Chapter 09

1827 Words
Aku sampai di kelas tepat waktu; tidak terlambat, tidak juga terlalu cepat. Tak lama setelah aku duduk, Bu Kalya masuk dengan membawa ponsel dan sebuah pouch di tangannya. Dosen paling simple dan santai, beliau bisa menjadi teman bagi kami sehingga materi yang ia berikan bisa kami terima dengan baik. “Simpan buku kalian, kita tanya jawab!” ujarnya begitu sampai di depan kelas. “Hah?” Kompak satu kelas ber-hah-ria. Tak ada pembicaraan sama sekali sebelumnya, kami tahu jelas masih ada materi yang belum selesai UTS juga masih jauh. “Kok ‘hah’? Ayo cepat simpan bukunya! Kalian mau nilai, gak?” tanya Bu Kalya lagi. “Bu, tapi kami belum belajar,” teriak Sarah dari bangku paling belakang. Dia anak yang tomboy dan paling berani dalam mengutarakan pendapat di kelas. Bu Kalya mengangguk, lalu memperhatikan wajah kami satu persatu. “Kalian udah belajar setiap hari, jadi saya yakin kalian bisa menjawab tanpa perlu menghapal terlebih dahulu. Ayo cepat! Saya buru-buru. Gak sampe 20 menit pasti udah selesai kok.” Akhirnya kami mengikuti perintahnya. Mau bagaimanapun juga, perintah dosen memang tidak bisa dibahntah. Kami simpan semua buku dan alat tulis ke dalam tas—termasuk ponsel juga. Beliau bersandar di tepi meja sambil memperhatikan kami yang sedang bersiap. “Kita mulai, ya?” ujarnya. “Ya, Bu,” jawab kami kompak. “Oke. Jawab sesuai yang pendangan kalian pribadi, siapa pun boleh angkat tangan. Pertanyaan pertama, siapakah saya?” Pertanyaan yang sangat tidak kami duga dan kami pun saling pandang satu-sama lain. Beliau hanya diam dan menunggu jawaban dari kami. Lalu Sarah mengangkat tangannya. “Saya di sini adalah Ibu, atau saya sebagai diri saya sendiri?” Mendengar pertanyaan Sarah, kami dibuat semakin bingung. Bu Kalya tersenyum dan menjawab, “Kamu tanggap sekali ya, Sarah. ‘Saya’ di sini sebagai diri kamu sendiri. Coba kamu deskripsikan!” Oke, kami mulai paham. Sesuai dengan mata kuliah yang kami ambil sekarang, tidak heran jika pertanyaan tersebut bisa muncul. “Saya adalah…” Sarah berhenti sejenak, ia tampak sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya. “…saya bukan siapa-siapa, Bu,” jawabnya kemudian. “Tampaknya pertanyaannya terlalu sulit untuk kalian jawab, ya? Coba kalau begini, yang orang lain lihat dari saya itu apa sih?” tanya Bu Kalya lagi. Tak ada yang berani mengangkat tangan. Sebenarnya cukup mudah untuk menjawab pertanyaan itu jika ditujukan untuk diri sendiri, namun jika untuk dibicarakan di depan banyak orang, rasanya agak sulit. “Masih gak ada yang bisa jawab?” Kemudian Jody mengangkat tangannya dan menjawab, “Secara garis besar, mungkin orang akan mengenal saya sebagai orang yang mudah bergaul dan bisa berteman dengan siapa saja. Meski dalam segi akademik saya terlihat biasa saja, tak sedikit orang yang menganggap saya itu pandai. Namun dari semua yang orang lain nilai tentang saya… kadang saya merasa itu bukan diri saya yang asli.” Ia terdiam sejenak, kami semua memperhatikannya begitu juga Bu Kalya. “Kenapa kamu merasa itu bukan dirimu sendiri?” tanya Bu Kalya menanggapi. “Sebenarnya saya tidak mudah bergaul, saya hanya berusaha menempatkan diri agar bisa diterima. Sebelum memulai berteman, saya selalu berdebat dengan dengan diri sendiri. Apakah saya layak berteman dengan dia? Apakah saya bisa menyamakan standar untuk bisa diterima? Dan masih banyak keraguan lainnya.” Melihat jawaban Jody mendapat respon yang bagus, beberapa anak mulai ikut menjawab. Beberapa menjawab kalau tidak semua orang mengenal pribadi mereka yang asli, namun ada juga yang merasa sangat yakin kalau mereka dikenal apa adanya. Aku sendiri bingung, sebenarnya orang menilaiku seperti apa. Bukan karena banyak bersandiwara, melainkan selama ini aku hidup di bawah aturan. Sejak kecil, kedua orang tuaku selalu menuntun segala hal yang baik dan tidak baik untukku, maka dari itu terkadang aku lupa sebenarnya inginku itu menjadi seperti apa. Enggan untuk memikirkan hal tersebut terlalu dalam, aku justru sibuk memikirkan alasan Bu Kalya memberikan pertanyaan tersebut. Alih-alih ingin mengetahui tentang kepribadian asli kami, kurasa ada maksud lain. Karena terlalu asyik berbincang, kami sampai tidak sadar kalau 55 menit sudah berlalu begitu saja. Kemudian Bu Kalya mulai masuk ke dalam poin yang ingin ia sampaikan. Kesimpulan dari pembahasan kali ini adalah kami seharusnya tidak mudah menghakimi seseorang atau sesuatu hanya dalam sekali lihat. Banyak orang yang kita rasa sudah kenal dekat dan tahu segalanya tentang mereka, padahal yang sebenarnya kita lihat hanya sampulnya saja. Orang itu bisa saja menutup diri dengan sangat rapat, sehingga diri mereka yang asli sama sekali tidak terlihat seperti apa bentuknya. “Kalian tahu masalah yang sekarang sedang ramai menjadi pembicaraan di kampus kita? Sepasang mahasiswa yang berbuat tak senonoh di dalam kelas,” tanya Bu Kalya pada kami. Kelas menjadi kembali ramai. Ada beberapa anak yang langsung menghujat pasangan tersebut, sedangkan aku hanya bisa menghela napas panjang. Aku ingin mempercayai ucapan Aro, namun ternyata agak sulit. Pikiran negatifku kembali muncul, takut kalau sebenarnya yang mereka maksud adalah aku, sehingga Bu Kalya memutuskan untuk membahasnya di kelas. Tanganku kembali dingin, aku meremasnya di bawah meja agar tak terlihat kalau sebenarnya aku sedang panik. “Andrea?” panggil Bu Kalya. “Ya, Bu?” Aku yang sedang tertunduk langsung mendongakkan kepala dan menatap beliau. Jantungku berdebar hebat, ketakutanku semakin menjadi. “Bagaimana pendapatmu tentang isu yang sedang beredar itu? Apakah kamu memiliki pendapat lain? Setahu saya, kamu ini lumayan aktif di kegiatan kampus, jadi sepertinya kamu memiliki pandangan lain.” Untuk sesaat aku mematung dan berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Bu Kalya. Aku berusaha menjawab sesuai dengan yang Aro beritahu padaku, meskipun sebenarnya rasa takutku masih belum luntur selama pelaku yang dimaksud itu masih belum terkuak. “Menurut yang saya dengar, semua itu hanyalah settingan,” jawabku dengan keberanian yang sangat dipaksakan dan kemudian hampir seisi kelas menatapku tak percaya. Aku yakin ada yang sudah tahu mengenai masalah ini, hanya saja mereka memilih untuk tutup mulut. Bu Kalya terlihat begitu tertarik, bahkan beliau sampai mendatangi bangku tempat aku duduk. “Benarkah itu settingan? Coba jelaskan menurut yang kamu ketahui!” Kutelan salivaku dengan paksa. Aku merasa dihakimi atas kejadian yang masih belum pasti ini. Bagaimana jika sebenarnya yang mereka maksud benar-benar aku? Tidak tahu lagi wajah ini akan aku letakkan di mana. Sesuai dengan yang aku ketahui, kuceritakan semuanya tanpa ada yang ditambah atau pun dikurangi. Beberapa anak meremehkan penjelasanku, terlebih mereka yang tidak pernah mengikuti kegiatan kampus. Namun tak sedikit juga yang langsung percaya dengan apa yang sudah kujelaskan. Bu Kalya hanya mengangguk-angguk sampai ceritaku berakhir. “Terima kasih, Andrea,” ujarnya seraya tersenyum dan kembali ke depan kelas. Jasmine yang duduk di sebelahku langsung bertanya, “Kamu tau semua itu, tapi kenapa diem aja? Semalem pada heboh loh di grup kelas.” “Itu… aku juga baru tau tadi pagi kok. Lagian, yang aku tau juga belum pasti kebenarannya. Jadi aku gak berani buat ikut ngebahas,” jawabku dengan pikiran yang masih was-was. “Ayo fokus lagi ke depan!” seru Bu Kalya. Kami pun kembali memperhatikan beliau dan menghentikan obrolan. “Dari isu yang beredar, kita bisa mendapatkan dua kemungkinan. Yang pertama adalah settingan, dan yang kedua adalah kenyataan. Dan keduanya sama-sama belum bisa dipastikan kebenarannya. Nah, tugas untuk kalian: Tuliskan pendapat kalian mengenai masalah ini dan kumpulkan maksimal hari ini jam 10 malam di classroom! Dan tentu saja saya gak akan terima kalau jawaban yang kalian berikan cuma argument asal-asalan, harus ada titik berat yang bikin argument itu jadi benar-benar bisa dipercaya. Sampe sini, paham?” Sarah kembali mengangkat tanganya. “Maaf, Bu. Permasalahan kali ini kan hanya isu, bagaimana mungkin kita bisa menemukan bukti yang valid?” tanyanya mewakili kebingungan kami semua. “Kalian gak perlu cari foto atau ngelakuin wawancara untuk dapetin bukti. Ah, mudahnya begini, dari kedua jawaban yang sudah ada, kalian lebih percaya yang mana? Alasannya apa yang membuat kalian mempercayai itu? Di sini cuma ada permainan nalar dan argument. Gak ada salah dan benar, saya cuma pengen tahu seperti apa pandangan kalian ketika menilai suatu isu.” Usai memberikan tugas, Bu Kalya pun pergi meninggalkan kelas. Kelas kembali ramai, kami saling berdiskusi tentang isu tersebut. Mereka juga menanyakan kejelasan kejadian itu padaku, namun sayangnya aku tak bisa menjawab. Penjelasan yang Aro berikan juga tidak terlalu banyak, jadi… hanya beberapa info saja yang bisa kuberikan. Ketika kami sedang berdiskusi, tak sengaja manik mataku melihat ke depan dan bertemu pandang dengan Masson. Ekspresinya aneh, dia menatapku sebentar sebelum membuang muka, kemudian ia beranjak dan keluar kelas—tidak bergabung dengan diskusi yang sedang kami lakukan. Untuk pertama kalinya aku mendapati dirinya seperti itu. Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda. Tak ada jam perkuliahan lagi, aku pun langsung pulang dan hendak mengerjakan tugas—rencananya begitu, tapi biasanya bisa tergeser sedikit jika aku menemukan video upload-an terbaru dari artis kesayanganku di yutub. Sore ini langit masih sangat cerah, belum ada tanda-tanda matahari yang hendak membenamkan diri. Kunikmati hembusan angin yang bertiup dengan lembut dan membuat ujung-ujung rambutku berkibar. Satu hal yang kusukai dari jalanan kompleks menuju kontrakan adalah suasananya yang begitu tenang. Tidak banyak anak-anak kecil yang bermain di sekitar sini; juga tidak ada kedai yang memancing orang untuk berlama-lama duduk dan berkumpul hingga membuat lingkungan menjadi berisik. Namun minusnya, jika hari sudah malam, aku jadi sedikit takut untuk keluar karena lingkungan ini terlalu sepi. Di saat aku sedang menikmati hembusan angin, mataku tertuju pada Aro yang berdiri di samping mobilnya sambil mengomel. Aku langsung mempercepat langkah dan menghampirinya. “Mobilmu kenapa?” Aro langsung menoleh, dan aku bisa melihat ekspresi kemarahan di wajahnya. “Ada yang iseng,” jawabnya sambil menunjuk kap mobil yang kotor dengan tumpahan air kopi yang terlihat masih basah. “Kok—kok bisa sih? Aku belum pernah ngalamin hal kayak gini. Di sekitar sini gak ada anak-anak. Maaf, ya!” ujarku yang ikut merasa kesal. “Kamu gak perlu minta maaf, ini bukan salahmu,” ucapnya seraya mengambil sebotol air mineral dari dalam mobil dan menyiramkannya ke bagian yang kotor. Aku berusaha memutar otak. Mau bagaimana pun juga, kejadian ini terjadi di depan kontrakanku, jelas aku ikut merasa tidak enak pada Aro. Tampak lumayan mustahil jika hal ini terjadi karena ketidaksengajaan, tapi kalau sengaja, apa tujuannya? Kemudian ada signal di otakku yang meminta untuk menoleh ke kanan, seketika aku langsung berprasangka buruk pada Masson. Apa mungkin manusia satu itu yang melakukannya? Tapi kembali lagi, apa tujuannya? Mungkinkah dia memiliki dendam terhadapku? “Udah, jangan dipikirin lagi! Untuk saat ini, anggep aja ini bukan karena disengaja,” ujar Aro setelah selesai mengelap mobilnya. “Serius gak apa-apa? Selain yang tadi, ada yang lain gak? Aku takut ada yang lecet atau apa,” ujarku khawatir. “Gak ada kok, tadi aku udah cek keliling. Cuma ada ini aja.” “Next, mending kamu parkir di kampus aja. Kalo di sini, ada kejadian apa-apa, gak ada yang bisa dimintain pertanggungjawaban,” ujarku mengingatkan. “Tenang aja, ini bukan apa-apa! Kalo sampe kejadian lagi, tandanya dia udah tau siapa lawannya.” Tersirat kesombongan dalam kalimat yang ia ucapkan, namun entah mengapa aku merasa sedikit tertarik. Inikah yang dimaksud dengan pesona seorang badboy?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD