Chapter 16

1009 Words
“Tujuanku spesifik, yaitu kamu. Aku mau bikin kamu bahagia. Apa kamu mau jadi istriku?” Bersamaan dengan terlontarnya pertanyaan dari mulut Aro, hujan turun tanpa memberi aba-aba. Kami menyelamatkan diri masing-masing dan kembali masuk ke dalam. Aro juga langsung menutup pintu, lalu mengacak rambutnya dengan tangan kanan untuk menghilangkan sisa air yang mungkin sempat hinggap di rambutnya. Sesaat aku kembali terkagum-kagum dengan wajah tampannya. Manusia satu ini memang memiliki kehidupan yang sangat sempurna—pikirku. “Bajumu gak basahkan?” tanyanya padaku. “Enggak kok. Aman,” jawabku yakin. Kemudian ia berjalan ke arah sebuah ruangan, aku mengikutinya dari belakang. Ternyata di lantai dua juga ada ruang tamu yang cukup besar; dilengkapi dengan TV dan sofa bed yang terlihat sangat nyaman. “Sambil nunggu ujannya reda, nonton dulu aja gimana?” saran Aro. “Boleh,” jawabku menyetujui. Jika pulang sekarang, bukannya tidak bisa, hanya saja kurang aman juga berkendara di bawah hujan dan aku juga harus menerjang hujan lagi setelah turun dari mobil. Membayangkan saja rasanya sudah malas. Lalu kami duduk dengan jarak yang tak terlalu dekat—kurang lebih tiga jengkal. “Kamu mau nonton apa?” tanyanya seraya mengambil remote yang tersimpan di laci meja. “Apa aja deh,” jawabku menurut, karena aku sudah lama tidak menonton TV. “Aku jarang nonton TV, jadi bingung juga mau nyaranin apa.” Ternyata dia juga sama. Ia pun menekan tombol remot itu dan memilih channel apa saja yang muncul. Sampai akhirnya ia memilih sebuah channel yang sedang memutar film kartun yang kami sama-sama tidak tahu tentang apa. Tiba-tiba ingatan mengenai foto kami berdua yang beredar terlintas di pikiranku. “Aro, apa kamu tau kalo selama ini ada orang yang suka ambil foto kamu sembarangan?” tanyaku agak ragu. Ia langsung menoleh dan meletakkan remote-nya. “Kalo kapan mereka ambil fotonya, aku gak tau. Tapi biasanya ada yang ngasih tau kalo udah ada yang upload ke ingstagram ,” jawabnya jujur. “Memangnya kenapa?” tanyanya kemudian. “Gak apa-apa sih, pengen tau aja. Soalnya… fotoku juga ikut ke sebar tadi pagi.” “Oh, ya?” Dari responnya, ia tampak benar-benar terkejut. Dikeluarkannya ponsel dari saku, lalu mengeceknya. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang ia buka. Hanya saja dari gerakan jarinya, aku tahu dia sedang membuka beberapa pesan masuk. Terdengar ia melenguh pelan. “Sorry kalo udah bikin kamu gak nyaman. Apa perlu foto-foto ini dihapus?” Terlihat kesungguhan dari ekspresinya dan membuatku tidak enak untuk mengomel seperti biasanya. “Memang kamu kenal sama yang punya akun?” tanyaku sesuai dengan nalar yang sedang kupikirkan. “Enggak sih, tapi bisa dicari tau. Kalo kamu keberatan, aku bisa cari orang itu untuk ngehapus fotonya dan berhenti buat ganggu privasimu.” Aku sedikit tidak percaya mendengarnya, tapi aku dengan sangat antusias menerima tawarannya itu. Aku tidak suka terlalu disorot, bahkan dijadikan bahan pembicaraan. “Oke. Sebelum besok siang, foto-foto itu pasti bakal mereka hapus kok,” ujar Aro dengan sangat yakin. Menarik. Ternyata begini rasanya memiliki privilege, pantas saja banyak orang yang mengidam-idamkan hal tersebut. Tapi, sebentar! Jika aku menerima kebaikannya seperti ini, apakah termasuk memanfaatkannya? Kulirik Aro yang masih sibuk dengan ponselnya dan masih berkirim pesan. Kelihatannya dia tidak keberatan membantuku, tapi apakah dia ikhlas melakukannya? “Aro….” Ia langsung menoleh dan menjawab, “Ya? Ada apa?” “Selama ini kamu gak masalah fotomu kesebar, tapi sekarang kamu sampe ngebantu aku kayak gini. Kamu gak merasa keberatan aku repotin kayak gini?” Tidak ada yang lucu, tapi ia meresponku dengan tawa. “Kamu ngomong apa sih? Kayak gini doang, repot apanya? Selama ini aku bukannya gak masalah sama hal itu, cuma karena jarang buka sosmed aja, jadi jarang tau kalo ada foto begitu. Kalo misal ada foto yang menurutku mengganggu banget, biasanya aku langsung minta mereka buat hapus. Cuma… yah, tetep aja masih ada tangan-tangan nakal yang upload lagi,” “Padahal kamu bukan seleb, ya? Tapi fansmu banyak banget. Jadi berasa gak punya privasi, gak sih?” tanyaku lagi. “Mmm… enggak juga sih. Aku gak seterkenal yang kamu kira kok, aku masih punya ruang untuk urusan pribadiku—rumah ini contohnya,” jelasnya seraya kembali tersenyum. Dia benar, sepertinya aku saja yang menganggap semua ini terlalu berlebihan. Semakin banyak aku mengobrol dengannya, aku semakin bertanya-tanya, ‘Apakah selama ini aku tinggal di goa sehingga banyak hal-hal di sekitarku yang tidak kuketahui?’ Tidak seperti yang kuduga, ternyata dia bisa dengan mudahnya terbuka denganku. Ia bercerita banyak hal, aku hanya perlu memancingnya dengan satu-dua kalimat saja. Dari yang bisa kutangkap, kehidupan yang ia miliki tidak jauh bebeda dengan orang-orang kaya pada umumnya—seperti yang sering kita lihat di TV dan di novel-novel. Namun satu hal yang membuatnya semakin sempurna adalah keluarga yang memberi kebebasan penuh padanya. Tidak ada paksaan untuk meneruskan usaha keluarga atau mengambil kuliah dengan jurusan tertentu. “Btw… aku pernah gak sengaja liat kiriman pesan buat kamu di sosmed sekolah. Kamu… mmm….” Rasanya agak sulit untuk menanyakan hal ini, karena kasusnya juga sudah lama ditutup. “Kenapa? Memang ada pesan ya baru-baru ini? Aku udah lama gak cek,” ujarnya seraya kembali mengambil ponsel. “Enggak ada. Itu… pesannya udah lama, tahun lalu sih kayaknya,” ujarku ragu-ragu. Aro sepertinya langsung paham dan meletakkan ponselnya kembali. Ia memutar posisi duduknya dan kini menghadap ke arahku. Aku yang bertanya, tapi aku juga yang merasa bersalah. Aku takut ada kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi. “Ternyata kamu bener-bener bukan tipe orang yang suka bergosip, ya,” ujarnya dengan nada yang terdengar santai. Aku tidak menjawab dan menunggu kelanjutannya saja. “Itu masalah juga lumayan bikin emosi sih,” lanjutnya, kali ini tersirat kekesalan dalam ucapannya. Kupasang telingaku menjadi lebih fokus lagi. “Kalo aku bilang, aku juga korban, apa kamu bisa percaya?” tanyanya sebelum memberikan penjelasan. Aku tidak yakin dan juga tidak bisa berpura-pura. Maka jawabanku terwakilkan dengan mengangkat kedua bahu. “Kamu bisa cerita sesuai versimu aja kok. Aku bakal berusaha nilai dari sisi yang bisa kuliat,” ujarku yang tak ingin menghakiminya tanpa mengetahui apa-apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD