“Sebentar! Sebentar! Jangan salah paham dulu! Di atas memang ada kamar, tapi gak cuma kamar doang,” ujar Aro yang cepat tanggap meluruskan pemahamanku.
Aku menatapnya dengan sinis dengan kedua tangan yang kulipat di depan daada. Ia pun beranjak dari kursi dan berlari menuju lantai dua. Awalnya aku tak mengerti apa tujuannya, namun tak lama kemudian ponselku berdering. Aro melakukan panggilan video dan mengisyaratkan padaku untuk menerima panggilan tersebut. Ternyata ia sengaja melakukan itu untuk menunjukkan padaku apa saja yang ada di lantai dua.
Seketika aku pun ingin tertawa. Caranya meyakinkanku begitu unik. Padahal bisa saja ia menarikku untuk langsung naik ke atas, tapi ia memilih cara yang berbeda dan berhasil membuatku merasa geli.
Kemudian ia mengubah pengambilan gambar melalui kamera depan dan memperlihatkan wajahnya. “Gimana? Mau naik, gak? Karena abis ujan, jadi udaranya lumayan enak di sini. Cobain deh!”
Menghargai usahanya dalam meyakinkanku, aku pun beranjak dan mendatanginya ke lantai dua. Terlihat beberapa ruangan dengan pintu tertutup dan aku menduga itu adalah kamar-kamar yang memang disediakan untuk keluarga jika berkunjung ke tempat ini. Kemudian aku melangkah ke arah balkon—tempat di mana Aro sedang berdiri saat ini. Kaca yang besar menjadi pengganti dinding di sisi barat bangunan, nampaknya sengaja didesain seperti itu agar orang-orang bisa dengan mudah menikmati sunset.
Bisa kurasakan hembusan angin yang lembut membelai wajahku, rasanya benar-benar sejuk. Pepohonan hijau luas terbentang di luar sana, aku bisa merasakan mataku menjadi lebih sehat. Aku tidak tahu kalau masih banyak pepohonan di kota ini.
“Mau ke luar, gak? Tapi kayaknya bakalan lumayan dingin sih,” ujar Aro menawarkan.
“Boleh, gak apa-apa,” jawabku. Aku sudah lama tidak melihat tempat yang luas dan hijau seperti ini.
Kemudian Aro membuka pintunya menjadi lebih lebar dan kami melangkah keluar bersama. Hembusan angin terasa semakin kencang, namun masih belum terlalu dingin. Udara yang segar sangat menenangkanku, benar-benar tempat yang aku butuhkan saat ini. Dan satu hal yang terlambat kusadari adalah ternyata restoran ini terletak di lereng gunung, sehingga kami bisa melihat beberapa bangunan serta jalan raya dari sini.
“Biasanya aku dateng ke sini kalo lagi suntuk pas banyak tugas, atau lagi bener-bener butuh ‘napas’,” ujar Aro.
“Aku udah lama gak ketemu tempat kayak gini. Seger banget,” balasku.
“Kalo kamu mau, kita bisa kok sering-sering ke sini. Kalo malem lebih bagus lagi, berasa bisa liat bintang dari atas,” jelasnya.
Aku bisa membayangkannya. Jika tinggal di tempat seperti ini, sepertinya mentalku bisa menjadi lebih sehat dan terhindar dari stress. Atau mungkin ideku dalam membuat novel bisa berjalan lebih lancar. Membayangkan saja rasanya sudah menyenangkan.
“Rencananya rumah ini dulu dibangun bukan untuk jadi restoran, tapi penginapan. Makanya desainnya agak kurang cocok untuk jadi tempat makan. Setelah rumah ini jadi, mamaku minta untuk dibangun restoran di depan sana.” Tiba-tiba Aro menceritakan semua itu padaku, aku pun mendengarkan sambil memperhatikan caranya berbicara yang terlihat begitu bersemangat.
“Setelah berjalan beberapa lama, ternyata bagian penginapan gak terlalu laku. Ya udah, dijadiin restoran aja semuanya sekalian. Kebetulan di sekitar sini juga banyak gedung perkantoran, jadi semua itu dimanfaatin sama mamaku. Dan… yah, begini jadinya. Beberapa kamar itu juga kadang masih disewain sih, tapi udah jarang banget,” tambahnya lagi.
“Mamamu keren, ya! Pasti lulusan dari kampus yang bagus juga,” ujarku.
Aro tertawa kecil, lalu menjawab, “Enggak kok. Mamaku cuma lulusan SMA, tapi dia punya semangat belajar yang bagus.”
Mendengar itu, aku semakin merasa salut. Tidak heran kalau Aro juga memiliki kepintaran yang di atas rata-rata.
“Setelah lulus SMA, mama coba magang di perusahaan papa. Dan karena mama bisa kasih ide-ide hebat untuk perusahaan, papa jadiin mama karyawan tetap. Dari situlah kisah cinta mereka dimulai. Mirip banget sama cerita novel gak sih?” ujar Aro seraya tertawa.
Aku mengangguk, kisah percintaan yang sangat diimpikan banyak orang. Namun tentu saja jalan yang dilalui mama Aro tidak semudah yang terlihat.
“Terus, apa orang tuamu sering ke sini juga?”
“Sekarang udah jarang, apa lagi udah ada aku di sini. Jadi mereka biasa mantau perkembangan resto cuma lewat laporanku aja.”
Rasanya sudah jelas kalau setelah lulus nanti, usaha restoran ini akan dipegang oleh Aro. “Kayaknya keluargamu semuanya pembisnis, kenapa kamu masuk jurusan sastra?” tanyaku penasaran.
“Pengen aja. Lagian aku gak terlalu suka ngurus bisnis. Aku udah bosen ngeliatin laporan-laporan itu. Dari SMP aku udah diajarin tentang bisnis sama orang tuaku dan aku ngerasa jiwaku gak di sana.”
“Dan orang tuamu gak masalah kalo kamu gak mau nerusin bisnis mereka?” tanyaku lagi,
“Enggak tuh. Karena bagi mereka, setiap anak pasti punya mimpinya sendiri. Kalo memang anak gak mau meneruskan bisnis mereka, ya gak masalah.”
“Keren banget sih pemikiran orang tuamu! Gak heran kalo mereka bisa jadi sesukses ini,” pujiku dengan tulus. Memang aku masih belum mengetahui sekaya dan sesukses apa keluarga mereka, namun melihat restoran ini dan juga kendaraan yang dimiliki Aro, rasanya jawabannya sudah jelas.
Aro menatapku beberapa saat tanpa berpaling dan membuatku merasa aneh. “Kenapa ngeliatinnya gitu banget? Omonganku ada yang salah, ya?” tanyaku seraya bergeser dan memberikan sedikit jarak dengannya.
“Kamu juga harus bisa jadi dirimu sendiri,” jawabnya.
Jawaban yang sedikit melenceng dari pertanyaan dan membuat kedua alisku bertaut. “Kenapa tiba-tiba kamu ngomong gitu?”
Aro kembali melihat ke depan dan memejamkan matanya, terlihat ia sedang menikmati hembusan angin yang membelai wajah. “Aku cuma ngerasa hidupmu terlalu lurus. Lurus dalam artian ada jalur yang memaksamu untuk berjalan di situ dan kamu gak bisa memilih langkah lain selain lewatin jalur yang ada.”
Sejenak aku berusaha mencerna ucapan Aro dan aku mulai memahami maksudnya. “Kadang aku memang merasa butuh sesekali keluar dari jalur dan coba buat mengeksplore diri. Tapi mungkin karena udah ada mindset yang bener-bener tertanam di dalam otakku, jadinya ketika aku coba ke luar, aku merasa jalur itu salah. Aku gak bisa lewatin jalur yang salah itu,” balasku.
Aro mengangguk pelan, lalu merangkul bahuku. “Kamu pasti bisa kok, semua belum terlambat. Aku selalu siap nemenin kamu, ke mana pun langkah yang mau kamu ambil. Jangan takut!” ujarnya meyakinkan. Entah mengapa rasanya ada sedikit kebahagiaan yang muncul, padahal tujuan Aro berada di sisiku masih terlihat sangat abu-abu.
Perlahan aku melepaskan pegangan tangan Aro di bahuku, lalu memutar tubuh agar bisa berhadapan dengannya. “Cita-citamu jadi pengacara, ya?”
“Hng? Kenapa jadi ke pengacara?” tanyanya bingung.
“Soalnya kamu pinter banget kalo suruh ngomong. Pengacara ‘kan begitu,” ujarku dan membuat Aro tertawa.
“Ngarang aja deh kamu!” ujarnya sambil tertawa. Kemudian ia balik melemparkan pertanyaan padaku. “Tebak, cita-citaku sebenernya jadi apa?”
Aku memiringkan kepala dan mencoba untuk mencari jawaban yang tepat sesuai dengan jurusan yang ia ambil. “Jadi… penulis?”
“Salah!” sanggahnya dengan cepat. “Aku pengen jadi orang sukses; sukses dalam usahaku cari uang dan… sukses bikin istriku bahagia,” jawabnya dengan sangat bangga.
“Bagus-bagus! Tujuan hidup semua orang sih kalo itu,” balasku, namun ternyata ia masih menyanggah lagi.
“Mirip, tapi beda. Karena tujuanku udah spesifik.”
“Oh ya? Memang kamu mau usaha jadi apa? Kan kamu cuma bilang sukses cari uang,” jawabku.
“Tujuanku spesifik, yaitu kamu. Aku mau bikin kamu bahagia. Apa kamu mau jadi istriku?”