Persiapan Pernikahan

1924 Words
Teruntuk Umma juga Papa yang semoga selalu dalam lindungan Allah ta’ala, terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang tak terhingga. Terima kasih atas didikan kalian yang begitu membekas hingga membentuk jati diri adinda. Maaf bila selama ini Rumaysha belum bisa buat Umma dan Papa bangga. Tidak ada yang berubah, sekalipun status Rumaysha bukan lagi seorang putri melainkan seorang istri. Rasa sayang Rumaysha pada Umma dan Papa tidak akan berkurang sedikitpun. Kalian akan tetap jadi prioritas di hidup Rumaysha. Dan teruntuk Abang, terima kasih atas kenangan masa kecil yang begitu manis dan berharga. Rumaysha kalian. ***** “Aku gak tau harus respon gimana, kamu ngasih kabarnya dadakan banget,” kata Qia jujur. Dia benar-benar tidak percaya ketika Rumaysha menunjukkan foto undangannya. Dia ingat betul, Ardan itu kakak kelas mereka sewaktu SMA. Teman Zayn juga, ‘kan? Rumaysha bilang mereka mempersiapkan semuanya dalam waktu seminggu. Itu artinya lamarannya satu minggu yang lalu. “Aku aja gak percaya kalau dalam waktu dekat ini aku bakal jadi istri orang. Maaf bukan gak mau ngabarin, tapi aku sendiri aja bingung,” kata Rumaysha. Dia doang memang yang H-1 acara pernikahannya masih asyik berkeliaran. “Tapi kamu ada rasa gak sih sama dia?” Oke, Qia mulai kepo. Ya mau bagaimana lagi, dapat kabar seperti ini sukses membuat dia terkejut. Keduanya tengah mampir di sebuah kedai bakso langganan mereka yang letaknya tidak jauh dari Masjid Alumni IPB dekat Botani Square. “Kenapa nanya gitu?” Qia menyengir. “Iya juga, ya. Oke deh ganti pertanyaan. Jadi pernikahan kalian enggak dibuat pesta gitu?” Rumaysha mengangguk. Meskipun begitu, dia tetap menyediakan souvenir berupa buku dzikir pagi petang dan buku saku untuk pernikahannya nanti. Dia juga tetap dirias dan mengenakan gaun. Rumah mereka pun akan diberi dekorasi simpel. Namun, acara ini hanya untuk keluarga besar saja. Termasuk Qia sahabatnya. “Di mana acaranya?” tanya Qia. “Umma penginnya di rumah, mau masak-masak gitu sama keluarga besar. Tante Nara juga ngusulin gitu,” jawab Rumaysha sedikit membeberkan terkait acara pernikahannya. Sungguh, berada dalam masa pingit seperti ini rasanya super duper campur aduk. Dia sempat merasa goyah, takut, dan ragu. Namun, syukurnya keyakinannya kembali tumbuh. Melihat Rumaysha yang tampak seperti tertekan, akhirnya Maika mengizinkan gadis itu untuk pergi kajian dan main bersama Qia. Paling tidak Rumaysha harus rebih rileks menikmati sisa-sisa masa lajangnya. “Deg-degan gak?” tanya Qia. “Banget. Aku kalau satu ruangan sama dia rasanya sesek napas. Jantung aku berasa mau lompat kali,” jawab Rumaysha. “Kamu mah asma kali!” Rumaysha menatap datar ke arah orang yang hampir tiga tahun menjadi sahabatnya saat mendengar respons itu. Coba kalau ini Maika, mungkin dia sudah ngegas. Dibandingkan dengan semua anak Maika, Rumaysha memang yang paling kalem. Kalau Zayn versi Maika dalam bentuk dua tingkat lebih tengil dan sangat jauh dari kata kalem. Kemudian ada si bocil Aysar merupakan bentuk kuadrat dari Zayn. Hanya orang-orang sabar yang mampu menghadapi kerandomannya. Walaupun tengil begitu, insyaallah dia adalah seorang Hafiz. Bulan ini dia berhasil menyetorkan lima surat pada Rafan. “Eh, May, coba telepon Aysar boleh enggak?” “Boleh atuh. Bentar, ya.” Rumaysha menelepon ummanya. Senyumnya melebar kala melihat Maika mengarahkan ponselnya ke arah Aysar yang sesenggukan. “Dede kenapa?” tanya Rumaysha. Aysar tidak menggubris ucapan Rumaysha. “Ngambek dia, katanya ikan cupangnya gak boleh dimasukin ke air. Harus tidur sama dia,” kata Maika memberi informasi. “Gak bisa dong, ikan ‘kan hidupnya di air. Kalau di darat nanti mati, Dede.” Rumaysha mencoba memberi pemahaman pada Aysar. “Ma mau!” kata Aysar kekeuh. “Eh anak baik gak boleh marah-marah.” Aysar menghapus air matanya. Dia mengambil ponsel yang ada di tangan Maika. “Dede puna mobil!”Aysar menyombongkan mobil baru yang dia dapat dari Ardan. Di hadapan Zayn, dia terus-terusan bolak balik sambil membawa kardus mobilnya hanya demi di-notice oleh Zayn. “Wah iya bagus, dibeliin siapa?”tanya Rumaysha. Diam-diam Qia menyimak pembicaraan antara Rumaysha dan Aysar. “Dali abang danteng, Abang Zayn mah jole.” Jawaban Aysar membuat Zayn yang tengah membantu mendekorasi jadi ikutan menyahut “Zayn, Umma titip dulu. Mau ngecek masakan,” pinta Maika. “Iya, Umma,” jawab Zayn. Selepas Maika pergi, Zayn menangkap Aysar. “Gue give away-in juga ni tucil,” sahut Zayn membuat kening Rumaysha berkerut heran. “Tucil teh apaan, Bang?’ “Tuyul kecil,” jawab Zayn memelankan suaranya karena takut didengar Maika. “Parah banget! Gitu-gitu dia adik Abang juga,” peringat Rumaysha. Zayn, sih, cuek aja, yang penting Rumaysha diam, maka semua selesai. “Balik, May, noh rumah udah mulai dihias,” titah Zayn. “Iya ini mau, tolong jemput aku di pos atuh. Males jalan,” pinta Rumaysha yang diiyakan Zayn. Sambungan telepon pun terputus. Rumaysha menatap ponselnya yang menunjukkan angka dua. Dia beralih menatap Qia. “Kamu datang enggak nantinya?” tanya Rumaysha. “Insyaaallah aku pastiin datang, tapi mungkin telat atau bisa jadi pas paginya. Soalnya aku kalau Jumat kerja,” jawab Qia. Oh iya sekedar informasi, dia melanjutkan profesi ayahnya sebagai cleaning service atau bisa disebut office girl. Harusnya, sih, dia kuliah, tetapi kedua adiknya sangat butuh biaya. Oleh karena itu, dia lebih memilih turut jadi tulang punggung keluarga. “Yang penting kamu harus jaga kesehatan. Jangan abai sama kesehatan sendiri. Doa dari kamu aja udah cukup pokoknya,” ucap Rumaysha. Qia menatap Rumaysha dengan tatapan penuh rasa bersalah. “Sekali lagi maaf, ya, May.” Rumaysha tersenyum. “Iya, Qia, gak apa. Udah gak perlu ngerasa bersalah. Yuk pulang!” Qia memutuskan untuk membayar pesanan baksonya juga Rumaysha. “Makasih banyak, Qia, jazaakillaahu khayr,” ucap Rumaysha. “Iya santai aja sih.” Keduanya menaiki angkot yang sama karena searah. Di sepanjang jalan, Rumaysha yang biasanya agak bawel jadi sedikit pendiam. Otaknya sibuk memikirkan soal bagaimana ketika dia sudah menikah dengan Ardan nanti. Rasanya begitu gugup. Apalagi, kabarnya mereka berdua akan tinggal di rumah mamanya Ardan. Mamanya Ardan tinggal bersama suaminya. Oleh karena itu, daripada rumah kosong, Ardan memilih tinggal di sana bersama Rumaysha nantinya. “Aku duluan, ya. Fii amanillaah!” Qia turun lebih dulu dari Rumaysha. “Ma’as salamah, Qia!” jawab Rumaysha. Rumaysha membuka ponselnya dan melihat kontak Ardan. Gadis itu penasaran untuk melihat last seen laki-laki itu di WhatssApp. Jantungnya berdetak cepat saat mendapati Ardan tengah online. Buru-buru dia menekan tombol home. Saking asyik dengan ponselnya Rumaysha tidak sadar dia sudah sampai di rumah. Jika Zayn tidak menghentikan angkot itu, mungkin dia akan bablas. “Kebiasaan lo, kalau udah main HP lupa segalanya,” omel Zayn membuat Rumaysha meringis. Dia mencium punggung tangan abangnya. “Maaf, Abang.” Zayn tersenyum seraya menatap teduh ke arah adiknya. Waktu berjalan begitu cepat. Adiknya sudah dewasa. “Gak nyangka aing teh, lo mau jadi istri orang aja,” kata Zayn seraya menguyel-nguyel pipi chubby Rumaysha. Ini kebiasaannya ketika mereka berdua masih kecil. Namun, sejak SMP Zayn tidak melakukannya lagi. Hal itu karena Rumaysha selalu marah-marah kalau diuyel-uyel. “Abang, maaf kalau Umay banyak salah sama Abang.” Zayn terkekeh. Ck! Dia jadi ikutan melow begini. “Iya maaf juga gue sering nistain lo, tapi lo harus percaya semenyebalkan apa pun gue, gue tetap sayang sama saudari gue ini. Gue gak bakal diem aja kalau ada yang buat lo nangis, bahkan Ardan sekalipun. Gak hanya ke lo, sama Asar Magrib Isya aja aing sayang. Eh iya, tadi aing pas mau berangkat, Asar pengen ikut, tau gak lo? Gue ditimpuk mainan barunya, noh lihat,” cerocos Zayn sambil menunjukkan keningnya yang jadi korban ke bar-baran Aysar. “Makanya Abang jangan gangguin juga. Eh di rumah ramai bukan?” tanya Rumaysha yang mendapat angggukan dari Zayn. “Ramai parah, sih. Ada Enin, Oma, Opa, Tante Nara, Om Rival, Papa, Eval, Uyut Nini sama Aki. Banyak deuh big family. Ateu Jihan sama Ateu Zahira juga ada. Eh iya si Aysar, nangisin anaknya Ateu Jihan. Bener-bener emang tuh bocah, subhanallah pisun!” Rumaysha tertawa. Tanpa dijelaskan pun dia sudah begitu hafal dengan tabiat si bungsu yang tengil, tetapi lucu. Mau memarahi pun tidak tega. “Ya udahlah, yuk, gak baik calon manten kelamaan di luar.” Rumaysha menaiki motor Zayn. Hanya butuh kurang dari sepuluh menit, keduanya sudah sampai. Ada banyak kendaraan terparkir di sana yang menandakan di rumah sederhana Maika sudah ramai dengan kehadiran saudara-saudara mereka. Samar-samar Zayn dan Rumaysha bisa mendengar suara si kecil Aysar. “Umma, dede da mu ayam goleng! Mau na plet ciken!” protes Aysar saat mendapat jatah makannya. “Naon beda atuh Dek? Fried chicken sama ayam goreng,” kata Nara sambil tertawa saat melihat tingkah keponakannya. “Tau tuh, minta dihujat apa gimana?” sambar Zayn sambil menaruh helmnya. Walaupun jaraknya dekat, Zayn selalu memakai helm saat bepergian. Katanya, sih, safety first. “Abang jole!” kesal Aysar. Setelahnya, dia menangis dan membuat Zayn menghela napas. Ini waktu hamil, Umma ngidam apa, sih? Di sisi lain, Maika yang tidak tahu putra bungsunya tengah menangis begitu sibuk mengurusi masakan di dapur bersama beberapa orang pekerja catering Mama Nala. “Ini udah semua, ya? Masak nasi doang yang belum, Wa?” tanya Maika pada salah seorang pegawai catering Mamanya. Saat seserahan kemarin, keluarga Ardan memberi dana untuk acara kecil-kecilan ini. Awalnya Maika dan Rafan menolak. Mereka tidak keberatan untuk mengeluarkan biaya karena ini pernikahan putri tunggal mereka. Namun, atas bujukan Mamanya Ardan, Rafan dan Maika akhirnya menerimanya. Tidak mau menyia-nyiakan, Maika benar-benar membuat jamuan super mewah dan lezat. Dia juga menyiapkan banyak sekali makanan untuk dibagi-bagikan kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin dan orang yang membutuhkan serta menyiapkan masakan khusus untuk keluarga dan besannya. “Yang, lihat deh,” ucap Rafan sambil memangku Aysar. Laki-laki paruh baya itu tertawa melihat Aysar. Tadi dia tengah memantau pemasangan dekorasi. “Ya Allah, meuni kucel pisan. Gantengnya Umma kenapa?” Maika mengambil tisu, membasahinya lalu mengusapkannya ke wajah Aysar. “Da mu ayam goleng, Umma! Dede mu plet ciken!” adu Aysar membuat Rafan semakin tertawa. “Aysar kenapa hari ini rewel banget, Nak? Biasanya juga pinter. Udah puas nangisnya? Sekarang kita makan. Biar Umma suapin, ya?” Aysar mengangguk. Dia minta turun dari gendongan Rafan. Maksudnya hendak mengambil nasi dan ayamnya. Kata Umma tidak boleh buang-buang nasi. “Kenapa lagi, Bro?” tanya Zayn yang tengah membantu Rival mendekorasi. “Nasi Dede mana Blo?” tanya Aysar dengan suara imutnya. “Lah udah Abang makan,” jawab Zayn jujur. Bibir Aysar melengkung ke bawah. Dalam hati Zayn sudah menghitung mundur sambil menutup kupingnya. Hiji ... dua ... tilu .... YAAAK HURU-HARA DIMULAI! batin Zayn. “HUAAA UMMA! NASI NA DIMAKAN ABANG JOLE!” Di dapur, Maika yang tengah mengambilkan nasi untuk Rafan langsung melirik ke arah suaminya itu. Rafan sendiri sudah tertawa. Dia mencoba menenangkan istrinya. “Sabar, ya, Sayang. Nanti aku kasih hadiah special deh,” kata Rafan. “Anak kamu teh pada kenapa, sih?” protes Maika pada Rafan. Rafan tertawa. Hidup menua bersama Maika adalah hal yang begitu membahagiakan. Menikmati setiap proses membesarkan putra-putri mereka. Sampai tiba juga hari di mana dia harus mengalihkan tanggung jawab putrinya pada pria yang sudah berani membayar mahal lewat ikatan suci yang Tuhan ridai. “Rumaysha masih anak aku ‘kan, Yang?” tanya Rafan pelan. Maika tertegun mendengarnya. Dia yang paham dengan kerisauan suaminya langsung mengelus bahu Rafan. Bagaimanapun Rumaysha adalah putri mereka satu-satunya. Terlebih lagi gadis itu sangat dekat dengan Rafan. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana perasaan Rafan saat ini. “Rumaysha masih putri kita. Dia akan selalu jadi Rumayshanya Maika dan Rafan, Kak,” bisik Maika. Rafan menarik napas dan mengusap sudut matanya yang berair.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD