BAB 1: Palu Keadilan yang Terbeli
Ketukan palu kayu jati itu berdentum tiga kali, suaranya memantul keras di dinding-dinding ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Bagi sebagian besar orang yang duduk di kursi kayu panjang itu, ketukan tersebut adalah penanda mutlak dari keadilan. Namun bagi Ratu Ayu Kirana, suara itu hanyalah bunyi mesin kasir yang baru saja mencetak angka miliaran rupiah ke dalam rekening offshore-nya.
"Mengadili, mengabulkan permohonan Praperadilan Pemohon untuk seluruhnya. Menyatakan penetapan tersangka atas nama Tommy Soedjono tidak sah dan tidak berdasar hukum karena tidak didasarkan pada dua alat bukti yang cukup sebagaimana diwajibkan dalam Pasal 184 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana..."
Suara Hakim Ketua yang monoton itu bagai melodi simfoni di telinga Kirana. Ia berdiri dari kursi Pembela dengan keanggunan yang mematikan, sebuah pesona paradoks antara kelembutan darah biru dan kebuasan seorang predator.
Hari itu, Kirana mengenakan setelan blazer haute couture berwarna navy gelap yang dipadukan dengan kemeja sutra bermotif batik Parang Rusak bernuansa emas. Dua kancing teratas kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, bukan karena ceroboh, melainkan sebuah kalkulasi. Potongan kain sutra itu mengekspos jenjang lehernya yang mulus bak porselen dan lekuk tulang selangkanya, memancing mata siapa saja untuk menatap sedetik lebih lama dari yang seharusnya. Rok pensilnya memeluk erat lekuk pinggul dan pahanya yang sempurna, membuat setiap langkahnya menuju meja Panitera terlihat seperti tarian provokasi.
Di seberang meja, barisan Jaksa Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menatapnya dengan rahang mengeras. Wajah mereka merah padam menahan amarah. Mereka tahu Tommy Soedjono—oligarki tambang batubara Kalimantan itu—bersalah atas kasus pencucian uang dan suap izin lahan. Mereka memiliki buktinya.
Tetapi Kirana lebih cerdik. Ia tidak berdebat soal benar atau salah. Ia menyerang prosedur. Kirana menghancurkan kredibilitas saksi mahkota dan membuktikan adanya cacat formil dalam surat perintah penyitaan KPK. Ia melacurkan hukum pidana dengan sangat brilian, memutarbalikkan logika hingga sang Hakim tidak punya pilihan selain membebaskan kliennya.
Kirana menoleh ke arah Jaksa Penuntut Umum, memiringkan kepalanya sedikit, lalu memberikan senyuman krama inggil—senyum simpul khas perempuan ningrat Jawa yang secara kasat mata terlihat sopan, namun secara psikologis merendahkan martabat pria yang ditatapnya hingga ke dasar bumi.
"Eksepsi saya tidak pernah gagal, Rekan Jaksa," bisik Kirana tanpa suara dari seberang ruangan, membaca gerak bibir jaksa yang mengumpat ke arahnya.
Dua jam kemudian, kemenangan itu dirayakan di sebuah private lounge eksklusif di lantai 50 kawasan SCBD, jantung finansial Jakarta.
Ruangan dengan pencahayaan temaram itu dipenuhi oleh aroma berat dari asap cerutu Cohiba Kuba dan wangi tajam single malt whiskey Macallan 18 tahun. Musik jazz mengalun pelan dari speaker tersembunyi, menutupi desak-desik percakapan kotor bernilai triliunan rupiah.
Kirana duduk menyilangkan kaki di sofa kulit chesterfield hitam, menatap keramaian dengan mata setengah bosan. Ia memegang gelas kristal berisi Cabernet Sauvignon, menggoyangkannya perlahan hingga cairan merah darah itu meninggalkan jejak di dinding gelas.
Tommy Soedjono, sang klien yang baru saja ia selamatkan dari jeruji besi, melangkah menghampirinya. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja sutra Versace yang kancingnya nyaris tak sanggup menahan perut buncitnya. Wajahnya berkeringat, matanya liar dipenuhi euforia dan hasrat yang tak ditutup-tutupi.
Tommy menghempaskan tubuhnya di sebelah Kirana, terlalu dekat, menginvasi ruang pribadi wanita itu tanpa izin. Napasnya yang berbau alkohol kental dan tembakau menyapu wajah Kirana, membuat wanita itu secara refleks menahan napas agar tidak merusak raut tenangnya.
"Kau luar biasa di pengadilan tadi, Ratu," suara Tommy serak, bergetar oleh gairah kemenangan. Matanya turun, menatap tanpa tedeng aling-aling pada belahan d**a Kirana yang bernapas teratur, lalu turun ke arah belahan rok pensil yang sedikit menyingkap saat Kirana menyilangkan kakinya. "Aku berutang nyawa padamu. Kau tahu, aku bisa memberikan apa saja untuk wanita sepertimu. Apapun yang kau inginkan malam ini, katakan saja."
Tangan Tommy yang tebal dan dihiasi cincin berlian meluncur dengan lancang, mendarat di atas paha Kirana yang terbalut stoking hitam pekat. Jari-jari kasarnya mulai merayap naik, mencoba mencari kehangatan di balik kain rok wanita itu.
Intensitas di sudut ruangan itu mendadak berubah. Udara seolah membeku.
Alih-alih menampar atau berteriak seperti wanita biasa, Kirana mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut lima sentimeter. Tatapan mata Kirana menajam, segelap malam tanpa bintang, mengunci mata Tommy hingga pria itu terpaku.
Tangan Kirana yang dihiasi kuku-kuku panjang bercat merah marun bergerak lambat, menyerupai gerakan ular berbisa yang siap mematuk. Jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Tommy yang masih berada di pahanya. Detik berikutnya, Kirana menekan sebuah titik saraf di pergelangan tangan Tommy dengan ujung kuku jempolnya, menyalurkan tekanan yang menyakitkan.
Tommy tersentak, wajahnya meringis tertahan saat rasa sakit yang tajam menjalar dari tangannya hingga ke bahu. Namun Kirana tersenyum semakin manis, sebuah kontras yang mengerikan.
"Yang saya inginkan, Pak Tommy," bisik Kirana dengan suara yang sangat halus, rendah, dan menggetarkan s**********n Tommy lebih dari sentuhan fisik manapun, "adalah sisa pembayaran success fee saya sebesar dua puluh miliar rupiah masuk ke rekening firma besok pagi. Sebelum bursa saham dibuka."
Kirana memutar pergelangan tangan Tommy sedikit, memaksa pria itu mencondongkan tubuhnya lebih jauh dalam kendalinya.
"Saya membebaskan Anda karena Anda membayar saya, bukan karena saya peduli pada nasib Anda. Jangan pernah salah mengartikan pembelaan hukum saya sebagai undangan untuk menyentuh tubuh saya." Kirana melepaskan cengkeramannya, menepis tangan Tommy seolah itu adalah serangga menjijikkan.
Kirana berdiri perlahan, merapikan roknya tanpa mengalihkan pandangan mematikannya dari Tommy. "Nikmati kebebasan Anda, Pak Tommy. Dan ingat, tangan yang bisa melepaskan jerat hukum dari leher Anda, adalah tangan yang sama yang bisa memasangkan kembali tali gantungan itu dengan sedikit manipulasi bukti. Permisi."
Kirana melangkah meninggalkan lounge tersebut, punggungnya tegak lurus, tumit stiletto Louboutin-nya mengetuk lantai marmer dengan ritme yang dominan. Ia meninggalkan Tommy yang masih mematung, menelan ludah dengan susah payah, bergidik antara rasa takut yang mencekam dan gairah maskulin yang tertahan.
Kirana memegang kendali atas segalanya. Ibukota ini adalah papan caturnya. Namun, malam itu, saat ia melangkah masuk ke dalam mobil Bentley hitamnya yang melaju menembus dinginnya malam menuju Jawa Barat, ia tidak tahu bahwa ia baru saja melangkah masuk ke dalam perangkap iblis yang sesungguhnya.