BAB 9. Puing-Puing Kepercayaan

1432 Words
Malam itu, kamar Luna di Blok B lantai dua tampak seperti medan perang yang kalah. Pakaian-pakaian yang tadi pagi dijemur dengan rapi kini berserakan di lantai, bercampur dengan tumpahan tepung dari dapur dan pecahan bingkai foto tua. Ibu Luna masih tersedu di pojok ruangan, ditenangkan oleh beberapa tetangga yang hanya bisa berbisik-bisik penuh spekulasi. Boy berdiri di ambang pintu, tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari tulisan di dinding: "Jangan simpan barang yang bukan miliknya." Luna berdiri perlahan, rambutnya yang biasanya dikuncir rapi kini berantakan. Ia menghampiri Boy dengan langkah yang berat, lalu berhenti tepat satu jengkal di depan d**a Boy. "Keluar," suara Luna terdengar dingin, lebih dingin dari hujan semalam. "Lun, dengerin gue..." "GUE BILANG KELUAR!" Luna berteriak, suaranya pecah memenuhi lorong rusun yang sempit. Tetangga-tetangga menoleh, suasana mendadak hening. "Lihat Ibu gue, Boy! Lihat rumah gue! Selama bertahun-tahun gue tinggal di sini, nggak pernah ada yang berani nyentuh pintu gue. Tapi sejak lu dateng, sejak lu bawa masalah hotel itu ke sini, hidup gue hancur!" Boy menatap mata Luna yang memerah karena marah dan takut. Ia ingin sekali merangkulnya, mengatakan bahwa ia akan mengganti semua kerugian ini seribu kali lipat. Tapi ia tahu, bagi Luna, ini bukan soal uang. Ini soal rasa aman yang telah dirampok. "Gue bakal beresin ini, Lun. Gue janji," bisik Boy. "Janji lu nggak ada harganya sekarang," balas Luna sambil mendorong Boy keluar dari pintu dan membantingnya tepat di depan wajah Boy. BRAKK! Boy berjalan menaiki tangga menuju lantai empat dengan langkah yang terasa seberat timah. Setiap anak tangga yang ia injak seolah mengingatkannya pada kegagalannya. Ia telah merusak hidup orang yang paling tulus membantunya di kota ini. Saat sampai di lantai empat, ia melihat Jody sedang duduk di bangku selasar, menghisap rokok dalam-dalam. Di sampingnya ada Mira yang tampak ketakutan. "Gue denger apa yang terjadi di bawah," ucap Jody tanpa menoleh. "Orang-orang itu beneran nggak main-main, Boy." "Jod, tolong jagain Luna sama Ibunya malam ini. Gue bakal cari tempat lain," ujar Boy lirih. Jody mengembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Lu mau kemana? Lu nggak punya siapa-siapa di sini. Dan kalau lu pergi sekarang, mereka bakal makin gampang nyerang Luna buat narik lu keluar dari persembunyian." Boy terdiam. Jody benar. Melarikan diri bukan solusi. "Ada USB yang terjatuh di hotel tadi. Gue rasa itu alasan mereka ngacak-ngacak kamar Luna. Mereka pikir gue nitipin barang itu ke dia." "Simpen barang itu baik-baik, Boy. Itu satu-satunya nyawa lu sekarang," pesan Jody sambil beranjak masuk ke kamarnya, mengajak Mira yang terus menatap Boy dengan tatapan iba. Malam itu, Boy tidak bisa tidur. Ia duduk di pojok kamarnya yang gelap, menatap USB Drive kecil yang ia temukan di hotel. Ia tidak berani mencolokkannya ke ponsel Android-nya yang butut, takut ada virus atau sistem pelacak. Gue butuh laptop. Gue butuh akses yang aman, batinnya. Ia teringat pada salah satu warnet di dekat pasar yang biasanya buka 24 jam. Dengan sangat hati-hati, ia keluar dari kamarnya lewat pintu belakang rusun, menghindari mata-mata yang mungkin masih berjaga di sekitar gerbang utama. Di warnet yang pengap dan penuh asap rokok, Boy menyewa komputer paling pojok. Ia mencolokkan USB itu. Jantungnya berdegup kencang saat folder-folder berisi angka-angka rumit muncul di layar. Bukan data keuangan. Ternyata itu adalah rekaman kamera tersembunyi yang dipasang secara ilegal di beberapa kamar tamu VIP. Dan di salah satu video, ia melihat Pak Danu sedang melakukan transaksi di bawah tangan dengan seorang pria asing—pria yang sama yang ia lihat di gudang pelabuhan. "Ini bukan cuma sabotase bisnis. Ini pemerasan," gumam Boy. Pak Danu merekam tamu-tamu penting hotel untuk dijadikan alat pemerasan agar mereka mau mendukung akuisisi hotel oleh Garuda Perkasa Group. Keesokan paginya, Boy berangkat kerja dengan mata yang sedikit sembab. Ia tidak bertemu Luna di selasar. Luna sepertinya sengaja berangkat lebih awal atau menggunakan jalur lain untuk menghindarinya. Di hotel, suasana semakin mencekam. Audit Pak Hendrawan memasuki tahap akhir. Boy yang sedang bertugas di area lobi melihat Pak Danu keluar dari lift dengan langkah terburu-buru. Wajah Pak Danu tampak sangat tegang, ia terus-menerus melihat ke arah jam tangannya. "Boy!" panggil sebuah suara yang membuat bulu kuduknya berdiri. Supervisor Angeline sudah berdiri di belakangnya. "Ikut saya ke gudang perlengkapan. Ada barang yang harus kamu hitung." Boy mengikuti Angeline dengan waspada. Di dalam gudang yang sunyi, Angeline tiba-tiba menutup pintu. Ia mendekati Boy, tangannya meraba d**a Boy, mencari sesuatu di balik seragamnya. "Mana barangnya, Boy? Pak Danu bilang kamu mengambil sesuatu yang bukan milikmu," bisik Angeline. Suaranya terdengar lembut namun sangat mengancam. "Saya tidak tahu apa yang Ibu bicarakan," jawab Boy tetap tenang, meski ia tahu Angeline sedang mencari USB itu. "Jangan sok suci. Kamu pikir Pak Hendrawan bisa melindungimu selamanya? Begitu tim audit pergi, kamu cuma remah-remah di bawah kaki Pak Danu. Kasih barang itu ke saya, dan saya janji akan menjamin keselamatan gadis rusun itu." Boy tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat jarang ia tunjukkan. "Kalau Ibu mau barang itu, bilang ke Pak Danu... jangan main-main sama penghuni rusun. Karena kalau satu helai rambut Luna hilang, video itu bakal langsung sampai ke meja polisi." Angeline terbelalak. Ia tidak menyangka Boy akan seberani itu. Saat jam makan siang, Boy sengaja mencari Jennifer. Ia butuh sekutu yang bisa ia percaya. Ia menemukan Jennifer sedang mencuci cangkir di pantry belakang yang sepi. "Kak Jenn, operasi anak Kakak kapan?" tanya Boy pelan. "Besok pagi, Boy. Uangnya sudah aku setor ke administrasi. Makasih banyak ya, Boy," jawab Jennifer dengan mata berkaca-kaca. "Kak, tolong dengerin aku baik-baik. Kalau terjadi sesuatu sama aku di hotel ini, tolong kasih tau Luna kalau kunci jawaban semuanya ada di bawah kasurku di rusun," bisik Boy. Jennifer tampak cemas. "Kamu mau ngapain, Boy? Jangan nekat!" "Aku nggak mau nekat, Kak. Aku cuma mau memastikan kalau Pak Danu nggak bisa menang begitu aja." Belum sempat Jennifer menjawab, Luna masuk ke pantry. Ia melihat Boy dan Jennifer sedang bicara serius. Luna hanya menatap mereka dengan tatapan dingin, mengambil botol air minumnya, dan langsung keluar tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Luka itu masih terlalu dalam. Sore itu, saat Boy sedang membersihkan area tangga darurat di lantai 5, ia mendengar suara gaduh dari arah dapur utama. Ia segera berlari menuju sumber suara. Di sana, ia melihat Luna sedang dikerumuni oleh tiga orang staf keamanan hotel yang biasanya berjaga di depan ruangan Pak Danu. Mereka tampak sedang menggeledah tas Luna dengan kasar. "Gue bilang gue nggak bawa apa-apa! Gue nggak tahu soal USB itu!" teriak Luna sambil mencoba mempertahankan tasnya. "Pak Danu bilang barang itu ada sama kamu atau pacar kamu yang sok jagoan itu!" bentak salah satu satpam. Boy tidak bisa tinggal diam. Ia berlari kencang dan langsung menerjang satpam yang memegang tangan Luna. BUGH! Pukulan Boy mendarat tepat di rahang satpam itu. Boy, yang di London mengikuti kelas tinju privat, memiliki teknik yang jauh di atas satpam-satpam itu. "Lepasin dia!" geram Boy. "Boy! Jangan!" teriak Luna panik. Dua satpam lainnya segera menyerang Boy. Boy berhasil menghindar, namun karena jumlah mereka lebih banyak, salah satu satpam berhasil menghantam punggung Boy dengan tongkat pemukul. Boy tersungkur ke lantai, menahan rasa sakit yang luar biasa. "Berhenti!" Suara teriakan yang sangat berwibawa menghentikan aksi kekerasan itu. Pak Hendrawan berdiri di ujung lorong bersama tim auditnya. Wajahnya tampak merah padam karena amarah. Di sampingnya, Pak Danu berdiri dengan wajah yang pucat pasi. "Apa yang terjadi di sini, Pak Danu? Sejak kapan staf keamanan hotel diizinkan melakukan kekerasan pada karyawan Housekeeping?" tanya Hendrawan dengan suara yang menggelegar. "Ini... ini cuma masalah kedisiplinan, Pak Hendrawan. Mereka mencurigai staf ini mencuri barang milik tamu," Pak Danu mencoba berdalih. Hendrawan berjalan mendekati Boy yang masih terduduk di lantai, dibantu oleh Luna. Hendrawan menatap mata Boy sejenak, ada rasa perih di matanya melihat keponakannya diperlakukan seperti itu, namun ia harus tetap menjaga sandiwara ini. "Kamu, Boy... dan kamu, Luna. Ikut ke ruangan saya sekarang. Pak Danu, pastikan tidak ada staf keamanan yang mengikuti kami, atau saya akan membatalkan seluruh proses audit ini dan melaporkan Anda ke dewan direksi malam ini juga," perintah Hendrawan. Di dalam ruangan tertutup, Hendrawan menatap Boy dan Luna. Luna tampak gemetar, sementara Boy berusaha menahan sakit di punggungnya. "Sekarang... jelaskan pada saya apa yang sebenarnya terjadi di hotel ini," ujar Hendrawan. Boy menatap Luna, lalu menatap Hendrawan. Ia tahu, ini saatnya ia mulai memberikan sedikit demi sedikit bukti, tanpa harus membongkar siapa dirinya di depan Luna. "Pak Danu bukan cuma korupsi, Pak," suara Boy terdengar parau. "Dia melakukan pemerasan. Dan bukti-buktinya ada di sini." Boy mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto-foto dari USB tadi. Hendrawan terdiam, sementara Luna hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD