BAB 11. Gerilya di Lorong Senyap

1512 Words
Pagi itu, Boy tidak terbangun oleh alarm ponselnya, melainkan oleh suara pertengkaran tetangga yang berebut jemuran. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berjamur, merasakan kehampaan yang aneh. Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Jakarta, ia tidak memiliki tujuan resmi. Ia tidak lagi memiliki name tag biru yang biasanya tersemat di d**a, dan ia dilarang menginjakkan kaki di Hotel Pratama Grand. Status "skors" adalah hukuman sosial yang berat di Rusun Harapan Bangsa. Kabar bahwa Boy adalah mata-mata perusahaan saingan menyebar lebih cepat daripada bau sampah di musim hujan. "Woi, Mata-mata! Masih berani lu muncul di sini?" teriak salah satu pemuda rusun saat Boy berjalan menuju warung kopi di bawah. Boy hanya menunduk, menarik hoodie hitamnya lebih dalam. Ia tidak butuh konfrontasi sekarang. Ia butuh strategi. Di saku celananya, USB yang menjadi kunci segala masalah itu terasa sangat berat. Ia harus menemukan cara untuk memvalidasi data itu tanpa ketahuan oleh tim IT Pak Danu yang pastinya sudah memasang pagar api (firewall) di mana-mana. Pukul sepuluh pagi, Boy duduk di sebuah kedai kopi tua yang remang-remang, jauh dari area hotel dan rusun. Tak lama kemudian, seseorang dengan kacamata hitam dan topi baseball duduk di hadapannya. Itu adalah Pak Hendrawan. "Kamu terlihat kacau, Boy," ujar Hendrawan sambil menggeser sebuah amplop cokelat kecil. "Ini akses masuk darurat lewat pintu pembuangan limbah. Kodenya diganti setiap dua belas jam. Saya hanya bisa memberikan ini." "Terima kasih, Paman. Bagaimana dengan Luna?" tanya Boy, suaranya parau. Hendrawan menghela napas panjang. "Dia menerima tawaran Angeline untuk memindahkan Ibunya ke klinik yang lebih baik, tapi dia belum memberikan kesaksian palsu itu. Dia sepertinya sedang bimbang. Pak Danu terus menekannya agar dia segera menandatangani pernyataan bahwa kamu yang memaksanya masuk ke kamar 808." Boy mengepalkan tangannya di bawah meja. "Gadis itu terjepit. Dia melakukan itu demi ibunya, saya tidak bisa menyalahkannya. Tapi saya harus menunjukkan padanya bahwa Angeline hanya memanfaatkannya." "Berhati-hatilah, Boy. Pak Danu sudah menyewa jasa keamanan tambahan dari pihak luar. Mereka bukan satpam hotel biasa. Mereka profesional," paman Hendrawan memberi peringatan sebelum beranjak pergi. Malam harinya, saat Jakarta diguyur hujan rintik yang menyamarkan pandangan, Boy memulai aksinya. Ia tidak lagi mengenakan seragam kebanggaannya. Dengan pakaian serba hitam, ia menyelinap melalui pintu pembuangan limbah di bagian belakang hotel. Bau busuk sampah dan sisa makanan menyengat hidungnya, sebuah aroma yang sangat kontras dengan parfum mewah yang biasa ia hirup di London. Ia merayap melalui lorong pipa sempit, jantungnya berpacu setiap kali mendengar suara langkah kaki di atas kepalanya. Ia berhasil mencapai area basement dua. Tujuannya satu: Ruang Arsip Fisik. Pak Danu mungkin bisa menghapus jejak digital, tapi dokumen kontrak asli dengan vendor-vendor fiktif biasanya masih disimpan dalam bentuk kertas untuk keperluan audit internal tersembunyi. Saat ia hampir mencapai pintu ruang arsip, sebuah lampu senter menyapu dinding di sampingnya. Boy segera merapat ke balik pilar beton besar, menahan napasnya sekuat tenaga. Dua orang pria bertubuh tegap dengan seragam hitam polos lewat sambil berbincang lewat handy-talkie. "Lantai basement aman. Belum ada tanda-tanda si anak London itu kembali," lapor salah satu dari mereka. Setelah memastikan keadaan aman, Boy membobol pintu ruang arsip menggunakan keahlian yang ia pelajari secara iseng dari seorang teman di London. Di dalam, ribuan map tersusun rapi. Boy mencari label tahun berjalan. Setelah tiga puluh menit mencari dalam keremangan, ia menemukannya. Sebuah map berlabel "Project G-P". Di dalamnya terdapat surat perjanjian rahasia antara Pak Danu dan perwakilan Garuda Perkasa Group. Yang lebih mengejutkan, ada daftar nama karyawan yang akan "disingkirkan" begitu akuisisi selesai. Nama pertama di daftar itu adalah: Luna. "Sialan. Jadi mereka mau pakai Luna buat ngejatuhin gue, terus setelah itu dia bakal dibuang juga," bisik Boy geram. Ia segera memotret setiap lembar dokumen itu menggunakan ponselnya. Namun, saat ia hendak keluar, pintu ruang arsip terbuka perlahan. Cahaya dari lorong masuk, menciptakan bayangan panjang di lantai. Boy bersiap untuk menyerang, namun ia terpaku saat melihat siapa yang masuk. Itu bukan satpam. Itu adalah Jennifer. "Boy? Kamu benar di sini?" bisik Jennifer dengan suara bergetar. Ia memegang sebuah senter kecil yang cahayanya bergoyang-goyang karena tangannya gemetar. "Kak Jenn? Ngapain Kakak ke sini malam-malam?" "Aku... aku curiga setelah lihat Angeline bawa koper ke ruang arsip sore tadi. Aku tahu kamu pasti bakal datang ke sini," Jennifer mendekat, wajahnya tampak sangat pucat. "Boy, kamu harus pergi sekarang. Angeline sudah tahu ada yang membobol sistem akses pintu limbah. Mereka sedang menuju ke sini." "Kak, lihat ini," Boy menunjukkan daftar nama itu pada Jennifer. "Mereka mau buang semua orang, termasuk Kakak dan Luna, setelah hotel ini dijual." Jennifer menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir. "Aku sudah menduganya. Pak Danu tidak pernah benar-benar ingin membantu. Dia hanya ingin kita tetap diam sampai urusannya selesai." "Kak, tolong bantu aku satu kali lagi. Aku butuh akses ke ruang kendali suara di Ballroom untuk acara lusa. Bisa Kakak carikan kuncinya?" Jennifer mengangguk mantap. Rasa takutnya kini berubah menjadi tekad untuk membalas dendam demi masa depan anaknya. Saat mereka mencoba menyelinap keluar, suara tawa yang dingin bergema di lorong basement. Lampu-lampu besar tiba-tiba menyala, membuat mata Boy perih karena silau. Angeline berdiri di ujung lorong, didampingi oleh empat orang pria berbadan besar. Di sampingnya, berdiri Luna yang tampak sangat tertekan. "Kerja bagus, Jennifer. Terima kasih sudah memancing tikus kecil ini keluar," ujar Angeline dengan nada kemenangan. Boy menoleh ke arah Jennifer dengan tatapan tak percaya. Jennifer tertunduk, tangannya gemetar hebat. "Maaf, Boy... mereka... mereka mengancam akan menghentikan perawatan anakku malam ini juga kalau aku tidak membantumu masuk ke jebakan ini." Boy merasa dunianya runtuh. Ia dikhianati oleh orang yang baru saja ia bantu. Ia menatap Luna, berharap ada penjelasan, tapi Luna hanya menunduk, menghindari tatapannya. "Sekarang, serahkan ponsel dan USB itu, Boy. Atau kita selesaikan ini dengan cara yang sangat kasar di basement yang sunyi ini," ancam Angeline. Boy menarik napas panjang. Ia berdiri tegak, tidak lagi menunjukkan ketakutan. "Ibu Angeline, Ibu pikir Ibu sudah menang? Ibu lupa kalau saya dididik oleh pengacara-pengacara terbaik di London." Boy mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. "Semua foto dokumen yang saya ambil barusan sudah terkirim secara otomatis ke server awan (cloud storage) yang terhubung langsung ke email Pak Hendrawan dan tim legal pusat. Jika saya tidak memasukkan kode konfirmasi dalam sepuluh menit, email itu akan terkirim secara otomatis ke pihak kepolisian." Wajah Angeline mendadak berubah. "Kamu menggertak!" "Silakan dicoba. Tapi apa Ibu mau mempertaruhkan karir Ibu demi Pak Danu yang sebenarnya juga sudah menyiapkan rencana untuk membuang Ibu?" Boy melemparkan lembaran daftar nama karyawan yang akan disingkirkan ke arah Luna. "Baca itu, Lun. Lihat nama siapa yang ada di urutan teratas." Luna memungut kertas itu, membacanya, dan matanya membelalak. Ia menatap Angeline dengan tatapan penuh amarah. "Ibu bilang saya akan dipromosikan jadi Manager kalau saya bantu Ibu?" Suasana menjadi sangat kacau. Di tengah kebingungan itu, suara sirine mobil polisi terdengar sayup-sayup dari arah luar hotel. "Paman Hendra memang selalu tepat waktu," bisik Boy dalam hati. Namun, ia tahu ini belum berakhir. Pak Danu masih memiliki satu kartu as yang belum dikeluarkan. Tensi makin memuncak dengan adanya pengkhianatan Jennifer (yang terpaksa) dan Luna yang mulai menyadari kebohongan Angeline. Suara sirine yang meraung-raung di luar gedung Hotel Pratama Grand terdengar seperti lolongan serigala di tengah malam yang sunyi. Di dalam lorong basement yang sempit dan berbau uap cucian, lampu indikator darurat mulai berputar, menyebarkan cahaya merah yang berdenyut-denyut ke dinding beton yang kasar. Suasana yang tadinya mencekam kini berubah menjadi kekacauan total. Angeline, yang beberapa menit lalu berdiri dengan keanggunan seorang predator, kini tampak goyah. Matanya yang tajam menyisir lorong, mencari jalan keluar tercepat sebelum petugas kepolisian merangsek masuk ke area sterilisasi. Ia menyadari satu hal: skema yang ia bangun bersama Pak Danu sedang berada di ambang keruntuhan. "Kalian! Tunggu apa lagi? Lumpuhkan dia sekarang!" teriak Angeline dengan nada histeris pada empat pria berbadan besar yang mengepung Boy. Namun, sebelum para algojo itu sempat melangkah, Luna melakukan gerakan yang tak terduga. Dengan sisa tenaga dan keberanian yang dipicu oleh rasa muak, ia mengayunkan bakul plastik berat berisi botol-botol cairan pembersih tepat ke arah wajah pria yang berdiri paling dekat dengannya. BRAKK! Bakul itu hancur berantakan, cairan kimia tumpah ke lantai menciptakan aroma menyengat, namun benturan itu cukup untuk membuat pria tersebut terhuyung. "Lari, Boy! Cari Pak Hendrawan! Amankan buktinya!" teriak Luna dengan suara serak. Ada getaran ketakutan namun juga harapan yang murni dalam suaranya. Boy tidak membuang waktu satu detik pun. Ia menyambar lengan Jennifer yang masih terpaku lemas di pojokan karena rasa bersalah yang menghimpit. "Kak, lari ke arah lobi! Cari Pak Hendrawan di ruang audit. Cuma dia yang bisa jamin keselamatan Kakak dan operasi anak Kakak!" Tanpa menunggu jawaban, Boy memutar tubuhnya dan berlari kencang menuju lift barang. Ia tidak berniat melarikan diri ke luar hotel. Instingnya mengatakan bahwa Pak Danu tidak akan menyerah begitu saja. Pria itu pasti sedang berusaha mengamankan aset digital terakhirnya di lantai eksekutif. Lift barang bergerak naik dengan guncangan yang terasa kasar, seolah-olah mesin tua itu ikut merasakan ketegangan yang dialami Boy. Begitu pintu terbuka di lantai 12—lantai kekuasaan yang biasanya dipenuhi oleh aroma cerutu mahal dan keheningan yang otoriter—Boy disambut oleh pemandangan yang kacau. Beberapa berkas berserakan di lorong, dan pintu ruangan utama Pak Danu terbuka lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD