Meski sudah merasa lega, namun rasa kantukku masih belum hilang. Ingin sekali rasanya mengusir Aro dari sini, tapi aku merasa tidak enak karena dia sudah membantuku untuk mencari tahu kejadian asli dari berita yang membuatku tidak nyaman. Sesaat aku memilih diam dan dia masih fokus pada ponselnya.
Tanpa sadar, aku memperhatikan penampilannya. Sangat santai, namun tetap terlihat menarik—dan mahal. Aromanya juga harum, seketika aku langsung menunduk dan menyadari kalau saat ini aku masih menggunakan piyama. Kuendus sedikit, tentu aja ada bau asam yang tercium. Aku langsung menegakkan posisi duduk dan berusaha untuk tetap stay cool.
“Emm… maaf, bukannya aku gak berterima kasih atas bantuanmu. Tapi… apa kamu gak mau pulang sekarang?” tanyaku dengan ragu.
“Hng? Sebentar! Aku bales chat dulu,” ujarnya.
Aku pun mengangguk dan berusaha mengerti, sepertinya ia sedang membahas sesuatu yang penting. Mataku menyapu seisi ruangan yang luasnya hanya 2x2 meter saja. Beruntung hanya penampilanku yang berantakan, tapi rumah ini masih rapih dan bersih.
Beberapa detik kemudian, Aro meletakkan ponselnya di atas meja dan menatapku. “Maaf, aku malah jadi cuekin kamu. Tadi ada chat dari orang rumah,” jelasnya.
“Gak apa-apa kok. Disuruh pulang, ya?” Entah kenapa isi kepalaku hanya ada itu, aku kehabisan kata-kata karena mataku yang sudah bersemangat untuk kembali tidur.
Bukannya tersinggung karena sudah diusir terus menerus, ia justru tertawa. Kukira manusia satu ini sudah kehilangan akal sehat. “Beneran mau tidur lagi, ya?” tanyanya kemudian.
Tentu saja aku menjawab dengan jujur. “Ya, aku ngantuk banget soalnya. Lagian kamu, ngapain sih pagi-pagi udah keluyuran? Memang di rumah dipaksa buat bangun pagi?”
Aro menggeleng pelan. “Enggak juga sih. Kebetulan tadi ada janji, ya terpaksa deh bangun pagi. Kamu beneran gak mau sarapan dulu? Abis sarapan ntar baru tidur lagi,” sarannya.
“Kalo sarapan, ntar gak jadi ngantuk. Maaf, ya! Serius deh, mataku masih berat banget.”
Aku sama sekali tidak enak mengusirnya seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Beruntung dia mau mengerti dan tidak memaksa untuk tinggal di rumahku selama aku tertidur. Ya kalau memang mau seperti itu, aku juga tidak akan mengizinkan.
Sebagai ucapan maaf, aku mengantarnya sampai depan—lebih tepatnya sampai ia masuk ke mobil. Dan satu hal yang sedikit membuatku merasa geli, dia mengusap puncak kepalaku lagi sembari berpamitan. Padahal jalanan depan kontrakanku ini adalah jalanan ramai yang biasanya dilewati anak-anak kampus.
“Kalo udah bangun, kabarin, ya!” ucapnya kemudian.
“Iya. Udah sana buruan masuk! Keburu ada yang lewat,” usirku lagi. Keberadaannya di sini bukanlah aib yang harus ditutupi dan kami juga tidak sedang sembunyi-sembunyi, hanya saja aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya menjadi orang yang dekat denganku.
Akhirnya, dia resmi berpamitan dan pulang. Tidak ada drama undur-unduran lagi. Ketika Aro menyalakan mesin mobil, aku melihat gorden dari balik jendela kontrakan seberang bergerak dan membuatku salah fokus. Aro pun menyadari itu dan langsung menoleh ke arah mataku melihat.
“Ada apa?” tanyanya seraya kembali mematikan mesin mobilnya.
“Oh, enggak. Bukan apa-apa,” jawabku mengelak.
Sejujurnya, aku merasa sedikit takut karena yang tinggal di rumah itu adalah Masson. Seandainya setelah kedatangan Aro ini muncul berita baru lagi, akan kudatangi Masson dan kumintai penjelasan. Jika masih kurang, mungkin aku akan meminta bantuan Aro, dia pasti tidak akan tinggal diam jika ada masalah seperti itu.
Setelah berhasil kuyakinkan kalau tidak ada apa-apa, Aro pun kembali menyalakan mesin mobilnya. Menurutku, dia terlalu perhatian—sudah seperti sepasang kekasih saja, padahal aku belum menganggapnya seperti itu. Sejujurnya aku tidak munafik, aku juga menyukainya dan segala bentuk perhatiannya. Hanya saja, agak sedikit lucu jika tiba-tiba aku menerimanya dengan alasan yang sesederhana itu.
Aku pun kembali masuk dan menutup pintu gerbang. Namun sebelum benar-benar tertutup, aku melirik lagi ke jendela kontrakan seberang, tidak ada tanda-tanda manusia yang mengintip di sana. Ya sudahlah, mungkin aku hanya salah lihat. Toh mataku sudah begitu berat dan sulit untuk fokus.
Sebuah benda kecil berwarna hitam terselip di bawah bantal sofa menarik perhatianku. Ternyata itu adalah dompet. Ah, manusia satu itu ceroboh sekali! Untung saja tertinggal di rumahku dan aku yang menemukannya. Jika tidak, mungkin sudah lenyap. Kubawa dompet itu ke dalam kamar dan menyimpannya. Namun karena fokusku sudah tidak penuh, aku sama sekali tidak terpikirkan untuk memberi tahu Aro dan langsung lanjut tidur.
Dua jam berlalu begitu nikmat. Udara yang mulai panas membuatku terbangun karena lupa menyalakan kipas angin. Kuregangkat otot-otot seluruh tubuh seraya menguap. Kebahagiaan yang sangat sederhana, yakni bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus terbangun tiba-tiba. Dan kegiatan rutin ketika baru bangun tidur adalah bengong dan menatap langit-langit kamar tanpa alasan yang jelas. Namun kali ini anehnya, tiba-tiba wajah Aro muncul di sana. Aku langsung mengerjap beberapa kali dan tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
“Apa-apaan sih? Kenapa ada muka dia?” gumamku kesal seraya beranjak duduk.
Kemudian mataku melihat dompet hitam yang menurutku itu adalah milik Aro. Meski melanggar privasi, namun rasa penasaranku tiba-tiba muncul. Aku membayangkan kalau disitu ada banyak kartu kredit dan semacamnya, lalu uang ratusan ribu atau bisa juga struk bekas pembelian kopi kekinian yang mahal. Namun bukan semua itu yang kuharapkan ada di sana. Karena kupikir dia adalah playboy pasti ia menyimpan foto pacarnya di sana.
Dan ya… sesuai dengan bayanganku; bermacam-macam kartu ada di dalam dompet itu, uangnya juga ada meskipun tidak banyak—kupikir itu wajar, karena jaman sekarang orang lebih sering menggunakan e-money. Tak cukup sampai di situ, aku menjadi penasaran dengan KTP-nya. Ternyata dia kelahiran bulan April—aku sedikit lebih muda darinya. Kalau dilihat dari alamatnya, dia ternyata bukan penduduk asli kota ini. Sama-sama pendatang ternyata,
Ternyata apa yang kucari tidak ada. Tidak kutemukan foto siapa pun di dompet itu. Kuletakkan kembali dompet itu di atas nakas, lalu kukabari si pemilik dompet dengan cepat—aku baru ingat kalau aku belum sempat mengabarinya. Sembari menunggu balasan, aku pun mengambil laptop dan mengecek traffic pembaca novelku. Yah, meskipun belum banyak, setidaknya masih ada yang mau membaca. Begitu saja rasanya sudah menambah semangat.
Ting! Sebuah notifikasi tanda pesan masuk pun berdering.
‘Tolong amankan, ya! Nanti aku mampir untuk ambil, sekalian berangkat ke kampus,’ balas Aro.
‘Oke. Jam berapa?’ balasku sembari menutup kembali laptopku dan beranjak mengambil handuk.
‘Jam 2 lewat, aku ada kelas jam 3,’ balasnya lagi.
Ternyata jadwalnya sama denganku. Jadwal kuliah paling menyebalkan itu ketika jamnya sore seperti ini dan jumlahnya hanya satu. Rasanya aku ingin pindah jadwal saja, supaya bisa digabungkan dengan kelas pagi—sayangnya kelas yang kuharapkan semuanya penuh. Jadi tidak ada pilihan selain menerimanya.
‘Setelah ini, kamu mau ngapain?’ Ia mengirimkan pesan lagi, padahal pesan sebelumnya saja belum kubalas.
‘Kepo banget!’ balasku singkat. Aku merasa sedikit geli kalau ada yang menanyakan hal sepele seperti itu, seperti anak kecil yang sedang dipantau.
‘Kamu ‘kan belum sarapan. Jangan ke mana-mana dulu, ya! Sebentar lagi pesenannya sampe.’
Aku diam sejenak setelah membaca pesan itu. ‘Pesenan apa? Aku gak pesen apa-apa,’ jawabku bingung.
‘Aku pesenin makanan buat kamu. Dimakan, ya!’
Alisku bertaut. Apa-apaan? Padahal dompetnya juga ada padaku, apa maksudnya dia sengaja meninggalkan dompet agar aku bisa membayar makanan yang sudah dia pesan menggunakan uang itu?