Malam di selasar Rusun Harapan Bangsa biasanya diiringi oleh suara dengkur tipis tetangga atau tetesan air dari pipa yang bocor.
Namun bagi Boy, malam ini terasa begitu sakral sekaligus menyiksa. Ia merasakan beban kepala Luna di bahu kirinya. Napas gadis itu teratur, sesekali ia bergerak kecil dalam tidurnya, mencari posisi yang lebih nyaman tanpa menyadari bahwa jantung Boy sedang berpacu tidak keruan.
Ada aroma sabun mandi murah bercampur wangi detergen dari seragam Luna yang entah mengapa, bagi Boy, terasa jauh lebih menenangkan daripada wangi bunga lavender di taman London miliknya.
Di bawah temaram lampu neon yang berkedip-kedip, Boy menatap wajah Luna. Ada gurat kelelahan yang nyata di sana—kelelahan seorang gadis yang memikul beban dunia di pundaknya yang mungil.
Namun, momen itu hancur saat ponsel di saku celananya bergetar. Getaran itu terasa seperti sengatan listrik yang mengingatkannya pada realitas. Ia merogoh ponselnya dengan tangan kanan yang gemetar, berusaha tidak mengusik Luna.
Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak ia kenali.
"Gue punya bukti kalau Angeline bukan cuma main sendiri. Ada pihak luar yang mau telan hotel lo lewat manipulasi aset. Dateng ke gudang Blok C pelabuhan sekarang kalau lo mau bukti fisiknya sebelum gue dimatiin. – Mantan Anak Buah Danu."
Boy terdiam. Matanya menyipit. Ini bisa jadi jebakan maut, atau bisa jadi satu-satunya kunci untuk meruntuhkan Angeline sebelum wanita itu menjadi terlalu kuat. Ia menatap Luna sekali lagi, ada rasa enggan yang luar biasa untuk pergi. Namun, ia tahu jika ia diam, bahaya yang lebih besar akan menjemput mereka semua di rusun ini.
Dengan gerakan yang sangat perlahan, sehalus embun yang jatuh, Boy menggeser tubuhnya. Ia meletakkan kepala Luna pada gulungan jaket hoodie-nya agar gadis itu tidak terbangun oleh kerasnya dinding beton. Ia berdiri, meregangkan ototnya, dan menatap kegelapan di luar selasar.
"Maafin gue, Lun. Gue harus beresin ini biar lo bisa terus tidur tenang kayak gini," bisiknya pelan sebelum melangkah tanpa suara menuju tangga.
Boy tidak menuju garasi mewah; ia menuju area parkir motor yang berbau oli dan debu. Di sana, ia melihat motor bebek tua milik Jody—kendaraan yang mesinnya sering terbatuk-batuk tapi tetap setia.
Boy tidak punya waktu untuk meminta izin. Ia menggunakan keahlian mekaniknya untuk menyalakan mesin tanpa kunci, sebuah trik yang ia pelajari dari jalanan London Timur saat ia masih remaja pemberontak.
Ia mengenakan jaket denim lusuh yang ia temukan di jemuran umum dan sebuah helm dengan kaca yang sudah buram penuh goresan.
Saat motor itu melaju membelah jalanan Jakarta yang basah oleh sisa hujan, Boy memantapkan pikirannya. Ia tidak boleh pergi sebagai "Tuan Muda Pratama". Ia harus menjadi "Boy", pemuda miskin yang nekat dan bodoh yang sedang mengejar bonus besar dari tim audit. Identitas "pecundang nekat" inilah yang akan melindunginya jika musuh ada di sana.
Jalanan menuju pelabuhan tua Jakarta terasa tak berujung. Bau sampah yang membusuk berganti dengan bau garam yang tajam dan solar yang menyengat. Pelabuhan ini adalah labirin kontainer tua yang sudah berkarat, tempat di mana hukum seringkali hanya menjadi dongeng pengantar tidur.
Boy memarkir motor Jody di balik tumpukan palet kayu, memastikan kendaraan itu tidak terlihat dari jalan utama.
Ia mulai berjalan kaki, merayap di antara bayangan kontainer. Setiap suara derit besi yang terkena angin membuatnya waspada. Tangannya tidak memegang senjata, hanya sebuah senter kecil dan tekad yang bulat.
Di kejauhan, Gudang Blok C berdiri tegak, sebuah bangunan tua dengan atap seng yang sebagian sudah jebol.
Begitu Boy melangkah masuk ke dalam gudang, suasana begitu sunyi hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Hanya ada satu lampu bohlam yang tergantung di tengah ruangan, berayun pelan menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.
"Informan audit kita ternyata benar-benar pemberani, atau mungkin... benar-benar bodoh," suara itu muncul dari balik kegelapan di sudut gudang.
Angeline melangkah keluar. Ia tidak lagi mengenakan setelan kantor yang rapi, melainkan jaket kulit hitam yang memberinya kesan kejam. Di belakangnya, muncul dua orang pria bertubuh raksasa dengan otot-otot yang menonjol di balik seragam safari mereka. Mereka adalah tenaga keamanan sewaan—tentara bayaran yang tidak punya belas kasihan.
"Ibu Angeline? Ngapain Ibu di sini? Mana orang yang kirim pesan ke saya?" tanya Boy, memasang wajah bingung yang sangat meyakinkan. Ia harus terlihat seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia telah dijebak.
Angeline tertawa, suara tawanya memantul di dinding gudang yang kosong. "Orang itu sudah tidak ada, Boy. Dia terlalu banyak bicara, sama seperti kamu. Kamu pikir dengan menjatuhkan Danu, kamu bisa menghentikan saya? Danu itu cuma pion. Saya adalah ratunya di sini."
"Saya cuma mau bukti buat bantu Pak Hendrawan, Bu. Saya cuma kerja!" teriak Boy, suaranya sedikit bergetar—sebuah akting yang sempurna untuk menunjukkan rasa panik.
"Kerja kamu sudah selesai, Boy. Hari ini, kamu akan belajar bahwa mencampuri urusan orang besar itu ada harganya,"
Angeline memberi isyarat dengan kepalanya. "Hancurkan dia. Tapi jangan sampai mati... saya masih butuh dia untuk memberi tahu Hendrawan agar berhenti mengendus urusan saya."
Kedua pria raksasa itu bergerak maju. Boy memiliki setiap kesempatan untuk menjatuhkan mereka dengan teknik krav maga atau jiu-jitsu yang ia kuasai. Namun, ia menahan diri. Jika ia bertarung seperti ahli, Angeline akan curiga. Ia harus bertarung seperti anak rusun yang punya nyali tapi tidak punya teknik.
Pukulan pertama menghantam rusuk kiri Boy. BRAKK! Ia membiarkan tubuhnya terpental ke tumpukan peti kayu. Rasa sakitnya nyata, dan ia bisa merasakan napasnya sesak. Saat pria kedua mencoba menerjang dengan tendangan, Boy berguling di lantai yang kotor, debu dan kotoran menempel di wajahnya.
Ia bangkit dan membalas dengan pukulan liar yang terlihat tidak terarah, namun sebenarnya mengincar ulu hati lawan. Pria itu terhuyung, namun tidak jatuh. Boy kemudian melakukan gerakan nekat—ia melempar kaleng cat tua ke arah lampu bohlam. PYARR! Lampu itu pecah, dan gudang menjadi gelap gulita.
Dalam kegelapan, Boy menunjukkan sedikit kemampuannya. Ia bergerak cepat, menyambar sebuah folder dokumen yang ia lihat di atas meja kerja dekat Angeline saat lampu masih menyala. Salah satu penjaga menghantam punggung Boy dengan balok kayu.
DUG! Boy mengerang, pandangannya berkunang-kunang, namun ia berhasil mencengkeram folder itu dan berlari menuju pintu keluar.
"Tangkap dia! Jangan biarkan tikus itu lolos!" teriak Angeline di tengah kegelapan.
Boy berlari sekuat tenaga menuju motor Jody. Di belakangnya, ia mendengar suara mesin mobil yang menderu—mereka mengejarnya.
Boy melompat ke atas motor bebek itu, menyalakan mesinnya dengan satu tendangan kasar, dan memacu kendaraan itu melewati tumpukan ban bekas.
Kejar-kejaran terjadi di sepanjang dermaga yang licin. Mobil SUV hitam milik penjaga Angeline mencoba menjepit motor Boy ke arah pinggiran dermaga yang langsung menuju laut.
Boy memacu motornya hingga batas maksimal. Saat sebuah rintangan palet kayu menghalangi jalan, Boy melakukan manuver berbahaya—ia memiringkan motornya, meluncur di bawah truk kontainer yang sedang parkir.
SREEEET! Tubuh Boy bergesekan dengan aspal. Jaket denimnya robek, dan bahu kirinya tergerus jalanan kasar. Perih yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya, namun ia tetap memegang stang motor. Ia berhasil keluar dari sisi lain truk dan menghilang ke dalam gang-gang sempit pemukiman nelayan yang tidak bisa dimasuki mobil.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Motor Jody kini dalam kondisi mengenaskan. Bodinya pecah di sana-sini, lampu depannya mati, dan knalpotnya mengeluarkan asap hitam.
Boy sendiri merasa tubuhnya remuk, setiap sendinya terasa seperti terlepas, namun folder di balik jaketnya terasa sangat berharga.
Pukul empat pagi, saat langit mulai berubah warna menjadi biru kelabu, Boy sampai di halaman Rusun Harapan Bangsa. Ia harus mendorong motor Jody karena bannya yang bocor dan mesinnya yang akhirnya menyerah.
Langkahnya pincang, seragam Housekeeping di balik jaketnya penuh dengan noda darah dan oli.
Saat ia sampai di area parkir, ia sudah disambut oleh sosok yang sangat ia takuti saat ini: Jody. Jody berdiri dengan tangan bersilang di d**a, matanya merah karena kurang tidur.
Begitu ia melihat kondisi motor kesayangannya, Jody meledak.
"BOY! LU APAIN MOTOR GUE, HAH?!" teriak Jody, suaranya menggema di keheningan pagi.
Ia memegang pundak Boy dan mengguncangnya dengan kasar. "Gue pinjemin karena gue pikir lu butuh buat urusan mendesak, ternyata lu bawa buat balapan? Atau lu habis mabuk-mabukan?!"
"Jod... sori... gue... gue dirampok di jalan," Boy memberikan alasan dengan suara serak. Ia membiarkan dirinya terlihat lemah dan tak berdaya. "Gue dijebak, Jod... sori banget..."
"Sori nggak bisa benerin motor gue, Boy! Ini motor satu-satunya buat gue cari makan! Lu itu bener-bener pembawa sial!" Jody mendorong Boy hingga terjatuh ke lantai semen yang dingin.
Suara keributan itu memancing warga keluar, termasuk Luna. Luna berlari menuruni tangga dengan napas memburu. Saat ia melihat Boy tergeletak di lantai dengan kondisi baju robek-robek, wajah penuh luka, dan dahi yang kembali berdarah, hatinya seolah diremas.
"Boy!" Luna berlutut di sampingnya. Ia melihat luka seret yang sangat lebar di bahu Boy. Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh luka itu. "Apa yang lu lakuin semalaman? Kenapa lu jadi kayak gini?"
Boy menatap Luna, mencoba tersenyum meskipun bibirnya pecah. "Gue nggak apa-apa, Lun. Cuma sial aja semalam."
Luna tidak membalas senyuman itu. Matanya justru berkaca-kaca karena rasa marah yang bercampur dengan kekecewaan yang mendalam.
"Lu bohong, Boy. Lu selalu bohong. Gue pikir lu beda, gue pikir lu orang yang bisa gue percaya karena lu bantu Pak Hendrawan.
Ternyata lu cuma cowok nekat yang nggak mikir panjang. Lu liat kondisi lu sekarang? Lu hampir mati cuma buat apa?! Uang bonus itu lagi?!"
Luna menarik tangan Boy dengan paksa menuju keran air umum di dekat pos ronda.
Dengan gerakan yang kasar namun sebenarnya sangat hati-hati, ia mulai membasuh luka Boy. Air dingin itu mengenai luka seret Boy, membuatnya meringis menahan sakit.
"Mulai sekarang, jangan pernah lagi sok jadi pahlawan," ujar Luna, suaranya bergetar menahan tangis.
"Lu itu cuma Housekeeper, Boy. Lu itu miskin sama kayak gue. Lu bukan siapa-siapa di dunia ini yang bisa lawan orang-orang jahat itu. Sadar diri, Boy. Kalau lu mati, nggak akan ada yang peduli kecuali gue yang bakal ngerasa bersalah seumur hidup!"
Boy hanya bisa terdiam, membiarkan Luna membersihkan lukanya. Di dalam hatinya, ia merasakan kepedihan yang jauh lebih dalam dari luka fisiknya. Ia telah berhasil meyakinkan semua orang bahwa dia hanyalah "Boy si pecundang".
Penyamarannya kini lebih kuat dari sebelumnya, namun ia harus membayar itu dengan melihat air mata kecewa dari satu-satunya orang yang ia cintai. Di balik jaketnya, folder dokumen itu berisi rahasia besar, namun rahasia itu terasa sangat berat dibandingkan tatapan mata Luna yang penuh duka.
Pagi itu, Rusun Harapan Bangsa seolah tidak memberi ampun pada tubuh Boy yang remuk. Ia terbangun dengan rasa kaku yang luar biasa di seluruh persendiannya.
Luka seret di bahu kirinya akibat insiden kejar-kejaran di pelabuhan semalam telah mengering dan menempel pada kaus dalamnya, menciptakan sensasi perih yang luar biasa setiap kali ia menarik napas dalam.
Setiap gerakan kecil terasa seperti kulitnya dikelupas hidup-hidup dari ototnya. Dengan kekuatan yang dipaksakan, ia bangkit dari kasur tipisnya, meringis saat melihat noda darah kering yang menembus kain sprei yang sudah kusam.
Ia harus berangkat. Tidak ada kata absen bagi seorang housekeeper rendahan seperti dirinya, terutama saat badai kecurigaan sedang mengintai.
Di mata warga rusun, ia kini menyandang status baru sebagai "Boy si pembawa sial" yang baru saja menghancurkan motor satu-satunya milik Jody.
Jika ia tidak muncul bekerja hari ini, itu akan menjadi konfirmasi bagi semua orang bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu yang besar.
Saat Boy keluar kamar dengan langkah pincang, ia berpapasan dengan Luna di selasar yang sempit. Gadis itu sudah rapi dengan seragam biru kebanggaannya yang disetrika licin.
Ia menatap Boy sejenak sebuah tatapan dingin yang sarat dengan kekecewaan dan amarah yang tertahan sebelum akhirnya memalingkan muka dan berjalan mendahuluinya tanpa sepatah kata pun.