan, memanggil Boy ke ruangannya tepat setelah absen pagi. Ruangan itu tampak remang-remang; tirai jendela besar yang biasanya menampilkan kemegahan Jakarta kini tertutup rapat. Pak Danu duduk di balik meja mahoninya, tidak lagi merokok cerutu. Wajahnya tampak pucat dan matanya sedikit merah. Di atas meja, terdapat sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. "Boy, duduklah," suara Pak Danu terdengar berat, mencoba ramah namun gagal menyembunyikan getar kecemasan. "Ada apa, Pak?" tanya Boy, matanya melirik amplop itu dengan curiga. "Audit Pak Hendrawan ini... mereka mencari-cari kesalahan kecil yang sebenarnya tidak ada. Kamu tahu kan, di bisnis ini, sedikit 'penyesuaian' data itu hal biasa agar semua orang bisa makan?" Pak Danu menggeser amplop itu ke arah Boy. "Saya dengar Pak Hendrawan memanggil kamu secara khusus kemarin. Saya hanya ingin memastikan... kamu tahu pihak mana yang benar-benar peduli dengan kesejahteraanmu di sini." Boy menatap amplop itu. Isinya pasti jutaan rupiah. "Maksud Bapak?" "Isinya sepuluh juta rupiah, Boy. Ini bukan sogokan. Anggap saja ini bonus karena kamu sudah bekerja keras membantu saya mengantar paket tempo hari," Pak Danu mencondongkan tubuhnya, tatapannya tajam. "Jangan katakan apapun yang tidak perlu kepada tim audit. Terutama soal kamar 808 atau paket di pelabuhan. Jika kamu bisa menjaga mulutmu tetap rapat, hidupmu di rusun itu akan jauh lebih mewah mulai besok." Boy membawa amplop itu keluar dengan perasaan yang campur aduk. Ia ingin melemparkan uang itu tepat ke wajah Pak Danu, tapi ia teringat misi penyelidikannya. Ia butuh waktu. Namun, saat ia melangkah keluar dari ruangan Pak Danu dan melewati koridor sepi menuju loker karyawan, ia melihat sesosok bayangan yang sangat ia kenal. Luna berdiri di sana, sedang menggendong bakul handuk bersih. Wajahnya tidak berekspresi, namun matanya tertuju langsung pada amplop cokelat di tangan Boy. "Luna... ini nggak seperti yang lo liat," ucap Boy cepat, ia refleks menyembunyikan amplop itu di balik punggungnya. Luna tertawa hambar, suara tawanya terdengar menyakitkan di telinga Boy. "Nggak seperti yang gue liat? Gue liat lu keluar dari ruangan Pak Danu bawa amplop tebal tepat saat audit lagi panas-panasnya. Jadi ini harga kesetiaan lu, Boy?" "Gue terpaksa nerima ini biar dia nggak curiga, Lun!" "Terpaksa? Lucu banget alasan lu," Luna mendekat, menatap Boy dengan penuh rasa kecewa. "Gue pikir lu beda. Gue pikir lu punya harga diri yang nggak bisa dibeli. Ternyata lu sama aja sama semua penjilat di gedung ini. Lu dapet sepuluh juta, sementara orang kayak gue dan Kak Jenn harus kerja rodi cuma buat dapet nasi kotak sisa!" "Lun, dengerin dulu—" "Jangan panggil nama gue!" bentak Luna. "Simpen uang itu buat bayar semua kebohongan lu. Gue nggak mau denger apa-apa lagi." Luna pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Boy yang terpaku di lorong yang sunyi. Boy merasa uang di tangannya kini terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya. Saat Boy sedang termenung di pantry belakang, Jennifer menghampirinya. Wajah Jennifer jauh lebih hancur daripada Luna. Ia memegang tagihan rumah sakit yang sudah mulai berwarna merah dan tanda peringatan terakhir. "Boy... kamu lihat Luna? Dia menangis di toilet tadi," tanya Jennifer pelan. Boy menghela napas panjang. "Gue bikin dia salah paham, Kak." Jennifer melihat amplop di saku seragam Boy yang mencuat. Ia tampak paham situasinya. "Pak Danu memberimu itu?" Boy mengangguk lemah. "Dia mau aku tutup mulut." Jennifer tertunduk, air matanya mulai menetes. "Aku benci mengakui ini, Boy. Tapi aku iri sama kamu. Pak Danu memberimu uang itu dengan mudah, sementara aku... aku harus mempertaruhkan nyawaku buat hal yang sama. Anakku butuh operasi minggu depan, dan kalau aku nggak dapet uangnya, rumah sakit bakal memulangkan dia." Boy merasakan sesak di dadanya. Ia memegang amplop itu, lalu menatap Jennifer. Ini dia kuncinya, pikir Boy. Gue nggak butuh uang ini, tapi Jennifer butuh. Tapi kalau gue kasih ke dia sekarang, Luna bakal makin benci sama gue karena dia pikir gue bagi hasil sama Jennifer. "Kak Jenn, simpen ini. Gunakan buat operasi anak Kakak," Boy menyodorkan amplop itu. Jennifer terkejut. "Tapi Boy, ini uang bahaya! Kalau Pak Danu tahu kamu kasih ke aku" "Dia nggak akan tahu. Bilang saja Kakak pinjam dari kerabat di desa. Ambil, Kak. Aku nggak butuh uang dari orang kayak dia," tegas Boy. Di lantai utama, Pak Hendrawan sedang memimpin rapat tertutup dengan para direksi. Boy, yang bertugas membawakan air minum ke dalam ruangan, melihat situasi yang sangat tegang. Pak Hendrawan tampak sedang memeriksa laporan arus kas yang mencurigakan. "Pak Danu, ada selisih tiga miliar rupiah di bagian pemeliharaan lantai 8 sampai 12 selama enam bulan terakhir. Bisa jelaskan kemana uang itu mengalir?" tanya Hendrawan dengan nada yang sangat tenang namun mematikan. Pak Danu tampak gugup, jari-jarinya mengetuk meja dengan tidak beraturan. "Itu... itu digunakan untuk renovasi darurat karena kebocoran pipa, Pak Hendrawan. Laporannya ada di bagian logistik." Boy yang sedang menuangkan air ke gelas Hendrawan, dengan sengaja meletakkan gelas itu sedikit lebih keras agar Hendrawan memperhatikannya. Hendrawan melirik Boy, dan Boy memberikan isyarat mata yang halus ke arah laci meja di samping Pak Danu. Hendrawan yang sangat peka segera mengerti. "Oh, benarkah? Kalau begitu, saya ingin melihat buku logistik harian SEKARANG juga. Pak Danu, silakan ambilkan." Pak Danu terpaksa bangkit dan keluar ruangan untuk mengambil berkas, meninggalkan tas kerjanya di kursi. Saat itulah, Boy melihat kesempatan. Ia berpura-pura membersihkan tumpahan air, namun tangannya dengan cepat mengambil sebuah kunci kecil yang terjatuh dari saku Pak Danu tadi. Malam itu di Rusun Harapan Bangsa, suasananya terasa mencekam. Boy pulang dengan langkah berat, berharap bisa bicara dengan Luna di selasar. Namun, saat ia sampai di lantai empat, ia melihat Jody sedang berbicara dengan dua orang pria asing berambut cepak di depan pintunya. Begitu melihat Boy, pria-pria itu segera pergi dengan motor besar mereka. Jody menatap Boy dengan wajah ketakutan. "Jod, siapa mereka?" tanya Boy waspada. "Mereka nanya soal amplop cokelat yang lu bawa pulang hari ini, Boy," jawab Jody dengan suara bergetar. "Mereka bilang lu maling uang kantor. Gue... gue bilang gue nggak tahu apa-apa!" "Gue bukan maling, Jod! Itu uang dari Pak Danu buat nyuap gue!" "Gue nggak peduli uang apa itu, Boy! Gara-gara lu tinggal di sini, keselamatan Mira terancam!" teriak Jody frustrasi. "Lu mending pergi dari sini. Gue nggak mau rusun ini jadi tempat persembunyian penjahat atau mata-mata!" Boy terpaku. Ia baru saja kehilangan kepercayaan dari Luna, dan sekarang teman terbaiknya di rusun pun mulai menjauhinya karena rasa takut. Ia merasa benar-benar sendirian di tengah kota yang kejam ini. Boy memutuskan untuk turun ke lantai dua, mencoba mencari Luna. Hujan mulai turun dengan deras, suaranya menghantam atap seng rusun dengan bising. Ia menemukan Luna sedang berdiri di balkon, menatap hujan dengan tatapan kosong. "Luna," panggil Boy pelan. Luna tidak menoleh. "Mau apa lagi? Mau pamer hasil sogokan lagi?" "Gue udah kasih uang itu ke Jennifer. Buat operasi anaknya," ucap Boy sejujur mungkin. Luna terdiam sejenak, tubuhnya tampak sedikit bergetar. "Lu pikir dengan kasih ke Jennifer, lu jadi pahlawan? Lu tetep aja ambil uang haram itu, Boy. Lu merusak integritas kita semua sebagai karyawan kecil!" "Lalu gue harus gimana, Lun?! Kalau gue tolak, Pak Danu bakal tahu gue mata-mata dan dia bakal singkirin gue sebelum gue dapet bukti! Gue butuh waktu!" teriak Boy frustrasi, suaranya beradu dengan deru hujan. Luna berbalik, matanya berkaca-kaca. "Gue cuma mau lu jujur, Boy. Siapa lu sebenarnya? Kenapa Pak Hendrawan liatin lu seolah-olah lu itu orang penting? Kenapa lu tahu cara main mereka? Lu bukan sekadar Housekeeper manja dari BoyBand, kan?" Boy menatap mata Luna. Ia ingin sekali mengatakannya. Gue Boy Pratama, pemilik hotel ini. Gue di sini mau nyelametin masa depan lo juga! Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Jika ia jujur sekarang, misi Papanya akan gagal total. "Gue cuma orang yang nggak mau liat lo terluka, Lun," bisik Boy. Hujan makin lebat. Di seberang jalan rusun, sebuah mobil SUV hitam terparkir dengan mesin menyala. Di dalamnya, seseorang sedang memperhatikan Boy dan Luna melalui teropong jarak jauh. Orang itu mengambil ponselnya. "Target sudah mulai terpecah dari sekutunya. Luna mulai tidak percaya padanya. Kita bisa mulai tahap kedua." "Lakukan," suara dingin Pak Danu terdengar dari speaker ponsel. "Bikin insiden di hotel besok pagi. Pastikan Boy yang jadi kambing hitamnya. Saya mau dia keluar dari hotel itu dalam keadaan terborgol." Boy dan Luna masih berdiri di balkon, tidak menyadari bahwa besok adalah hari paling gelap dalam penyamaran Boy. Sebuah jebakan besar sudah disiapkan, dan kali ini, kejujuran Boy akan diuji sampai titik nadir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD