Chapter 11

1119 Words
Sepanjang jalan, perasaanku rasanya tak karuan. Ucapan Aro terus terngiang di telingaku. Jika ia mengatakan itu di depan teman seusia kami, tidak masalah. Karena mungkin saja ia tidak ingin aku digoda. Namun untuk perkara kali ini, apa tujuannya mengatakan seperti itu? Aku jadi terus memikirkan dia. Menyebalkan! “Pacarnya pasti sayang banget sama mbaknya,” ujar Pak Driver, saat ini kami sedang berhenti di lampu merah. Ingin rasanya mengelak, namun aku memilih untuk mengakuinya. Toh tidak ada gunanya mempermasalahkan hal itu pada orang yang tidak mengenal kami. “Tadi plat motor saya sampe difoto segala. Apa selama ini selalu begitu, Mbak?” tanyanya lagi. “Hah? Memangnya iya, Pak?” Aku terkejut, aku tidak melihat Aro melakukan itu. “Iya, Mbak. Tapi saya sudah terbiasa sih, demi keamanan. Jaman sekarang banyak orang jahat,” jawabnya. Aku terdiam dan sama sekali tidak menyangka, untuk pertama kalinya aku menerima perlakuan istimewa seperti itu. Memang terlihat sepele, tapi bagiku itu luar biasa. Tanpa kusadari, aku mulai tersenyum dan merasa bahagia. Dan senyum itu dengan cepat kusembunyikan kembali setelah tidak sengaja melihat pantulan wajahku di kaca spion. Tibalah aku di depan kontrakan. Baru saja turun dari motor, ponselku berdering. Bersamaan dengan itu, Pak Driver juga terlihat menahan tawanya. Aku sedikit takut dibuat, namun aku mulai mengerti apa alasannya setelah melihat nama yang muncul di layar ponsel. Karena sudah membayar lewat aplikasi, Pak Driver melanjutkan kembali perjalanannya, dan aku masuk ke dalam rumah sambil menerima panggilan itu. “Halo,” ujarku setelah ponsel menempel di telinga. “Halo, udah sampe?” tanya Aro dari seberang sana. “Udah kok. Baru aja. Kamu mantau GPS-ku apa gimana?” tanyaku kemudian. “Kalo pake GPS, aku gak perlu tanya lagi dong,” jawabnya dengan santai. Aku kembali tersenyum mendengar jawabannya. Kemudian aku mendengar suara klakson mobil. “Kamu lagi di jalan?” “Iya. Kan aku udah bilang kalo mau pulang juga. Kebetulan belum lewat tempatmu, apa kamu mau minta aku mampir?” Ucapannya tidak terdengar serius, lebih tepatnya ia sedang menggodaku. “Dih, ngarep!” jawabku dengan senyuman yang tak bisa kutahan. “Udah matiin dulu telponnya, lagi di jalan kok main hape,” omelku kemudian. “Perhatiannya pacarku,” godanya lagi. “Jangan ngarep deh, ya! Aku bilang gini karena gak mau terjadi apa-apa. Dan karena panggilan terakhir itu aku, bisa-bisa aku juga kena masalah,” ujarku membela diri. Akhirnya ia mengakhiri panggilan—tanpa perlu berdebat panjang. Tepat sebelum menutup pintu, aku menemukan sesuatu tergeletak di dekat pintu gerbang. Aku mendekatinya dan memastikan benda apa itu. Ternyata sebuah minuman penyegar dan masih bersegel. Aku sangat yakin kalau minuman ini bukan milik Seila, karena dari sekian banyak stok minumannya di dalam lemari es, aku belum pernah melihatnya menyimpan minuman ini. Aku kembali ke luar gerbang dan celingukan. Gerbang juga selalu terkunci, kalaupun ada yang membawanya masuk, mungkin saja orang itu melemparnya lewat atas gerbang. Jelas aku tak akan meminumnya. Tanpa pikir panjang, minuman itu langsung kumasukkan ke dalam kotak sampah yang ada di sebelah gerbang—tempat biasanya petugas akan mengambil sampah dari kontrakanku dan rumah sebelah. Penasaran sudah pasti, namun aku tidak memiliki petunjuk. Aku menceritakan semuanya pada Seila, dan ia pun sama. Ia juga tidak tahu apa-apa dan tidak ada yang bisa ia curigai. Aku bisa saja mencurigai Masson, namun tidak ada bukti yang kuat. Dan lagi, tak ada alasan yang baginya untuk melakukan semua itu. *** Hujan kembali turun, padahal aku sudah siap untuk berangkat ke kampus—masih ada waktu 30 menit sebelum masuk. Jika tak kunjung reda, aku harus siap melawan hujan dengan payung kesayanganku. Bersiap dengan kemungkinan terburuk, aku kembali masuk ke kamar untuk mengambil payung. Sayangnya, tidak ada. Aku baru ingat, Seila pernah meminjam dan belum dikembalikan. Sepertinya terbawa ke kontrakannya yang baru. Aku mendengus pelan. Kebetulan jas hujan juga tidak ada—sedikit menggelikan juga kalau harus ke kampus dengan menggunakan jas hujan, apalagi kontrakanku sangat dekat. Kalau menerobos begitu saja… itu juga bukan pilihan yang bagus. Pakaianku bisa basah kuyup karena hujan kali ini lumayan deras. Kubaringkan tubuh di atas ranjang seraya membuka ponsel. Di grup kelas, anak-anak ramai membicarakan hujan dan mengajak untuk bolos bersamaan. Bukan berniat bolos, hanya saja keadaan memang tidak memungkinkan. Kupikir tidak apa terlambat, dosen juga pasti akan mengerti. Tapi ternyata… Tuhan sayang padaku. Baru melihat namanya saja aku sudah tersipu. Astaga! Ini tidak benar. ‘Kamu udah berangkat? Kalo belum mau aku jemput?’ Aro benar-benar seperti malaikat penolong. Sudah beberapa kali ia muncul untuk menyelamatkanku. Dan kali ini aku tidak menolaknya, karena aku benar-benar butuh. ‘Boleh,’ balasku singkat. Aku menarik napas dalam-dalam, berharap emosiku bisa lebih terkontrol. Bisa bahaya kalau dia tahu aku senyam-senyum seperti ini. Tidak membutuhkan waktu lama, aku bisa mendengar suara mobil yang baru saja berhenti di depan gerbang. Dan benar, ia langsung memberi tahu lewat pesan singkat. Aku mengambil jaket berbahan parasut untuk pengganti payung—setidaknya bisa menolong walapun sedikit. “Kamu gak ada payung?” tanyanya ketika aku baru saja masuk ke dalam mobil. Aku menggeleng pelan dan menjawab, “Dipinjem sama Seila dan kayaknya kebawa ke kontrakan yang baru.” Ketika aku sedang menggunakan sabuk pengaman, aku melihat sosok yang cukup kukenal. Ia berjalan dengan santai di bawah hujan, posisinya juga sudah cukup jauh. Aku sedikit tidak percaya melihat penampakan itu. “Liat apa?” tanya Aro. “Oh… itu kayaknya temenku. Dia nekat banget ujan-ujanan, memangnya dia bakal masuk kelas basah-basah?” ujarku bertanya-tanya. “Orang aneh itu, ya?” tebak Aro. Dia bisa langsung mengingat, padahal baru sekali bertemu dengan Masson—tapi tidak tahu juga jika ia pernah bertemu di lain tempat. “Iya, makin lama makin mencurigakan,” gumamku. Aro mulai melajukan mobilnya dan melewati Masson. Aku tidak tahu harus memandangnya aneh atau kasihan, tidak mungkin juga menawarkan tumpangan karena ini bukan mobilku. Sungguh manusia yang unik, limited edition. Dalam waktu 7 menit saja, kami sudah sampai di kampus. Sayangnya parkiran basement sudah penuh, terpakssa menggunakan pelataran parkir yang ada di ruang terbuka. Hari hujan seperti ini, jumlah mahasiswa yang membawa mobil bisa meningkat 3 kali lipat. “Aku turun duluan, kamu tunggu di sini dulu!” ujarnya seraya melepas sabuk pengaman dan mengambil payung dari dalam tasnya. Dalam sekejap, ia sudah keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu penumpang—tempat aku saat ini sedang duduk. Dengan lembut ia membukakan pintu, dan mendekatkan payungnya. “Ayo!” ajaknya kemudian. Sesaat aku membeku sambil menatapnya, aku tidak yakin kalau ini adalah kenyataan. “Kebiasaan deh, kebanyakan bengong,” tegurnya. Aku langsung tersadar dan menjadi gugup. “Ah, itu… iya, maaf. Kamu duluan aja! Aku bisa lari dari sini,” ujarku terbata. “Jangan malu-malu! Mana tega aku biarin kamu kebasahan. Ayo, masuk!” ajaknya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD