Sasha tersenyum menatap apel di tangannya. Akhirnya siang ini dia bisa makan siang. Jika bertanya-tanya mengapa perguruan tidak menyediakan makanan untuk para muridnya, maka jawabannya adalah tidak. Perguruan menyediakan makanan untuk anak didik, tapi pengecualian bagi Sasha. Dia mengajukan diri untuk menggantikan murid yang akan dikeluarkan dengan alasan perguruan kekurangan makanan untuk mereka. Sontak saja hampir membuat Gregor kecewa karena mengira semua latihan mereka sia-sia. Namun, Sasha menjelaskan bahwa dia akan tetap mendapat pelatihan khusus tetapi tidak akan mendapatkan makanan dari perguruan. Alhasil usulan tersebut menyelamatkan murid lain yang hendak dieliminasi.
Bruk!
Baru saja akan Sasha gigit apel di tangannya, buah itu sudah menggelinding jatuh ke tanah berdebu. Sasha terkejut. Lalu suara feminin seorang gadis meminta maaf kepadanya. Tangan mulus itu telah lebih dulu memungut apelnya di saat Sasha hendak mengambilnya.
"Ini apelmu. Maafkan aku, aku tidak sengaja. Ini salahku berjalan tanpa memperhatikan ke depan," sesalnya menunduk seraya memberikan apel itu ke depan dad4 Sasha.
Sasha terdiam memperhatikan gadis itu. Rambutnya cokelat bergelombang panjang. Kemudian, ketika gadis itu mengangkat kepalanya, dapat dia lihat wajah cantik yang langka ditemukan di tempat kumuh seperti ini. Wajah putih bersihnya dengan sepasang mata hazel cemerlang itu seakan menunjukan identitas seorang bangsawan. "Apa kau seorang bangsawan?" tanya Sasha terkesima.
"Huh? Ah tidak, bukan. Aku adalah pengungsi yang baru pindah dua hari lalu di kota ini bersama rombongan yang lain," jelasnya.
Sasha tersenyum ramah. "Terima kasih sudah mengambilkan apelku," katanya menerima apel itu dari tangan mulus gadis tersebut. "Namaku Sasha. Jika mau berteman denganku, siapa namamu?"
Gadis itu tersenyum. Senyumamnya sangat cantik dan anggun. Malah mungkin tidak lama lagi dia akan menjadi primadona di antara para pengungsi wanita, pikir Sasha.
"Namaku Rose."
***
Sore hari yang sama, semua murid dikumpulkan di lapangan luas. Mereka berbaris rapi menunggu pemimpin upacara berbicara di atas panggung itu. Kali ini, yang berdiri memimpin bukan salah satu guru latihan mereka. Tetapi seorang pria berseragam dengan beberapa pin terpasang di dad4 kiri yang menunjukan pangkatnya.
Telah beredar desas-desus bahwa hari ini adalah pengumuman kelulusan murid menuju tentara Manespell secara resmi. Mereka berdiri dengan tegang.
"Baiklah, hari ini kami umumkan murid kami yang lulus untuk mengikuti ujian menjadi prajurit Kekaisaran Manespell. Devisi keamanan adalah Alert, Patrick, Jonah, Molly!" Dia adalah Mayor di Kekaisaran Militer, bernama Gerry. "Devisi persenjataan adalah Mickey, Billy, Chris, Lawrence. Devisi prajurit Manespell .... kami menerima tiga puluh delapan calon dari perguruan ini. Kalian bisa melihatnya di papan pengumuman setelah ini. Kemudian, calon untuk devisi Knightly Cane."
Devisi yang paling terpandang. Hanya dengan menjadi calon saja sudah merupakan kebanggan tersendiri. Mereka -yang namanya belum disebut- menanti nama sendiri terucap dalam pengumuman ini. "Adalah---" Mayor Gerry mengerling ke arah tulisan pada perkamen di tangannya. Kemudian dia mendongak lagi.
"Sasha!"
Semua peserta tercengang. Sementara pemilik nama hanya menanggapi dengan datar.
"Mampu aku," desisnya. Dapat dia sadari berbagai pasang mata mengarahkan pandangan kepadanya. Dirinya yang sejak awal dicemburui mereka, semakin mendapat kebencian dari sejumlah peserta iri di sini.
Sasha menghela napas.
Malamnya, Sasha kembali ke rumah. Kali ini tanpa Jarlen. Entah kemana serigala abu-abu itu pergi. Sasha tak mencemaskannya, karena Jarlen sudah hapal jalan pulang. Jadi dia membuka pintu dengan lelah.
Rumah masih dalam keadaan gelap. Tapi Sasha tidak berniat menghidupkan perapian sekadar menghangatkan ruangan. Sasha remaja berjalan lunglai sebelum terhenti waspada ketika melihat cahaya menyala. Cahaya biru berbentuk panah berdiri tegak. Ralat, panah yang diselubungi api biru, sehingga membuat ruangan lebih terang.
Mata Sasha mengikuti arah cahaya panah itu saat hidup satu persatu menuju lurus di depannya, hingga dapat dia temukan bayangan seorang lelaki berdiri di sana. Kemudian cahaya api bermunculan serempak di sekeliling. Memperlihatkan dekorasi romantis menghiasi ruangan. Sasha terpengarah. Tepat di depan kakinya, terdapat taburan kelopak bunga yang terhenti di ujung kaki lelaki di sana.
Sasha terharu. Hatinya tersentuh. Senyuman manis lelaki di sana sambil membawa sebuket bunga, menambah baper perasaannya. "Nellas?" desah Sasha, degup jantungnya kian berdentang. Sementara di samping kaki Nellas, sudah duduk serigalanya yang dia pikir sedang pergi entah kemana.
Secara tidak terduga, Nellas melangkah maju, berjalan ke arahnya yang bergeming haru. Detik itu juga detakan jantung Sasha kian menggila. Nellas di depan matanya terlihat seperti seorang pangeran hati yang hendak melamar dirinya dengan bunga. Apakah ini saatnya mereka saling mengungkapkan perasaan? Kejutan malam ini membuat Sasha berharap Nellas mengutarakan isi hatinya secara khusus. Jika itu terjadi, dia juga akan langsung mengatakan ya untuk hubungan mesra di masa depan.
Nellas berhenti. Kegugupan Sasha meningkat tajam. Dia tidak berani menatap mata biru Nellas saat ini. Sebaliknya, dia bertanya. "Apa kau yang mempersiapkan semua ini?" Air mata menggenang penuh arti di pelupuk mata Sasha.
"Tentu, aku dan Jarlen mempersiapkan kejutan ini untukmu," riang Nellas. Lalu dia memberikan buket bunga mawar itu. "Selamat atas kelulusanmu dari perguruan dan menjadi calon Knightly Cane!"
Sasha tidak bisa menahan senyum lebarnya. Dia mengambil buket bunga itu dengan kebahagiaan membuncah. Kupu-kupu bagai berterbangan di perutnya. "Terima kasih, Nellas," lirihnya haru.
"Api punya sesuatu untukmu," ucap Nellas. Membuat Sasha menahan napasnya, menunggu sebuah benda dikeluarkan dari saku lelaki itu.
Benda itu berbentuk persegi. Lalu Nellas membukanya. Sekilas saja raut bahagia Sasha sedikit meluntur ketika ekspektasi terlalu tinggi. Dia mengira isi kotak itu adalah sebuah cincin lalu Nellas memintanya menjadi pacar. Tidak, tidak, bukan cincin. Melainkan dua gelang putih dengan inisial nama mereka di tengahnya. N dan S.
Nellas mengambil gelang berinisial N, namanya. "Gelang ini khusus untukmu aku pesan di toko pembuatan perhiasan. Aku ingin kau memakai gelang inisial namaku di tanganmu, begitu juga sebaliknya." Nellas meraih tangan terkulai Sasha untuk di pakaikan gelang itu ke pergelangan kirinya. Kemudian dia mengambil gelang berinisial S dan disodorkan pada Sasha sambil tersenyum. "Pakaikan ini padaku sebagai tanda persahabatan kita," tandasnya ceria. Seketika mementalkan dunia Sasha begitu keras ke angkasa yang hampa. Raut bahagia Sasha berubah menjadi senyuman pahit.
Perubahan signifikan yang tidak dapat terbaca oleh mata telanj4ng orang lain, bahkan tidak disadari Nellas di depannya, nyatanya wajah tersenyum palsu Sasha diperhatikan begitu dalam oleh sepasang mata abu-abu gelap milik Jarlen. Serigala itu mengamati penuh arti ketika Sasha memasangkan gelang dengan setengah hati ke tangan Nellas.
Mungkin, setelah ini, tidak lama lagi Jarlen akan menyaksikan tangisan tuannya di kamar. Lalu dia akan selalu berada di dekatnya untuk menemani sang tuan. Cinta sepihak yang menyakitkan menjadi pengalaman pertama dalam hidup Sasha di usia semuda ini.
***