bc

SELF-DIAGNOSE

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
single mother
drama
city
like
intro-logo
Blurb

​"Sering merasa senang lalu tiba-tiba hampa? Mungkin kamu mengidap Bipolar."​Hanya berbekal video singkat dari aplikasi VibeTok, Aura yakin ia telah menemukan jawaban atas semua kegelisahan hidupnya. Di dunia maya, label 'Bipolar' memberinya identitas, komunitas, dan rasa bangga yang aneh. Aura merasa spesial, merasa menjadi pejuang di balik layar gawainya.​Namun, saat Aura mulai terjebak dalam labirin informasi semu dan mencoba mengobati dirinya sendiri dengan cara yang salah, dunianya mulai hancur secara nyata.​Dimas, seorang teman sekelas yang menyimpan rahasia kelam tentang perjuangan medis yang sesungguhnya, hadir untuk memberikan tamparan realita. Baginya, gangguan jiwa bukanlah estetika konten atau sekadar tagar di profil media sosial.​Apakah Aura akan terus memilih kenyamanan dalam label palsunya, atau berani menghadapi kenyataan bahwa ia butuh bantuan profesional yang sesungguhnya?​Sebuah cerita tentang bahaya romantisisasi kesehatan mental, jerat algoritma, dan perjalanan menemukan diri sendiri di luar dunia maya.

chap-preview
Free preview
BAB 1: ALGORITMA TENGAH MALAM
Kamar itu hanya diterangi oleh satu sumber cahaya: layar ponsel yang berpendar biru, memantul di bola mata Aura yang mulai memerah. Di luar, suara jangkrik sudah lama bungkam, digantikan oleh sunyi senyap pukul dua pagi yang mencekam. Namun, di dalam kepala Aura, kebisingan justru baru saja dimulai. ​Aura meringkuk di balik selimut tebalnya, membiarkan jempolnya melakukan gerakan mekanis yang sudah ia hafal di luar kepala: scroll, scroll, scroll. Layar VibeTok menyuguhkan parade wajah-wajah asing yang tampak bahagia, potongan video memasak yang estetik, hingga video kucing lucu. Namun, algoritma aplikasi itu seolah tahu bahwa malam ini Aura sedang tidak butuh hiburan. Algoritma itu tahu bahwa di balik tulang rusuk Aura, ada kekosongan yang menganga lebar. ​Lalu, video itu muncul. ​Seorang gadis dengan riasan bold dan latar belakang kamar remang-remang muncul di layar. Musik latarnya melankolis, denting piano yang terdengar seperti tetesan air di ruang kosong. Teks putih muncul perlahan di tengah layar: ​“Pernahkah kamu merasa sangat produktif di pagi hari, tapi merasa ingin mati di malam hari tanpa alasan?” ​Aura berhenti bernapas sejenak. Jempolnya terpaku. ​“Pernahkah kamu merasa duniamu begitu berwarna hari ini, tapi besok semuanya terasa abu-abu?” ​Aura menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. ​“Bisa jadi itu bukan sekadar mood swing. Bisa jadi itu adalah tanda-tanda Bipolar Disorder yang selama ini kamu abaikan.” ​Kalimat terakhir itu menghantam Aura seperti godam. Ia seolah menemukan nama untuk monster yang selama ini bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Selama berbulan-bulan, Aura merasa seperti orang asing di tubuhnya sendiri. Ia bisa tertawa meledak-ledak di kantin sekolah, lalu menangis tersedu-sedu di kamar mandi hanya karena salah satu temannya lupa menyapa. ​Ia pikir ia hanya "aneh". Ia pikir ia hanya "lebay". Tapi video berdurasi lima belas detik itu memberinya sesuatu yang lebih kuat dari sekadar penjelasan: Validasi. ​Aura segera mengetuk kolom komentar. Ada ribuan orang di sana. ​“Relate banget, aku baru sadar aku juga kayak gini.” “Fix, aku Bipolar. Makasih videonya, kak!” “Akhirnya ada yang ngerti perasaan aku.” ​Aura merasa merinding. Ia tidak sendirian. Ada ribuan orang lain yang "sakit" sepertinya. Ada komunitas yang menunggunya. Tanpa sadar, ia mulai berpindah ke aplikasi InstaGlam. Ia mengganti bio profilnya. ​Aura | 17 | Bipolar Survivor ​Rasanya manis. Ada rasa bangga yang aneh saat ia melihat kata itu bersanding dengan namanya. Seolah-olah label itu adalah medali yang membuktikan bahwa penderitaannya selama ini nyata, bahwa dia spesial, bahwa dia adalah pejuang di tengah dunia yang membosankan. ​Esok paginya, dunia nyata menyambut Aura dengan cahaya matahari yang terlalu terang dan suara klakson yang memekakkan telinga. Ia berjalan menyusuri koridor SMA Cakrawala dengan kepala tertunduk, namun tangannya tak lepas dari ponsel. ​Ia baru saja mengunggah foto hitam-putih di InstaGlam—foto tangannya yang memegang dahi dengan keterangan: “Lagi di fase depresif. Tolong jangan ganggu dulu. #BipolarLife #MentalHealthMatters.” ​“Aura!” ​Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Itu Clarissa, teman sebangkunya yang selalu ceria dan, bagi Aura, terlalu "normal" untuk memahami dunianya. ​“Ra, kamu belum kumpulin tugas Biologi, ya? Pak Bambang nyariin tadi,” kata Clarissa dengan nada khawatir yang menurut Aura sangat menyebalkan. ​Aura hanya menatap Clarissa dengan pandangan sayu, sebuah ekspresi yang ia latih di depan cermin tadi pagi agar terlihat seperti orang yang sedang menderita hebat. “Aku lagi nggak bisa mikir, Cla. Kamu tahu kan... aku lagi di fase bawah. Bipolar itu nggak gampang.” ​Clarissa mengernyitkan dahi. “Bipolar? Kamu udah ke dokter?” ​Aura mendengus pelan, senyum tipis yang meremehkan muncul di bibirnya. “Aku nggak butuh dokter buat tahu apa yang terjadi sama otak aku sendiri, Cla. Aku udah riset. Semuanya cocok.” ​Clarissa ingin membalas, tapi Aura sudah melenggang pergi, merasa menang. Ia merasa menjadi orang yang paling tercerahkan di sekolah itu. Teman-temannya hanya sibuk dengan tugas dan gosip, sementara dia sibuk bergelut dengan "gangguan jiwa" yang estetik. ​Namun, di ujung koridor, sepasang mata sedang memperhatikannya. ​Dimas. Cowok pendiam yang selalu duduk di bangku paling belakang. Cowok yang jarang bicara, jarang bermain ponsel, dan selalu memakai jaket hoodie hitam meski cuaca sedang terik. ​Dimas mendengar setiap kata yang diucapkan Aura. Ia melihat bagaimana Aura memainkan peran "pasien" dengan begitu bangga. Dimas mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. Di dalam saku itu, ada sebuah botol kecil berisi pil-pil yang harus ia minum setiap pagi agar ia tidak mendengar suara-suara yang menyuruhnya berhenti bernapas. ​Bagi Dimas, apa yang dilakukan Aura bukan sekadar mencari perhatian. Itu adalah penghinaan. ​Malam berikutnya, Aura tidak bisa tidur lagi. Ia merasa sangat bersemangat. Ia menyebutnya "Fase Mania"—sebuah istilah yang ia pelajari dari forum DeepMind Community. Di forum itu, orang-orang saling menyarankan cara untuk mengatasi gejala tanpa obat kimia yang "merusak otak". ​“Coba minum ramuan akar herbal ini, belinya di link ini. Ini bagus buat menstabilkan mood tanpa efek samping medis,” tulis salah satu akun anonim. ​Aura tanpa pikir panjang memesannya. Harganya cukup mahal, menghabiskan uang sakunya selama dua minggu. Tapi demi "kesembuhan" yang ia definisikan sendiri, ia rela. ​Dua hari kemudian, paket itu datang. Sebuah botol kaca tanpa label resmi, hanya berisi cairan berwarna cokelat pekat yang berbau tajam. Aura meminumnya satu sendok makan penuh sebelum tidur, berharap besok pagi ia akan bangun sebagai versi dirinya yang lebih stabil. ​Namun, kenyataan tak pernah seindah algoritma. ​Tengah malam, Aura terbangun dengan napas yang tersengal. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah ada orang yang memukul drum di dalam dadanya. Palpitasi. Keringat dingin mengucur deras. Pandangannya mulai berbayang. ​Ia mencoba meraih ponselnya, hendak meminta pertolongan di komunitas DeepMind, tapi tangannya gemetar hebat. Ia merasa seolah-olah lantai kamarnya berubah menjadi jurang yang dalam. ​“Tolong...” rintihnya, namun suaranya hanya tertahan di tenggorokan. ​Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. ​Nomor Tidak Dikenal: Jangan diminum. Ramuan itu mengandung zat penenang dosis tinggi yang nggak cocok buat orang normal. Kamu bukan Bipolar, Aura. Kamu cuma lagi bunuh diri pelan-pelan demi konten. ​Mata Aura membelalak. Bagaimana orang ini tahu apa yang dia minum? Bagaimana orang ini tahu apa yang dia lakukan di kamarnya? ​Aura mencoba membalas, tapi jarinya terlalu kaku. Pandangannya menggelap. Hal terakhir yang ia lihat sebelum pingsan adalah bayangan seseorang yang berdiri di luar jendela kamarnya, menatapnya dengan tatapan dingin di bawah cahaya bulan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
4.4K
bc

Video Pernikahan Papa

read
12.5K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.8K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook