Dengan dibimbing jalan oleh penciuman tajam Jarlen, mereka berhenti di tengah hutan yang hening. Akan tetapi pandangan Sasha yang berpendar mengamati, tidak menemukan jasad manusia di sekitarnya. Apakah aroma di penciuman Jarlen berhenti sampai di titik ini? Lantas Sasha melompat turun dari kuda. Berjalan beberapa meter ke depan dan suara gemerisik terdengar di bawah sepatu bootsnya saat bergesekan dengan daun yang berguguran. Saat ini sedang di pertengahan musim gugur, tapi embusan angin di hutan terasa lebih dingin dari biasanya.
Mata Elf Nellas juga memindai ke lingkungan serba orange ini, tapi tidak melihat keanehan selain suasana sunyi khas hutan. Hutan, ya? pikir Nellas. Nellas berpikir bahwa hutan di mana pun pasti menyimpan sebuah rahasia dari makhluk lain. Naluri Nellas memberat tentang hutan di sini. Bahwa langkah mereka sudah dekat untuk menemukan teman-teman yang menghilang itu. "Sasha, apa yang akan kau lakukan di sini?" tanya suara Nellas dari belakang punggung Sasha.
Kemudian Sasha memutar tubuh dan menghadap ke kelompoknya. Diperhatikannya setiap wajah dari mereka. Tersirat keraguan di benak Sasha ketika mengingat sebagian dari mereka adalah prajurit senior, akankah para prajurit itu bersedia mengikuti perintah dari seorang junior? Sasha tidak berniat melukai harga diri mereka dengan memberinya perintah.
Dina melihat ke dalam mata Sasha, dan segera memahami sesuatu. "Apapun perintahmu, kami akan laksanakan, Sasha." Dina adalah rekan militer Sasha yang setahun lebih dulu bergabung dalam prajurit Kings Manespell. Pembawaannya lebih dewasa membuat Sasha merasa nyaman berteman dengannya.
Lalu Sasha siap memutuskan sebuah perintah. "Berpencarlah setiap dua orang, temukan kejanggalan apapun dan jangan bertindak sendirian!" perintah Sasha bernada tegas. "Jarlen, ikutlah bersama Dina."
Jarlen tampak berat hati melakukan perintah tuannya. Tetapi dia tetap menuruti Sasha. Serigala besar itu berjalan menunduk mengikuti arah Dina pergi.
Semua anggotanya berpencar ke segala arah. Sementara Sasha bersama Nellas masih terdiam memperhatikan dengan tajam lingkungan di sini. "Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Sasha.
"Tidak, belum kutemukan sesuatu yang aneh," jawab Nellas.
Hingga netra berwarna sunset milik Sasha melihat suatu bentuk di permukaan tanah. Saat Sasha dekati, menggeser dedaunan yang menutupinya, dia terpegun menemukan jejak kaki besar.
Ketika itu sudut matanya menangkap bayangan yang melintas cepat tiba-tiba dari belakang, sehingga reflek tubuh Sasha berbalik hanya untuk tidak menemukan seorang pun di sana. Anggotanya belum ada yang kembali. "Apa kau merasakan sesuatu, Nellas?" gumam Sasha. Nellas juga menoleh ke sana-kemari. Tapi yang mereka lihat tidak lebih dari pepohonan saja.
"Sasha! Awas!"
Sedetik cepat itu membuat Sasha terdorong keras dan terjatuh dengan keras. Saat menengok ke belakang, matanya membelalak melihat Nellas berbaring sedang menahan sekuat tenaga dengan anak panahnya dari tekanan palu besar Orc raksasa di atasnya.
Sasha bergegas bangun dan menarik pedangnya. Berniat menyerang Orc raksasa itu, menyelamatkan Nellas dari situasi berbahaya. Gadis itu berlari dengan berani. Lalu diayunkannya pedang pasa musuh. Tapi elakan tangan besar Orc membuat Sasha terpental seketika.
Nellas pun memanfaatkan kesempatan untuk meloloskan diri. Mengambil jarak sedikit lebih jauh. Dia cepat mengarahkan busur panahnya pada musuh. Sejenak dia terdiam ragu. Perkelahian Sasha melawan Orc raksasa itu menimbulkan kepulan debu yang menghalau pandangan Nellas. Nellas harus memastikan dengan benar jalur tembakannya, jika tidak sahabatnya yang berharga akan terluka.
"Nellas! Jangan ragu! Lakukan tugasmu seperti biasanya!" teriak Sasha, seolah tahu keraguan Nellas karena dirinya.
Nellas memantapkan hati. Dia menarik benang busurnya perlahan-lahan. Panah Nellas terlihat sudah dilapisi sihir biru api, menandakan siap dilepaskan. Ujungnya yang tajam berusaha mengunci target dalam jangkauan.
"Kumohon, selamatkan Sasha," lirihnya berdoa. Detik berikutnya anak panah meluncur cepat dan menancap di kepala Big Orc. Seketika serangan Big Orc terhenti, membuat Sasha selamat dari hantaman palu besarnya yang nyaris menghancurkan tempuring kepalanya.
Sasha berjalan mundur. Napasnya terengah-engah. Dia mendekat ke Nellas dan melihat ke sekitar dengan waspada. "Apakah Big Orc itu sudah tewas?" desau Sasha. Big Orc di depan mereka sudah tumbang tak bergerak di tanah.
"Sepertinya begitu." Lalu secara ajaib panah di kepala Big Orc tercabut dengan sendirinya. Melayang mundur dan kembali ke tangan pemilik, Nellas.
Sebuah sapu tangan dikeluarkan Nellas dari saku pakaiannya. Sasha melirik itu dalam diam dan mengenali pembuatan sapu tangan itu dari inisial yang terajut. "Apakah Rose yang membuatnya?" celetuk Sasha.
"Ya." Nellas menjawab singkat sambil mengelap ujung panahnya yang berlumur darah Big Orc.
Sasha tidak bertanya lagi. Dia membuang wajah ke samping lain. Ada ekspresi sendu yang dia sembunyikan dari Nellas.
Di saat mereka sedang lengah, Big Orc di depan mereka mulai bangun seolah bangkit dari kematiannya. Sosok besar itu harusnya menjadi eksistensi terbesar mereka. Sayangnya perhatian dua orang itu belum teralihkan oleh perasaan masing-masing. Empsional terpendam di dalam dad4 Sasha, membuatnya sejenak lupa pada situasi misi. Sementara ketulusan hati Nellas dalam memperlakukan sapu tangan itu, sedang terbayang akan sosok perajutnya yang diam-diam dirindukan.
Namun, yang pertama kali menyadarinya adalah Nellas. Ketika lelaki Elf itu meluruskan pandangan, waktu seakan sudah terlambat. Palu besar sedang terayun kepada mereka, siap meremukan kepala mereka dalam sekali hantaman. Nellas bergerak spontan dengan langsung mendekap Sasha. Mengembalikan lamunan Sasha pada kenyataan. Gadis itu tertegun. Berikutnya, mereka jatuh bersama ke belakang dan berguling-guling menuruni kontur tanah perbukitan.
Ketika mereka berhenti di dasar yang rata, Sasha menyadari dengan napas tercekat bahwa kini Nellas berada di bawah tubuhnya sambil mendekap sangat erat. Mata terbelalak mereka saling bertatapan. Posisi sedekat ini belum pernah Sasha alami bersama Nellas. Alhasil detak jantung Sasha berdegup cepat merespon cara Nellas dalam melindunginya. Berbeda dengan Nellas yang justru masih dilanda panik atas kejadian seperkian detik tadi.
Nellas tiba-tiba tersenyum. Desau leganya tertiup dari celah bibirnya. Napas itu membentur wajah Sasha yang sejengkal jari kelingking dari hidung. "Syukurlah kita selamat," ucap Nellas bersyukur.
Tidak ada respon apapun dari Sasha. Gadis itu tidak berniat beranjak menyingkir dari atas tubuh Nellas. Melainkan hanya terdiam terpaku menatap mata biru Nellas yang memikat, senyuman manisnya yang nyaris meleburkan akal sehat Sasha, dan suara berat Nellas selembut sutera mengalir ke dalam relung benak Sasha. Sasha terpesona lagi dan lagi pada sosok sahabatnya.
"Sasha!"
Seseorang berteriak. Suaranya terdengar dari kejauhan. Membuat dekapan mereka segera memisahkan diri. Baik Sasha maupun Nellas canggung sesaat.
Sasha menoleh ke sumber suara. Salah seorang prajurit bertubuh gemuk berlari tergopoh-gopoh mendekatinya. Benak Sasha langsung didekap ketegangan saat menanyakan. "Apa kau menemukan sesuatu?" Dan prajurit itu berhenti di hadapannya dengan napas terengah-engah lelah. Melihat wajah tembemnya yang menampakan raut gelisah, seakan-akan dia datang hanya membawa berita buruk yang tak pernah Sasha inginkan.
Sambil mengatur napas, prajurit itu melaporkan. "Langsung saja ke intinya---" Sejenak dia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "---kami bertemu dengan sekelompok manusia aneh!"
"Manusia aneh? Apa maksudmu, Bobby?" Sasha membeo bingung.
"Mereka adalah korban gigitan vampir, dan juga, beberapa anggota tim 19 ada di antara mereka yang dipimpin beberapa Orc."
Sasha terbelalak. Sesuai apa yang dia perkirakan setelah menemukan jejak kaki besar di sini.
Ketika itu suara geraman mengalihkan perhatian mereka bertiga. Nellas membulatkan mata, Sasha tercengang, dan Bobby terkejut. Big Orc terlihat sedang berancang-ancang di pinggir jurang. Seolah akan terjun ke bawah. Itu berbahaya.
"Nellas, bisakah kuserahkan Big Orc itu padamu?" ujar Sasha.
"Aku akan menyusul. Kali ini aku akan mencincangnya," balas Nellas sambil mendongak dengan rahang mengeras menatap Big Orc.
Tidak menunggu lagi, Sasha bergegas lari ke arah para prajurit. Dia berlari terburu-buru melewati tanah tidak rata, melompati akar-akar besar pohon yang mencuat ke permukaan, menuruni tanah miring, hingga berhenti terkejut begitu mendapati lima prajurit sedang berjibaku dikepung sekelompok manusia level V.
Sasha tercengang kaget. Matanya terbelalak melihat pemandangan di seberang. Laporan dari Bobby tadi lebih mengerikan saat menyaksikannya langsung. Sasha dapat mengenali wajah-wajah musuh mereka, adalah rekan sendiri, sungguh pemandangan ironis. Menggertakan gigi, Sasha mengepalkan tangan. Lagi, mereka dipaksa harus membunuh teman sendiri yang telah berubah menjadi level V. Adalah sebutan untuk korban vampir. Hanya ada dua kemungkinan, jika bukan tewas dan bangkit tanpa jiwa, dugaan kedua adalah mereka mungkin masih hidup tapi dikendalikan.
Jika berdasarkan jumlah mereka kalah telak, akan tetapi Sasha tidak bisa berdiam diri membiarkan mereka dibantai musuh. Maka dengan gagah Sasha menarik pedang estoc-nya sebelum berlari memasuki medan pertempuran. Diayunkannya tajam pedang estoc, dan daging di depannya terbelah. Darah muncrat seketika ke pipi putih Sasha. Tidak ada keraguan dalam sorot mata Sasha yang dingin saat mengayunkan pedang ke tubuh teman sendiri.
Lalu Sasha berputar, gerakannya terlihat anggun sejenak, hingga estoc-nya menancap ke d**a seorang rekan pria. "Maafkan aku," gumam Sasha dengan hati memberat. Sudah berapa kali hati mereka dipermainkan seperti ini? Lama-lama Sasha muak.
Sesuatu datang dari belakang saat Sasha sibuk meladeni satu Orc. Detik itu juga pergerakan lengan berotot Orc di belakang langsung terhenti ketika anak panah menancapnya dalam. Dia menolehkan kepala dan menatap geram seorang pria bertelinga runcing di atas bebatuan sana, sedang menyeringai miring dengan busur masih terangkat ke arahnya.
Tidak berniat hanya menembak satu kali, Nellas mengambil panah dari tas di punggung dan memosisikannya ke Orc yang sama, memperkirakan jarak dalam sedetik sebelum panah dilepaskan dan meluncur cepat bagai membelah udara tanpa bisa dihentikan. Hingga berakhir tepat sasaran di leher Orc, sebagai titik vital untuk membunuhnya dalam sekali tembakan panah. Dari atas baru besar, Nellas memandang kekacauan di bawah sambil berdecak kesal.
Sedangkan serigala besar Jarlen, menggunakan cakar-cakar tajam dan besarnya, membantu pertempuran rekan satu tim. Melompat ke sana kemari, hingga menggigit kepala Orc di dalam mulut besarnya. Di lain sisi kepala level V melayang tanpa tubuh setelah dipenggal s***s oleh Dina yang kini terengah-engah lelah.
Secara kasat mata mereka tidak bisa memenangkan pertempuran ini, maka sebagai pemimpin ke sepuluh prajurit yang sedang bertarung bersama, Sasha berusaha keras menciptakan timing untuk membuka jalan agar teman-teman prajurit segera mundur dari tempat ini dan kembali ke Madland dengan selamat, sampai ujung tombak s*****a Orc menembus ke dalam perut seorang prajurit secara mengejutkan, dan bayangan tubuhnya terhuyung jatuh ke tanah kotor pun tertangkap netra Sasha. Sambil menahan sekuat tenaga serangan Orc, kelopak mata Sasha tercengang menatap rekannya menjemput kematian di depan mata.
Geram, Sasha menggertakan gigi. Kemudian mengerahkan segenap tenaga mendorong pedangnya hingga membuat Orc sedikit terdorong mundur, dan saat melihat kuda-kuda kaki besar Orc yang memiliki celah, Sasha langsung memusatkan seluruh tenaganya pada kaki sebelum ditendangkan ke tumit Orc yang sontak membuatnya terjengkang, dan pertahanan lawan pun sepenuhnya terbuka sehingga Sasha memanfaatkan hal itu dengan menusuk d**a hitam Orc yang sekasar batu. Orc ke lima tewas di tangannya. Lalu Sasha berlari ke arah rekannya yang baru saja tumbang, berjongkok di tengah pertempuran saat memeriksa keadaan prajurit tersebut. Didapatinya setengah sadar dengan luka di perut terlihat sangat dalam, kecil kemungkinan bisa bertahan hidup sampai ke Madland.
Prajurit itu melirik lemah pada Sasha yang menatap cemas. "Tolong sampaikan pada keluargaku, bahwa aku mati dengan bangga sebagai prajurit Manespell," ucapnya dengan napas yang sulit.
Sasha tidak dapat berbuat apa-apa kepadanya. Dengan lemas tangan prajurit itu terangkat, tampak telapak tangannya telah kotor bercampur tanah dan darah, yang seketika digenggam Sasha erat tanpa peduli jika tangan putihnya akan kotor juga. "Berjanjilah bahwa kau harus mengalahkan mereka semua, Sasha, ketua timku, kau bisa membawa kebebasan untuk manusia."
"Terima kasih John atas segala pengorbananmu, kau prajurit kebanggan kami, rekanku yang berharga, karena aku akan membawa kemenangan untuk manusia." Sasha menjawab serius, bersamaan dengan darah mengalir dari genggaman tangan mereka, seolah perjanjian darah telah dibuat. Padahal sebenarnya kalimat akhir yang dikatakan Sasha dengan perasaan gamang, hanya bualan semata untuk memberi suntikan psikologis di detik-detik terakhir napas rekannya.
Satu lagi seorang prajurit Manespell gugur dalam pertempuran meraih kemenangan manusia. Sebagai rekan sekaligus Ketua Tim, hati Sasha dipeluk kesedihan dalam diam. Sosok John adalah teman yang baik baginya. Dan menyaksikan teman tewas di depan mata adalah konsekuensi yang harus Sasha maupun semua rekan militer lainnya terima. Apalagi keluarga yang ditinggalkan, pasti jauh lebih berduka dibanding teman.
Lantas Sasha bangun perlahan dengan punggung terbungkuk. Dia mendapatkan kekuatannya lagi. Kekuatan dari sebuah ketegaran atas gugurnya seorang teman. Ditatapnya tajam pertempuran mereka dibalik juntaian poni rambut merahnya yang berantakan. Genggaman tangan kanan di pedang Sasha perkuat dengan menyatukan tangan kiri juga pada pegangan pedang. Jika pertempuran ini dibiarkan berlanjut, bisa-bisa mereka tidak dapat pulang ke Madland, setidaknya Sasha tidak mengubah rencana awal. Maka dengan sekali hentakan kaki maju, Sasha sudah menbulatkan tekad, dia mengayunkan pedang estoc-nya pada tubuh-tubuh Level V yang menghalangi jalan, sekilas darah mengalir dari lengan pakaian Sasha saat tergores lawan, sambil diam-diam mengeluarkan bom dari tas pinggangnya. Mengigit kuncinya untuk dilemparkan ke sekumpulan level V di belakang. Dalam sekejap asap menyelimuti mereka.
Baik Sasha maupun teman lain, memanfaatkan bom asap itu untuk melarikan diri. Sasha berlari keluar dari lingkaran pertempuran sengit itu menuju kudanya berada. Lalu memutar tubuh sembari berjalan mundur memastikan anggotanya keluar dari asap satu per satu dan berlari ke kuda masing-masing, barulah dia berlari paling akhir sebelum memacu kudanya meninggalkan lokasi tersebut.
***
Tersentak. Seseorang itu langsung membuka matanya, warna merah menyala di matanya terlihat mencolok di tengah ruang gelap.
"Apakah kau menemukan sesuatu?" Suara lain berasal dari seorang pria yang sedang duduk santai di sofa. Dia menimang gelas berisi cairan merah. Petir menyambar langit malam di luar jendela.
"Ya. Tapi aku butuh memastikannya sekali lagi," balasnya. Saat mereka bicara, taring tajam terlihat mengilat. Iris mata merah dan memiliki taring sedikit panjang adalah ciri khas ras vampir.
"Memangnya apa yang kau lihat?" Vampir bernama Emden di sofa bertanya ingin tahu. Meskipun mereka sesama vampir, kemampuan mereka berbeda sebagaimana mewarisi kekuatan keluarga masing-masing.
"Seorang wanita berambut merah. Hanya dia di kelompoknya yang telah menghabisi kelima Orc."
"Hm, dia wanita yang perkasa," komentar Emden, kemudian menenggak cairan merah yang tak bukan adalah darah ke dalam mulutnya dengan gaya pongah bak seorang penguasa.
"Tapi bukan itu yang mengejutkanku. Adalah saat dia bertarung dengan Level V, aku langsung bisa merasakan kekuatan tak biasa darinya," ujarnya ketika mengendalikan Level V tadi.
"Hm? Kau sendiri yang mengendalikan semua Level V. Tapi kau belum juga paham dengan manusia? Apa maksudmu?" Emden melirik.
"Aku harus bertarung lagi dengannya, lalu keraguan ini akan terjawab!" Dia mengatakan dengan tegas. Serius.
Lalu Emden teringat sesuatu. "Apakah dia adalah wadah itu?" tanyanya terkejut.
"Sudah kubilang, aku tidak yakin."
Emden mendengus. "Pertarungan itu terjadi di mana?"
"Tidak terlalu jauh dari Madland."
"Madland, ya? Ibu kota Manespell. Kita bisa saja membuat kerusuhan di sana, tapi Raja belum memerintahkan kita bergerak di depan manusia." Emden menggumam dengan pikirannya. "Lebih baik kau awasi dekat Madland, kalau dia berasal dari kota itu, tidak lama lagi kau akan bertemu dengan wanita itu lagi."
"Aku tahu."
Sementara di lain tempat. Seekor serigala betina bersembunyi dibalik semak belukar dan pohon rindang. Matanya yang tajam memperhatikan Jarlen lekat-lekat yang sedang berlari menjauhi area ini.
***