BAB 10. Fitnah di Balik Tirai Marmer

1217 Words
Ruang kerja Pak Hendrawan di lantai eksekutif terasa sangat sunyi, hanya suara putaran jarum jam dinding yang terdengar seperti detak jantung yang terpacu. Luna masih berdiri dengan tubuh gemetar, matanya terpaku pada layar ponsel butut milik Boy yang menampilkan potongan video pemerasan Pak Danu. Sementara itu, Hendrawan duduk di kursi kebesarannya, menatap Boy dengan tatapan yang sangat kompleks: perpaduan antara bangga dan sangat khawatir. "Kamu tahu kan apa yang kamu pegang ini, Boy?" suara Hendrawan memecah keheningan. "Ini bukan sekadar bukti korupsi. Ini adalah bom yang bisa menghancurkan reputasi ratusan orang penting." "Saya tahu, Pak," jawab Boy tegas, meski ia harus meringis pelan saat punggungnya yang baru saja dihantam tongkat satpam terasa berdenyut. Luna menoleh ke arah Boy. "Kenapa... kenapa lu nggak bilang dari awal kalau lu pegang barang bahaya ini? Gara-gara ini rumah gue diacak-acak! Nyawa Ibu gue hampir hilang!" Boy menatap Luna dengan rasa bersalah yang dalam. "Gue mau mastiin isinya dulu, Lun. Gue nggak mau libatin lo lebih jauh sebelum gue tahu seberapa besar masalahnya." "Libatin gue? Lu udah libatin gue sejak pertama kali lu masuk ke kamar 808!" teriak Luna tertahan. Hendrawan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tenang. "Masalahnya sekarang, Pak Danu tidak akan tinggal diam. Dia sudah tahu kalian memegang kartu as-nya. Dia akan melakukan segala cara untuk membuat bukti ini tidak valid di mata direksi." Belum sempat mereka menyusun rencana lebih lanjut, pintu ruangan diketuk dengan sangat keras. Pak Danu masuk tanpa menunggu izin, didampingi oleh dua orang pengacara dan Supervisor Angeline. Wajah Pak Danu yang tadi pucat kini tampak sangat tenang, bahkan cenderung sinis. "Pak Hendrawan, maaf saya mengganggu waktu privat Anda dengan 'staf kesayangan' Anda ini," ujar Pak Danu dengan nada meremehkan. "Ada apa, Danu? Saya sedang menginterogasi mereka soal insiden di dapur," sahut Hendrawan dingin. Pak Danu melemparkan sebuah map biru ke atas meja. "Saya rasa Anda yang sedang diinterogasi oleh anak ini, Pak. Saya baru saja menerima laporan dari tim IT dan intelijen internal kami. Ternyata, Boy bukan sekadar Housekeeper manja." Jantung Boy berhenti berdetak sesaat. Apa dia sudah tahu siapa gue? "Boy adalah mata-mata yang dikirim oleh Garuda Perkasa Group untuk menyabotase hotel ini dari dalam," lanjut Pak Danu dengan suara lantang. Luna terbelalak. "Apa?!" "Ini buktinya," Pak Danu menunjuk dokumen di dalam map. "Ada catatan transfer uang ke rekening atas nama seseorang yang berafiliasi dengan kompetitor kita. Dan foto ini..." ia menunjukkan foto Boy saat berada di gudang pelabuhan tempo hari, namun sudut pengambilannya membuatnya seolah-olah Boy sedang berjabat tangan mesra dengan pihak lawan. Boy terpaku melihat foto-foto yang dimanipulasi itu. "Itu fitnah! Gue di sana buat nganter paket dari LU, Pak Danu!" Pak Danu tertawa kecil. "Paket dari saya? Mana buktinya? Di catatan logistik, hari itu kamu izin sakit. Kamu pergi ke sana atas kemauan sendiri. Dan sekarang, kamu mencoba memeras saya dengan video-video palsu yang dibuat dengan teknologi AI untuk menutupi aksi mata-mata kamu?" Pak Danu menoleh ke arah Luna, memasang wajah prihatin yang sangat palsu. "Luna, kamu adalah karyawan teladan kami. Saya sangat menyayangkan kamu terjebak dalam permainan kotor anak ini. Dia mendekati kamu, tinggal di rusun yang sama dengan kamu, hanya untuk menjadikan kamu perisai jika suatu saat dia ketahuan. Lihat apa yang terjadi pada rumah kamu kemarin? Itu bukan ulah saya, itu ulah rekan-rekannya di Garuda Perkasa karena Boy tidak mau membagi hasil curiannya." Luna menatap Boy dengan tatapan yang hancur. "Boy... bener apa yang dia bilang?" "Nggak, Lun! Dia bohong! Dia memutarbalikkan fakta!" seru Boy. "Tapi lu emang pergi ke pelabuhan itu kan? Lu emang tahu soal Garuda Perkasa kan?" suara Luna bergetar. "Kenapa setiap kali ada masalah, lu selalu punya jawaban yang terlalu pinter buat seorang tukang pel? Apa selama ini lu cuma jadiin gue umpan?" Hendrawan mencoba menengahi, namun Pak Danu segera memotongnya. "Pak Hendrawan, jika Anda membela anak ini, saya terpaksa melaporkan ini ke pemilik hotel di London pak Pratama. Bahwa tim audit utusannya melindungi seorang mata-mata industri. Pilihannya ada di tangan Anda." Hendrawan menatap Boy dengan penuh penderitaan. Ia tahu ia tidak bisa membongkar identitas Boy sekarang karena fitnah mata-mata ini akan membuat posisi Boy semakin berbahaya jika statusnya sebagai anak pemilik terungkap dalam keadaan "tercemar". "Boy," suara Hendrawan terdengar parau. "Untuk sementara, kamu diskors dari hotel ini sampai penyelidikan internal selesai. Serahkan name tag dan seragam kamu." "Paman—maksud saya, Pak Hendrawan!" Boy tak percaya. "Lakukan, Boy," tegas Hendrawan. Boy melepas kartu namanya dengan tangan gemetar. Ia menatap Luna, berharap ada sedikit kepercayaan di mata gadis itu, namun yang ia temukan hanyalah kebencian dan kekecewaan. "Lu bener-bener orang paling jahat yang pernah gue temuin, Boy," bisik Luna sebelum ia berbalik dan lari keluar ruangan. Malam itu, Boy tidak pulang ke rusun. Ia tahu Jody dan Mira tidak akan aman jika ia ada di sana. Ia duduk di trotoar depan sebuah ruko kosong, tidak jauh dari hotel yang seharusnya menjadi miliknya. Ia menatap tangannya yang kotor dan seragamnya yang kini tidak berarti apa-apa. Ia meraba sakunya dan menemukan USB itu. Pak Danu tidak sempat mengambilnya karena interupsi Hendrawan tadi. Tapi sekarang, bukti ini tidak berguna jika tidak ada yang mempercayainya. "Gue kehilangan semuanya," gumam Boy. "Gue kehilangan kepercayaan Luna, gue kehilangan akses ke hotel, dan gue dicap sebagai pengkhianat keluarga gue sendiri." Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Kaca jendela terbuka, menampakkan wajah Hendrawan yang tampak sangat lelah. "Masuk, Boy," perintahnya. Di dalam mobil yang melaju di tengah kemacetan Jakarta, Hendrawan memberikan sebotol air minum pada Boy. "Maafkan saya tadi, Boy. Saya harus melakukan itu untuk melindungi kamu. Jika saya tidak menskors kamu, Pak Danu akan memanggil polisi malam ini juga dengan tuduhan spionase industri," jelas Hendrawan. "Tapi Luna, Paman... dia benci banget sama saya sekarang." "Gadis itu pintar, dia cuma sedang emosi. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana membuktikan bahwa dokumen Pak Danu itu palsu," Hendrawan menghela napas. "Papamu sudah tahu soal ini. Dia sangat marah, tapi bukan pada kamu. Dia marah karena Pak Danu berani menyentuh putra mahkotanya." "Lalu apa rencana kita?" "Pak Danu akan mengadakan pesta perayaan ulang tahun hotel tiga hari lagi. Di sana, semua investor dan direksi akan hadir. Itu adalah panggung terakhirnya sebelum dia benar-benar menjual hotel ini secara ilegal. Kita harus membongkar semuanya di sana, di depan semua orang." Meski Hendrawan melarangnya, Boy tetap kembali ke rusun secara sembunyi-sembunyi pada tengah malam. Ia ingin memastikan Luna baik-baik saja. Ia berdiri di kegelapan selasar lantai dua, menatap pintu kamar Luna yang kini sudah diperbaiki secara kasar dengan papan tambahan. Ia melihat Luna keluar untuk mengambil air di galon depan pintunya. Gerakannya lambat, matanya sembab. Ia sempat berhenti sejenak, menatap ke arah tempat Boy biasanya berdiri. Boy ingin sekali keluar dari bayang-bayang dan memeluknya, tapi ia tahu ia hanya akan membawa bahaya lebih besar. Saat itulah, Boy melihat sesuatu yang aneh. Di bawah pintu kamar Luna, ada sebuah amplop putih bersih yang bukan dari dirinya. Luna mengambil amplop itu, membukanya, dan wajahnya mendadak pucat. Ia melihat sekeliling dengan panik. Boy menajamkan pendengarannya. Dari arah tangga, terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang sangat familiar. Angeline. "Gimana, Luna? Sudah dibaca tawarannya?" suara Angeline bergema di lorong sepi. "Tinggalkan Boy, beri kesaksian palsu di depan direksi besok, dan Ibu kamu akan mendapatkan perawatan terbaik di Singapura. Atau... tetaplah setia pada mata-mata itu dan lihat Ibu kamu membusuk di rusun ini." Boy menggertak gigi. Perang ini sudah menjadi sangat personal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD