SEASON 1 - Atas Segala Rasa

2741 Words
*** Gerbang besar Madland sudah terlihat dekat. Dari barisan kuda paling belakang, Sasha menatap punggung-punggung anggota timnya di atas kuda yang berjalan perlahan. Sepuluh anggota saat berangkat, kini telah berkurang separuhnya. Siapa yang tidak sedih atas kejadian hari ini? Lihat saja punggung mereka yang membungkuk lemas. Termasuk Sasha yang merasa memiliki tanggung-jawab besar di antara orang-orang ini. Terlebih dia tidak bisa membawa pulang jasad mereka yang gugur. Misinya kali ini benar-benar gagal. Sudah kehilangan separuh anggota, dia tidak mendapat informasi apapun mengenai tumpukan mayat manusia yang dilaporkan dalam surat itu, juga tim 19 yang hilang tanpa kabar. Sekembalinya ke ibu kota, sore itu juga Sasha menghadap ke Mayor Anne di ruang kantornya. Di sinilah dia berdiri dengan hati campur aduk. Melaporkan perjalanan misinya yang dia anggap sebagai kegagalannya. "Kami bertempur tiba-tiba dengan Orc beserta Level V yang sebagiannya adalah anggota tim 19, dan dari sepuluh anggota kami, hanya lima termasuk aku kembali dengan selamat. Maafkan aku Mayor Anne," lirih Sasha dengan wajah penuh penyesalan. Mayor Anne mengembuskan napas pelan. Tepat ketika itu ketukan pintu menengahi suasana sendu. Mayor Anne mempersilakan seorang di luar untuk masuk. Pintu pun dibuka, dan seorang prajurit bertubuh gemuk dalam kelompoknya tadi, memasuki ruangan. Sasha menatapnya bingung, memperkirakan apa yang dilakukan Bobby di sini? "Aku belum sempat mengatakan laporanku," ucap Bobby gugup. "Silakan bicara, Bobby." Mayor Anne mengizinkan. "Pada saat mencari ke ara utara, aku menemukan jasad Willy, ketua tim 19, tertutupi guguran daun." "Kenapa kau tidak mengatakannya langsung kepadaku saat itu?" Sasha bertanya dengan nada heran sekaligus kaget. "Karena kau langsung berlari ke arah pertempuran dan aku tak memiliki kesempatan berbicara sampai pada detik ini aku baru dapat mengatakannya." Bobby memberi penjelasan. Sedangkan Sasha menarik napas dalam. Ketiga orang di dalam ruangan terdiam dengan perasaan berdukacita. "Baiklah, terima kasih sudah melaporkannya," kata Mayor Anne. Kemudian Bobby pamit dan pintu pun tertutup rapat lagi di belakang punggung Sasha. Lalu wajah sendu Sasha menjadi pusat tatapan Mayor Anne lagi untuk diperhatikan seksama. "Apakah kau sanggup memberitahu keluarga mereka?" Sudah menjadi kewajiban umum dalam kepemimpinan militer Kings Manespell memberitahu keluarga korban atas gugurnya anggota keluarga mereka dalam tugas. Dan, mengumumkan kabar duka adalah bagian dari tugas lebih berat dan penuh emosional bagi seorang pemimpin. Mayor Anne paham akan hal tersebut. "Ya. Akulah yang akan memberitahu pihak keluarga," pungkas Sasha mantap. Mayor Anne mengangguk. "Dengan begini kita bisa menyimpulkan bahwa mereka gugur karena diserang kawanan Orc." Tidak bisa dibiarkan! Sudah banyak anggota mereka tewas setiap kali dikirim ke luar Madland. Mayor Anne mengepalkan tangannya geram. Kalau begini terus, semakin sering mereka mengirim anggota ke luar, itu seolah sama saja dengan mengurangi jumlah pasukan mereka sebelum perang yang sesungguhnya dimulai. "Dan jejak kaki besar yang kutemukan sangat mirip dengan jejak kaki Orc." Sekali lagi Mayor Anne mengangguk setuju. Usai melaporkan misinya, Sasha berjalan lemas ditemani Jarlen yang begitu setia mengikuti setiap langkahnya saat meninggalkan gedung pemerintahan kemiliteran Manespell. Sejenak dia menyingkap lengan bajunya, untuk memeriksa keadaan lengan kanannya yang tadi sempat terluka dengan gores panjang. Namun, yang dia temukan hanyalah lengan berkulit putihnya yang tampak mulus, disertai uap tipis menguap dari titik luka yang tertutup sempurna tanpa meninggalkan bekas. Sasha menghela napas. Alun-alun masih ramai seperti kemarin malam di mana malam ini adalah hari terakhir food festival. Tetapi, tidak ada gurat semringah di wajah Sasha ketika memasuki kemeriahan food festival. Keceriaan warga di sekitar, pernak-pernik berkilauan, acara musik jalanan hingga tarian para wanita, dilaluinya dengan wajah datar tanpa terlihat menikmati suasana malam yang hidup. Rumah berlantai dua dengan lampu-lampu oranye di sekitarnya, lantai dua yang tampak ramai oleh orang-orang duduk minum arak sambil berbincang dan tertawa-tawa, Sasha melangkah masuk ke dalam bar langganan tersebut. Pandangannya memindai ke seluruh ruangan bar. Dapat dia lihat sepenuhnya meja bundar telah ditempati pengunjung, kecuali kursi bar di meja bartender. Maka Sasha menyeret kakinya untuk duduk di kursi bar yang kosong, mengabaikan Jarlen di luar bar. Serigala itu memilih menunggu tuannya di luar. Wajar bila dia tidak masuk ke bar yang dipenuhi kesibukan manusia dan pelayan hilir mudik, karena tubuh besarnya hanya akan membuat ruangan jadi sempit. Sejenak kehadirannya di depan bar menarik perhatian anak-anak, wujud menggemaskannya dengan bulu lebat nan halus pun menjadi target tangan-tangan mungil mereka untuk mengelusnya. Sementara di dalam bar, segelas wine dingin telah disajikan ke depan Sasha beberapa menit lalu. Dia menopang sebelah pipinya dengan telapak tangan kiri sedangkan telunjuk kanannya bergerak repetitif mencelup-celupkan es batu di dalam gelas kecilnya tanpa ekspresi berarti. Akan tetapi sorot lemah mata gadis itu tidak bisa menyembunyikan perasaan sembari menatap kosong winenya. Hingga tatapan sayu Sasha bergeser malas saat mendengar suara ramah seorang wanita berbicara dengan orang lain di dekatnya. Ditemukannya Rose sedang berbincang singkat bersama pelanggan. Sejenak Sasha memaku pandangan memperhatikan kekasih Nellas di sana. Wanita itu kelihatan ramah kepada siapapun. Senyumannya yang manis, sikap hangatnya, wajah cantik yang mendukung, lelaki mana yang tidak terpikat pada pesonanya? Tidak heran bila Nellas sampai jatuh cinta pada wanita manusia. Sasha mendengus. Dia menegakan punggungnya dan mulai meneguk wine ke tenggorokan. Bersamaan dengan Rose yang berjalan mendekat dari balik meja bar. "Wah, aku baru melihatmu di sini, Sasha. Apa kau ke sini sendirian?" kata Rose menyapa. Sasha mengangguk dalam. "Rose, aku pikir aku tidak bisa menjadi orang yang baik...." buka Sasha memulai curahan hati. Sambil mengelap gelas-gelas kaca, mendengar kalimat bernada sedih Sasha membuat Rose tidak bisa mengabaikan curhatan sahabatnya. "Semua yang kulakukan seperti tidak ada artinya." Sasha melanjutkan dengan lemas. Di menit berikutnya hanya terdiam sedih menatap wine. Sekali-kali meneguknya sedikit. "Hal seperti itu tidak mungkin, Sasha. Apalagi kau orang yang ringan tangan. Warga Madland sangat ramah kepadamu karena ketulusan hatimu dalam membantu mereka yang kesulitan." Rose membalas. Meskipun bermaksud menghibur, kata-katanya tidak dilebih-lebihkan. Rose hanya mengatakan sebagai seorang sahabat yang mengenali sosok Sasha. Walau sebenarnya Rose ingin tahu masalah apa yang mendatangi Sasha, setelah melihat gadis itu minum sendirian dengan wajah terbebani sesuatu. Tapi Rose memilih tidak bertanya kecuali menunggu Sasha sendiri yang curhat. "Apakah hari ini tidak berjalan dengan baik?" Rose coba memancing agar Sasha menceritakan keluh kesahnya, dengan begitu beban itu akan sedikit ringan daripada dipendam sendiri. "Tidak ada satu hari pun yang berlalu sesuai keinginanku. Apakah aku sangat payah? Haha!" Sasha terkekeh geli, dia menggeleng-geleng tak habis pikir dengan kehidupannya. Lalu menyodorkan gelas wine pada Rose, minta diisikan lagi dengan wine. Rose menerima dan mulai mengisikan gelas kosong pelanggannya. "Oh, ya, apa kau masih marah pada Nellas?" Sasha tiba-tiba teringat tentang hubungan asmara dua sahabatnya ini. "Dia sangat menderita, lho. Cepatlah berbaikan." Kemudian dia meneguk habis winennya, diakhiri dengan helaan napas panjang usai mencecap rasa tajam wine. "Belum. Kami belum berbaikan." Kini giliran ekspresi sedih menyangkut di wajah cantik Rose saat menjawab demikian. "Ah~ Rose," mendadak nada suara Sasha serius, "apa kau benar-benar serius dengan Elf? Maksudku kau tahu betul fakta umur manusia dan Elf. Mereka berumur panjang dan awet muda seperti vampir, sedangkan kita hanya bisa hidup paling lama delapan puluhan, itupun sudah tua renta." Rose terdiam memikirkannya. Perkataan Sasha mungkin terdengar seolah menampar Rose terhadap sebuah kenyataan mutlak. Perbedaan mendasar antara manusia dan Elf maupun makhluk dari ras lain merupakan pengetahuan dasar yang sudah diketahui oleh seluruh manusia sejak ratusan tahun silam. Rose tahu itu dan disadari dengan akal sehatnya. Pernyataan Sasha tidak dapat dibantah. "Ya, aku tahu." Rose menyetujui fakta itu, lalu dia melanjutkan. "Aku sudah dapat membayangkan bagaimana diriku di masa depan jika masih bersama Nellas. Aku akan berubah menjadi wanita tua yang tak berdaya sementara Nellas tetap menjadi pria perkasa seperti sekarang. Namun, terlepas dari itu semua, aku tulus mencintanya dan sudah siap menghadapi semua konsekuensi itu, bahkan sekalipun nanti Nellas akan pergi meninggalkanku yang sudah tua." Ketegasan Rose kedengaran nekat. Sasha mendengus dibalik gelas winenya yang diangkat di depan hidung. Cinta memang mengerikan. Bisa membutakan siapa saja. Tidak dipungkiri juga bahwa dirinya pun mungkin akan mirip seperti Rose jika berada diposisinya. Mempertahankan cinta sampai ajal menjemput. Betapa cinta dianggap sebagai sebuah anugrah tapi juga bisa berbelok menjadi malapetaka. "Nellas sangat beruntung memiliki seorang wanita yang sangat setia padanya," komentar Sasha. Senyum terkembang di bibirnya sambil menatap penuh kasih pada Rose. Ketika itu suara gaduh menarik seluruh perhatian orang di dalam kedai. Sasha menengok ke belakang. Segera dia temukan amukan seorang pria baya pada seseorang yang dia kenali. Robert? bisik Sasha. "Kau hanya seorang prajurit! Gajimu berapa sampai berani makan berdua dengan istriku? Jangan belagu pada istriku! Kau sangat tidak selevel dengan kami. Sekali kulihat bersama istriku, aku pastikan kau kehilangan pekerjaan!" ancam pria baya itu. Dilihat dari penampilannya, dia tampak bukan pria dari kalangan biasa. Pakaian yang tebal dan berkilauan hanya bisa dimiliki bangsawan. Sasha melongo. Robert dalam masalah. Sementara bisik-bisik orang lain mengira Robert mencuri istri lelaki lain. Robert biadab, Robert playboy dan semacamnya. Kemudian si suami itu langsung menarik tangan istrinya keluar dari kedai. Robert hanya terdiam menelengkan kepala. Dia tampak bingung. Bahkan tidak diberi kesempatan membuka mulut untuk membela diri. *** Hari masih pagi, dan semua orang masih terlelap nyenyak ketika Sasha sedang latihan sendirian di gunung. Oh, jangan lupakan keberadaan Jarlen yang menonton gadis itu mengayunkan pedang estoc-nya ke udara kosong. Entah sudah berapa lama Sasha mengayunkan pedangnya. Gerakan lengannya terlihat lihai dan tangkas. Setajam mata pisau sorot mata oranyenya yang tegas. Ketika dia memutar tubuh dan rambut merah panjangnya berkibar, itu menciptakan pemandangan anggun dari sosoknya yang konfiden. Membuat sepasang mata kelabu Jarlen tidak berpaling dari sang tuan. Serigala ini hanya duduk anteng menonton Sasha latihan keras. Padahal kabut tipis belum menghilang dan udara subuh begitu dingin menusuk kulit, tetapi hal itu seakan tidak bisa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan latihan. Jika biasanya Sasha akan latihan karena ambisinya yang membara untuk persiapan hari paling krusial, hari ini dia melakukan latihan dengan dibakar emosi. Semalam, usai keluar dari bar dengan sedikit mabuk, Sasha berjalan melewati rumah-rumah rekannya yang telah gugur, dengan perasaan ragu sekaligus takut untuk mengabarkan kabar duka itu. Pada akhirnya dia hanya berlalu dari pintu rumah mereka tanpa berani mengetuknya. Sasha belum mempersiapkan diri malam itu, yang membuatnya tidak tidur nyenyak semalam. Di sinilah dirinya berakhir, melampiaskan kekesalan di hati. Dari pengalaman ini Sasha jadi bisa merasakan bagaimana perasaan seorang pemimpin pasukan. Bahkan Mayor Anne sekali pun. Terlebih Sasha memiliki hati lebih sentimental daripada yang lain. Jadi agak berat bagi Sasha mengalami hal ini. Daripada menjadi pemimpin kelompok, Sasha lebih memilih bertarung melawan para Orc maupun level V. Ini merepotkan. "Ung~" Jarlen menatapnya penuh arti. Bola mata abu gelap Jarlen tidak lepas dari atensinya pada Sasha yang kelihatan memaksakan diri. Bagaimana tidak? Sasha keluar rumah tidak mengenakan mantel sedangkan udara sedang sangat dingin untuk ukuran manusia. Hingga kemudian Sasha berhenti mengayunkan pedang kayu, hanya untuk menolehkan pandangan kepada Jarlen di sana. "Jarlen...." bisiknya. Jarlen bergerak mendekat. Sasha langsung memeluknya erat. Merasakan kehangatan bulu serigala Jarlen yang lebat dan lembut. Serigala ini berukuran tidak lazim. Jarlen memiliki tinggi yang bisa ditunggangi Sasha, dengan badan besar dan tangguh. Tapi Sasha hampir tidak pernah menungganginya dengan alasan menyayangi Jarlen. Selama masih ada kuda, kenapa tidak? "Kenapa bulumu sangat lembut dan hangat, Jarlen? Ah, aku jadi ingin tidur di tubuhmu sekarang." Jarlen terlihat kesenangan dipeluk Sasha. Jika setiap kali selesai latihan lalu memeluknya, itu artinya Sasha sedang butuh pelukan agar menguatkan dirinya. Jarlen sudah hapal dengan kebiasaan Sasha. "Baiklah. Mari kita beritahu mereka sekarang," ujar Sasha sambil menangkup wajah serigala Jarlen. Sasha di matanya kelihatan tegar, sudah berulang kali Jarlen melihat sosok Sasha yang kuat tidak hanya fisik tapi juga mental. Tiba-tiba Jarlen tidak dapat menahan diri untuk m******t wajah tuannya. Sasha terkekeh geli. "Kau sangat mengerti tentangku, ya. Aku menyayangimu, Jarlen..." Diciumnya Jarlen dengan sayang, lalu beranjak bangun. Seketika ekor Jarlen bergoyang-goyang menandakan dia senang. Lalu Sasha memandang jauh, di sana sebuah tembok tinggi dibangun mengitari ibu kota. Tembok kokoh untuk melindungi manusia dari serangan antek-antek seluruh ras monster. Di balik tembok itulah terdapat dunia yang luas tanpa batas. Dunia luar yang sangat berbahaya bagi manusia. Tidak banyak manusia bertahan hidup di luar tembok. Sasha punya alasan mengapa dia tidak memberitahu pihak keluarga temannya tadi malam. Karena Sasha tidak ingin mereka tidur dengan mimpi buruk usai mendapat kabar duka. Maka pagi ini, ketika dia berjalan turun gunung, dan orang-orang sudah memulai aktivitas, langkah Sasha semakin dekat dengan seorang kakek yang sedang mengurusi tanaman depan rumah. Sasha kenal kakek itu. Beliau sangat ramah kepadanya dan sering berbagi kue padanya. Hingga perhatian kakek itu menyadari Sasha mendekat, wajah keriputnya bersemringah menyapa. "Sasha! Bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak melihatmu." Sasha tersenyum kecut. "Yah, kabarku sedang tidak baik." "Kau berteman dekat dengan John, bukan? Apakah dia berlatih dengan giat di kamp?" tanya kakek. Setiap prajurit tidak diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing walau masih dalam satu wilayah. Karena jam latihan yang keras dan disiplinnya waktu, membuat para prajurit tidak berkesempatan kembali ke rumah dan harus tinggal di sebuah apartemen khusus perwira. Tetapi hal itu pengecualian bagi Sasha yang diberikan tempat tinggal sendiri di tengah kota, dan bertetangga dengan Nellas. "Ya. John sangat berambisi untuk menumpas musuh di luar. Di antara kami, dialah yang paling bersemangat dan keras pada dirinya sendiri," cerita Sasha jujur. Sebagai teman dekatnya, John yang sering berbagi cerita, membuat Sasha tahu bagaimana perasaan John yang begitu merindukan kakeknya. "Dia sangat ingin pulang dan melepas rindu denganmu." "Oh, benarkah? Anak berandal itu tahu rasa rindu, eh?" Lalu kakek terkekeh sembari melanjutkan menggunting rumput hias yang memagari halaman rumah kecilnya. "Kakek, sebenarnya, kemarin siang kami ditugaskan untuk menyelidiki hilangnya tim 19." Jeda sejenak. "Kami berangkat dengan dibawah kepemimpinanku. Tetapi semua tidak berjalan mulus ketika kami bertemu Orc dan Level V. Di sanalah mereka merenggut nyawa John. Maafkan aku, Kek." Sasha katakan dengan penuh kesedihan sekaligus sesal memberatkan hati. "Aku tidak mampu membawa jasad John ke kota ...." Nada suara Sasha melirih, dengan mata tertunduk, dia tidak berani melihat wajah kakek saat ini. Setelah beberapa detik tidak mendengar respon kakek, Sasha mendongakan pandangan, dan berapa dia tertegun mendapati seutas senyum tulus di raut lemah kakek tersebut. "Apakah kau sempat mendengarkan kata-kata terakhirnya?" tanya kakek dengan tenang. "Ya .... Dia mengatakan, dia bangga meninggal sebagian prajurit untuk kemerdekaan umat manusia." Senyum kakek semakin lebar. "Aku juga bangga memiliki cucu pemberani John. Terima kasih sudah memberitahuku kabar ini, Sasha. Pasti berat untukmu mengungkapkannya." Kakek menjawab bijak. Sasha tidak bisa berkata-kata melihat ketulusan kakek. Kemudian dia pamit untuk melanjutkan langkahnya ke pintu rumah lain. Sasha hampir mengelilingi kota dengan berjalan kaki, kedatangannya disambut isak tangis mereka tapi Sasha tidak bisa berbuat apa-apa sekalipun di antaranya memaki-maki Sasha hingga memukul dan mengusirnya. Ketika langit sudah terlihat lebih cerah, Sasha berhenti di rerumputan untuk beristirahat setelah semua rumah teman yang gugur dikunjungi. Sasha duduk berselonjor. "Apa kau lelah, Jarlen?" Mendadak suara perutnya terdengar, dan Sasha memegangi perut ratanya saat merasa lapar. Jarlen berputar-putar di sekitarnya, selagi Sasha teringat kalau dia tidak menyimpan persediaan makanan di rumah. Malas memasak, tapi juga dia tidak membawa uang cukup untuk membeli makanan di pasar. Sasha menghela napas panjang. Dibaringkannya punggungnya ke rerumputan sambil memandang langit biru. Pikirannya jadi sentimental hari ini, mengingat dia bukanlah siapa-siapa apalagi sampai memiliki keluarga. Karena dirinya hidup sebatang kara. Sampai-sampai Sasha sedikit terkejut dengan jilatan lidah Jarlen di sudut matanya. Rupanya setitik air mata menetes di sana. Dia menoleh, melihat wajah Jarlen tampak sangat dekat di sampingnya. Sasha terkekeh. "Terima kasih, Jarlen. Kau paling mengerti diriku." Diraihnya leher Jarlen. Jarlen pun menekuk keempat kakinya ke tanah. Membiarkan Sasha memeluk tubuhnya. Karena dia sangat suka. Wajahnya tampak bahagia saat dielus-elus tangan Sasha. "Ugh, bulumu kotor dan berdebu, sudah waktunya kau mandi. Ayo kita pulang!" Mendengar kata mandi, entah mengapa raut wajah Jarlen yang senang kini berubah menjadi kelihatan tegang dengan kibasan ekornya berhenti mendadak. Tapi Sasha tidak menyadari perubahan reaksi serigalanya, dan dia sudah berjalan lebih dulu di depan. Tiba di pekarangan belakang rumah, memandikan Jarlen membuat Sasha benar-benar merasakan bagaimana susahnya menyuruh anak kecil mandi. Di sinilah sekarang mereka, dengan kalung leher Jarlen ditarik-tarik di dekat sumur oleh Sasha. "Oh ayolah, Jarlen .... Kau hanya perlu mandi. Tidak akan lama kok!" bujuk Sasha. Bahkan untuk membawa Jarlen mandi saja dia harus memasangkan kalung leher agar tidak berlarian ke mana-mana. Jarlen tetap kekeh. Dia mempertahankan keempat kakinya sekuat tenaga agar tidak tertarik mendekat ke bak air di sana. Jarlen benci mandi. Atau lebih tepatnya benci dimandikan. Walaupun begitu, pada akhirnya tetap sama saja. Sehingga kini (setelah perjuangan keras) dia duduk dengan kedua telinganya turun melemas. Serigala jantan itu kelihatan badmood saat Sasha mengeringkan bulunya menggunakan handuk. "Nah, sudah selesai. Kau bau wangi lagi," ucap Sasha sambil menepuk p****t Jarlen dan membuatnya tersentak kaget. Kemudian Sasha berdiri untuk pergi ke dapur membuat makanan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD