Chapter 03

1158 Words
Keesokan harinya, aku pergi ke kampus seperti biasa. Beruntung aku tidak memiliki jadwal pagi, sehingga aku masih punya waktu untuk begadang dan menyelesaikan cerita-cerita khayalanku. Ya, aku adalah seorang penulis kecil. Namun jangan samakan dengan penulis besar yang sudah mencetak banyak buku, aku hanyalah seorang anak perempuan yang berusaha mengembangkan ide serta khayalan yang terus berputar dalam pikiranku. Biasanya hasil tulisanku kukirimkan ke platform-platform kepenulisan.   Kejutan kembali aku dapatkan, Aro berdiri tegak di depan pintu gerbang kontrakan. Ia menggunakan kaus putih dan jins biru terang. Sangat sederhana, tapi begitu bagus ketika ia yang menggunakan. Oke, aku kembali salah fokus, seharusnya aku menanyakan alasannya ada di sini, bukan mengomentari penampilannya.   "Kamu ngapain di sini?" tanyaku.   "Pagi, Rea!" Tentu saja dia sedang menyindirku yang tak memberinya salam. Sialan!   "Udah siang! Ngapain kamu di sini?" Kuulang kembali pertanyaan yang belum terjawab.   "Masih jam sepuluh, jadi ini masih pagi." Ia masih belum menjawab pertanyaanku.   "Terserah!" sahutku kesal seraya mengunci pintu gerbang dan berjalan ke arah kampus. Ia turut berjalan di belakangku, hal itu membuatku risih.   Aku berhenti dan membentaknya, "Kamu ngapain sih? Pergi sana!"   "Kan, aku juga mau ke kampus," jawabnya dengan santai seraya mendekat dan berdiri di sebelahku.   "Maumu sebenernya apa? Aku gak suka kamu ikutin gak jelas kaya gini!" Akhirnya aku berani untuk mengungkapkan rasa kesalku secara langsung.   "Aku mau kamu jadi pacarku, itu aja."   "Gak jelas!"   "Aku serius. Aku mau kamu jadi pacarku." Ia mengulang kembali ucapannya seperti yang aku lakukan tadi.   "Gak ngerti lagi deh, ya! Gimana ceritanya kita bisa pacaran, bahkan kita kenalan juga belum. Iya, kan?" Ia mengangguk pelan, lalu memberikan tangan kanannya.   "Apa?" tanyaku lagi.   "Ayo kenalan! Namaku Alvaro Dominic dari jurusan Sastra Inggris. Namamu siapa?"   'Anak ini makin gak jelas aja!' umpatku dalam hati.   "Hei, kok diem aja? Katanya mau kenalan."   "Gak jelas!" Akhirnya u*****n pun keluar dari mulutku.   Aku mengabaikannya, namun sepertinya bukan Aro jika tidak menahanku. Bahkan sejak pertemuan pertama, ia selalu saja menarik tanganku yang hendak meninggalkan dirinya.   "Ayo kenalan!" ujarnya dengan mengulurkan tangan sekali lagi.   "Andrea Selena," jawabku singkat sambil membalas jabat tangannya.   "Namanya cantik, kaya orangnya."   'Oke, dia pasti playboy! Dia gampang banget deketin cewek dan muji kaya gini. Fix, dia cowok gak beres!' batinku.   "Lepasin!" pintaku lagi, sebab tanganku masih terus ia pegang.   "Gak mau," jawabnya dengan santai seperti biasa.   Tak memberikan kesempatan untuk lepas dari tangannya, kini giliran tangan kirinya yang memegang tanganku dan menarikku untuk mengimbangi langkahnya.   "Heh! Apa-apaan?"   "Kamu pacarku. Kan, kita udah kenalan."   "Lepasin! Kamu makin lama makin bikin takut, tau gak!"   Langkahnya pun terhenti. Ia memang melepaskan tanganku, namun kedua tangannya kini memegang bahuku dan menatap mataku lekat. Meski takut, namun aku memberanikan diri untuk menatap balik mata laki-laki aneh ini.   "Jangan takut! Aku cuma mau jadi pacarmu dan jagain kamu. Sepulang kuliah nanti, kamu ada janji, gak?" Suaranya terdengar begitu lembut dan menenangkan.   Aku tak menjawab pertanyaannya lewat kata-kata, melainkan hanya gelengan kepala. Kurasa itu saja sudah cukup.   "Aku jemput jam 5, ya! Kita pergi ke kafe, terserah kafe mana aja, kamu yang pilih. Biar kamu percaya kalo aku bukan orang jahat," ujarnya seraya tersenyum.   ***   Aku menyetujui ajakannya. Usai mandi dan bersiap–tak lupa juga polesan make up tipis, aku mengintip ke luar gerbang. Tak disangka di depan sudah terparkir sebuah mobil putih dengan atap terbuka–juga pengemudinya sedang duduk di balik stir dengan ketampanan yang makin meningkat seribu persen. Nyaliku menciut, bagaimana mungkin orang kaya seperti Aro bisa mengajakku berpacaran semudah itu? Semua ini pasti hanya permainannya saja.   Dengan ekspresi kesal aku keluar dari pintu gerbang yang tak lupa kututup kembali. Aro turun dari mobilnya dan menghampiriku. Ia menggunakan hoody hitam dan jins biru gelap, dan satu lagi yang tak pernah terlupakan; ia tersenyum menyambutku.   "Udah siap?" tanyanya.   "Jangan ganggu aku lagi!" ujarku padanya.   "Hei, kita bahkan belum obrolin apa-apa."   "Gak ada yang perlu diobrolin. Aku gak mau," jawabku yakin.   "Kenapa? Apa karena mobilku?"   Sepertinya dia sudah sering ditolak karena mobilnya, sehingga ia bisa menebak pikiranku semudah itu.   "Jelasin apa tujuanmu deketin aku selama ini! Kamu cuma mau jadiin aku mainanmu aja, kan?" tandasku.   Sebenarnya aku merasa ini terlalu jahat, namun semuanya terasa begitu aneh. Aku tidak ingin terjerat hal yang tidak-tidak, meskipun aku belum tahu apa motifnya.   "Sesuai janji tadi pagi, kita pergi ke kafe dan aku bakal ceritain semuanya."   Ternyata Aro masih bersikeras untuk mengajakku pergi. Bagaimana aku tahu kalau ia menepati janjinya? Bagaimana kalau ia berencana menculikku? Lompat dari mobil yang sedang melaju itu sangat berbahaya, aku tidak ingin membahayakan diriku sendiri.   "Ayo masuk!" ajakku.   Akhirnya kuputuskan untuk berbicara di kontrakanku saja. Aku mengajaknya masuk dan duduk di ruang tamu. Meski aku belum tahu tujuannya padaku baik atau tidak, namun aku tetap menghidangkan sekaleng minuman bersoda yang baru kukeluarkan dari dalam kulkas.   "Maaf, cuma punya ini," ujarku seraya meletakkan minuman itu dan duduk dengan memberikan sedikit jarak darinya.   "Gak masalah, setidaknya kamu masih mau ngobrol sama aku. Itu lebih dari cukup." Ia tersenyum lagi, namun cukup samar.   "Jadi, kamu mau cerita apa?" tanyaku langsung pada pokok pembicaraan.   "Gak ada alasan khusus. Mungkin udah satu semester aku merhatiin kamu dan baru sekarang aku berani ungkapin itu," jawabnya dengan mantap.   "Kayaknya gak ada peraturan yang tertulis yang mewajibkan aku untuk nerima kamu, iya kan?"   "Iya, tapi aku gak mau ditolak."   "Heh?" Alisku bertaut mendengar ucapannya, benar-benar tipikal anak manja yang semua keinginannya selalu terpenuhi. Dia pikir aku ini pembantunya?   "Re, aku tau kamu beberapa kali jadi sasaran cowok-cowok nakal. Kamu gak nyaman dengan mereka yang maksa ngajak makan siang bareng, jalan bareng, bahkan… tidur bareng."   Mendengar itu, aku menjadi gemetar. "Gimana kamu bisa tau?"   "Kamu cukup populer di angkatan kita, bahkan aku yang dari fakultas lain pun bisa tau kamu."   "Tapi… aku gak merasa begitu. Bahkan aku gak punya banyak temen," jawabku jujur.   Selama kuliah, aku tak mempunyai banyak teman. Hanya saja, aku memang sering bergabung di kepanitiaan ketika ada acara UKM atau lainnya.   "Gak apa-apa kamu mau cuek atau apa, tujuanku cuma ngelindungin kamu dan mastiin kamu baik-baik aja."   Ucapannya semakin membuatku semakin curiga. "Gak ada orang yang baik tiba-tiba kalo bukan karena maksud tertentu. Terus, kamu mau apa dari aku?"   Padahal sama sekali aku tak menganggap adanya candaan dalam obrolan kali ini, tapi entah mengapa ia tertawa ketika aku menanyakan apa maksud dari sikapnya.   "Selama ini kamu dideketin sama orang yang cuma ada maunya aja, ya? Jadi kamu menyimpulkan kalo tujuanku sebusuk itu."   Datar, namun menusuk begitu dalam–sebab yang ia katakan benar adanya. Apakah ia saat ini sedang berakting? Rasanya sangat sulit untuk bisa mempercayai dirinya yang datang terlalu mendadak.   "Apapun alasanmu, tapi maaf… aku gak bisa nerima kamu, apalagi dengan alasan yang terlalu klasik buatku." Sebisa mungkin aku menolaknya tanpa menimbulkan rasa dendam. Melihat kendaraannya tadi, rasanya sekali saja ia menjentikkan jari, aku bisa sengsara bertahun-tahun.   "Terserah kamu mau anggep kita pacaran atau enggak, aku bakal terus jagain kamu. Aku cuma minta satu syarat aja."   "Apa itu?"   "Jangan pacaran sama siapapun, cuma aku yang boleh jadi pacarmu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD