BAB 12. Labirin di Menara Kaca

1333 Words
Boy masuk dengan langkah waspada, sepatunya yang lembap karena air basement menimbulkan bunyi mencit di atas lantai marmer. Di dalam ruangan, cahaya lampu meja yang redup menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. "Berhenti di sana, mata-mata kecil," sebuah suara dingin terdengar dari balik meja mahoni besar. Pak Danu berdiri di sana. Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan, dan wajahnya tampak pucat di bawah sorotan lampu. Ia menjepit sebuah tas kerja metalik di bawah ketiaknya, sementara tangan kanannya memegang sebuah pistol kecil kaliber .22. "Siapa kamu sebenarnya?" desis Pak Danu, moncong pistolnya bergetar sedikit. "Kamu bukan sekadar kacung Housekeeping yang kebetulan lewat. Cara kamu membedah sistem keamanan, cara kamu bergerak di bawah radar... kamu orang suruhan siapa? Garuda Perkasa? Atau tim audit independen yang ingin menjatuhkan saya?" Boy berdiri tegak di tengah ruangan. Meskipun seragam birunya robek dan wajahnya kotor oleh debu basement, sorot matanya tetap tenang—tatapan seorang pria yang tidak lagi memiliki alasan untuk takut. "Saya bukan mata-mata siapapun, Pak Danu. Saya hanya orang yang muak melihat Bapak merampok masa depan hotel ini dan menginjak-injak orang seperti Luna demi keserakahan Bapak sendiri." Pak Danu tertawa sinis, tawa yang terdengar hambar dan kering. "Sok pahlawan. Di dunia ini, kejujuran hanyalah dongeng untuk orang miskin agar mereka tidak memberontak. Kamu pikir Hendrawan peduli padamu? Begitu saya jatuh, kamu juga akan dibuang seperti sampah!" Tiba-tiba, Pak Danu melepaskan satu tembakan ke arah plafon gips di atas kepala Boy. DAR! Suaranya memekakkan telinga di ruang tertutup itu. Serpihan putih jatuh menimpa bahu Boy, namun ia tidak mundur. Memanfaatkan momen saat Pak Danu terkejut dengan gema tembakannya sendiri, Boy menerjang. Ia melompat melewati meja tamu, tubuhnya meluncur seperti anak panah. Pak Danu mencoba mengarahkan pistolnya kembali, namun Boy lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan pria tua itu dan menghantamkannya ke pinggiran meja. Pistol itu terjatuh, meluncur ke bawah sofa. Terjadi pergulatan sengit di lantai marmer yang dingin. Pak Danu, meski sudah berumur, memiliki kekuatan tenaga orang yang sedang kalap. Ia mencakar, menyikut, dan berusaha menjangkau tas metaliknya kembali. "Lepaskan tas itu, Pak! Semuanya sudah berakhir!" geram Boy sambil mengunci leher Pak Danu dengan lengannya. "Nggak akan! Ini tiket saya untuk keluar dari negara ini! Saya nggak akan membusuk di penjara karena anak ingusan seperti kamu!" Pak Danu menghantamkan kepalanya ke belakang, tepat mengenai dahi Boy. DUG! Pandangan Boy sempat gelap sesaat, kunang-kunang menari di depannya. Darah segar mulai mengalir dari alisnya yang pecah. Namun, ia tidak melepaskan kunciannya. Ia justru menendang kaki Pak Danu hingga pria itu terpental ke arah meja kaca pajangan. PRANG! Meja itu hancur berkeping-keping, menciptakan ribuan kristal tajam di sekitar mereka. Tepat saat Pak Danu hendak meraih pecahan kaca besar untuk digunakan sebagai senjata, pintu kantor didobrak terbuka dengan dentuman yang keras. Pasukan keamanan hotel yang dipimpin langsung oleh Pak Hendrawan masuk dengan senjata lengkap, diikuti oleh dua orang petugas polisi berseragam. "Angkat tangan, Danu! Jangan bergerak sedikit pun!" teriak salah satu petugas polisi. Pak Danu membeku di tempatnya, dikelilingi oleh serpihan kaca dan dokumen yang berserakan. Ia menatap Hendrawan dengan tatapan penuh kebencian dan keputusasaan. "Hendrawan... kamu pikir kamu sudah menang? Kamu tidak tahu siapa yang ada di belakang saya! Mereka akan menghancurkanmu dan pemilik hotel ini!" Hendrawan tidak membalas provokasi itu. Ia melangkah masuk dengan tenang, namun matanya sempat melirik ke arah Boy dengan kilatan kecemasan yang mendalam. Ia ingin sekali berlari dan memastikan keponakannya baik-baik saja, namun ia harus menekan perasaan itu demi menjaga kerahasiaan misi mereka. "Bawa dia," perintah Hendrawan dengan suara yang berat. "Amankan semua barang bukti, termasuk tas metalik itu. Pastikan hard drive di dalamnya tidak rusak." Petugas segera memborgol Pak Danu dan menyeretnya keluar. Saat melewati Boy yang masih duduk di lantai sambil memegang dahinya yang berdarah, Pak Danu meludah ke arah kaki Boy. "Kamu... kamu akan menyesal sudah ikut campur, bocah! Kamu tidak tahu apa yang akan datang menyerangmu!" Luna masuk ke ruangan beberapa saat kemudian, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak sangat rapuh. Matanya menyisir ruangan yang berantakan itu sampai ia menemukan sosok Boy yang sedang dibantu berdiri oleh seorang petugas medis hotel. "Boy! Lu nggak apa-apa?" tanyanya dengan suara bergetar, hampir menangis. Ia ingin mendekat, tapi kehadiran Pak Hendrawan yang berwibawa di tengah ruangan membuatnya ragu. Pak Hendrawan melangkah mendekati mereka berdua. Ia berdehem keras, menciptakan aura otoritas yang membuat Luna refleks berdiri tegak dan menunduk hormat. "Saudara Boy," ucap Hendrawan dengan nada bicara yang sangat formal, seolah-olah ia sedang memberikan penghargaan pada karyawan berprestasi. "Terima kasih atas keberanianmu membantu tim audit kami dalam mengamankan bukti fisik yang sangat krusial ini. Tanpa laporanmu ke bagian audit internal minggu lalu, kita mungkin tidak akan pernah bisa membongkar kejahatan ini." Luna menatap Boy dengan tatapan bingung yang sangat dalam. "Laporan? Jadi selama ini lu... lu adalah informan Pak Hendrawan?" Boy menangkap peluang ini dengan cepat. Ia harus memberikan alasan yang masuk akal kenapa dia tahu banyak hal tanpa membongkar identitas aslinya. "Gue... gue cuma ditawari kerja sampingan sama tim audit pusat saat gue baru masuk kerja, Lun. Mereka butuh 'mata' di lapangan untuk laporin kecurangan Manager. Karena gue butuh duit buat bantu biaya rusun dan biaya hidup gue yang mahal dari London, gue terima." Luna tampak menimbang-nimbang jawaban itu. Di matanya, Boy tetaplah pemuda miskin yang nekat mengambil risiko berbahaya demi uang—seorang "informan" nekat, bukan seorang anak pemilik hotel. "Lu bener-bener gila, Boy. Lu bisa mati cuma demi bonus dari audit." Malam itu, lobi hotel yang megah dipenuhi oleh petugas polisi yang melakukan olah TKP dan wartawan yang mencoba mengambil gambar dari gerbang depan. Pak Danu sudah berada di dalam mobil tahanan. Namun, di tengah atmosfer kemenangan itu, Boy melihat sesuatu yang membuatnya tidak bisa tenang. Di sudut lobi yang agak gelap, Angeline sedang berdiri dengan tenang. Ia tidak diborgol. Ia justru sedang menyesap kopi sambil berbicara dengan salah satu pengacara senior hotel. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Ia justru tampak seperti orang yang baru saja menyingkirkan sebuah rintangan besar. "Paman," bisik Boy saat Hendrawan lewat di sampingnya untuk memberikan instruksi terakhir. "Kenapa Angeline masih bebas? Dia ada di basement tadi, dia yang memerintahkan satpam menyerang saya." "Dia licik, Boy," jawab Hendrawan dengan nada getir tanpa menoleh ke arah keponakannya. "Sebelum polisi sampai, dia sudah menyerahkan semua dokumen kesalahan Danu atas namanya sendiri. Secara hukum, dia sekarang adalah 'pahlawan internal' yang membantu membongkar kasus ini. Dia mencuci tangannya dengan sangat bersih di atas kertas." Boy menyadari bahwa kepalanya masih pening dan dahinya terasa sangat nyeri, tapi kenyataan ini jauh lebih menyakitkan. Ia berhasil menumbangkan satu monster, tapi ia justru secara tidak sengaja membantu monster yang lebih licik dan lebih berbahaya untuk naik ke posisi yang lebih tinggi. Hujan rintik kembali membasahi Jakarta saat Boy dan Luna berjalan kaki pulang menuju Rusun Harapan Bangsa. Mereka berjalan bersisian, namun ada jarak yang tak kasatmata di antara mereka. Keheningan itu terasa sangat berat. Sesampainya di depan pintu kamar Luna di lantai dua, Luna berhenti dan menatap sisa-sisa kerusakan pada pintunya yang belum diperbaiki sempurna. "Boy," panggilnya pelan, memecah keheningan malam. "Ya, Lun?" "Makasih udah nyelametin gue dan Kak Jenn di basement tadi. Tapi dengerin gue baik-baik," Luna menatap mata Boy dalam-dalam, ada rasa cemas yang tulus di sana. "Lain kali... jangan jadi pahlawan buat orang lain lagi. Dunia ini nggak baik sama orang jujur kayak lu. Gue nggak mau liat lu berakhir di selokan cuma gara-gara ngejar bonus dari Pak Hendrawan." Boy tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang aneh di hatinya meskipun luka di dahinya masih berdenyut. "Gue cuma pengen lo aman, Lun. Itu lebih dari cukup buat gue." "Gue aman karena gue kuat, bukan karena bantuan lu," balas Luna dengan gengsi khasnya, meski suaranya melembut sebelum ia masuk ke kamarnya. Boy naik ke lantai empat dengan langkah yang lambat. Ia menatap bintang-bintang yang tertutup polusi Jakarta. Rahasianya masih aman di balik label "informan nekat", tapi ia tahu, perjalanannya baru saja dimulai. Angeline sekarang adalah lawan utamanya, dan dia harus tetap menjadi Boy "si tukang pel" untuk bisa menghancurkan jaringan Garuda Perkasa yang sebenarnya sudah mulai menyusup jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD