Chapter 08

1630 Words
Satu porsi ayam goreng pedas lengkap dengan kentang goreng, kini sudah tersedia di depan mataku. Sarapan yang… agak elit. Bukan karena jenis menunya, tapi karena tempat di mana dia membeli makanan tersebut. Dan lagi, kecurigaanku juga tidak terbukti. Dia sudah membayar semuanya, jadi aku tidak perlu mengambil isi dompetnya untuk membayar makanan ini. ‘Selamat makan!’ kirim Aro tak lama setelah makanan ini kuterima. ‘Tolong ini jadiin yang pertama dan terakhir, ya! Aku gak suka ngerepotin kamu. Btw, makasih. Aku suka ayam pedes,’ balasku. Aku tidak mengada-ada atau pun sengaja berpura-pura untuk mengucapkan terima kasih yang besar. Ayam goreng pedas di outlet penjualan ayam ini memang yang terbaik. Aku sudah survey beberapa tempat, dan outlet ini yang menjadi juaranya. ‘Iya, tenang aja. Karena selanjutnya kita bakal makan berdua,’ balasnya cepat. ‘Ck! Dasar playboy! Lancar banget itu jari buat ngegodain cewek. Next kalo ninggalin barang, hape aja! Biar aku bisa liat, sebesar apa asrama putri yang udah kamu bentuk,’ balasku lagi. ‘Asrama putri? Maksudnya gimana?’ Kupikir dia sengaja pura-pura bodoh agar aku tidak mencurigainya. ‘Isi chatmu, isinya pasti kayak asrama putri.’ Setelah kubalas seperti itu, ia mengirimkan stiker bergambar beruang kecil yang sedang tertawa terbahak-bahak. Tapi ia tidak mengelak, bukankan itu berarti dia menyetujui pernyataan yang aku ucapkan? Aku tak membalas pesannya lagi, kupikir sudah cukup sampai sebatas itu saja. Jika memang banyak perempuan yang menjadi teman chatting-nya, apa urusanku? Sembari makan, otakku kembali memikirkan sesuatu. Aku masih belum terbiasa dengan kehadiran Aro. Apa maksud dan tujuan yang ia utarakan masih tidak bisa kuterima begitu saja. Kalau kulihat dari sosial media, dia bukan orang yang terlalu eksis. Hanya ada dua foto yang menunjukkan gambar dirinya—itu pun foto bersama dengan teman-teman SMA-nya ketika kelulusan, sisanya hanya ada foto bangunan-bangunan. Sepertinya dia senang jalan-jalan. Merasa semakin penasaran, aku membuka aplikasi pribadi sekolahku. Di sana kami bisa saling mengutarakan segala isi hati tanpa perlu takut membeberkan identitas karena semua identitas akan di sembunyikan. Kebanyakan mereka akan memposting tentang sesuatu yang tak bisa diutarakan secara langsung. Postingan kemarin malam contohnya. Selain itu, ada juga yang menggunakannya sebagai akun secret admirer—siapa pun bisa memberikan perhatian pada yang lain tanpa takut mendapatkan penolakan. Aku mencarinya dengan kata kunci ‘Alvaro Dominic’. Yah, mungkin saja ada yang mengirimkan sesuatu padanya, bukan? Atau ada sesuatu yang lain tentang dirinya yang belum kutahui. Dan seperti yang sudah kuketahui sebelumnya, Aro memang lumayan populer, sehingga tidak heran kalau dari kata kunci namanya saja aku bisa menemukan lebih dari 10 pesan. *Untuk : Alvaro Dominic *Dari : Aku yang tidak kamu ketahui keberadaannya. *Pesan : *Kamu kenapa ganteng banget sih? Cepetan punya pacar biar aku gak terus-terusan berharap sama kamu!!!! Pesan pertama yang kutemukan cukup membuatku merasa geli. Bisa-bisanya mereka terang-terangan menyebut nama Aro dan memberikan pesan seperti itu. Jika melihat bagaimana image yang beredar tentangnya, kurasa orang seperti si pengirim pesan sudah sangat kesal karena memendam perasaan yang tak pasti. *Untuk : Alvaro *Dari : Pokoknya aku yang cantik *Pesan : *Aku udah berusaha sadar diri, tapi sampe detik ini aku masih merasa kalo kita itu selevel. Ayo lirik aku cepat!! Gila! Aku terbahak-bahak membaca pesan kedua. Lebih menggelikan dan super percaya diri. Aku ingin tahu siapa anak perempuan yang sudah mengirimkan pesan tersebut. Apakah dia berani mengatakan kalimat seperti tadi jika berhadapan langsung dengan Aro? Aku benar-benar penasaran. Kubaca satu-persatu pesan yang muncul, hampir seluruhnya berisi pesan kasih tak sampai seperti yang sudah k****a di awal. Aku baru sadar, ternyata pesan-pesan di aplikasi ini sangat beragam dan menarik untuk dijadikan hiburan. Selama ini aku hanya membaca topik-topik bahasan teramai saja—tak jarang juga aku mengikuti gosip-gosip hangat yang muncul di sana. Lalu fokusku terhenti ketika membaca sebuah pesan yang agak menarik perhatian. Pesan ini berbeda dari sebelumnya; tidak mengikuti format dan tampaknya seperti sebuah curahan hati. ‘Aku tau kita memang gak selevel, tapi… apa gak bisa kamu penuhi janjimu? Setidaknya satu kali aja. Bagiku hubungan kita special, makanya aku berharap kamu bisa liat aku lagi. –to.aro’ “Woah! Korban yang paling parah nih kayaknya,” seruku sendiri sambil menikmati potongan daging ayam yang terakhir. “Jahat banget sih, mentang-mentang ganteng. Apa kalo udah ganteng, orang bebas gitu ge ghosting siapa aja? Heran deh,” gerutuku sendiri. Postingan yang k****a tadi baru saja dikirim satu bulan yang lalu, beberapa hari sebelum kemunculannya yang aneh itu di hadapanku. Kemudian aku mencari lagi pesan yang terbaru, mungkin saja ada pesan lain yang lebih spesifik. *To : Aro, anak paling kaya sejagat raya *From : gue, korban *Message: *Nama lo emang bersih, tapi apa gak bisa lo atasin kelakukan bangs*t temen-temen satu geng lo itu? Gue tunggu pertanggung jawban kalian. Dasar sampaahh! Pesan itu dikirimkan hampir setengah tahun yang lalu, sempat heboh dan mendapatkan lebih dari 1409 komentar serta 2983 like. Setelah diingat-ingat, sepertinya aku juga pernah mengetahui kehebohan ini. Empat orang mahasiswa yang menjadi pemeran utama masalah ini telah difitnah menjadi pelaku pellecehan, tapi aku tidak ingat bagaimana kelanjutannya. Entah memang sudah selesai atau sengaja ditutup—dengan jaminan. Yang pasti aku belum tahu bagaimana kelanjutannya. Dan aku tidak menyangka kalau salah satu dari mereka, kini mengajakku berpacaran. Seketika bulu kudukku berdiri, bayangan buruk mulai menghantui. Jika benar dia merupakan pelaku pellecehan seperti yang sudah pernah kudengar, tentu aku akan menghajarnya sebelum dia menyentuhku. *** Aku sudah siap untuk berangkat ke kampus, namun Aro belum juga datang. Kalau bukan karena dompetnya, aku tidak akan menunggunya seperti ini, benar-benar menyebalkan. Dia memberikan opsi untuk bertemu di kampus saja, namun aku menolak. Aku tidak ingin ada orang lain tahu kalau kami saling kenal. Kulirik jam tangan berkali-kali, Aro belum juga datang. Padahal jam masuk sudah sangat tipis, yakni tinggal 15 menit lagi. Karena sudah tidak sabar, aku memilih untuk berangkat lebih dulu dan mengembalikannya sepulang dari kampus saja. Tapi ternyata, mobil Aro tiba bersamaan dengan aku yang baru saja mengunci pintu rumah. Dengan kemeja abu-abu gelap yang digulung setengah, Aro keluar dari mobilnya. Sesaat aku tertegun, pemandangan yang terlalu indah ini masih terlalu sulit untuk dianggap biasa. “Sorry ya, lama. Tadi macet banget soalnya, biasalah jam segini di mana-mana macet,” ujarnya menjelaskan setelah aku keluar dari gerbang. “It’s ok. Belum terlambat kok. Ini dompetmu,” ujarku seraya menyerahkan dompet Aro. “Thanks, ya!” “U’re welcome,” balasku seraya melangkah dan berlalu darinya, namun dia ikut berjalan di sebelahku. “Kamu ngapain?” tanyaku sambil menghentikan langkah. Dia menatapku sebentar, lalu menoleh ke arah kampus. “Ya ke kampus dong, kok ngapain?” Aro balik bertanya. “Ya, t—tapi ‘kan kamu bawa mobil. Ngapain jalan kaki?” tanyaku bingung. Aro pun tertawa kecil dan kembali menatap mataku. “Aku mau berangkat bareng sama pacarku. Memangnya salah?” Glup! Kutelan salivaku dalam-dalam. Sesaat aku lupa kalau dia pernah mengajakku berpacaran dan berusaha menerima kenyataan. “Hei! Aku udah berkali-kali bilang ‘kan, kita itu gak pacaran. Oke?” Ia menatap wajahku seraya memberikan senyuman yang begitu manis hingga membuatku salah tingkah. Siallan! “Dan udah berkali-kali juga kita bahas kalo aku mau kamu jadi pacarku. Daripada berdebat, mending sekarang kamu cek jam deh!” ujarnya dengan sangat santai dan terkesan meremehkanku. Aku jadi merasa kesal. “Aku tau!” omelku seraya berjalan dan mendahuluinya. Aku tahu kalau waktu terus berjalan dan jam masuk kuliah sudah semakin dekat. Lagi pula, dia yang membuatku berhenti. Menyebalkan sekali! Sepanjang jalan menuju kelas, aku mengumpat sendiri dalam hati. Aku bertekad untuk mencari cara terbaik agar dia bisa menjauh dariku, sayangnya hal itu terlalu sulit untuk dilakukan. Ditambah lagi, ia memiliki pesona yang luar biasa. Rasanya akan merasa bersalah jika mengusirnya dengan cara uang salah. Meski menyebalkan, ternyata dia juga tidak mengingkari janji. Tanpa kuminta ulang, Aro membiarkanku masuk melewati gerbang terlebih dahulu dan menyusul ketika langkahku sudah agak jauh darinya. Dia benar-benar memberikan jarak pada kami, dan itu membuat nilai positifnya bertambah di mataku. Aku melirik ke belakang, namun Aro sudah tidak ada di sana. Jelas dia sudah melangkah ke gedungnya sendiri yang letaknya agak ke utara. Dan saat itu, entah mengapa rasanya aku ingin tersenyum. Ya, dia berhasil membuatku merasa senang dengan cara yang sederhana seperti ini. Namun sayangnya senyum itu terpaksa memudar ketika seseorang muncul di hadapanku. “Hai, Rea!” sapa lelaki itu dengan santainya. Sebelum menjawab, aku lebih dulu memberikan senyum—palsu—padanya. “Hai, Kak. Abis kelas?” tanyaku berbasa-basi. “Iya, nih. Kamu baru mau masuk, ya?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk pelan. “Iya, Kak. Maaf sebentar lagi masuk. Aku duluan, ya!” “Oke, silakan. Semangat, ya!” ujarnya kemudian. “Thanks, Kak!” Aku pun berlalu darinya dan kembali memasang wajah datar. Sial, dia merusak kebahagiaanku. Dia adalah Arga, kakak tingkat yang pernah memberikan harapan padaku. Ya, hanya harapan. Jika mengingat kejadian ke belakang, rasanya aku malu sendiri. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Dia sudah bahagia dengan pacarnya yang cantik itu. Aku mah apa. Dengan langkah sedikit dipercepat, aku terus melangkah dan menuju kelas lantai 4—benar-benar melelahkan. Bisa saja aku menggunakan lift, namun sayangnya terlalu banyak yang akan menggunakannya, aku enggan mengantre. Nampaknnya keberuntunganku hari ini hanya memakan ayam goreng, sisanya tidak beruntung. Sebab kali ini aku bertemu Hana—pacar Kak Arga. Oh, shiit! Aku ingin menghilang saja rasanya. “Hai adik cantik! Apa kabar?” sapa Hana yang juga satu angkatan denganku, jadi kami seumuran. “Sejak kapan aku jadi adikmu?” tanyaku datar. Dia pun tertawa sambil menutup mulutnya dengan satu tangan. “Galak banget deh! Kenapa sih? Lagi dapet?” “Sorry, aku buru-buru!” Kulangkahkan kaki dan meninggalkannya di sana. Waktu tinggal 6 menit, dan aku masih harus naik 3 tangga. Luar biasa! ‘Kenapa aku harus ketemu mereka berdua bergiliran sih? Seolah udah direncanain banget,’ gerutuku dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD