Chapter 17

1117 Words
“Oke. Jadi… kayak yang aku bilang, aku cuma korban. Tiga cowok itu temenku—lebih tepatnya kenalan. Kami gak sengaja deket karena sering ketemu di kelas yang sama. Sampe suatu ketika, mereka pake namaku untuk undang cewek dan ketemuan di bar. Jujur, aku bahkan gak pernah tau siapa cewek itu sampe akhirnya namaku terseret karena dianggap kerjasama sama tiga manusia br*ngsek itu,” jelas Aro dengan sedikit tekanan di ujung kalimatnya. “Terus kamu kena hukuman juga?” tanyaku penasaran. Ia mengangguk. “Ternyata mereka pake akun ingstagramku—tapi sekarang akunnya udah ku-delete. Singkatnya, tiga orang itu udah di drop out dari kampus, sedangkan aku enggak karena korban gak bisa buktiin kalo aku beneran terlibat. Aku cuma dapet hukuman karena kelalaianku jaga akun pribadi.” Aku diam sejenak dan mencoba menimbang-nimbang dengan isi pesan yang sudah k****a. “Dari pesan yang aku baca, korbannya masih nuntut pertanggungjawaban. Kamu diminta tanggung jawab apa?” Dan mendengar pertanyaanku, Aro kembali tertawa, lalu menggelengkan kepalanya. “Ada fakta lucu di balik perkara itu. Cewek itu minta pertanggungjawaban karena namanya tercemar.” “Karena hampir satu kampus tau kasusnya? Malu sih memang, tapi ‘kan dia korban. Lucunya di mana?” balasku yang masih tidak mengerti. “Iya. Memang gak salah kalo dia nuntut tanggung jawab. Nah yang menurutku lucu itu, dia malu bukan karena jadi korban pellecehan, tapi karena secara gak langsung, image dia sebagai cewek ‘panggilan’ terbongkar saat itu juga.” Terkejut? Ya. Sudah pasti. Aku sama sekali tidak menyangka kalau ada plot twist di balik pesan tersebut. Bagi orang luar, tentu akan menyalahkan Aro dan teman-temannya. Namun ternyata di balik itu… ah, sudahlah. Sudah rusak ternyata. “Oh, iya. Kamu tau dari mana kalo image dia kayak gitu?” tanyaku lagi. “Dia sendiri yang bilang. Malah dia ngasih aku opsi. Katanya kalo mau nama kita sama-sama aman, dia minta pacaran—buat pengalihan isu atau apalah itu. Gak paham lagi gimana pola pikirnya. Dia pikir aku bodoh, apa?” Aku menahan tawa mendengar ucapannya yang terdengar kesal namun menggemaskan. Kupikir penjelasannya masuk akal, meskipun masih ada sedikit kecurigaan yang terlintas dalam pikiranku; ia memiliki uang yang banyak dan bisa membayar berapa pun demi membersihkan nama baik. Tapi ya sudahlah, toh tujuanku hanya ingin tahu saja, bukan menjadi hakim. “Terus-terus, gimana penyelesaiannya?” “Ketawa juga, kan? Gak salah kalo aku bilang ini lucu,” ujarnya sebelum menjawab pertanyaanku. “Penyelesaiannya gampang kok. Karena aku nolak untuk jadi pacarnya, dia minta uang sebagai gantinya.” “Terus kamu kasih?” Aro kembali mengangguk. “Aku kasih dia sepuluh juta, dan gak cuma itu.” “Sepuluh juta?? Wah gila sih, kontrakanku setahun,” balasku tak menyangka. “Selain uang sepuluh juta, kamu kasih dia apa lagi? Makmur amat hidupnya tu cewek,” tambahku. “Aku kasih dia surat perjanjian.” “Perjanjian? Bukannya tinggal kamu suruh dia pergi aja, ya?” tanyaku bingung. “Dia itu licik. Kalo sekarang aku kasih dia uang cuma-cuma, suatu saat dia bakal minta uang lagi dengan alasan semacam ini dan ngancem bakal sebarin berita buruk—aku bayar dia misalnya, atau apapun alasan buruk lain. Makanya waktu aku serahin uang ke dia, aku bawa pengacara dan minta dia tanda tangan perjanjian biar dia gak muncul lagi di depanku apalagi sampe minta uang. Kalo kamu mau baca, aku masih simpen berkasnya di kontrakan.” Benar-benar pemikiran yang tidak kusangka. Bahkan ia sampai membawa pengacara, tapi kurasa itu sepadan dengan nominal yang sudah ia keluarkan. Tanpa disangka, ternyata Aro merupakan orang yang lumayan menyenangkan. Waktu berlalu tanpa terasa dan aku sama sekali tidak merasa bosan. Dia tidak seperti kebanyakan lelaki yang kukenal. Entah memang kehidupannya yang menarik, atau memang dia yang pandai berbicara. Yang pasti, aku tidak menyesal sudah menghabiskan waktu hampir seharian bersamanya. 'Besok aku jemput lagi, ya! Ada tempat lain yang mau aku kasih liat ke kamu.' Sebuah pesan kuterima lagi dari Aro, padahal mobilnya baru saja berlalu setelah aku menutup pintu gerbang. Kubaringkan diri di atas ranjang—sebelum mandi. Mengingat jadwalku juga besok hanya satu, sepertinya tidak masalah jika menerima kembali ajakannya. Aku memang belum menganggapnya lebih, tapi menjadi teman baik juga rasanya tidak buruk. Toh Kendric juga tidak mungkin mempermasalahkan itu. Mengingat nama Kendric, seketika teringat juga kalau sudah beberapa kami tidak bertemu, bahkan berkirim kabar pun tidak. Biasanya dia rajin menghubungiku, meski hanya sekedar pamer tiket nonton film terbaru, atau pun kabar kecil lainnya. Dan ternyata niatku didahului. Baru saja hendak mengirimkan pesan padanya, sebuah panggilan masuk atas nama 'Kendric' muncul di layar ponselku. Ketika panggilan itu sudah kuterima, aku tidak mendengar suara apa pun dari sana. "Halo, Ken?" panggilku. "Apa kamu lagi sendirian?" tanyanya kemudian. Padahal kukira signalku bermasalah karena hujan siang tadi, ternyata salah. "Ya… sendiri lah! Mau sama siapa lagi?" sungutku karena sudah paham arah pertanyaannya. "Maaf, galak amat sih! Takut aja kamu masih sama Alvaro," ujarnya. "Enggak, aku di rumah. Kenapa memangnya? Mau anter makanan?" balasku. "Ngarep banget!!" omelnya. Aku pun tertawa mendengar itu. “Oh iya, aku baru tau kalo Aro itu ternyata Alvaro.” Kemudian ia mulai mengutarakan maksud dan tujuannya meneleponku, ternyata ia juga tahu tentang foto yang tersebar hari ini. Meski wajahku di foto itu tidak begitu jelas, tapi bagi yang mengenalku tentu tidak akan sulit untuk menebaknya "Cuma kebetulan berangkat bareng, gak ada apa-apa kok," jawabku sesantai mungkin. "Tapi cara jawabmu udah gak kayak dulu, udah mulai bisa nerima dia, ya?" tanya Kendric lagi. "Masa sih? Perasaanmu aja kali. Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, cuma temen aja," ujarku jujur, sampai sejauh ini aku hanya bisa menganggap Aro sebagai teman. "Berarti bisa dong kapan-kapan kita jalan bertiga?" "Mungkin bisa. Tapi, kok kayaknya malah kamu yang ngebet sama dia? Jangan-jangan…." "Apaaa?" Ia menyahut dengan penuh emosi. Aku langsung tertawa mendengarnya. "Haha! Abisnya kamu gak pernah pacaran, kan jadi bikin curiga." "Aku belum mau pacaran bukan berarti gak suka cewek!" sungutnya lagi. "Haha! Iya-iya, percaya kok. Btw, kesel banget tau! Beberapa hari ini aku gak sengaja ketemu terus sama Kak Arga sama ceweknya juga,” ujarku kesal sambil meletakkan ponselku di atas meja dan mengaktifkan loudspeaker. “Ceweknya? Memangnya Kak Arga udah ada cewek baru lagi?” tanya Kendric yang terdengar terkejut. “Kok baru? Si Hana loh!” jawabku. “Kabarnya si Hana udah putus, aku tau dari anak kelas.” Hana adalah teman sekelas Kendric, maka sepertinya berita itu kemungkinan besar adalah benar. Namun mengingat Hana yang mengatakan kalau hubungan mereka itu putus-nyambung, kupikir mereka sudah kembali bersama, bukan benar-benar putus. “Enggak sih kayaknya. Kapan hari itu si Hana pernah jalan sama kating lain kok. Menurut cerita sih mereka udah bener-bener putus.” Menarik. Nampaknya ada kisah cinta yang rumit di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD