BAB 2: DOSIS YANG SALAH

1250 Words
Dunia Aura tidak runtuh dengan ledakan. Dunia itu runtuh dengan kesunyian yang mencekik dan detak jantung yang terdengar seperti derap kaki kuda di dalam kepalanya. Deg-dug. Deg-dug. Deg-dug. Setiap detakan terasa seperti hantaman godam yang berusaha menjebol tulang rusuknya. ​Ia terbangun di lantai kamar yang dingin. Sisa cairan cokelat dari botol tanpa label itu masih terasa pahit di pangkal lidahnya—rasa tembaga dan tanah busuk. Kamarnya gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jari-jari hitam yang siap menerkamnya. ​Aura merangkak, jemarinya yang gemetar meraih pinggiran tempat tidur. Kepalanya berputar hebat. Vertigo. Ia merasa seolah-olah otaknya sedang dikocok di dalam tengkorak. Dengan sisa tenaga yang ada, ia meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh dari wajahnya. ​Layar itu menyala. Pesan dari nomor tak dikenal itu masih di sana. ​Nomor Tidak Dikenal: Jangan diminum. Ramuan itu mengandung zat penenang dosis tinggi yang nggak cocok buat orang normal. Kamu bukan Bipolar, Aura. Kamu cuma lagi bunuh diri pelan-pelan demi konten. ​Aura mencoba mengetik, tapi jempolnya kaku. Ia ingin berteriak memanggil ibunya di kamar sebelah, namun suaranya tercekat. Ia hanya bisa menatap pesan itu dengan rasa ngeri yang merayap. Bagaimana orang ini tahu? Apakah dia salah satu anggota DeepMind Community? Atau... seseorang yang lebih dekat? ​Pandangannya beralih ke jendela. Kosong. Sosok yang ia lihat sebelum pingsan tadi sudah hilang, menyisakan ranting pohon kamboja yang bergoyang ditiup angin malam. Aura memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk tidak muntah. Ia merasa seperti sedang tenggelam di tengah lautan raksa; berat, beracun, dan tak berujung. ​Pagi harinya, Aura muncul di sekolah dengan wajah sepucat kertas kalkir. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak lagi butuh bantuan eyeliner untuk terlihat dramatis. Kali ini, sakitnya nyata. Lambungnya terasa terbakar, dan setiap kali ia mencoba berdiri tegak, dunianya bergoyang. ​Di koridor, ia melihat Dimas. Cowok itu bersandar di loker, tangannya memegang botol minum transparan berisi air putih dan satu tablet kecil berwarna merah jambu. Mata mereka bertemu. Aura mengharapkan tatapan sinis, tapi yang ia temukan di mata Dimas adalah sesuatu yang lebih menyakitkan: Iba. ​Aura memalingkan wajah. Ia benci dikasihani. Ia lebih suka dianggap "sakit jiwa" daripada dianggap "lemah". ​Ia masuk ke kelas dan segera membuka VibeTok. Ia butuh asupan. Ia butuh orang-orang mengatakan bahwa apa yang ia alami adalah bagian dari "perjuangan". Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia merekam video singkat: wajah pucatnya, botol ramuan herbal misterius di latar belakang, dan teks kecil di pojok bawah: “The side effects of fighting your own mind. Stay strong, fellow warriors. #BipolarJourney.” ​Dalam hitungan menit, notifikasi meledak. “Semangat Kak Aura! Kamu inspirasiku!” “Jangan menyerah, kita pasti bisa lewat fase ini.” ​Aura tersenyum tipis. Rasa sakit di lambungnya seolah teredam oleh dopamin dari setiap like yang masuk. Hingga sebuah komentar muncul di urutan paling atas, karena mendapatkan dislike paling banyak: ​@VoidWalker: “Itu bukan efek Bipolar. Itu efek keracunan zat kimia ilegal. Berhenti membodohi dirimu sendiri sebelum ginjalmu hancur.” ​Aura tertegun. @VoidWalker. Nama itu terasa tidak asing. Ia teringat pesan singkat semalam. Apakah ini orang yang sama? ​Jam istirahat tiba. Aura memilih bersembunyi di atap sekolah, tempat yang jarang dikunjungi siswa lain. Ia butuh udara segar untuk menenangkan jantungnya yang masih sering berdegup kencang secara tiba-tiba. ​Namun, ia tidak sendirian di sana. ​Dimas duduk di tepian tembok atap, kakinya menjuntai ke bawah. Ia sedang menatap langit mendung. Di sampingnya, ada sebuah buku catatan medis yang terbuka. ​“Berhenti melakukannya, Aura,” suara Dimas berat, hampir menyatu dengan desau angin. ​Aura tersentak. “Melakukan apa? Dan sejak kapan kamu jadi penguntit?” ​Dimas berbalik. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak tegang. “Berhenti pura-pura. Berhenti minum ramuan sampah yang kamu beli dari internet itu. Kamu tahu apa yang ada di dalamnya? Benzodiazepin dosis tinggi yang dicampur dengan ekstrak tumbuhan tak terdaftar. Itu bukan obat penstabil mood. Itu racun yang bikin sarafmu tumpul.” ​Aura membusungkan d**a, mencoba menutupi rasa takutnya dengan kesombongan. “Kamu tahu apa tentang aku? Kamu pikir cuma kamu yang boleh sakit? Kamu pikir penderitaan itu monopoli kamu?” ​Dimas turun dari tepian tembok. Ia melangkah mendekat, sangat dekat hingga Aura bisa mencium bau obat-obatan yang samar dari napasnya. “Sakit itu bukan identitas, Aura. Sakit itu penjara. Aku harus minum obat setiap hari cuma supaya aku nggak melihat bayangan hitam yang menyuruhku lompat dari gedung ini. Aku harus ke psikiater tiap minggu supaya aku bisa membedakan mana kenyataan dan mana halusinasi.” ​Dimas merampas ponsel dari tangan Aura. “Sedangkan kamu? Kamu cari-cari gejala di internet, kamu bungkus penderitaan orang lain jadi konten estetik, dan kamu bangga memamerkan label yang nggak pernah benar-benar ada di kepalamu. Kamu tahu apa yang terjadi kalau orang yang benar-benar sakit melihat kontenmu? Mereka merasa penderitaan mereka cuma bahan tontonan!” ​Aura terdiam. Lidahnya kelu. Untuk pertama kalinya, narasi yang ia bangun di kepalanya selama ini terasa... dangkal. ​“Tadi malam,” bisik Aura, “Kamu yang ada di depan jendelaku?” ​Dimas tidak menjawab. Ia hanya mengembalikan ponsel Aura dengan kasar. “Kalau kamu mau benar-benar tahu apa yang salah sama kamu, pergi ke Psikolog. Jangan ke VibeTok. Sebelum semuanya terlambat.” ​Aura pulang dengan perasaan campur aduk. Kata-kata Dimas terngiang seperti kaset rusak. Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di ruang tamu dengan wajah sembap. Di atas meja, ada botol ramuan herbal yang Aura sembunyikan di bawah kasur. ​“Aura... apa ini?” suara ibunya bergetar. “Ibu nemuin ini pas lagi bersihin kamarmu. Kamu... kamu pakai narkoba?” ​Aura mematung. “Nggak, Bu. Itu... itu obat buat Bipolar aku.” ​“Bipolar? Siapa yang bilang kamu Bipolar, Ra? Dokter mana?” ibunya mulai histeris. “Ibu sudah curiga sejak kamu sering ngurung diri dan ngomong yang aneh-aneh. Kenapa kamu nggak jujur sama Ibu?” ​“Karena Ibu nggak bakal paham!” teriak Aura. Ia berlari ke kamarnya dan mengunci pintu. ​Ia merasa terpojok. Dunianya yang semu mulai retak dari segala arah. Ia meraih ponselnya, hendak menghapus komentar @VoidWalker, tapi ia justru menemukan sesuatu yang lebih mengerikan. ​Ada sebuah tautan video yang dikirim ke DM-nya. Dari @VoidWalker. ​Aura membukanya. Video itu merekam kejadian di atap sekolah tadi. Percakapannya dengan Dimas. Dan yang lebih mengejutkan, video itu sudah tersebar di forum DeepMind Community dengan judul: “BUKTI: Akun @Aura_Bipolar Hanya Tukang Cari Perhatian (Fake Patient).” ​Komentar-komentar yang tadinya memujanya, kini berubah menjadi hujatan. “Tukang bohong!” “Malu-maluin pejuang mental health!” “Semoga kamu beneran kena penyakit itu!” ​Aura melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya retak. Napasnya memburu. Tiba-tiba, jantungnya kembali berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena ramuan itu. Ini adalah serangan panik yang nyata. Dunianya menjadi gelap. ​Di tengah kegelapan itu, sebuah notifikasi baru muncul di layar ponselnya yang retak. Satu pesan terakhir dari @VoidWalker. ​@VoidWalker: “Permainan baru saja dimulai, Aura. Kamu mau label, kan? Aku akan kasih kamu label yang sesungguhnya.” ​Bersamaan dengan itu, pintu kamarnya diketuk dengan keras. Bukan oleh ibunya, tapi oleh seseorang yang suaranya sangat ia kenal. ​“Buka pintunya, Aura. Sebelum aku yang buka paksa.” ​Itu suara Dimas. Tapi bukan Dimas yang ia temui di sekolah. Suaranya terdengar... dingin dan penuh amarah. ​Siapakah sebenarnya pemilik akun @VoidWalker? Apakah Dimas benar-benar ingin menolong Aura, atau dia punya agenda balas dendam yang lebih gelap?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD