Suasana di Rusun Harapan Bangsa pagi itu terasa lebih mencekam daripada biasanya. Bukan karena suara bising anak-anak yang berebut air, melainkan karena keheningan yang tak wajar. Jennifer duduk di depan pintu kamarnya dengan mata sembab dan koper tua yang sudah terikat tali rafia di sampingnya. Surat pemecatan dengan cap merah dari manajemen Hotel Pratama Grand tergeletak di lantai, seolah-olah mengejek masa pengabdiannya selama sepuluh tahun. Boy keluar dari kamarnya, mengenakan hoodie hitam yang menutupi luka di dahinya. Ia berhenti tepat di depan Jennifer. Hatinya perih melihat wanita yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri itu hancur berkeping-keping. "Kak Jenn, jangan beresin barang dulu," suara Boy terdengar rendah namun penuh keyakinan. Jennifer mendongak, tersenyum pahit d

