SUV hitam yang dikendarai Paman Romi (Pak Hendrawan) melesat membelah jalanan Jakarta yang basah. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu mencekam. Luna (22) duduk meringkuk di sudut kursi kulit yang sangat empuk, matanya menatap kosong ke luar jendela. Ia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Bau asap ledakan masih menempel di rambutnya, namun kini hidungnya dipaksa menghirup aroma parfum ruangan kelas atas yang elegan. Di sampingnya, Boy (25) duduk dengan punggung tegak, meskipun wajahnya tampak sangat pucat. Seragam housekeeping-nya yang robek dan berlumuran darah kering terlihat sangat kontras dengan interior mobil mewah itu. Ia terus memegangi bahu kirinya yang berdenyut hebat. Luka aspal itu kini meradang, namun fokus Boy bukan pada rasa sakitny

