SEASON 1 - Atas Segala Rasa - Bagian 2

2406 Words
Di minggu pertama musim semi, Sasha dan Nellas dipanggil Letnan Gary secara khusus. Tugas diberikan kepada mereka berdua untuk pergi ke luar Madland, tepatnya ke sebuah desa, tanpa membawa prajurit, karena ini adalah tugas penyelidikan. Maka di waktu pagi, ketika kabut masih menyelimuti kota, Sasha dan Nellas sudah duduk di punggung kuda masing-masing, sementara seekor serigala besar telah siap di sisinya menunggu gerbang besar ibu kota dibuka. "Apakah s*****a kalian sudah lengkap?" seru Thomas dari pos penjaga gerbang. "Aku hanya butuh pedang saja." Sasha memegang gagang pedangnya di pinggang sambil tersenyum mantap. "Tidak ada lagi, Thomas!" sahut Nellas. Tas panah berisi seratus anak panah sudah melintang di punggung pria Elf itu beserta busurnya. Dua manusia dan satu hewan serigala milik Sasha siap diterjunkan dalam misi tanpa prajurit. Kemudian, Thomas memberi kode pada petugas gerbang untuk membukakan gerbangnya. Ketika pintu gerbang besar dan tampak berat itu terbuka perlahan, dan dunia luar mulai terlihat, debaran jantung semakin bertambah. Bagi Sasha, misi penyelidikan tanpa dikawal rombongan prajurit akan menjadi pengalaman pertamanya. Lain hal dengan Nellas yang sudah sering diutus melakukan misi berbahaya di dunia luar. Bisa dikatakan Nellas adalah senior Sasha. Detak jantung yang meningkat di d**a bukan pertanda takut, bahkan mungkin tidak ada kamus takut dalam benak Sasha. Sasha menggenggam pelana lebih erat lagi. Dia berdebar-debar karena bersemangat menanti tantangan di luar sana. Begitu pintu gerbang terbuka separuh, Nellas memacu kudanya duluan di depan, memimpin jalan. Berikutnya diikuti Sasha dan Jarlen yang berlari dengan keempat kaki kokohnya. Tanah lapang hijau mereka lalui sebelum memasuki hutan lebat di kejauhan ujung pandangan. Di hutanlah awal seseorang harus waspada terhadap lingkungan sekitar. Tapi pacuan kuda mereka terus berlari cepat mengikuti jalur lintasan, membelah hutan yang kelihatan lebih cerah setiap musim semi. Sehingga mereka disuguhi pemandangan indah seperti kelinci-kelinci berlompatan di rerumputan hijau nan subur, kicauan burung-burung di sekitar, dan bunga yang bermekaran di bawah pohon. Ini menjadi perjalanan menghibur di kala ketegangan menanti di depan, pikir Sasha. Desa Emir berada agak jauh dari Madland. Itu yang Sasha ketahui dari peta wilayah yang pernah dia perhatikan saat di sekolah kemiliteran. Tetapi belum pernah pergi ke desa itu kecuali Nellas, tentu saja. "Hei, Nellas, sejauh mana desa Emir itu?" Sasha bertanya dari belakang. Sampai saat ini mereka masih melewati rute biasa yang sering dilalui para ekspeditur. "Kita butuh tiga hari untuk sampai ke desa itu!" Nellas menyerukan suaranya agar Sasha dapat mendengar dengan jelas, karena mereka sedang berkuda dan menembus angin yang mana akan mengaburkan suara mereka. Tiga hari .... Adalah waktu yang terbilang singkat dengan berkuda, bila dibandingkan dengan perjalanan menuju kota Kings Manespell lain. Kemudian, kuda Nellas berbelok ke arah selatan. Dari sinilah perjalanan mereka dimulai. Sebuah rute yang belum pernah Sasha lalui lebih dalam selama berpatroli dengan rekan lain. Ketika di pertengahan hari ketiga, mereka beristirahat dan mengeluarkan bekal makanan dari tas. Bekal yang dibungkus daun itu adalah roti Elf. Nellas mengambil stok roti buatan sendiri dari rumah. Sekali gigitan, rasa rotinya jelas berbeda dari roti yang biasa Sasha makan. Selain rasanya yang enak, satu roti Elf memiliki daya tahan kenyang paling lama tiga sampai empat hari. Oleh sebab itu, membawa beberapa roti Elf cukup untuk perjalanan mereka. "Lain kali, aku harus tahu resep roti ini, Nellas!" kata Sasha. Dia memakan roti itu sangat lahap. Seperti orang kelaparan. Yah, bagaimana tidak cepat lapar, dia hanya sempat makan separuh apel di rumah dan tidak makan lagi sepanjang paruh hari. Nellas yang duduk di dekatnya terkekeh mendengar penuturan sahabatnya. "Kau selalu sibuk latihan. Baiklah. Kau bisa datang ke rumahku," jawab Nellas. "Dan juga, kenapa kau tidak makan pelan-pelan? Lihatlah wajahmu dipenuhi remah-remah." Nellas begitu perhatian, dengan tatapannya yang tulus, dia mengusap sudut bibir Sasha, membersihkannya dari remahan roti. Seketika Sasha reflek menepis tangan Nellas dari wajahnya. Sasha gugup mendadak! Bahkan dia bisa merasakan degup jantungnya nyaris meledak barusan. "Aku bukan anak-anak, Nellas." Sasha memprotes. "Habisnya rotimu sangat enak." Kali ini telinga Sasha memerah dibalik anak rambutnya. Sementara di tengah mereka, mata kelabu Jarlen memperhatikan percakapan kedua orang itu. Nellas yang sedang memberikan perhatiannya, dan tatapan Sasha yang bergerak salting. Tidakkah kedua orang itu telah melupakannya kehadiran Jarlen di sini? Seolah-olah dunia ini hanya ada mereka saja. Jarlen membuang muka. Wajah serigala itu kelihatan kesal. Tidak! Sasha pikir perasan ini -yang entah sejak kapan menghuni ruang hatinya- tidak seharusnya tumbuh kepada sahabat sendiri. Dari sekian banyak pria tampan dan menawan di sekelilingnya, mengapa jantungnya harus berdetak hanya kepada Nellas? Bahkan dia tidak tahu bagaimana perasaan Nellas kepadanya selama ini. Hanya karena sebuah rasa, Sasha tidak ingin persahabatan mereka hancur. Kedamaian mereka tidak berlangsung lama ketika suara berisik semak-semak mengejutkan benak. Mereka langsung terdiam mewaspadai sekitar yang sepi. Hingga kemunculan goblin berlari menyerbu serempak, Sasha Nellas dan Jarlen sontak bersiaga dengan s*****a masing-masing. Jumlah para goblin lumayan banyak, dan mereka terkepung. Ketiganya saling mendekatkan diri. Jarlen berdiri dengan keempat kakinya, menunjukan kegarangan khas serigala dengan sikap melindungi Sasha. Sedangkan Nellas menembakkan panah cepat ke salah satu goblin yang langsung terjatuh. Serbuan para goblin tidak tersistematis. Mereka mengeroyok Sasha, Jarlen dan Nellas secara membabi-buta. Dari semua musuh, Sasha paling benci jika harus melawan goblin. Karena mereka main keroyokan tanpa takut meski tidak bersenjata. Sasha ayunkan pedang, dan tubuh kerdil goblin sobek. Darah berwarna hijau tua keluar darinya. Benar, itulah darah asli goblin. Tatapan Sasha memindai, menghitung jumlah goblin yang mengepung dirinya, tampak lebih banyak ketimbang Jarlen dan Nellas. Sasha mendengus. Dia tahu alasan para goblin ini lebih antusias mengepung dirinya. Tiba-tiba satu goblin melompat ke punggungnya. Ah, Sasha lengah! s****n. Hal itu dimanfaatkan goblin lain dan membuat sejenak Sasha agak kerepotan sampai lengan pakaiannya berhasil disobek goblin. Mereka kelihatan bersemangat untuk merobek pakaiannya. Berdasarkan informasi umum, para goblin tidak memakan daging manusia, justru mereka berhasrat pada kaum wanita-manusia hanya untuk memuaskan birahinya, walau para goblin sejatinya tidak bisa menghasilkan anak dengan manusia. Oleh sebab itulah Sasha tahu mengapa dirinya yang paling intens diincar. Karena dia seorang wanita-manusia. Hasrat goblin akan naik drastis ketika melihat wanita-manusia di depan mata mereka, sehingga tidak pikir panjang menyerangnya untuk diperkosa. Sasha meraih goblin yang menempel pada tubuhnya, mencengkram leher kecil goblin lalu menusuk perut bulatnya dengan pedang. Setelah itu dia lempar ke kawana goblin di depan. Aura negatif seakan menguar dari sosok Sasha di mata mereka yang membuat para goblin itu terdiam kaget. Sasha berdiri agak terbungkuk memegang pedang, rambut merahnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajah, dengan kondisi pakaian robek di bahu sehingga kulit putihnya tampak jelas. Hingga saat satu goblin nekat berlari mendekat, detik itu juga benda tajam menembus perutnya. Sasha terkejut. Matanya membelalak ketika mengetahui benda yang menusuk goblin di depannya. Dengan perasaan berdebar, tatapan Sasha merangkak naik, dia meluruskan pandangan dan segera mendapati seorang pria berdiri di dahan pohon dengan ekor panjang terjulur dari belakang tubuhnya. "Jangan ganggu makananku, goblin s****n!" geram pria itu menatap bengis para goblin di bawahnya. Kehadiran pria itu menarik perhatian Nellas dan Jarlen yang sibuk meladeni kepungan goblin. Mereka melirik terkejut. Sasha mendesis. "Cih, satu masalah lagi datang." Sasha sempat bertanya mengenai alasan Letnan Gery menunjuk dirinya ketimbang prajurit lain yang lebih berpengalaman, dan sebuah jawaban dari Letnan kedengaran tidak terduga di pikiran Sasha. "Selain karena kau cocok menjadi partner Nellas, kau adalah satu dari tiga wanita terkuat andalan Kings Manespell." Kata-kata itu seakan mengakui ketangguhan Sasha di dalam kelompok kemiliteran. Sasha terpukau sejenak mendengarnya. Tapi dia tidak pernah berpikir untuk menjadi prajurit wanita terkuat. Tapi hal itu belum terbukti jika dia berhasil mengalahkan ghoul di depan mata! Sasha menyeringai gemas. Ghoul adalah makhluk pemakan organ manusia yang belum pernah berhasil Sasha bunuh. Jarlen menggeram tajam di samping tuannya. Sasha dengan pedang estoc-nya digenggaman, sementara Nellas sudah menyiapkan satu bidikan, lalu dilepaskan pada target goblin yang diam-diam mendekat, dan langsung menancap ke dahinya. Lalu paruh siang itu mereka habiskan dengan bertarung. Nellas sebagai tipe petarung jarak jauh, mundur untuk menjaga jarak bidikan sebelum menembakkan panah satu persatu ke arah goblin. Menurutnya, Goblin sangat merepotkan dibanding Orc. Di sisi lain, Jarlen mengurus goblin. Dengan cakar tajamnya dan tubuh besar serigala, itu menguntungkan Jarlen saat melawan goblin bertubuh kerdil. Sebagian goblin bersenjata, dengan tombak sederhana. Tapi hanya berhadapan dengan Jarlen yang berdiri garang, mereka justru terdiam menggigil takut sebelum diperintah pemimpin kelompoknya untuk menyerang maju pada Jarlen. Akhirnya para goblin berpencar mengelilingi Jarlen, sedangkan sisanya pergi ke pertempuran Sasha dan ghoul. Pertarungan jarak dekat tengah berlangsung di sisi Sasha yang kini terlihat belum ada satupun yang terluka. Sasha masih dengan pertahanan diri yang kuat. Ketika ekor ghoul dikobaskan ke depan, Sasha melompat mundur untuk menghindari luka fisik. Ekor ghoul sangat berbahaya untuk tubuh manusia. Maka Sasha benar-benar harus berhati-hati saat berhadapan dengan ghoul. "Hey, aku tidak tahu apa yang membuatmu menyerang kami," kata Sasha ingin mengajak bicara ghoul ini. "Karena aku sedang lapar. Kebetulan saja hanya ada kalian sebagai daging paling lezat. Biarkan aku mencicipi dagingmu, nona!" Dia berhenti sejenak untuk berbicara sambil m******t bibir bawahnya, sementara Sasha baru saja terlempar ke tanah dan terguling. Ghoul ini adalah seorang pemuda yang tampangnya kelihatan lebih muda dari Sasha. Seperti wajah laki-laki remaja. Penciuman ghoul sama sensitif dengan makhluk berkekuatan tak rasional lainnya. Karena itu, saat angin bertiup menerpa mereka, bau dari tubuh Sasha semakin tajam membuai hidungnya dan dia bertambah gairah untuk mendapatkan daging Sasha. Sementara itu otak Sasha sedang sibuk merancang rencana menaklukkan ghoul muda ini. Ghoul itu hanya punya satu ekor. Warna ekor semua ghoul hampir sama dengan didominasi warna hitam sebagai daging ekornya, dan garis-garis merah mirip urat berdenyut dipermukaan, nampak menyeramkan. Berpikir tentang ekor ghoul, Sasha jadi punya ide sekarang. Lalu ghoul muda itu berlari mendekat, ekor dikibaskan ke depan, dan Sasha menahan serangan dengan pedangnya sekuat tenaga. "Kau sama liciknya dengan para goblin, ya? Memanfaatkan kerusuhan ini." tanya Sasha merujuk pada para goblin yang sedang sibuk bertarung dengan teman-temannya. "Cih! Jangan samakan aku dengan para makhluk hijau itu. Sebelum mereka mendapatkanmu, biarkan aku yang mendapatkanmu lebih dulu, nona. Kau tentu tidak mau diperkosa oleh sekelompok goblin hijau itu kan?" Sasha menyeringai. Lengannya gemetar menahan dorongan kuat ekor ghoul ini. "Tentu saja aku tidak mau dimakan olehmu juga, monster." Lalu, dengan tenaga penuh, Sasha hempaskan ekor ghoul secara tiba-tiba. "Dasar w***********g. Akan kutunjukan betapa dunia ini sangat kejam padamu!" Pemuda ghoul itu tampak lebih tersinggung saat disebut monster daripada disamakan dengan goblin. Sasha menyeringai melihat ekor panjang ghoul itu terjulur cepat ke arahnya, (akhirnya rencana diotaknya akan terlaksana) dan saat yang sama Sasha berancang-ancang mengangkat pedangnya tinggi sebelum dilempar dengan gaya menombak. Seketika menusuk ekor pemuda ghoul itu, seperti daging bergelombang yang disate, sehingga tidak dapat bebas digerakkan. Tapi ghoul itu kelihatan tidak menyerah. Dia melanjutkan serangan menuju Sasha. Sasha yang terkejut pun tidak sempat menghindar, membuatnya terlempar mundur dan gravitasi menariknya tajam ke jurang. Sejenak Sasha memandang bentangan langit biru saat tubuhnya terjun bebas. Ah, apakah ini akhir dari hidupnya? Begitulah yang terpikirkan Sasha sekarang. Sasha tersenyum tulus. Sembari menutup mata perlahan sebelum benturan keras menghantam tubuhnya. Jarlen mematung kaget melihat Sasha terhempas ke jurang. Tanpa ragu-ragu lagi, dia langsung melompat ke arah pemuda ghoul. Menerjangnya dengan cakar dan menggigitnya dengan gigi-gigi tajam khas serigala besar. Membuat ghoul itu panik seraya berusaha keras menyingkirkan Jarlen dari tubuhnya yang kini mulai robek di beberapa bagian. Sedangkan Nellas masih terjebak dengan goblin sebelum pemimpin kelompoknya melarikan diri dan mereka meninggalkan Nellas bersama Jarlen dan ghoul. Nellas menoleh, melihat Jarlen yang menyerang ghoul bertubi-tubi, dia juga menemukan pedang milik Sasha masih menancap di ekor ghoul. Melihat musuh mereka sedang sibuk dengan Jarlen, Nellas segera meninggalkan senjatanya ke tanah dan berlari terjun ke sungai. Sungainya dalam, namun air yang jernih memudahkan pandangan Nellas menemukan Sasha di sana. Tidak mudah bagi Nellas menyelam sambil melawan arus air yang sedang deras, sementara dia diburu waktu sebelum air benar-benar masuk ke paru-paru Sasha sebagai manusia. Itu berbahaya. Maka, dengan usaha keras, Nellas mengulurkan tangannya saat sedikit lagi mencapai tangan Sasha yang mengambang. Lalu dengan sekali dorongan, ujung jemari Sasha ditangkap seketika. Nellas menjepitnya sekuat tenaga sampai arus bawah sungai memisahkan tangan mereka lagi. Membuat Sasha terdorong semakin jauh. Nellas panik. Hatinya berteriak memanggil Sasha. Dia berenang lagi menyusul Sasha. Butuh perjuangan ekstra bagi Nellas sebelum akhirnya mendapatkan tangan Sasha dan menggenggamnya erat, membawa Sasha ke permukaan sungai. Mereka muncul ke permukaan dalam keadaan basah kuyup, dengan Nellas menggendong Sasha di lengan kokohnya, berjalan ke tempat kering untuk membaringkannya. "Sasha!" teriak Nellas mengguncang tubuh terkulai Sasha. "Sasha! Kumohon, buka matamu!" Nellas cemas. Wajah Sasha sudah pucat pasi. Nellas bisa merasakan tangan Sasha mendingin. Kemudian Nellas ingat teori menyelamatkan hidup manusia yang tenggelam. Sejujurnya Nellas sedikit ragu karena belum pernah mempraktikkan ini apakah akan berhasil atau tidak, tapi demi keselamatan Sasha, maka Nellas menjepit hidung Sasha dan mulai merunduk ke wajahnya, menempelkan bibir mereka sebelum dia hembuskan napas ke dalam mulut Sasha. Berulang kali Nellas mengirimkan napasnya, sampai menyadari Sasha bergerak disusul reaksi terbatuk-batuk menyemburkan air, barulah Nellas berhenti untuk menatapnya penuh kekhawatiran. "Sasha .... Apa sekarang kau merasa baik-baik saja?" Nellas super khawatir saat ini. Sasha beringsut duduk. Tatapan matanya tampak lingkung dan sayu. Dia mencoba mengenali lingkungan sekitar, lalu teringat bahwa dirinya terjatuh dari jurang dan hanyut ke dalam sungai. Pada saat itu Sasha tidak mencoba berenang. Justru membiarkan tubuhnya terbawa arus sungai. Sasha berpikir tidak masalah bila dia mati setelah pertarungan keras tadi, dan memanfaatkan kelengahannya untuk mati secara alami. Beban di hatilah yang semakin jauh menarik tubuhnya ke dalam sungai. Sasha pikir dia tak punya alasan untuk tetap hidup di saat semua yang dia impikan tidak akan pernah terwujud. Salah satu magnet terbesarnya untuk menyerah hidup adalah cinta sepihak di d**a. Sesungguhnya itu sangat sakit, lebih sakit daripada luka fisik. "Aku .... lumayan baik sekarang, terima kasih, Nellas." Sasha katakan dengan lemas. Dia gamang. Antara bersyukur dapat hidup lagi, atau bersedih karena keinginan untuk mati tidak terkabul. Ah .... Rasanya keinginan kecil apapun, selalu tidak pernah berjalan mulus. Selalu. Ketika itu, Jarlen tampak berjalan mendekat. Pertarungan melawan ghoul telah berakhir dengan lawan memilih kabur darinya tadi. Mendapati sang tuan terduduk kuyup dengan raut sendu, menjadi pemandangan menyakitkan mata. Jarlen mendorong moncongnya ke wajah Sasha, bermaksud menanyakan kabar sang tuan. Mata Jarlen berair. Dia seolah mengerti apa yang dirasakan Sasha sekarang saat merasakan elusan lemah tangan sang tuan, sambil tersenyum, tapi percayalah itu bukan senyum baik-baik saja. Sasha memaksakan tersenyum. Lantas, secara tidak terduga, Jarlen m******t pipi Sasha. "Apa kau bisa melanjutkan perjalanan kita?" tanya Nellas. Membuat perhatian Sasha berpaling dari sikap manja Jarlen. Gadis itu bangkit seraya menyanggupi pertanyaan Nellas. Nellas masih khawatir dengan kondisi Sasha. Tapi mereka tidak dapat menghentikan perjalanan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD