BAB 13. Tahta di Atas Duri

1489 Words
Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah ventilasi kamar Boy di Lantai 4 Rusun Harapan Bangsa terasa lebih tajam dari biasanya. Boy terbangun dengan rasa nyeri yang berdenyut di dahinya—bekas benturan keras dengan kepala Pak Danu semalam. Luka itu kini membiru dan sedikit bengkak, menjadi saksi bisu atas pertaruhan nyawa yang ia jalani di Menara Kaca semalam. Saat ia keluar kamar untuk mencuci muka di wastafel umum yang kerannya sudah berkarat, ia menyadari suasana rusun telah berubah. Kabar tentang penangkapan Pak Danu dan peran Boy sebagai "pahlawan audit" telah menyebar seperti api di atas tumpukan jerami kering. Beberapa bapak-bapak yang sedang bersiap berangkat kerja menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan; ada rasa segan, namun lebih banyak rasa curiga. "Boy, dahi lu kenapa? Habis berantem sama polisi?" tanya Jody, yang muncul di sampingnya dengan handuk tersampir di bahu. "Bukan polisi, Jod. Cuma kecelakaan kerja," jawab Boy sambil membasuh wajahnya dengan air dingin yang sedikit berbau kaporit. Jody menatap Boy lekat-lekat melalui pantulan cermin yang retak. "Gue denger semalam lu yang bawa tim audit pusat buat nangkep Pak Danu. Orang-orang di sini mulai ngomong kalau lu itu intel atau informan bayaran. Hati-hati, Boy. Di tempat kayak gini, jadi orang pinter itu seringkali lebih bahaya daripada jadi orang bodoh. Lu sekarang jadi pusat perhatian, dan perhatian dari orang atas itu nggak pernah ada yang gratis." Boy hanya terdiam, membiarkan air menetes dari dagunya. Ia tahu Jody benar. Penyamarannya sebagai "si manja dari London" mulai terkikis, berganti dengan identitas baru yang tak kalah rumitnya: seorang informan audit. Sesampainya di Hotel Pratama Grand, Boy merasakan atmosfir yang berat dan mencekam. Meskipun Pak Danu sudah diseret ke balik jeruji besi, tidak ada rasa lega di wajah para staf. Justru, rasa takut akan "pembersihan" besar-besaran mulai menyelimuti setiap lorong. Di area Housekeeping, semua staf diminta berkumpul untuk briefing luar biasa. Tak lama kemudian, sosok yang sangat familiar muncul. Angeline berjalan menuju podium kecil di depan gudang logistik. Ia mengenakan setelan jas kerja yang jauh lebih formal dan mewah dari biasanya. Rambutnya disanggul rapi, dan senyumnya tampak begitu sempurna—terlalu sempurna hingga terlihat palsu. "Semuanya, perhatikan!" suara Angeline bergema dengan otoritas yang baru. "Mulai hari ini, berdasarkan keputusan mendesak dari Direksi dan Dewan Komisaris, saya resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Manager Keuangan. Saya akan memegang kendali penuh atas anggaran dan operasional administrasi hingga pejabat definitif dipilih." Beberapa staf memberikan tepuk tangan yang terdengar ragu dan lemah. Jennifer, yang berdiri di samping Boy, tampak menggenggam erat ujung seragamnya. Mereka tahu bahwa Angeline bukan sekadar menggantikan posisi Pak Danu; ia adalah versi Pak Danu yang lebih cerdik, lebih bersih, dan jauh lebih berbahaya. "Dan untuk Saudara Boy," Angeline menatap Boy tepat di matanya, sebuah tatapan yang membuat bulu kuduk berdiri. "Meskipun jasa Anda membantu Pak Hendrawan sangat dihargai, saya tidak bisa membiarkan karyawan yang bertindak di luar prosedur tetap berada di area lobi. Mulai jam ini, Anda dipindahkan ke Divisi Engineering dan Boiler di basement bawah. Tugas Anda adalah memastikan kebersihan ruang mesin yang suhunya mencapai 45 derajat. Silakan lapor ke Supervisor Engineering sekarang juga." Hukuman itu jelas. Angeline ingin menjauhkan Boy dari pandangan publik dan mengisolasinya di tempat yang paling tidak nyaman di seluruh hotel. Boy menerima perintah itu tanpa membantah, karena ia tahu ia butuh waktu untuk merancang strategi baru bersama Pak Hendrawan. Saat jam istirahat tiba, Boy mencoba mencari Luna di kantin karyawan. Ia melihat Luna duduk di pojok, dikerumuni oleh beberapa teman kerjanya yang tampak sedang berbisik-bisik dengan wajah panik. Begitu Boy mendekat, teman-teman Luna segera bubar, seolah-olah Boy adalah pembawa wabah yang harus dihindari. "Lun," Boy duduk di hadapan gadis itu. Luna tetap menunduk, mengaduk-aduk nasi di piringnya dengan malas. "Gue pikir pahlawan audit kayak lu bakal dapet kenaikan gaji atau dipindah ke kantor depan. Ternyata cuma dikirim ke ruang boiler?" "Gue nggak peduli soal jabatan, Lun. Gue cuma mau mastiin lo nggak kenapa-napa setelah kejadian semalam," ucap Boy pelan, mencoba menembus dinding es yang kembali dibangun oleh Luna. Luna meletakkan sendoknya dan menatap Boy dengan mata yang tampak lelah. "Gue aman, Boy. Tapi rumah gue tetep berantakan, dan status gue di hotel ini makin nggak jelas karena semua orang tahu gue deket sama lu—si informan audit yang bikin Manager Finance masuk penjara. Lu sadar nggak sih? Lu itu bahaya buat orang-orang kecil kayak gue. Lu punya bekingan orang pusat, sementara gue kalau dipecat besok, gue mau makan apa?!" "Gue nggak akan biarin itu terjadi, Lun. Gue janji." "Jangan janji!" potong Luna, suaranya sedikit meninggi. "Lu terlalu banyak rahasia, Boy. Gue mulai mikir... apa sebenernya semua yang terjadi di rusun dan di sini itu cuma bagian dari 'permainan' lu?" Sore harinya, saat Boy baru saja selesai membersihkan tumpahan oli di ruang mesin, ia dipanggil menghadap ke ruangan Manager Keuangan. Ruangan itu dulunya milik Pak Danu, namun dalam waktu kurang dari 24 jam, Angeline sudah mengubah aromanya. Bau cerutu tua telah digantikan oleh parfum mawar yang sangat kuat dan menusuk hidung. Angeline duduk di kursi mahoni besar itu, menatap Boy yang masih mengenakan baju kerja penuh noda oli. "Kamu terlihat sangat 'cocok' dengan pekerjaan barumu, Boy," ejeknya sambil membolak-balik berkas. "Ada keperluan apa, Bu?" tanya Boy datar. Angeline bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Boy. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan nada yang sangat mengancam. "Kamu mungkin merasa hebat karena berhasil menjatuhkan Danu. Tapi Danu itu ceroboh. Saya tidak. Saya tahu kamu punya hubungan khusus dengan Luna. Dan saya juga tahu bahwa Luna adalah saksi kunci yang bisa memberatkan saya jika dia terus bicara soal apa yang dia lihat di basement." Boy menegang, otot rahangnya mengeras. "Jangan sentuh Luna." "Oh, pahlawan kita mulai menunjukkan taringnya?" Angeline tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan pisau. "Dengar, Boy. Kalau kamu mau Luna tetap bekerja di sini dan Ibunya tetap mendapatkan fasilitas kesehatan, kamu harus bekerja untuk saya. Berikan setiap informasi yang diberikan Pak Hendrawan kepadamu kepada saya terlebih dahulu. Jadilah mata-mata ganda saya. Jika tidak... rusun tempat kalian tinggal itu sangat tua, bukan? Kebakaran karena arus pendek listrik bisa terjadi kapan saja." Boy kembali ke ruang boiler dengan perasaan yang sangat gelisah. Ia merasa terjepit di antara kewajibannya kepada perusahaan keluarganya dan keselamatan Luna. Di tengah deru mesin yang bising, Jennifer muncul, membawakannya sebotol air minum dingin. "Boy, kamu tidak apa-apa? Wajahmu sangat pucat," tanya Jennifer cemas. "Angeline mengancam Luna, Kak Jenn. Dia tahu segalanya," bisik Boy. Jennifer menarik Boy ke balik tangki air raksasa agar tidak terlihat CCTV. "Dia sedang gila kekuasaan, Boy. Aku baru saja mendengar dari bagian IT, dia memerintahkan penggantian seluruh vendor keamanan jaringan besok pagi. Dia ingin memutus akses remote Pak Hendrawan ke server hotel. Dia mau menjadikan hotel ini sebagai kerajaan kecilnya sendiri agar pihak London tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di sini." "Dia mau mengunci hotel ini dari dalam," gumam Boy. "Terima kasih, Kak Jenn. Tolong tetap waspada. Jangan tunjukkan kalau Kakak ada di pihak saya." Malam harinya, Boy tidak langsung masuk ke kamarnya saat sampai di rusun. Ia merasa ada yang tidak beres. Ia memutuskan untuk berjaga di lorong lantai dua, bersembunyi di balik bayang-bayang tumpukan perabotan bekas. Instingnya benar. Tak lama kemudian, ia melihat dua orang pria asing berjaket kulit mondar-mandir di depan pintu kamar Luna. Mereka tidak mengetuk, hanya berdiri di sana sambil memotret pintu kamar dan jendela kamar Luna. Boy mengepalkan tangannya, ingin sekali keluar dan menghajar mereka, namun ia teringat peringatan Pak Hendrawan untuk tidak bertindak gegabah. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kode kepada Hendrawan: "Paman, Angeline mulai bergerak di rusun. Butuh pengawasan tanpa terlihat untuk Blok B sekarang juga. Jangan biarkan mereka tahu saya yang meminta." Beberapa menit kemudian, sebuah mobil patroli polisi yang tampak seperti sedang berpatroli rutin lewat di depan gerbang rusun, membuat kedua pria itu segera menghilang ke dalam kegelapan lorong. Boy menghela napas panjang, namun ia tahu ini baru permulaan dari perang saraf yang melelahkan. Larut malam, saat Luna pulang kerja dengan langkah gontai, ia menemukan sebuah amplop kecil terselip di bawah pintunya. Di dalamnya terdapat sebuah kunci gembok baru yang sangat kuat dan selembar catatan kecil dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali. "Ganti gembok pintu lo pakai ini sekarang. Jangan buka pintu buat siapapun malam ini, meskipun itu gue. Kalau ada apa-apa, pukul pipa besi di dekat jendela tiga kali. Gue denger dari atas. – Boy" Luna menatap kunci itu, lalu menatap ke arah tangga menuju lantai empat. Ada rasa marah karena ia merasa terus-menerus diawasi, namun ada rasa hangat dan aman yang mulai tumbuh di tengah ketakutannya. "Kenapa lu harus selalu bikin gue bingung, Boy?" bisik Luna pelan. Ia segera mengganti gembok pintunya, mengikuti instruksi pemuda misterius itu. Di lantai empat, Boy duduk bersandar di pintu kamarnya sendiri, memegang sapu besar yang ujungnya tajam—menyiapkan diri untuk segala kemungkinan. Ia menyadari bahwa, penyamarannya memang belum terbongkar, tapi beban di pundaknya menjadi berkali-kali lipat lebih berat. Ia harus menjadi pelayan di siang hari, informan di sore hari, dan penjaga malam bagi gadis yang membencinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD