9. Kejadian

1994 Words
Alexcio terbangun dari tidurnya, dia langsung bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket.. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Alexcio berjalan keluar dari kamarnya. Dia menuruni tangga untuk ke lantai satu.. "Alisya" panggilnya saat dia sudah ada di lantai bawa.. "Alisya" "Sya, kamu di mana sih?" kesal Alexcio karena sudah beberapa kali dia memanggil Alisya, tapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban.. "Nggak mungkinkan Alisya nekat pulang saat aku tidur tadi?" pikir Alexcio "Alisya" Karena tidak juga melihat Alisya berada di dalam rumahnya. Alexcio pun memilih untuk ke kolam renang saja untuk menemui mamanya yang pastinya berada di sana di jam segini.. "Mah" Panggil Alexcio saat dia sudah berada di kolam renang.. "Alexcio, kamu udah bangun" ucap Delina menutup majalah yang sedang dia baca.. "Iya mah. Alisya mana mah, kok nggak ada pas Alexcio bangun tidur. Terus Alexcio udah nyari Alisya di sekitar rumah tapi kok nggak ada. Alisya nggak pulang ke rumahnya kan mah" ucap Alexcio Delina terdiam, tidak tau harus berkata apa.. "Mama, kok diam aja? Alisya nggak pulang ke rumahnya kan ma? Dia masih di sini kan ma?" tanya Alexcio mulai tak sabaran menanti jawaban yang akan di berikan oleh Delina.. "Alexcio, kamu tenang dulu oke" ucap Delina "Alexcio nggak bisa tenang kalo nggak liat Alisya ada di sini ma, Alexcio takut terjadi apa apa sama Alisya kalo dia nekat pulang ma" ucap Alexcio, tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya pada Alisya.. "Iya mama tau, tapi kamu harus ngerti juga Alisya harus pulang ke rum___" "Jadi mama biarin Alisya pulang ke rumahnya? Kenapa mama biarin Alisya pulang ma? Kalo terjadi sesuatu sama Alisya gimana? Alexcio nggak bisa bayangin jika Alisya bakal ninggalin aku ma. Alexcio nggak mau kehilangan Alisya ma" "Iya mama tau, ka__" "Alexcio pamit ma, Alexcio harus ke rumah Alisya untuk memastikan kalo Alisya baik baik aja sekarang" ucap Alexcio tanpa mau mendengar perkataan Delina lagi.. Alexcio berlari menuju ke kamarnya untuk mengambil jaket, ponsel dan juga kunci motornya. Untuk saat ini dia lebih memilih untuk membawa motor saja, karena dia harus cepat tiba di rumah Alisya.. Setelah mengambil jaket, ponsel dan juga kunci motor, Alexcio dengan terburu buru menuruni tangga... DRT DRT DRT Getaran ponselnya membuat Alexcio memelankan langkah kakinya yang terburu buru... Tante Aulia is calling Melihat nama Ibu Alisya terpampang di layar ponselnya, membuat perasaan Alexcio mulai tak enak.. "Halo tante" ucap Alexcio saat mengangkat panggilan dari Aulia "Lex, A__Alisya ke_Kk__kece_lakaan" Bagai bom yang di ledakan di tubuhnya, jiwa Alexcio terasa melayang di udara.. "Tante bilang ini nggak benarkan? Alisya nggak kecelakaan kan?" tanya Alexcio dengan suara bergetar menahan sesuatu yang bergelojak di tubuhnya.. "Tadi juga tante nggak percaya Lex, tapi Alisya benar benar kecelakaan Lex.." Alexcio yang mendengar perkataan Aulia, tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak mengalir.. Rasa sesak dan sakit terasa di dadanya.. Dia tidak menyangka yang dia takutkan terjadi. Alisya mengalami kecelakaan dan dia tidak tau bagaimana keadaan Alisya sekarang.. "Aku segera ke sana sekarang tante, tante kirim alamat rumah sakitnya.. Setelah mematikan sambungan telfonnya Alexcio langsung berlari keluar menuju motornya terparkir.. Ting Deringan ponselnya pertanda satu pesan masuk membuat Alexcio terburu buru melihat pesan yang masuk.. Setelah melihat pesan masuk yang merupakan alamat rumah sakit Alisya di bawa, Alexcio langsung menyalakan motornya dan membawa motornya dengan kecepatan di atas rata rata tanpa memperdulikan keadaan jalan yang ramai. Bahkan pengemudi pengemudi yang mengumpatinya karena seenaknya menyalib motornya tidak di perdulikan oleh Alexcio, dia mengganggap semua itu hanya angin lalu saja. Yang menjadi fokusnya sekarang adalah dia harus secepatnya sampai di rumah sakit... *** Alexcio telah sampai di rumah sakit, dia dengan cepat berjalan menuju ruang operasi. Sesampainya Alexcio di sana, dia melihat kedua orang tua Alisya yang sedang menunggu dengan perasaan cemas karena melihat sesekali para perawat bolak balik masuk ke ruang operasi dengan membawa alat alat yang entah itu apa, dan juga kantong cairan infus dan kantong darah.. "Tante, Om" ucap Alexcio menghampiri kedua orangtua Alisya, dengan raut wajah yang tidak bisa di sembunyikan jika dia sedang ketakutan sekarang. Dia takut jika ini akan menjadi akhir darinya dan Alisya.. "Alexcio" Aulia menghampiri Alexcio dan segera memeluk Alexcio. Herman yang melihat istrinya yang sedang memeluk Alexcio serta mengusap ngusap punggung Alexcio hanya membiarkan saja. Karena Herman tau istrinya itu sedang membuat Alexcio tenang. Walau pun dia tau istrinya itu juga sedang cemas seperti dirinya saat mengetahui putrinya masuk ke rumah sakit dengan keadaan mengenaskan karena kepala Alisya di penuhi oleh darah.. Aulia melepaskan pelukannya dan menatap Alexcio yang ternyata menangis dalam diam saat dia memeluk Alexcio.. "Alisya pasti selamat" ucap Aulia penuh keyakinan. Dia tidak henti hentinya berdoa di dalam hati untuk keselamatan anaknya yang sedang melawan maut di dalam.. Alexcio hanya mengganggukkan kepalanya pertanda iya.. *** Tiga jam berlalu belum ada tanda tanda dokter akan keluar dari ruangan bernuansa putih itu.. Rasa cemas semakin di rasakan oleh Alexcio, Herman, dan Aulia. Saat ada perawat yang sesekali keluar untuk mengambil keperluan di dalam ruangan tersebut. Saat di tanyakan mereka hanya berkata bahwa dokter sedang berusaha semampu mungkin di dalam.. Alexcio yang sedari tadi bersandar di dinding dengan air mata yang terus mengalir mendudukan dirinya di lantai.. Rasa sesak di dadanya membuat dirinya tersiksa. Rasanya sakit sekali, dia tidak bisa membayangkan jika Alisya meninggalkannya, apa jadinya dirinya tanpa Alisya di sampingnya.. Mungkin kalo dulu waktu Alisya belum masuk ke kehidupannya Alexcio, kehidupannya akan baik baik saja. Tapi kalo sekarang itu sangat tidak mungkin, dia tidak bisa. Dan dia tak akan pernah bisa hidup tanpa seorang Alisya Angelia Dermawan.. Sreet Suara pintu terbuka membuat ke tiga orang yang sedang menunggu langsung menghampiri dokter tersebut.. "Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Herman "Dok, anak saya nggak papakan?" tanya Aulia "Dok Alisya selamatkan?" tanya Alexcio Dokter tersebut yang di berondong pertanyaan mulai menjelaskan keadaan Alisya "Pasien mengalami benturan keras di kepalanya, terutama di bagian belakang kepalanya. Pasien tadi sempat koma tapi sekarang dia sadar walau dengan keadaan sangat lemah.. Pasien meminta untuk bertemu dengan kedua orangtuanya dan juga Alexcio. Apakah kalian bertiga yang di maksud oleh pasien?" "Iya dok" "Kalian boleh melihat keadaan pasien di dalam, tapi hanya 2 orang yang boleh masuk terlebih dulu dan setelah itu baru bergantian" Alexcio, Herman,dan Aulia saling menatap satu sama lain.. "Tante dan Om bisa duluan aja, Alexcio bisa nunggu kok"ucap Alexcio dengan suara seraknya karena sedari tadi menangis.. Herman dan Aulia mengganggukan kepalanya, mereka masuk ke dalam ruang UGD tersebut.. Suara alat pendeteksi jantung terdengar saat mereka berdua telah berada di dalam ruang UGD. Tampak Alisya yang menutup matanya dengan alat bantu pernafasan yang terpasang di tubuhnya. Herman dan Aulia yang melihat kondisi anak mereka yang sangat memprihatinkan meneteskan air mata mereka.. "Alisya, ini Mommy sama Daddy" panggil Aulia saat mereka sudah berada di dekat brangkar Alisya terbaring lemah dengan alat alat yang menempel di tubuhnya serta perban yang menutupi kepala Alisya "Mom, Dad" Alisya membuka matanya perlahan dan menatap kedua orangtuanya dengan senyum lemah.. "Maafin Alisya belum bisa jadi anak yang baik buat mommy sama daddy, maaf Alisya suka nyusain mommy sama daddy" ucap Alisya lirih.. "Udah sayang, kamu nggak salah kamu jangan minta maaf kayak gini, kamu kayak mau pergi selamanya dari mommy sama daddy aja, bicara kayak gitu" ucap Herman membuka suara.. Alisya kembali tersenyum kecil. "Mommy sama Daddy janji ya sama Alisya, kalo Alisya pergi, Mommy sama Daddy harus selalu bahagia" "Alisya jangan bicara kayak gitu nak, kamu pasti sembuh ok" ucap Aulia meyakinkan anaknya "Alisya udah nggak bisa nahan lagi mom, dad. Rasanya sakit banget" "Alisya kamu harus yakin sayang, kamu pasti kuat oke, kamu pasti sembuh"ucap Aulia menyemangati anaknya yang terlihat sudah pasrah dengan hidupnya "Sya, kamu harus kuat. Kamu nggak lupakan sama Alexcio? Kamu harus kuat. Daddy tau anak daddy pasti kuat" ucap Herman Alisya memberikan senyuman kepada kedua orangtuanya.. "Mom, Dad. Alisya udah nggak kuat, mommy sama daddy janji ya kalo Alisya pergi, bakal selalu ada buat Alexcio selama dia terpuruk. Alisya minta tolong sama mommy sama daddy untuk buat Alexcio kembali seperti dulu sebelum ketemu sama Alisya. Alisya udah nggak kuat mom, dad. Tolong relain Alisya pergi" *** Herman dan Aulia keluar dari ruangan Alisya dengan raut wajah tidak terbaca oleh Alexcio.. "Tante, Om. Gimana keadaan Alisya?" tanya Alexcio penasaran "Kamu masuk aja ke dalam nak, Alisya pengen ketemu sama kamu" ucap Aulia "Iya Tante" Saat Alexcio akan berjalan memasuki ruangan UGD itu, Herman menahannya "Manfaatkan waktu kamu sama Alisya selama di dalam" ucap Herman yang membuat Alexcio binggung dengan maksud perkataan Herman "Iya Om" Alexcio mengiyakan saja walau pun dia tidak tau pasti apa maksud perkataan Herman.. Alexcio berjalan masuk ke dalam ruangan bernuansa putih itu dan mendapatkan seseorang yang sangat di cintainya terbaring lemah di atas brangkar dengan alat bantu pernafasan.. "Sya" panggil Alexcio saat sudah di dekat brangkar Alisya "Alexcio" senyum Alisya terbit saat melihat Alexcio yang sudah duduk di dekatnya "Iya ini aku Sya" ucap Alexcio, dia mengambil tangan Alisya dan memposisikan sebelah tangan Alisya di pipinya.. "Maaf udah buat kamu nangis"ucap Alisya, karena melihat air mata keluar dari kedua pasang mata Alexcio "Kalo kamu nggak mau aku nangis, kamu harus cepat sembuh, ok?" ucap Alexcio Alisya hanya tersenyum tidak membalas perkataan Alexcio "Maaf aku udah nggak dengar kata kata kamu tadi saat di rumah kamu" "Udah nggak papa, yang penting kamu cepat sembuh ya" ucap Alexcio dengan suara tertahan, dia berusaha keras menahan isak tangis yang akan keluar.. Alisya menatap Alexcio dengan lekat "Sayang" ucap Alisya "Iya" "Kalo ini menjadi terakhir kalinya aku bisa liat kamu. Aku minta kamu jalani kehidupan kamu dengan baik ya, walau aku udah nggak ada"ucap Alisya yang membuat Alexcio langsung protes "Kamu ngomong apaan sih Sya, Aku yakin kamu bakal sembuh. Please jangan ngomong kayak gitu, jangan buat aku takut Sya"ucap Alexcio dengan raut wajah ketakutan, bahkan airmatanya terus menetes "Kamu harus cari orang yang bisa membahagiakan kamu, saat aku nggak ada" bukannya membalas ucapan Alexcio, Alisya lebih memilih melanjutkan perkataannya yang terjeda karena Alexcio yang langsung memprotes "Sya, aku mohon bertahan demi orangtua kamu dan juga aku, sya. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu Sya, aku nggak bisa gantiin kamu sama yang lain" "Aku akan selalu menyayangi dan mencintai kami Lex, kamu bahagia terus walau nggak ada aku ya" "NGGAK! NGGAK! AKU NGGAK MAU KAMU PERGI SYA, AKU NGGAK MAU" Pecah sudah tangisan Alexcio,mendengar perkataan Alisya yang membuat hatinya terasa remuk "Maaf Lex, aku nggak bisa jadi pacar yang baik buat kamu. Semoga kamu bisa dapat pengganti aku yang lebih dari segalanya dari aku" "NGGAK SYA! NGGAK, AKU NGGAK MAU" "Terima kasih untuk semuanya Lex, maaf aku nggak bisa bersama kamu lagi" ucap Alisya "Sya, aku mohon jangan ninggalin aku Sya. Jangan, aku mohon jangan" isak Alexcio "I love you Alexcio Aditama, Possessive Princenya Alisya. Aku mohon relain aku pergi" ucap Alisya dan mulai menutup matanya, bersamaan dengan itu kotak persegi pendeteksi jantung Alisya berbunyi dengan nyaring menunjukkan garis lurus di layarnya pertanda kinerja jantung Alisya telah berhenti.. Sebulir airmata mengalir membasahi wajah Alisya. "NGGAK ALISYA! NGGAK! PLEASE OPEN YOUR EYES, SYA. JANGAN PERGI SYA, JANGAN TINGGALIN AKU" "SYA, BANGUN SYA, BANGUN. AKU NGGAK MAU KEHILANGAN KAMU SYA" "ALISYA, KAMU CUMA BERCANDA KAN, KAMU NGGAK MUNGKINKAN NINGGALIN AKU" "SYA BANGUN, BANGUN SYA. JANGAN TINGGALIN AKU SYA, AKU NGGAK MAU SYA" Alexcio menguncang guncang tubuh Alisya yang sudah tidak berdaya.. Dokter dan para perawat yang baru masuk langsung menahan Alexcio yang kelihatan begitu kacau.. "LEPASIN GUE, LEPAS" "SYA, BANGUN SYA. TUNJUKIN SAMA MEREKA KALO KAMU HIDUP SYA" "GUE BILANG LEPASIN b******k" umpat Alexcio pada beberapa perawat pria yang mencoba menahannya.. Tidak seperti Alexcio yang nampak kacau, Herman dan Aulia hanya bisa berpelukan dan menangis dalam diam, saat melihat dokter mulai mencabut alat alat yang terpasang di tubuh Alisya.. "Dokter, tolong jangan lepasin alat alat yang menempel di tubuh Alisya dokter, Alisya masih hidup dok, dia nggak mungkin gue" pinta Alexcio pada dokter yang sedang mencabut alat alat yang menempel di tubuh Alisya "Maaf nak, tapi sudah tidak ada gunanya lagi pasien menggunakan semua alat alat ini karena pasien telah tiada" ucap dokter "TIIIIIDDDDDDDAAAAAAAAAAAK"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD