"Ja—jadi Pia sudah meninggal, Nek?" "Sebulan setelah kepindahannya kesini, Nak." Mendadak kakiku lemas mendengarnya. Masih jelas sekali di pikiranku, ketika Pia menelepon kemarin. "Kalian sempat mendengar suara Pia?" Aku mengangguk. "Kemarin kami sempat teleponan, Nek." "Serius, Nak?" Nenek itu ikut berjongkok di sebelahku. Kami sudah ada di dekat kuburan Pia. Aku menatap gundukan tanah itu, mengembuskan napas pelan. "Iya, Nek. Serius sekali, saya berbicara dengan Pia kemarin, juga Angga." "Ah, ada dua kemungkinannya, Nak." "Apa itu, Nek?" "Nanti saja. Kamu sejak tadi mau berbicara dengan Pia, kan? Silakan. Kamu juga Angga?" Angga mengangguk, dia mengambil posisi jongkok di sebelahku. Sungguh, aku mengira kalau Pia masih hidup. Ternyata, dia sudah— Ah, lalu kemana lagi ka

