Chapter 10

1091 Words
Aku baru saja selesai mengumpulkan tugas, kurang-lebih 30 menit sebelum deadline. Tanpa mematikan laptop, aku keluar dari kamar dan hendak makan malam. Aku sengaja untuk menyelesaikan tugas dulu sebelum makan, sebab jika makan terlebih dulu, aku akan lebih mudah mengantuk dan tidak fokus dalam mengerjakannya—tentu saja hal ini bisa dilakukan jika perutku belum memberontak untuk diberikan makanan. Seila belum pulang, sebab aku tidak mendengar suara musik dari kamarnya. Gadis itu selalu memutar musik—termasuk ketika ia tertidur. Aku baru menyadari kalau kontrakan ini agak menyeramkan jika jam malam dengan rintik hujan sedang bersatu. Sejak 10 menit yang lalu, hujan mulai turun. Meski tidak begitu deras, namun udaranya yang dingin mulai masuk ke dalam rumah. Resiko tinggal sendirian, situasi seperti ini juga harus bisa di-handle sendiri. Sambil makan, tak lupa aku memutar video dari yutub—untuk mengurangi keheningan. “Aku pulang!” seru Seila seraya menutup kembali pintu depan. Aku yang sedang mencuci piring bekas makan, langsung menyahut, “Kamu ujan-ujanan?” “Enggak kok, ujannya tinggal gerimis aja.” Kemudian ia masuk ke dapur dan duduk di kursi makan. Pakaiannya terlihat sedikit basah. “Mandi gih!” ujarku. “Bentar, lurusin punggung dulu!” jawabnya. Seila bukan pulang malam karena keluyuran. Dia kerja part time di sebuah rumah makan. Normalnya jam 17.30 sampai jam 22.00, tapi jika dia punya jadwal yang agak senggang, biasanya ia akan mengambil waktu lebih dari itu. Terkadang aku kasihan padanya, namun mau bagaimana lagi? Dia memang membutuhkan itu. “Mmm… ngomong-ngomong, kayaknya bulan depan aku gak bisa perpanjang kontrak di sini deh,” ujarnya seraya kembali menegakkan posisi duduk. “Hng? Kenapa? Kamu gak betah di sini?” tanyaku terkejut. Ia sama sekali tidak pernah membicarakan ini sebelumnya. “Bukan, gak gitu! Aku seneng banget malah tinggal di sini sama kamu. Aku nemu kontrakan yang lebih deket dari tempat kerja. Sebenernya gak terlalu masalah sih, tapi kadang suka takut aja kalo pulang tengah malem, apalagi kalo ujan kayak gini,” ujarnya menjelaskan. Aku mulai mengerti, jika berada di posisinya mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Sebenarnya aku sedikit keberatan karena sudah merasa lumayan dekat. Tidak mudah bagiku untuk mencari teman yang cocok, apalagi untuk tinggal bersama seperti ini. “Oke, gak apa-apa. Terus rencana kapan pindahnya?” Dengan alasan yang sesepele itu, tidak mungkin aku memberatkan Seila. Dan berselang seminggu kemudian, Seila akhirnya benar-benar pindah. Demi menghemat biaya, ia tidak menyewa jasa angkut. Kami memindahkan barang-barangnya hanya menggunakan sepeda motor—dan tentu saja tidak cukup dengan sekali jalan. Dia yang mengendarai dan aku memegangi barang-barangnya di belakang. Berutung barang miliknya tidak banyak, hanya beberapa tas pakaian dan beberapa box sepatu juga tas. Kebetulan kontrakan kami memang sudah melengkapi hampir seluruh fasilitas yang kami butuhkan, sehingga kami hanya perlu membawa barang-barang perlengkapan pribadi saja. “Kontrakan ini bagus juga, kamu sewa perbulan?” tanyaku pada Seila. Kami sedang beristirahat sejenak dengan tumpukan barang yang masih belum ditata. “Iya, perbulan. Jaga-jaga takut gak betah, jadi gak rugi-rugi banget,” jawabnya seraya memberikan sebotol air mineral padaku. Aku memandangi sekeliling; ruangannya tidak terlalu luas, tapi juga tidak terlalu sempit. Kamar mandi dan dapur diberikan sebagai fasilitas bersama—sepertinya tidak masalah, karena semua terlihat terawat dan bersih. “Kamu udah kenal sama anak-anak yang tinggal di sini?” tanyaku lagi. Dia menggeleng, lalu meneguk minumannya. “Belum. Dulu temen kerjaku pernah tinggal di sini, makanya dia berani rekomendasiin. Sekarang dia udah pindah karena ikut suaminya.” Kalau saja dekat dari kampus, mungkin aku juga akan tertarik untuk tinggal di sini. Sayangnya aku tidak memiliki kendaraan. Sama saja mempersulit diri jika memilih tempat tinggal baru yang lebih jauh. Dan lucunya, ketika aku hendak pulang, aku bertemu dengan Aro yang sedang duduk di halaman depan rumah, tepat di sebelah kontrakan Seila. “Rumah dia di sini?” bisik Seila yang juga menyadari keberadaan Aro. Dengan cepat aku menggeleng karena aku juga tidak tahu di mana pria itu tinggal. “Itu rumah apa kontrakan?” tanyaku kemudian. “Kayaknya sih rumah,” jawab Seila ragu. Baru saja Seila hendak memutar kunci motornya, Aro memanggil namaku dan berjalan mendekat. ‘Bisa gak sih pura-pura gak liat?’ batinku. “Kamu ngapain di sini?” tanya Aro. “Bantu dia pindahan,” jawabku sambil menunjuk Seila. “Terus sekarang mau pulang?” tanya Aro kemudian. “Kepo banget sih!” sungutku seraya memberikan kode pada Seila untuk segera menyalakan motornya. “Aku juga mau pulang, gak mau bareng sekalian? Kalian pasti capek ‘kan abis bawa barang banyak,” ujar Aro. Meski lelah, menurutku menerima bantuannya juga bukanlah pilihan. “Aku balik sama Seila aja,” tolakku. Seila masih diam dan memperhatikan kami berdua, namun ternyata dia melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan. “Ah, aku lupa! Aku mau ke rumah yang punya kontrakan buat bayar sisa uang muka.” “Sel?” tanyaku tak percaya. “Maaf, Re! Maaf banget!” ujarnya tampak bersungguh-sungguh seraya melajukan motornya ke luar dan memasuki jalan raya. Aku hanya bisa mematung. Bagaimana mungkin dia meninggalkanku dengan cara seperti ini? Benar-benar tidak setia kawan! Kemudian aku melirik Aro, dia masih melihat Seila yang sudah semakin menjauh. Aku mendengus kesal. Kalau begini caranya, aku tidak punya pilihan selain… ojek online. Kuambil ponselku dari dalam tas, lalu membuka aplikasi untuk memesan ojek online. “Kamu mau ngapain?” tanya Aro. “Pesen ojek,” jawabku singkat. Sebelah tangannya langsung menutupi layar ponselku. “Buat apa? Aku bisa anter kok. Kebetulan aku juga mau pulang,” ujarnya. “Enggak, aku mau pulang sendiri aja,” jawabku seraya menepis tangannya dari ponselku dan melanjutkan pemesanan. Dia tak memaksa dan membiarkanku memesan ojek. Beruntung, aku mendapatkan driver yang lokasinya tidak terlalu jauh, sehingga aku tidak perlu menghabiskan waktu lebih panjang bersama Aro. Awalnya kukira ia akan banyak bicara seperti biasanya, tapi ternyata tidak. Hal itu membuatku mulai tidak enak hati, apa kali ini aku keterlaluan? Dua menit kemudian, ojekku datang. Aku langsung menghampiri dan menerima helm dari bapak driver-nya. Aro berjalan pelan di belakang, lalu berdiri di sebelahku. Aku menatapnya bingung, sepertinya pak driver juga. Ia menatapku sebentar, lalu memberikan senyum. Kemudian tangan kanannya merangkul bahuku, dan ia bicara pada Pak Driver. “Jangan ngebut-ngebut ya, Pak! Pastiin pacar saya sampe di rumah dengan selamat, jangan boleh mampir-mampir!” Jelas aku langsung terbelalak tak percaya mendengarnya. Bapak driver yang tampaknya belum terlalu tua itu langsung mengangguk dan tertawa. “Tenang aja, Mas! Saya selalu amanah kok!” jawab bapak itu dengan sangat yakin. ‘Drama macam apa lagi ini?!!’ geramku dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD