SEASON 1 - Cinta Yang Tumbuh

2293 Words
Dunia seluas ini tidak hanya dihuni manusia. Seluruh ras besar turut menjadi penghuni bumi. Beragamnya ras menjadi kontroversi yang sulit dilerai. Mereka adalah vampir sang makhluk nokturnal, werewolf sang serigala raksasa, ghoul sebagai ras pemakan daging manusia, pemilik hasrat tinggi ialah goblin sang makhluk berkulit hijau, kelompok ras berkuping runcing yang dikenal ahli memanah yakni elf, dan ras Orc yang telah bersekutu dengan vampir sebagai pasukan tentara. Sihir bukan hal aneh bagi mereka yang memilikinya. Namun, manusia menjadi eksistensi tanpa setitik sihir dalam aliran darah mereka. Membuat manusia menjadi ras terlemah dengan kecerdasan luar biasa. Jangka hidup yang relatif pendek, mendorong manusia untuk berpikir melindungi masa depan anak-anak mereka dari ras yang mengancam jiwa. Penolakan manusia pun menimbulkan pertempuran yang hampir sering terjadi. Sehingga bermunculan ksatria maupun pahlawan sejak ratusan tahun lalu demi melindungi umat manusia. Prinsip 'sebelum diburu, harus lebih dulu memburu' tersebut ditanamkan dalam otak manusia oleh pemimpin mereka terdahulu. Bermaksud menumbuhkan keberanian di dalam jiwa. Alih-alih berlari tunggang langgang, justru mengambil benda apapun yang bisa dijadikan s*****a untuk melawan musuh. Karena manusia tidak dapat menerima kelompoknya dimakan makhluk seperti ghoul. Karena manusia tidak bisa menerima keberadaan vampir yang meresahkan tiap malam hanya untuk menyedot darah manusia sampai habis dan mati. Karena manusia amat membenci jika istri dan anak perempuan mereka dilecehkan oleh goblin. Karena manusia pernah berselisih paham dengan elf sehingga hubungan mereka harus berakhir dalam perang dingin. Karena manusia takut pada serigala raksasa yang pernah mencabik-cabik satu desa dalam semalam. Itu semua adalah cerita lama, yang dikisahkan turun temurun sampai sekarang. Lalu menjadi sejarah yang diketahui anak-anak mengenai asal muasal dibangunnya tembok besar dan tinggi memenjarakan kota. Benar, tiap kota dikelilingi tembok beton tinggi sekokoh baja dengan dua gerbang ke luar, masing-masing dijaga sangat ketat oleh tentara. Tujuannya untuk melindungi manusia dari serangan monster. Setidaknya menjadi lapisan pertama dari serbuan pasukan Orc. Bagaimana jika tembok itu berhasil ditembus? Tentu saja manusia sudah memiliki bala tentaranya yang dilatih sangat keras dan menantang maut. Tentara berprestasi akan mendapat kenaikan pangkat menjadi Star Knight, hanya untuk sepuluh prajurit, dilantik langsung oleh Kaisar. Sebuah pangkat luar biasa dalam kemiliteran mereka. Karena setara dengan seorang Komandan Pasukan Khusus yang memimpin medan perang. Semua orang kagum kepada mereka. Begitu juga dengan Sasha yang acap kali bersemangat pergi ke jalanan utama hanya untuk melihat rombongan salah satu Star Knight lewat menuju gerbang kota. Mata oranye Sasha semakin berbinar-binar ketika menemukan pemimpin pasukan itu. Dia seorang wanita. Wanita perkasa yang duduk di barisan kuda terdepan. Memakai zirah dan jubah kebanggaan. Tidak lupa sebuah pedang besar menggantung di sisi pinggangnya. Mereka berbaris menunggu gerbang utama dibukakan oleh penjaga. Merasakan tiba-tiba seseorang menaruh telapak tangannya di atas kepalanya, itu mengalihkan tatapan Sasha dari pasukan berzirah kepada seorang pemuda di sampingnya. Dia mendongak sedikit karena pemuda itu lebih tinggi darinya. Nellas. Laki-laki berkuping lancip itu menipiskan bibirnya, tersenyum dengan pandangan lurus ke depan. "Apa kau sungguhan ingin bergabung bersama mereka, suatu saat nanti?" tanyanya kemudian menolehkan wajah. Pancaran mata Nellas yang lembut, adalah hal pertama yang diam-diam Sasha sukai. Ada kasih dan sayang tersembunyi dibalik netra sebiru samudera milik Nellas kepada gadis remaja di sisinya ini. Bagaimana Sasha tidak menyukai cara Nellas menatapnya? Sampai-sampai debaran cepat di jantungnya tidak dapat dia kendalikan setiap perasaan asing menyusup ke relung hati. "Ya. Aku ingin menjadi bagian dari mereka." Dengan begitu aku akan terus bersamamu, lanjut Sasha dalam hati. Rona terpesona menghiasi kedua pipi putih Sasha. Dia membayangkan dirinya menjadi prajurit keren dan melakukan tugas bersama dengan Nellas. Tentunya hal tersebut menambah waktu kebersamaan mereka, bukan? pikir Sasha. "Pertahankan tekadmu." Nellas mengusap kepala Sasha sebelum menurunkan tangannya ke sisi tubuh. Sebuah perlakuan sederhana. Namun, mampu memberikan sensasi menyenangkan bagi Sasha yang telah jatuh ke dalam pesona Nellas, sahabatnya sendiri. Tapi, apakah wajar menyukai sahabatnya sendiri? Usia mereka jelas terpaut jauh meskipun Nellas terlihat seperti remaja laki-laki padahal usianya seratus tahun lebih. Bahkan mereka berbeda ras. Sasha manusia dan Nellas elf. Selain itu, ada satu hal yang membuat rasa takut timbul di dalam hati Sasha jika Nellas mengetahui perasaan tersembunyinya. Akankah hubungan persahabatan mereka tetap terjalin tanpa ada kecanggungan? Sasha tidak ingin tali persahabatan mereka merenggang karena perasaan sepihak ini. Sasha takut Nellas akan menjauhinya. Hanya itu yang Sasha takutkan. Hanya itu yang membuat Sasha galau sepanjang hari. "Aw!" Sasha berteriak memegangi kepalanya setelah terpukul oleh pedang kayu. "Apa kau melamun, Sasha?" Suara pria baya itu meninggi. Seketika menyadarkan Sasha bahwa saat ini dirinya sedang latihan pedang dengan dibimbing oleh masternya. "Maafkan aku paman Gregor. Aku sedang banyak pikiran," keluh Sasha mengusap-usap kepalanya. Gregor mendengus. "Baiklah. Kita istirahat dulu untuk makan siang." Karena sudah waktunya makan siang. Para muridnya yang lain juga membubarkan diri dari lapangan. "Terima kasih untuk latihan siang ini, paman," pamit Sasha. Diam-diam Gregor memperhatikan punggung gadis remaja itu saat berjalan menjauh bersama seekor serigala abu-abunya. Rambut Sasha yang merah diikat ekor kuda, terlihat menjuntai panjang hingga pinggang. Warna rambut yang tidak biasa dan dianggap aneh oleh masyarakat. Membuat Gregor jadi terkenang saat pertemuan pertama mereka dua tahun lalu. Umur Sasha baru sebelas tahun ketika datang menemuinya dengan diantar Nellas. Nellas mengenalkan dan menceritakan tentang Sasha, bahwa gadis kecil ini korban selamat dari ekspansi vampir di kota Millhaven. Berniat latihan pedang untuk menjadi bagian dari prajurit militer seperti Nellas. Awalnya Gregor menolak mengajarkan anak perempuan berpedang. Namun, segala upaya keras Sasha agar mendapat pelatihan khusus dari sang master pedang yang diakui kaisar, meluluhkan hati beku Gregor. Sasha tidak pernah mengeluh lelah ataupun jadwal latihan yang terlalu padat. Gregor juga tidak pernah melihat ada keinginan menyerah dari mata yang selalu menunjukan kebulatan tekadnya. Penerimaan Sasha sebagai muridnya, berhasil mencuri banyak perhatian murid lain dalam perguruan ilmu beladiri tersebut. Sasha membuat mereka iri kepadanya. Karena mereka tidak pernah dilatih secara langsung oleh sang master, pendiri perguruan di kaki gunung ini. Gregor. Rasa lapar membawa Sasha pada area pasar di tengah kota Madland. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum memulai kembali latihannya bersama Gregor. Bersama dengan Jarlen, mereka melewati lapak pedagang sambil mencari makanan paling murah, mengingat kondisi kantong yang menipis di akhir bulan. "Bagaimana kalau kita beli dua buah apel saja?" kata Sasha bertanya kepada Jarlen. Dia melirik ke bawah sehingga bertemu dengan mata kelabu Jarlen yang mendongak. Jarlen adalah seekor serigala setinggi pinggang anak tiga belas tahun. Sasha memeliharanya sejak serigala itu seukuran saat ini beberapa tahun lalu. Walaupun Jarlen tidak berbicara selayaknya manusia, reaksi yang ditunjukan hewan berbulu abu ini seakan merespon ucapan Sasha. Jarlen terlihat riang dengan ekor berkibas-kibas. Dia begitu menggemaskan. Sehingga tangan Sasha tidak dapat berdiam diri untuk mengelus kepala lembut serigalanya. Keributan di tengah pasar sontak mengalihkan atensi mereka berdua. Terdengar perdebatan sengit yang didominasi satu orang. Terdapat seorang pria baya sedang membentak seorang anak laki-laki tak berdaya. "Maafkan aku, tuan! Aku tidak akan mengulanginya lagi!" "Tidak akan mengulanginya lagi katamu? Kau sudah tiga kali mencuri daganganku di sini!" Permasalahan yang sama dan hampir dikatakan biasa terjadi akan selalu mengundang suara amarah pedagang saat barangnya tidak rela dicuri oleh tangan-tangan kelaparan. Tanpa adanya bantuan dari pemerintah maupun uluran tangan para bangsawan, kemiskinan yang meningkat di ibu kota seolah memaksa manusia untuk melakukan tindak kriminal. Semua itu kembali bermula dari serangan monster di desa. Pasukan Orc, makhluk berbahaya lain, dan minimnya tentara perlindungan di pemukiman kecil, membuat mereka terusir dari tanah sendiri. Lalu menjadi pendatang di kota-kota besar. Penambahan penduduk pun menimbulkan kelaparan. Tidak pedulinya bangsawan pada sesama, hingga sikap acuh tak acuh dari tentara keamanan untuk menjaga kestabilan situasi di kota, telah menunjukan kebobrokan negeri ini. Sasha bisa mendapati dua tentara keamanan sedang asik bermain catur sambil mabuk-mabukan. Keluhan dan u*****n dari warga pada dua tentara keamanan tidak pernah masuk ke telinga mereka. Bagaimana Sasha tidak mengepalkan tangan dengan geram? Akhirnya Sasha melangkah maju dengan penuh keberanian dibanding para orang dewasa yang hanya bisa menonton. "Tuan, tolong lepaskan anak ini. Dia punya alasan untuk mencuri. Berbagilah pada orang yang tidak berdaya," ucap Sasha baik-baik. "Hah? Kau mau jadi pahlawan kesiangan?" Pedagang itu menggeram. Urat kemarahannya tampak. Saat perhatiannya teralih pada Sasha, bocah itu langsung berlari kabur. "Kalau iya kenapa?" tantang Sasha berani. Dia tidak suka pada orang semacam pedagang ini. Pelit. Tidak mau berbagi pada orang miskin. Karena bagaimana pun, dia pernah hidup pas-pasan. "Anak ini!" Saudagar itu sudah kepalang emosi tinggi. Seketika dia meraih kerah pakaian Sasha, mencengkramnya kuat. Matanya memelotot. Namun, Sasha tidak mengerut takut meski di hadapan kemarahan singa. "Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" Sasha menyeringai tengil. Dia tampak santai dibawah cengkraman di leher pakaiannya. Sementara bibir saudagar merapal makian dengan begitu lancar. Sampai-sampai Sasha harus memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari cipratan ludah orang ini. Semua orang yang melihat hanya terdiam menonton. Mereka tidak berniat melerai. Mungkin karena sudah biasa terjadi pencurian seperti ini. Sudah terbiasa pula Sasha berhadapan dengan sesuatu yang menguji nyali. Namun, tetap tidak terbiasa bagi serigala berbulu abu-abu melihat tuannya disentuh orang lain secara sembarangan. Tanpa ada yang menyadari bahwa wajah serigala itu sudah menggeram menakutkan. Dia mengerut berang. Ditandai dengan bulu-bulu yang menegak megar. Seringai serigala itu tampak mengancam dengan gigi tajam. Lalu, dalam sekali lompatan, lengan saudagar itu digigit Jarlen dengan kuat. Dia berteriak kesakitan sambil mengayunkan lengannya agar Jarlen terlepas darinya. Namun yang ada malah menambah luka di lengan. Jelas itu terlihat menyakitkan. Pembelaan dari Jarlen cukup menunjukkan betapa dia melindungi sang tuan. Tapi tidak bisa menyelesaikan masalah ini untuk selamanya bila masih ada ketimpangan sosial di ibu kota. "Jarlen, hentikan," titah Sasha. Intonasinya datar. Dia merapikan kembali pakaiannya tanpa ekspresi. Maka Jarlen segera menurutinya dengan melompat turun dari lengan saudagar. "Dasar anjing s****n! Anjing got yang bau busuk! Pergi kalian! Kalau perlu mati saja di tempat s****h!" Sasha mendengus tenang. Dia mengeluarkan dompet kecil dari saku celana panjangnya. Mengambil beberapa koin di telapak tangan sebelum dia ulurkan pada saudagar seraya mengatakan. "Ini adalah biaya pengobatan luka anda, tuan. Bagaimana pun aku harus bertanggung jawab sebagai tuan serigala ini." Saudagar itu menyambar koin Sasha dengan kasar. Tentu saja tanpa ucapan terima kasih. Sebaliknya, dia mengusir mereka dengan celaan buruk. Tapi tidak dipedulikan Sasha dan Jarlen yang berjalan santai mengabaikan pria baya gemuk itu mencak-mencak di belakang. *** Sasha merogoh kantong koinnya, dan muncul satu koin jatuh di telapak tangannya. Dia menghela napas. "Kita hanya punya satu koin. Apakah ini cukup?" ucapnya sedih. Keroncongan di perutnya memberi sinyal untuk segera diisi dengan makanan. Tapi dia merelakan uang itu pada saudagar tadi sebagai ganti pengobatan luka di lengan walau mungkin tidak cukup. Lagi, Sasha mendesah berat. Uang segini bisa untuk membeli makan apa? Kesedihan yang tergambar jelas di wajah Sasha, menyurutkan keceriaan Jarlen. Serigala itu merasa bersalah atas tindakan spontannya tadi. Kalau saja dia tidak menyerang, mungkin Sasha kini bisa makan. Kepala Jarlen menunduk sedih. Itu langsung disadari atensi Sasha. Gadis itu berjongkok di sampingnya. "Ada apa Jarlen? Kau merasa bersalah? Tidak, itu bukan salahmu. Kau telah melindungiku. Kau melakukan sesuatu yang baik untukku, terima kasih," lirih Sasha diakhir kalimatnya. Dia mengusap kepala Jarlen dengan sayang. Bruk! Brak! Pandangan Sasha segera menemukan bocah tadi kini berada di tempat kumuh yang mereka lewati. Anak itu tampak diikat tangannya. Kelihatan sedih saat dipaksa masuk ke gerobak kuda bersama anak-anak lain. Entah akan dibawa kemana mereka. Dilihat sekilas saja, orang-orang miskin tak punya rumah tidak perlukan dengan selayaknya manusia. Suara benturan benda berat ke gerobak terdengar setiap kali para pria berbadan besar melempar bungkusan manusia ke gerobak kuda. Tidak hanya satu atau dua manusia terbungkus karung. Cukup untuk memenuhi satu grobak penuh. Adalah mayat manusia. Mereka yang mati itu merupakan b***k. Pemandangan miris yang sering kali Sasha temukan di sudut ibu kota. Hati Sasha teriris melihat nasib mereka. Dia mengiba. Namun, Sasha lebih iba lagi pada dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan mereka dari hidup bak neraka ini. Yang dia lakukan hanya melihat sambil bersedih. "Kakak berambut merah!" Suara anak kecil menyeru. Tidak ada orang dengan rambut merah di kota ini kecuali Sasha. Maka gadis itu reflek menoleh dan segera melihat seorang bocah laki-laki tadi sudah di sampingnya. Bocah itu mengeluarkan sesuatu dari pakaian lusuhnya. "Ini untuk kakak karena sudah menolongku," katanya menyodorkan sebuah apel merah di telapak tangan kecilnya. "Kau tidak perlu memberiku makanan. Simpan saja untuk bekalmu nanti. Kau sangat membutuhkannya bukan?" Sasha menolak dengan halus. Sejenak hatinya tersentuh mendapat perhatian hangat dari bocah ini. Betapa ada orang lain yang peduli kepadanya. Bocah itu menggeleng. "Aku tidak akan kelaparan lagi. Karena aku dan anak-anak lain akan diadopsi di rumah bangsawan dan sebagian lainnya di rumah panti. Jadi kami tidak akan kelaparan lagi. Terima lah ini sebagai rasa terima kasihku," jelasnya dengan polos. Sasha tersenyum kecil. "Itu kabar baik yang pernah kudengar. Baiklah, aku terima apel darimu. Semoga kau bahagia di rumah barumu," ucap Sasha tulus sambil membelai kepala bocah ini dengan haru. Kemudian dia melihat bocah itu berlari ke gerobak kuda dan tak lama kuda itu berderap menjauh dari pupil matanya. "Lihatlah, Jarlen. Perbuatan sekecil apapun akan mendapatkan balasannya. Aku menolong bocah itu, lalu dia secara tidak terduga membantuku yang kelaparan ini. Kuharap kau dapat belajar kehidupan manusia, Jarlen." Sasha menggumam di akhir kalimatnya. Dia sendiri tidak yakin Jarlen mengerti bahasa manusia. Cukup sedih juga jika dia harus bicara sendiri untuk mengutarakan isi hati. Tanpa pernah berani curhat dengan sahabat sendiri yakni Nellas. Yang ada nanti dia semakin sesak dibuatnya bila berbagi cerita dengan lelaki itu. Sasha tersenyum menatap apel di tangannya. Akhirnya siang ini dia bisa makan siang. Jika bertanya-tanya mengapa perguruan tidak menyediakan makanan untuk para muridnya, maka jawabannya adalah tidak. Perguruan menyediakan makanan untuk anak didik, tapi pengecualian bagi Sasha. Dia mengajukan diri untuk menggantikan murid yang akan dikeluarkan dengan alasan perguruan kekurangan makanan untuk mereka. Sontak saja hampir membuat Gregor kecewa karena mengira semua latihan mereka sia-sia. Namun, Sasha menjelaskan bahwa dia akan tetap mendapat pelatihan khusus tetapi tidak akan mendapatkan makanan dari perguruan. Alhasil usulan tersebut menyelamatkan murid lain yang hendak dieliminasi. Bruk!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD